NovelToon NovelToon
Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Pembalasan Gadis Buruk Rupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Badboy / Peningkatan diri-peningkatan identitas/sifat protagonis / Berubah manjadi cantik / Chicklit
Popularitas:195.7k
Nilai: 5
Nama Author: mawarny

Aine Fourie, gadis yang kurang beruntung dalam segala hal. Baik dalam keluarga, percintaan ataupun jalan hidup.

Hidupnya kosong. Hari-harinya hampa. Langkahnya tidak terarah. Sekitarnya lengang, sangat lengang.

Dia gadis yang sangat tertutup dan pendiam.

Aine yang masih berusia dua puluh tahun mendapat ketidakadilan dalam hidupnya. Baik dari keluarga maupun dari masyarakat.

Dia selalu dikucilkan, diejek, dicaci dan diremehkan lantaran sayatan panjang yang terlukis diwajahnya. Selain itu, dia cewek gendut berkulit pucat, dengan Curly hair yang mengambang plus kacamata tebal yang menutupi matanya.

Segala sesuatu tentangnya tidak ada yang menarik.

Tapi meskipun demikian, entah bagaimana Aine bisa mendapatkan seorang pacar yang sangat populer. Ganteng, baik, keren, dan kaya. Pria itu merupakan idaman semua wanita. Tidak jauh berbeda dengan Aine, dia mencintainya, sangat mencintainya.

Suatu hari, Kejadian tak terduga mematahkan semangat hidup Aine. Dia menyaksikan langsung bahwa kakaknya selingkuh dengan pacarnya. Dia hancur saat itu juga.

Tidak sampai disitu saja, saat dia masih berada dalam fase sakit hati, kedua orangtuanya mendesaknya agar menikah dengan seorang duda kaya raya.

Dunianya benar-benar gelap.

Saat tidak bisa menahan segala rasa sakit lagi, Aine memutuskan bunuh diri. Dia lari dari rumah dan meninggalkan surat wasiat yang bertuliskan ancaman.

Tapi, saat dia hampir melompat dari jembatan, seorang pria yang mengenakan masker menahannya. Memberinya sedikit pencerahan hingga akhirnya berhasil mengurungkan niat.

Pria itu memberikannya dua pilihan. Lanjut bunuh diri, atau membalaskan dendam. Dan Aine memilih untuk membalas dendam.

Stefan Joubert, pria dingin yang masih berusia dua puluh lima tahun. Dia direktur muda yang memimpin sebuah perusahaan konglomerat multinasional.

Suatu hari ayahnya menyuruhnya untuk segera menikah. Stefan tidak mau karena tidak tertarik dengan wanita manapun. Lagipula dia merasa menikah bukanlah hal yang penting.

Karena penolakannya itu, Stefan di kirim ke kota kecil dan disuruh mengelola anak perusahaan disana. Haknya sebagai direktur dicabut dan akan dikembalikan apabila dia bersedia untuk menikah.

Stefan tidak sedih meski dia ditempatkan di kota kecil dengan segala kesederhanaan. Ia malah senang karena bisa bereksplorasi.

Tapi sebagai akibatnya, dia tidak bisa menunjukkan wajah aslinya. Alhasil dia harus mengenakan masker dan topi kemanapun dia pergi. Demi keamanan hidupnya.

Suatu hari, dia bertemu dengan gadis yang putus asa. Namanya Aine. Hendak bunuh diri. Stefan menolongnya. Dan menjadikan gadis itu temannya. Mereka tinggal bersama dan saling bertukar cerita.

Selama tinggal bersama, keduanya merasa bahagia. Mereka saling melengkapi satu sama lain. Aine mengajarkan banyak hal pada Stefan, dan sebagai imbalannya, Stefan membantu Aine berubah menjadi bidadari demi membalas dendam.

Ikuti keseruan cerita mereka. Hanya ada disini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mawarny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertambah Dendam

Aine masuk ke kamar mandi. Membuka masker, menatap bayangannya di cermin. Benar, dia lebih baik seperti ini.

Tubuh yang indah, wajah yang cantik, pakaian serba mahal, dan riasan khusus. Berpenampilan seperti ini membuat dia terlihat seperti wanita berkelas.

Tapi ada satu hal yang ia sadari, menyangkut perkataan Iraz yang mengatakan menyukai salah satu saudarinya. "Kamu bukan siapa-siapa, Aine! Kau berharga karena Iraz berada di sisimu! Jika pria itu pergi meninggalkanmu, kau akan kembali menjadi sampah!" Aine bicara pada bayangannya sendiri.

"Kau tidak punya hak mengaturnya! Jika dia menyukai Melanie ataupun Vanya, harusnya kau bisa menerimanya! Kau tidak boleh marah seperti ini!" gadis itu memaki dirinya sendiri. "Benar, Ai, kau harus merelakannya juga sebagaimana kau merelakan Alvan. Pada akhirnya mereka akan tetap menjadi pemenangnya."

Ternyata mengatakan itu menyebabkan air mata Aine kendur. "Tapi aku tidak terima Iraz jatuh ke tangan yang salah! Dia berhak mendapatkan yang lebih baik dari mereka!" tiba-tiba tangannya terkepal secara langsung.

"Tidak, Ai, kau harus berjalan sesuai rencana Iraz. Kau tidak punya hak mengurusi kehidupan pribadinya. Tugasmu hanya membalas dendam." satu balik pikirannya mengatakan itu. "Dan tugas tambahan adalah cemburu."

Setelah mengucapkan itu, Aine keluar dari kamar mandi. Ia berlanjut ke dapur.

Di dapur, gadis itu bertemu dengan seorang pelayan yang ikut serta melayani mereka tadi. Aine kepikiran untuk menyapanya. Sekalian bertanya-tanya tentang perkembangan di rumah itu.

"Hai," sapanya pada pelayan yang sedang sibuk mencuci piring kotor.

Pelayan itu terkejut tapi tetap menoleh pada Aine. "Ada apa, Nona? Ada yang bisa saja bantu?" tanyanya refleks.

"Tidak, kok." jawab Aine membuka maskernya. Menurutnya tidak masalah memperlihatkan wajah aslinya pada pelayan itu, toh dia pasti tidak mengenalinya sebelumnya.

"Sudah berapa lama kerja di sini?" tanya gadis itu sambil menyandarkan tubuhnya ke tembok dekat wastafel.

Pelayan itu memberitahukan.

Aine menghitung. Berarti pembantu ini bekerja sejak dia menghilang. Ini kelewatan!

"Ada berapa pelayan di rumah ini?" tanya Aine.

"Empat, Nona."

"Ohhh. Makasih infonya," kata Aine meninggal pelayan itu. Kini ia berjalan menuju kamar mandi yang khusus digunakan untuk mencuci pakaian. Aine ingin memastikan satu hal.

Banyak yang berubah ternyata. Contohnya saja bentuk kamar mandi itu. Diperbesar dan ditambahkan beberapa alat bantu untuk memudahkan siapapun yang ingin menggunakan tempat itu. Dan yang paling nyesek, keluarga itu membeli mesin cuci setelah kepergiannya.

Aine melihat bayangannya yang dulu. Ketika dia berjongkok seharian demi mencuci pakaian kotor keluarganya. Ia ingat bagaimana parahnya mengangkat air agar bisa membilas pakaian. Apalagi waktu itu bobotnya mempengaruhi kecepatannya bergerak. Membuat dia kadang-kadang memaki dirinya sendiri. Dan setelah dia menghilang, hidup di rumah itu semakin dipermudah. Mereka membeli semuanya, termasuk mempekerjakan pelayan dalam jumlah yang lumayan.

Sedangkan dulu, Aine hanya sendirian mengurus rumah besar itu. Ia sanggup, meski kadang menganggapnya sebagai romusa atau kerja rodi. Tapi waktu itu dia tidak bisa melakukan apapun kecuali pasrah. Dan mungkin itulah penyebabnya kenapa dia tidak punya waktu untuk mengurus diri hingga ia menjelma seperti ikan buntal. Yeah, she thought so.

Puas mengetahui perkembangan keluarga itu, Aine mengambil langkah menuju kamarnya. Ruangan kecil yang ada di belakang. Di dalamnya hanya ada kasur lapuk, meja rias reot, lemari bekas dan kursi yang sudah membusuk. Aine ingin memastikan apakah barang yang ia inginkan masih tersimpan di laci meja riasnya.

Gadis itu membuka pintu kamarnya yang dulu. Dia terkejut mendapati tempat itu sudah berubah drastis. Bukan lagi kamar yang tidak pantas di tempati, tapi lebih parah dari itu. Kamar buruk yang sangat ia sayangi telah dijadikan gudang oleh keluarganya.

"Apa-apaan ini?" pekiknya berbisik. Ia mendapati semua barang-barangnya ditindih barang rongsokan.

Aine mengepalkan tangannya kuat. Mencoba melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Dia emosi, apalagi saat mendapati barang yang dia cari tidak ada, waahh, dia menggeram hebat. Sayang sekali sebatas dalam hati.

"Dimana mereka membuangnya?" tanya Aine membuka lemari yang masih seperti dulu. Lemari itu kosong, hanya terdapat sarang laba-laba di sudut-sudutnya. "Ini juga kosong. Kemana semua pakaianku?"

Gadis itu berusaha mencari lagi. Tapi sial, sepertinya mereka sudah membuangnya.

Aine segera keluar dari kamar itu, kembali menemui pelayanan yang tadi. Kini wanita itu sibuk ngelap meja di dapur.

"Hei," panggilnya pada pelayan itu.

"Iya, Nona?" jawabnya kaget lagi.

"Kau tau siapa pemilik kamar yang ada di belakang?" tanya Aine serius.

"Yang mana Nona? Sepertinya tidak ada kamar di belakang,"

"Yang dijadikan gudang loh!" jelas Aine.

"Oh, yang itu." pelayan mengehentikan tangannya. Ia menatap Aine penuh hormat. "Kata Tuan Isman, ruangan itu kamar pembantu yang dulu sebelum kami. Kabarnya sih pembantunya melarikan diri. Jadi kami disuruh membuat ruangan itu menjadi gudang saja."

"Berarti kamu tau dong kemana semua baju dan buku-buku yang ada di sana sebelum dijadikan gudang?"

"Tau, Nona. Nyonya Andari menyuruh kami membakarnya."

Aine menggertakkan giginya. "Jadi, apa kalian juga membakar binder warna hitam?"

Pelayan itu mencoba mengingat. "Kayaknya iya deh, Nona. Emangnya kenapa, Nona? Apa itu milik anda? Apa jangan-jangan anda pembantu yang melarikan diri itu?" pelayan itu berani sekali mengucapakan hal seperti itu pada Aine.

"Kau berkata seolah kau ingin mengakhiri pekerjaanmu sekarang!" Aine berkata tajam.

"Ma-maksud anda?" dia mulai takut.

"Aku akan memecatmu sebentar lagi!" balas Aine meninggal pelayan itu.

"Semua orang di rumah ini membuatku geram!" ujarnya berbisik.

***

Iraz menengok ke belakang, sudah tiga puluh menit lebih Aine beralasan ke kamar mandi. Ia ingin nge-chat, tapi sadar kalo hape gadis itu tertinggal di atas meja. Akhirnya dia hanya bisa menunggu sambil berdoa semoga Aine baik-baik saja.

Ai, kamu ngapain, sih! Lama banget!

"Lama sekali dia di kamar mandi," bisik Vanya pada kakaknya.

"Mungkin dia sakit perut kali," balas Melanie berbisik.

"Pencernaannya pasti tidak lancar. Hahahah,"

Keduanya berbisik-bisik hingga dapat teguran dari Isman. Mereka disuruh diam dan menunggu saja.

Apa jangan-jangan dia menangis, ya? Aduh, gimana ya caraku samperin dia?

Tidak lama setelah Iraz berfikir menyamperin, Aine datang. Ia lega mengetahui gadis itu baik-baik saja.

"Sstt, diam! Dia udah datang!" bisik Melanie pada Mama dan adiknya. Mereka langsung terdiam seperti tadi.

Gadis dengan minidress berwarna jingga itu duduk kembali. Ia sudah mengenakan maskernya lagi.

"Maaf lama, aku ada sedikit masalah," ujarnya memberitahu.

"Tidak apa-apa, Nona Zhang." jawab mereka bersamaan.

Aine menatap Iraz, kemudian cangkir di hadapannya. Tehnya masih belum tersentuh, cangkir Iraz juga demikian.

"Pasti tehnya sudah dingin, ya, Nona? Mau dibuatin yang baru?" Isman menyadari gadis itu menatap cangkir.

"Tidak usah. Aku tidak haus lagi. Lagian aku takut minum teh disini!" sahut gadis itu ketus.

"Kenapa Nona? Teh di sini steril kok," Melanie mengimbuni.

"Siapa yang tau?" Aine menatap Melanie tajam. "Bagaimana kalau kalian memasukkan racun ke dalamnya?"

"Tidak kok, Nona. Simpah," Isman buru-buru menyahut.

"Kalo pun tidak, aku tidak selera!"

Iraz yang terdiam sedari tadi kini mengetikkan pesan untuk Aine.

"Sudahi aja, Ai! Kayaknya sudah cukup menguji mereka!"

Setelah membaca pesan Iraz, Aine menatap keempatnya lagi. "Kupikir, sampai di sini kunjungan hari ini. Aku masih banyak kerjaan!" gadis itu mengambil hapenya dan memasukkannya ke dalam tas.

"Eh, kok..." Isman hendak protes, ia tidak mendapat kesan apapun hari ini kecuali dipojokkan oleh gadis itu.

"Nona Zhang, sebelum anda pergi, bolehkah kami melihat wajah anda? Kami ingin tahu seperti apa wajah orang terhormat seperti anda."

Aine menatap Melanie, gadis yang mengajukan permohonan.

"Tidak bisa." jawab Aine datar.

"Sejak anda masuk ke sini, anda menutup wajah. Apa ada yang anda sembunyikan?"

1
Elok Pratiwi
membosankan cerita yg datar percakapan yg membosankan percakapan yg datar sehingga membosankan percakapan ga jelas ... cerita ga seru ga ada gregetnya ... ga menarik
Asih Sumiarsih
👍👍👍
R0hana Ibrahim
Luar biasa
Elok Pratiwi
drama drama nya iraz n ainez tidak menarik ... membosankan
Muhammad Bagus
lucu. dia jelek hidupnya dibuat dipermainkan, direndahkan, dihina, dijadikan budak, dikhianati

setelah dibuat cantik

tetap dibuat bodoh.

kelebihannya cuma satu : mau cantik mau jelek hidupnya dibuat menderita dan sangat bodoh.

sumpah. ada yg org yg ga belajar dari pengalaman.

yg mau baca novel ini mending baca komen ini deh. daripada nyesel.
Arum Rolia
lanjut dong kak, sampai tamat
penasaran banget soalnya
Jade Meamoure
cakep
Roslinah Minsong
semoga iraz gak emosi dgn chat dari aine. cari tahu misalnya
Anonim
cerita yang bagus buat di baca
Mamah Etha
ya ampun bulan2 nunggu se uprit bikin galau aja smg sehat dan barkah thor biar ceritanya langgeng
Aliia Musta'biin
up donk thor
Sri Maniyah
thor kok. kata2 di ulg2 trs
Sri Maniyah
kok visual ny. ai kok ga da jdi pensarm
Rizky Sandy
kurang keren, balas dendam klau sdh jadi orang hebat, sukses itu baru baru keren, klau cm cantik aja tapi msh gembel aja sih g terlalu menantang ya,,,, bayar makanan aja g bisa,,,, sorry thor,,,
Jumriani
sekejap saja author..pelit amat LG kita,kita kecewa Thor bikin penasaran kelanjutan...😔😔😔
Ike Ratna Dewi
ah dasar pelit mu Thor udah up telat ngasih bab dikit bingit bikin orang mati penasan
Aliia Musta'biin
up lg donk ka plizzzz
reza🎀
ras sm ai g punya tetangga kyknya😆g ada dialog dg tetangga sekitar rumah
Ike Ratna Dewi
ini kapan up nya thor
💞Amie🍂🍃
Nyicil dulu bacanya ya thor nanti dilanjut lagi , Udah masuk ke fav kok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!