"Lima tahun lalu, dia diusir dalam keadaan hamil dan dianggap mandul. Kini, dia kembali bukan untuk mengemis cinta, melainkan untuk merebut apa yang menjadi miliknya."
Elena kembali ke ibu kota sebagai desainer interior kelas dunia dengan satu misi rahasia: mengambil kembali anak perempuannya yang sempat tertinggal di keluarga mantan suaminya, Arthur Arkananta. Namun, takdir mempermainkannya. Klien besar pertama yang harus dia hadapi adalah Arthur sang CEO berdarah dingin yang dulu mencampakannya karena fitnah kejam.
Di saat Elena mati-matian menyembunyikan putra kembarnya yang genius dari jangkauan Arthur, sebuah rahasia besar di masa lalu mulai terkuak satu per satu. Arthur yang mulai curiga kini berbalik mengejarnya, tetapi Elena bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas.
Akankah Arthur menemukan kebenaran tentang anak kembar mereka sebelum Elena pergi membawa semuanya? Atau akankah penyesalan sang CEO datang terlambat saat Elena justru bersanding dengan pria lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi Dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Sang Ratu
Suara bising dan deru mesin pesawat yang mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta tidak mampu mengusik ketenangan wanita yang baru saja melangkah keluar dari pintu kedatangan internasional.
Kacamata hitam besar bertengger manis di hidung mancungnya. Rambut gelombang sewarna cokelat madu dibiarkan terurai indah, berkilau setiap kali terkena pantulan lampu bandara dan kontras dengan setelan blazer merah marun serta celana kulot senada yang membungkus tubuh semampainya. Setiap pasang mata yang dilewatinya tak mampu berpaling. Dia berjalan dengan langkah yang begitu anggun, tegas, dan penuh percaya diri. Orang-orang yang berpapasan dengannya berspekulasi dalam hati; dia tampak seperti model papan atas dari Paris, atau mungkin jajaran selebriti kelas A yang sedang menyamar.
Dia adalah Elena. Lima tahun lalu, nama itu diasosiasikan dengan wanita malang, lemah, dan menyedihkan yang diusir bagai sampah dari kediaman megah keluarga Arkananta. Namun hari ini, dia kembali bukan lagi sebagai Elena yang bisa ditindas. Dia kembali sebagai Eleanor Vance, desainer interior nomor satu dari Milan, Italia, yang karya-karyanya diperebutkan oleh para konglomerat dunia.
"Mama, sistem keamanan siber di bandara ini ternyata sangat kuno. Hanya butuh waktu tiga detik bagiku untuk mengacaukan seluruh jadwal penerbangan domestik malam ini," sebuah suara kekanak-kanakan yang dingin namun renyah terdengar dari arah bawah.
Elena menghentikan langkahnya sebentar, lalu menunduk. Di sampingnya, berdiri seorang bocah laki-laki berusia empat tahun yang mengenakan jaket jeans, sepatu bot mini, dan sebuah topi hitam yang sengaja dipakai terbalik. Di tangan mungilnya, terdapat sebuah tablet pintar yang layarnya dipenuhi oleh barisan kode pemrograman yang rumit.
Bocah itu bernama Leon. Ketika melihat wajah Leon, dada Elena selalu berdesir tajam. Sepasang mata elang yang dingin, garis rahang yang tegas meski masih belia, hingga tatapan angkuh itu... Leon adalah cetakan sempurna dari pria yang paling Elena benci sekaligus ingin dia hancurkan di dunia ini: Arthur Arkananta.
"Leon, Mama sudah bilang jangan nakal, kan?" ucap Elena lembut, namun ada nada peringatan yang tegas di dalamnya. Dia mengusap kepala putranya dengan sayang. "Kita di sini bukan untuk meretas fasilitas publik atau membuat kekacauan. Kita di sini untuk menjemput kakakmu."
Leon mendongak, menatap sang mama dengan mata bulatnya yang memancarkan kecerdasan di luar nalar anak seusianya. "Kak Lia? Bocah cengeng yang ditinggal di rumah besar milik pria brengsek itu?"
Elena tersenyum tipis, meski di dalam hatinya, sebuah luka lama yang belum sepenuhnya sembuh mendadak berdenyut nyeri. Ingatan lima tahun lalu berputar kembali seperti kaset rusak di kepalanya.
Saat itu, Elena sedang hamil tua, mengandung anak kembar. Namun, kelicikan ibu tiri Arthur dan konspirasi keluarga besar Arkananta berhasil memfitnahnya. Mereka menuduh Elena mandul, memalsukan dokumen medis, dan bahkan menuduhnya berselingkuh dengan pria lain. Arthur, pria yang teramat dia cintai dan puji sebagai pelindungnya, justru berdiri dengan mata sedingin es, mempercayai fitnah tersebut tanpa mau mendengarkan satu pun penjelasan dari Elena.
Malam itu, di tengah badai hujan yang sangat lebat, Elena diusir dari rumah dengan pakaian yang basah kuyup tanpa sepeser pun uang. Dia terkapar di jalanan sebelum akhirnya diselamatkan oleh seorang mentor desainer asing yang membawanya pergi ke luar negeri. Di tengah badai salju di Milan, Elena melahirkan sepasang anak kembar melalui perjuangan antara hidup dan mati.
Sialnya, beberapa bulan setelah kelahiran mereka, sebuah insiden medis penculikan anak terjadi di rumah sakit tempat Elena bekerja paruh waktu. Anak perempuannya, Lia, berhasil direbut kembali oleh mata-mata keluarga Arkananta atas perintah Arthur yang baru menyadari kalau anak itu adalah darah dagingnya. Arthur membawa Lia kembali ke Jakarta, sementara Elena terpaksa menyembunyikan Leon dan melarikan diri ke Swiss untuk membangun kekuatannya dari nol.
Selama lima tahun, Elena menahan rindu yang membakar dada. Setiap malam dia menangis memandangi satu-satunya foto bayi Lia yang dia miliki. Dia bersumpah akan mengumpulkan kekayaan, reputasi, dan koneksi yang tak tertandingi demi hari ini. Kini, dayanya sudah penuh. Dia bukan lagi Elena yang miskin dan yatim piatu. Dia adalah ratu yang siap mengambil kembali takhtanya.
"Dia bukan bocah cengeng, Leon. Dia kakak kembarmu. Dia memiliki darah Mama yang mengalir di tubuhnya," bisik Elena, matanya berkilat tajam di balik kacamata hitam. "Dan pria brengsek yang kamu maksud... sebentar lagi dia akan tahu apa arti dari penyesalan dan kehilangan yang sesungguhnya."
Tiba-tiba, ponsel di dalam tas mewah Elena bergetar. Dia merogoh ponselnya dan melihat sebuah pesan instan masuk dari asisten pribadinya yang sudah tiba di Jakarta dua hari lebih awal.
“Nona Elena, draf kontrak kerja sama eksklusif dengan Grup Arkananta sudah rampung. Sesuai dengan rencana kita, mereka telah menyetujui semua klausul ketat yang Anda berikan. Besok pagi pukul sembilan, Anda dijadwalkan menghadiri rapat tender utama di kantor pusat mereka. CEO mereka, Arthur Arkananta, yang akan memimpin rapat itu sendiri.”
Elena meremas ponselnya hingga jemarinya memutih. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman dingin yang sangat mematikan sekaligus memesona. Segala rasa sakit, air mata, dan kehancuran yang dia rasakan lima tahun lalu seolah menuntut pembalasan malam ini.
"Arthur Arkananta... kurasa kamu tidak pernah membayangkan kalau wanita yang dulu kamu buang seperti sampah, kini memegang kendali atas proyek masa depan perusahaanmu," gumam Elena lirih.
Dia kemudian menggandeng tangan mungil Leon dengan erat, melangkah keluar menuju mobil jemputan mewah yang sudah menunggunya di lobi bandara. Angin malam Jakarta menyambut kehadirannya.
Permainan kita baru saja dimulai, Arthur. Bersiaplah untuk berlutut di kakiku.