inilah ujian terberat dalam hidupku, Mas Rayhan suamiku yang aku cintai berselingkuh dengan mantan muridnya. Setelah aku tau perselingkuhan itu, Mas Rayhan bilang ia akan bertaubat dan tidak akan mengulanginya lagi. Tapi Mas Rayhan bohong, ia masih berhubungan dan bahkan malah menghamilinya.
Akankah aku bisa mempertahankan rumah tangga ini atau memilih bercerai?
ig author : wentyoktaria
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wenty Oktaria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Foto Zidny
Sepulangnya dari periksa kandungan, kulihat Ibu dan Mbak Widya tertidur beralaskan karpet diruang tengah, mereka terlihat kelelahan sekali karena kerjalanan jauh dari Jawa Timur menuju Jakarta.
Aku harus membereskan satu kamar dilantai dua untuk istirahat mereka. Kemana pembantuku itu? Apa ia juga sudah tidur jam segini?
Tok... tok... tok...
"Zidny..." Aku mengedor-gedor pintu kamarnya.
Ketika ia membukakan pintu, mataku terbelalak, kali ini kulihat ia memakai lingerie berwarna cream, senada dengan warna kulitnya yang putih bersih.
"Kamu udah tidur?"
"Iya Mbak, aku ngantuk banget."
"Itu kamar sebelah belum dibersihin, untuk tidur Ibu dan Mbak saya, tolong kamu bersihin dulu."
"Tapi, Mbak..."
"Tapi apa? Ga ada tapi-tapian, cepet!"
"Aku beneran capek banget."
Aku memegang ponselku dan aku foto ia.
Cekreekkk....
"Nih liat foto kamu, kamu mau foto ini tersebar luas disosmed, aku bakal sebar foto ini kalau kamu ga mau nurutin perintah aku."
"Jangan Mbak!" Zidny kaget melihatnya.
"Yaudah cepetan sana bersihin kamar!"
"Iyaa..."
Padahal itu hanya gertakanku saja, foto ini tidak akan ku upload ke sosial media. Aku benar-benar malu kalau sampai aib rumah tanggaku kubongkar sendiri, tidak akan pernah.
"Eh qo kamu pakai lingerie sih? Ganti baju dulu sana!"
"Gerah, Mbak. Lagian kan ga ada orang disini."
"Iya, tapi nanti kalau Ibu dan Mbakku naik keatas terus lihat kamu, gimana?
Ia langsung masuk kedalam kamarnya untuk mengganti pakaian, dua menit kemudian keluar kamar, mengambil sapu dan mulai membersihkan lantai dikamar yang bersebelahan dengan kamarnya.
Dua puluh menit berlalu, ia telah selesai menjalankan tugasnya.
"Ibu... bangun, Mbak... bangun, tidurnya pindah yuk ke lantai dua." Aku membangunkan mereka berdua.
"Iya, Dek. Mbak capek banget. Sampai pulas tidur disini."
"Ibu juga ngantuk banget, kamu baru pulang, Ndok?"
"Udah setengah jam yang lalu, Bu."
"Oh, gimana sehat kan cucu ibu yang didalem kandunganmu?"
"Alhamdulillah sehat, Bu."
"Syafiq kemana ya, Dek?" Tanya Mbak Widya.
"Udah tidur juga, Mbak."
"Oh, Mbak pikir masih main diluar."
"Yuk ke atas, sini aku bantu bawa barang-barangnya." Ucapku lalu membawa tas-tas besar ke lantai dua.
"Mbak Zidny itu kamarnya disebelah, Ndok?"
"Iya, Bu."
"Dia masih muda ya, cantik lagi." Puji Ibu.
"Iya..." Aku hanya tersenyum getir menanggapinya.
"Itu dia lagi hamil anak keberapa, Dek?" Lanjut Mbak Widya ikut bertanya.
"Anak pertama, Mbak."
"Kok kamu nyari pembantu yang lagi hamil, kan kasian Ndok..." Celetuk ibu.
"Iya ga apa-apa, Bu. Emang dia lagi butuh uang, dia yang menawarkan diri untuk kerja disini."
"Emang suaminya kerja apa?" Ibu masih mencecarku pertanyaan seputar Zidny.
"Aku ga tau, Bu. Aku ga tanya-tanya kerjaan suaminya."
"Dia orang mana?" Lanjut Mbak Widya masih bertanya.
"Orang Jakarta, Mbak."
"Oh..."
"Yasudah. Ibu mau lanjut istirahat ya."
"Oh iya, Ibu dan Mbak udah makan kan?"
"Sudah..." Sahut mereka berbarengan.
"Yaudah, aku turun dulu ya, besok kita lanjut ngobrol-ngobrol lagi."
Aku turun ke bawah, memastikan semua pintu terkunci, lalu masuk kamar. Kulihat Mas Rayhan masih sibuk dengan ponselnya.
"Chat sama siapa kamu?" Aku menoleh, berusaha melihat handphone yang ia pegang.
"Jangan kepo deh."
"Halah, paling sama pembantu aku itu kan?" Tebakku.
"Mau tauuu ajaaa..." Sahut Mas Rayhan.
"Iihhh nyebelin. Udah ah, aku mau tidur." Ucapku seraya menarik selimut.
"Astagfirullah..." Terdengar suara Ibu dari lantai dua.
"Ada apa sih?" Ucapku penasaran, aku dan Mas Rayhan saling pandang penuh tanya.
Aku yang sudah merebahkan tubuhku kembali bangkit karena mendengar suara teriakan Ibu. Segera naik keatas.
"Ada apa, Bu?"
"Lingga, ini lihat pembantu kamu pakai pakaian begini." Ujar Ibu sambil menunjuk-nunjuk Zidny.
Ibu melihat Zidny keluar kamar hanya memakai lingerie. Aku bingung harus berkata apa, aku diam seketika.
"Ndok, kok kamu diam aja? Kan ga pantas dia pakai pakaian seperti ini, auratnya kemana-mana, nanti kalau suamimu lihat gimana?"
"Nggak, Bu. Dia kan turun ga kebawah."
"Tapi ini dia keluar kamar."
"Tadi saya abis dari kamar mandi Bu, sebentar." Tutur Zidny sambil menundukkan kepala.
"Ibu takut, Rayhan ngeliat dia berpakaian seperti ini, lalu...." Ibu diam sejenak.
"Jangan sampai, naudzubillah min dzalik..." Lanjut Ibu.
Andai Ibu tau, kalau Mas Rayhan dan Zidny sudah... Ah aku belum siap menceritakan semua ini ke Ibu, pastinya nanti Ibu sangat sedih dan kecewa.
"Mungkin dia gerah Bu, makanya pakai pakaian seperti itu."
"Iya Bu, udaranya panas. Dikamar saya ga ada AC." Sahut Zidny.
"Ya tapi kan disini ga ada suamimu dan ini juga bukan dirumahmu, kok berani pakai pakaian begitu?" Mbak Widya ikut bersuara."
"Ada apa sih?" Mas Rayhan tiba-tiba muncul.
"Eh kamu, ganti pakaianmu sana, jangan pakai pakaian begitu!" Ibu mendorong Zidny untuk masuk kekamarnya dan langsung menutup pintunya.
"Ndok, Ibu ga suka deh perempuan itu kerja dirumah kamu, karena berani-beraninya dia berpakaian seksi seperti itu."
"Iya, Mbak juga jadi ga suka. Mending kamu cari pembantu lain aja."
"Tapi dia kerjanya bagus, Mbak." Sahut Mas Rayhan.
"Banyak kok pembantu yang kerjanya bagus." Langsung dijawab oleh Mbak Widya.
"Apa perlu Ibu bawa pembantu dari kampung yang benar-benar cekatan dan telaten kerjanya, untuk ngurus anakpun bisa dan yang terpenting dia benar-benar menutup auratnya. Kamu mau?"
Aku dan Mas Rayhan saling pandang.
"Nanti deh, Bu. Aku pikir-pikir dulu ya." Jawabku.
"Temen Mbak juga ada, Dek. Dia Ibu beranak tiga, kasian suaminya pergi begitu aja, dia harus banting tulang cari nafkah sendirian, kalau aku tawari, pasti dia mau kerja disini. Biar anak-anaknya Mbahnya yang ngurusi. Gimana?"
"Hmm... gimana ya, Mbak..." Aku berpura-pura sedang berpikir.
"Gimana Rayhan, mau?" Tanya Mbak Widya.
"Nggak deh, Mbak."
"Pembantumu itu kan lagi hamil. Kasihan juga kan kalau harus bekerja. Sebentar lagi dia juga akan berhenti jika melahirkan nanti."
Ini kesempatan kamu untuk mengusir wanita itu dari rumah ini, Lingga, ayo usir dia! bathinku berbicara.
Tapi walau bagaimanapun, aku masih punya hati, tak ingin kumengusirnya begitu saja, apalagi ia dalam keadaan hamil. Kalau aku mengusirnya, Mas Rayhan pastinya juga tidak akan terima, nanti malah menceritakan semuanya ke Ibu dan Mbak Widya, tidak, aku tidak akan mau itu semua terjadi, biar aku yang menceritakan semuanya ke Ibu. Untuk saat ini biar saja Zidny tinggal disini, biarlah nanti aku yang akan pergi.
"Tapi dia sangat-sangat butuh uang untuk biaya melahirkan nanti. Dia bilang, dia ga punya tabungan sama sekali untuk melahirkan. Aku ga tega, makanya aku terima dia kerja disini." Aku terpaksa mengarang cerita.
"Kemana itu suaminya, kok ga bertanggung jawab ya?" Tutur Mbak Widya.
Aku menggeleng-gelengkan kepala.
"Yoweslah kalau kalian masih mau mempertahankan dia, ya ga apa-apa. Yaudah, Mbak mau lanjut istirahat ya. Yuk Bu, kita istirahat lagi."
Mereka masuk kekamar lagi. Aku dan Mas Rayhan langsung turun kebawah.
Kutarik tangan Mas Rayhan, lalu berbisik, "Kamu bilang ke Zidny, jangan pakai lingerie lagi, udah tau ada Ibu."
"Iya, nanti aku bilangin."
Aku mengambil ponselku, membuka aplikasi whatsapp, ternyata banyak sekali chat digrup alumni yang belum kubaca. Kumembacanya sambil senyum-senyum sendiri, karena hanya ini hiburanku ketika dirumah. Bercanda dengan teman-teman sekolahku dulu, walau hanya melalui grup di whatsapp, tapi aku senang sekali bisa bernostalgia dengan mereka, mengenang masa-masa aku dipondok dulu. Grup ini isinya akhwat semua, teman-teman seperjuanganku dulu, aku sangat rindu mereka.
"Kok kamu senyum-senyum sendiri, hayo lagi chat sama siapa?"
"Mau tau aja ga usah kepo deh!" Jawabku.
"Qo gitu sih? aku kan masih suami kamu."
"Aku lagi lihat ini..." Aku memperlihatkan foto Zidny yang tadi kuambil dengan kamera handphoneku.
"Qo ada foto Zidny?" Tanya heran.
"Iya, sengaja mau aku posting ke sosial media." Ucapku meledeknya.
"Kamu apa-apaan sih? Sini handphonenya!"
"Nggak..."
"Yaudah kalau gitu, hapus fotonya sekarang!"
"Nggak mau ah. Udah ya aku mau tidur." Ucapku seraya menarik selimut.
Mas Rayhan terlihat kesal kepadaku.
"Aku mau tidur sama Syafiq, ya..." Ucap Mas Rayhan.
"Tumben..."
Masih dengan wajah kesal, ia langsung keluar kamar.
Bruukkk... Mas Rayhan menutup pintu dengan kencang.
Ahh sudahlah, biar saja ia marah kepadaku, aku tak terlalu memperdulikannya. Sekarang waktunya aku memejamkan mata, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Baru saja aku memejamkan mata, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut diatas. Ada apa lagi sih?
Aku langsung keluar kamar, kulihat Mas Rayhan tidak ada di kamar Syafiq, di ruang tengah pun tidak ada, jangan-jangan...
Aku segera naik keatas.
"Ada apa lagi, Bu?"
"Ini Ndok, suamimu tiba-tiba naik keatas. Terus pas Ibu keluar kamar, Ibu lihat dia ada didepan kamar pembantumu."
"Ngapain kamu disini, Mas?"
"Aku cuma mau memastikan, ini pintu dan jendela sudah terkunci semua belum." Kilah Mas Rayhan sambil berpura-pura mengecek pintu dan jendela.
Padahal aku tau sebenarnya ia ingin kekamar wanita itu, tapi keburu tertangkap basah oleh Ibu, aku tertawa dalam hati.
"Udah dikunci semua kok, Mas."
"Terus kamu ngapain tadi berdiri sambil tengak-tengok didepan kamar ini?" Tanya Ibu yang masih penasaran.
"Ng-nggak kok, Bu."
Ibu memandang Mas Rayhan yang terlihat aneh dan gugup.
Tok... tok... tok...
"Mbak Zidny..." Ibu memanggil-manggil namun tidak ada jawaban.
"Mungkin dia udah tidur, Bu." Ucapku.
"Yoweslah, Ibu mau tidur lagi ya, Ndok."
"Iya, aku juga mau istirahat, Bu."
Aku manarik tangan Mas Rayhan, lalu mencubit pinggangnya, "Awww..." Jeritnya.
"Ayoo turun! Udah dibilangin jangan ke atas. Ngapain sih kamu?"
"Aku cuma mau ngomong sama Zidny sebentar."
"Selama ada Ibu dan Mbak Widya, kamu ga boleh berduaan sama dia."
"Oke... Tapi kamu jangan sebar foto Zidny yang pakai lingerie kesosial media!"
"Aku akan tetap sebar..."
"Lingga... Yaudah, besok aku akan ceritakan juga semuanya ke Ibu dan Mbak Widya" Sepertinya Mas Rayhan benar-benar marah padaku, ia mengancamku.
"Ceritakan apa? Ada apa sih?" Ibu tiba-tiba turun dari lantai atas dan mendengar percakapan kami.
"Ibuu... kok belum tidur?" Tanyaku.
"Ibu baru mau tidur, tapi kedengeran berisik suara ribut-ribut di bawah, makanya Ibu turun."
Salahku juga ribut diruang tengah, tidak dikamar, jadilah terdengar oleh Ibu, suaraku dan Mas Rayhan.
"Ada apa sih, Ndok?"
Aku dan Mas Rayhan saling pandang."
"Nggak ada apa-apa, Bu. Iya kan Mas?" Aku mencubit punggung Mas Rayhan.
"Iya ga ada apa-apa."
"Yaudah, aku mau masuk kamar ya, Bu. Yuk Mas!" Ucapku sambil menarik tangan Mas Rayhan. Kututup pintu rapat-rapat.
Mas Rayhan masih terus memperhatikanku, kuletakkan ponselku dimeja rias, sepertinya nanti Mas Rayhan akan mengambilnya. Tidak masalah, karena ia tidak tau passwordnya, baru saja aku menggantinya.
Mas Rayhan pikir aku serius akan menyebarkan foto itu ke media sosial. Aku tak setega itu, Mas. Aku masih mempunyai hati.
"Kamu sih berisik, Ibu jadi dengar. Ujarku, menyalahkannya.
"Kok kamu nyalahin aku? Aku kan cuma pengen kamu hapus foto itu."
"Sssttt... Udah ah jangan bahas masalah foto, aku mau tidur." Ucapku seraya menarik selimut.
ki ga dilanjut
kutunggu kelanjutannya