NovelToon NovelToon
Sembilan Tahun Pelarian

Sembilan Tahun Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Lari Saat Hamil
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.

Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Malam itu, kegelapan terasa mencekam di dalam rumah petak Arin. Suasana makan malam yang sunyi baru saja selesai ketika tiba-tiba pintu depan digedor dengan kasar dari luar.

BRAK! BRAK! BRAK!

"Arin! Keluar kamu! Arin!"

Suara melengking Bu RT memecah keheningan malam. Jantung Arin mencelos, sementara Zayyan yang sedang merapikan buku pelajaran langsung mencengkeram ujung baju ibunya dengan wajah pucat pasi.

Arin bergegas membuka pintu. Di ambang teras, Bu RT berdiri dengan berkacak pinggang, wajahnya merona merah padam penuh amarah. Di belakangnya, beberapa warga yang kebetulan lewat mulai memperlambat langkah, penasaran dengan apa yang terjadi.

"Bu RT... ada apa lagi, Bu? Bukankah sore tadi semua uang pengobatan Doni sudah saya serahkan?" tanya Arin, suaranya bergetar, mencoba bersikap sehormat mungkin.

"Kurang ajar kamu, ya! Kamu pikir uang recehmu itu bisa mengobati rasa sakit hati saya melihat anak saya babak belur?!" teriak Bu RT tanpa basa-basi, suaranya sengaja ditinggikan agar terdengar ke rumah-rumah tetangga.

"Saya tidak mau tahu lagi! Malam ini juga, kamu dan anak harammu yang tidak tahu untung itu harus angkat kaki dari rumah ini! Pergi kalian!"

Bagai disambar petir di malam buta, lutut Arin seketika terasa lemas. Rumah petak ini memang milik keluarga Bu RT yang disewakan murah kepadanya karena rasa kasihan beberapa tahun lalu.

"Bu RT, saya mohon... jangan usir kami, Bu," ratap Arin, air matanya langsung tumpah. Ia melangkah maju, meraih tangan Bu RT, namun wanita paruh baya bergelang emas itu menepisnya dengan kasar.

"Gak ada ampun! Rumah ini milik saya, hak saya mau mengusir kuman kurap seperti kalian! Kampung ini tidak butuh bibit-bibit kriminal seperti anakmu itu!"

Melihat ibunya diperlakukan seperti itu, Zayyan yang berdiri di belakang pintu keluar dengan air mata berlinang.

"Ibu... Ibu jangan nangis..."

Demi memikirkan nasib putranya yang tidak akan punya tempat berteduh malam ini, Arin membuang seluruh harga dirinya yang tersisa. Di atas lantai semen teras yang dingin, Arin meluruhkan tubuhnya. Ia berlutut di bawah kaki Bu RT, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menangis tersedu-sedu.

"Saya mohon, Bu... tolong beri kami waktu. Paling tidak sampai besok pagi. Zayyan baru saja selesai ujian, di luar sangat gelap dan dingin, Bu... Saya harus bawa anak saya kemana malam-malam begini?" hiba Arin dengan suara parau, memohon belas kasihan.

Namun, pemandangan Arin yang berlutut tidak sedikit pun mengetuk hati Bu RT. Sebaliknya, hal itu justru membuatnya semakin merasa di atas angin.

"Heh, dengar ya semuanya!" teriak Bu RT sambil menunjuk-nunjuk Arin di bawah kakinya, memanggil para tetangga yang kini sudah mulai keluar dari rumah masing-masing dan berkerumun di depan pagar.

"Lihat perempuan ini! Dulu datang ke kampung kita sok suci, melahirkan anak tanpa suami jelas, lalu sekarang anaknya dididik jadi preman yang berani memukul anak saya! Kamu mau mengemis sampai bersujud pun, saya tidak akan sudi menampung sampah seperti kamu lagi di sini! Keluar dari rumah saya sekarang juga!"

Makian Bu RT bergaung di udara malam, disaksikan oleh belasan pasang mata tetangga yang berbisik-bisik, menatap Arin yang bersimpuh pasrah dengan pandangan menghakimi.

Di tengah kepungan bisik-bisik warga yang menghakimi, tiba-tiba langkah kaki yang tergesa-gesa memecah kerumunan. Itu Bu Tini . Ia datang tidak sendirian, melainkan didampingi oleh putri sulungnya yang kebetulan sedang pulang kampung bersama suaminya seorang pria berbadan tegap dan berpakaian rapi yang langsung memberikan aura segan bagi orang-orang di sekitarnya.

Melihat Arin yang bersimpuh pasrah di lantai semen, Bu Tini langsung berlari mendekat. Wajah wanita paruh baya yang biasanya gemar mengomel itu kini memerah penuh keterkejutan dan rasa iba.

"Rin! Berdiri, Rin! Jangan merendahkan dirimu di depan orang seperti ini!" seru Bu Tini lantang.

Dengan cekatan, Bu Tini bersama putrinya langsung memegangi lengan Arin, memaksa wanita yang hancur itu untuk bangkit berdiri. Bu Tini menepuk-nepuk daster lusuh Arin yang kotor terkena debu lantai, lalu merangkul bahu Arin yang bergetar hebat. Zayyan yang melihat ibunya dibantu, langsung berlari memeluk pinggang Bu Tini sembari terisak.

Setelah memastikan Arin aman di belakang punggungnya, Bu Tini berbalik. Ia menatap Bu RT dengan pandangan menghunus. Sikap blak-blakan Bu Tini yang biasanya ditakuti warga kini keluar sepenuhnya.

"Bu RT! Anda ini keterlaluan ya!" bentak Bu Tini , suaranya menggelegar mengalahkan kebisingan malam.

"Anak-anak berantem di sekolah itu biasa! Arin sudah bayar semua uang pengobatan sore tadi sampai uang dapurnya habis! Sekarang, malam-malam begini Anda mau mengusir mereka? Di mana hati nurani Anda?!"

Bu RT yang merasa posisinya sebagai istri ketua RT ditantang, langsung memajukan badannya. "Heh, Bu Tini ! Gak usah ikut campur ya! Ini urusan saya sebagai pemilik rumah! Hak saya mau mengusir siapa saja yang bikin rusuh di kampung ini!"

"Pemilik rumah sih pemilik rumah, tapi jangan kayak orang gak punya iman!" balas Bu Tini tak kalah sengit, tangannya ikut berdecak pinggang.

"Anda itu keterlaluan memanfaatkan jabatan suami buat menindas orang kecil! Semua orang di sini tahu kalau anak Anda yang duluan memprovokasi Zayyan! Anak Anda yang bermulut lancang!"

"Jaga bicara kamu ya! Anak saya anak baik-baik! Perempuan ini yang gak becus mendidik anak haramnya itu!" pekik Bu RT, wajahnya memerah padam, tangannya menunjuk-nunjuk ke arah Arin.

Suasana di depan teras semakin memanas. Percekcokan sengit antar dua wanita itu menjadi tontonan menegangkan bagi warga. Menantu Bu Tini yang bertubuh tegap tampak maju selangkah, berdiri menengahi untuk memastikan Bu RT tidak bertindak fisik pada mertuanya, membuat Bu RT sempat tersentak mundur karena segan.

Melihat keributan yang semakin melebar dan nama baiknya kian dikuliti di depan umum, dada Arin rasanya teremas. Ia tidak ingin menjadi beban dan menyebabkan perpecahan di kampung, apalagi melibatkan Bu Tini yang sudah begitu baik kepadanya.

Dengan sisa-sisa ketegaran yang ia kumpulkan dari lubuk hati yang paling dalam, Arin melangkah maju. Ia memegang lembut lengan Bu Tini .

"Sudah, Bu... Sudah, Bu Tini ..." lerai Arin, suaranya parau dan bergetar, namun terdengar begitu letih. "Jangan ribut lagi karena saya. Saya mohon..."

Bu Tini menoleh, "Tapi, Rin, dia ini......"

"Tidak apa-apa, Bu. Arin ngga papa" potong Arin lembut.

Arin kemudian membalikkan badannya, menatap lurus ke arah Bu RT. Air matanya sudah mengering, digantikan oleh tatapan kosong yang teramat lelah dengan semua penderitaan ini.

"Saya akan pergi, Bu RT," ucap Arin pelan namun tegas, membuat suasana di sekitar teras mendadak hening.

"Malam ini juga, saya dan Zayyan akan angkat kaki dari rumah Anda. Kami tidak akan mengotori tempat ini lagi. Dan terimakasih sudah memberi kami tumpangan untuk beberapa tahun ini"

Bu RT yang mendengar keputusan Arin langsung tersenyum culas, merasa memenangkan pertarungan. Ia merapikan pakaiannya yang sedikit kusut akibat emosi tadi.

"Bagus kalau kamu tahu diri!" cibir Bu RT ketus.

"Cepat kemasi barang-barang busukmu itu! Jangan sampai besok pagi muka kalian berdua masih kelihatan di kampung ini!"

Setelah meluapkan kalimat terakhirnya, Bu RT berbalik dengan angkuh, menerobos kerumunan warga yang langsung memberi jalan, lalu berjalan cepat kembali ke rumah mewahnya. Para tetangga yang menonton pun perlahan mulai membubarkan diri dalam kasak-kusuk, menyisakan Arin, Zayyan, dan keluarga Bu Tini .

1
Anonim
ANJING PENGEN BUNUH REGAN ... DEMI TUHAN PENGEN BUNUH REGAN
Lina Asm
lanjut kak
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
🤣🤣 didikan mu jelek rin 🤣 pantes anak mu berontak harusnya klo ada yg nginjak lawan. bego bukan diem😒 di bully diem. ya bloon
falea sezi
lagian goblok nya harusnya pergi dr suami bawa uang banyak biar anak mu gk menderita bawa fto nikah di pajang gede biar orang kampung tau lu bersuamii😒 begooo MC nya menye
falea sezi
anak g tau diri😒 baru baca uda kesel anak gk pernah di didik. ya gini
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🌹
Mutaharotin Rotin
mampir thor 🌹🌹🌹🌹🥰🥰🥰😭😭
Mutaharotin Rotin
karya baru ya🥰🥰🥰 mampir ya 🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!