Narendra Putra Aryan. CEO muda yang tampan, berkharisma, genius, dan, dingin.
Bertemu dengan seorang gadis yang cantik, ceria, dan pemberani.
Namanya Syeira, gadis yang berprofesi sebagai wartawan pemburu berita media onlin.
Zico saudara Narendra, tumbuh menjadi si pria pirang yang yang tampan. tabiatnya sedikit buruk jika berurusan dengan wanita. Ia selalu berurusan dengan mereka sebagai partner ranjang.
Hingga takdir mempertemukannya dengan Cellin, gadis berkerudung yang lembut dan penyayang.
Ikuti kisahnya dalam cerita Love and Life.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Zico memberikan sebuah ponsel baru pada Syeira. Awalnya Syeira enggan menerima dan menolaknya, namun karna Zico yang terus memaksa dan juga sebagai ganti ponsel Syeira yang kemarin. Akhirnya Syeira dengan malu-malu menerimanya. Itu adalah sebuah Smart Phone seri terbaru dari N~A Cell.
Zico sudah berjanji untuk membantu Syeira. Rencana pertamanya adalah membuat Arend dan Syeira biar bisa menghabiskan waktu bersama berdua saja.
...----------------...
Syeira tengah berada di sebuah Restoran, ia duduk seorang diri di meja VVIP yang jauh dari meja lainnnya. Sebuah Restoran bintang 5, yang ber designe sangat mewah, di sertai dengan pelayanan terbaik. Zico sudah mempersiapkan semuanya secara matang.
Syeira masih sibuk memainkan ponsel barunya. Setelah memasukkan beberapa kontak penting, ia sign in juga ke beberapa sosial media. Tapi Syeira tidak menggunakan nama asli apa lagi foto dirinya sendiri di sosial media. Itu memang caranya. Semuanya Fake.
Syeira merasakan sedikit ketegangan di hatinya. Mengingat apa saja yang di katakan Zico tadi padanya untuk di sampaikan pada Tuan CEO secara langsung.
'Arend sangat membenci penipuan. Dia tidak akan memaafkan mu jika kau berbohong padanya.' Kalimat yang di ucapkan Zico kembali terngiang.
...----------------...
"Kheem?"
Suara bariton yang berat itu terdengar begitu seksi di telinga Syeira. Ia lantas mendongak kan kepala melihat seorang Tuan CEO Narendra yang sudah berdiri gagah di depannya. Seperti biasanya, Tuan Narendra selalu terlihat tampan sempurna.
Syeira yang Syok hanya menganga tanpa bisa mengatakan apa-apa. Arend menatapnya tajam. Lalu mata Arend melirik cepat ke arah kursi.
Syeira lantas bangun dari duduknya dan menyambutnya.
"Aah? Hai, Tuan CEO.? Ah, Ehm? Silahkan duduk."
Terlihat jelas jika Syeira gugup.
"Katakan dengan cepat."
Arend membuka suara yang membuat Syeira bingung. Gerak Mata dan mulut Syeira menunjukkannya. Arend semakin menatapnya tajam dengan raut muka yang dingin namun tetap tampan.
Syeira menelan kasar salivanya. Ia sedikit bingung bagaimana memulainya. Syeira beberapa kali mengeluarkan lidahnya mengulum sendiri bibirnya. Arend memperhatikan gerakan itu, 'Dia gugup.'
"Zico bilang, kau ingin mengatakan sesuatu. Jika, kau diam saja. Aku akan pergi."
"Aaahh, Tunggu. Ini tentang pernikahan kita. Em M mm maksudku. Aku ingin meminta satu permintaan."
Syeira benar-benar gugup dan takut, Jemarinya yang menggenggam ponselnya tidak berhenti bergerak. Arend meliriknya. Dada Syeira rasanya sedang lompat-lompat.
"Cepat katakan."
Syeira menarik nafas dalam. Lalu menghembuskan nya.
"Aku,? Aku hanya? A a a Aku hanya ingin mengajakmu makan. Ku mohon, sekali ini saja. Makan malam dengan ku."
Arend mengernyitkan kening mendengar ucapan Syeira, rasanya tidak mungkin jika Syeira begitu gugup dan takut hanya untuk mengajaknya makan malam.
Arend pun mengangguk sebagai jawaban. Syeira tersenyum kaku ke arah Arend.
Syeira akhirnya memilih untuk tidak usah mengatakan apa yang sebenarnya ingin dia katakan. Syeira berpikir jika itu percuma. Narendra tidak mungkin akan mengizinkan adanya media yang meliput pernikahannya. Paling tidak, sekarang Tuan CEO itu sudah duduk lebih lama bersamanya. Ia bisa membuktikan pada Bu Mela jika dia memang memiliki hubungan dengan CEO N~A Cell.
Dua pelayan pria datang, masing-masing membawa buku menu makanan yang di tunjukkan sangat sopan di depan Syeira dan Arend.
Arend melihat menu nya, dan dia sudah memilih makanannya. Pelayan itu kembali menutup bukunya. Beda halnya dengan Syeira yang masih melihat Arend lekat dengan tatapan gugup. Ia masih tidak memperhatikan buku menu yang di buka di depannya itu, apalagi memilih makanannya.
Arend menatap Syeira.
"Apa kau tidak ingin memilih?"
"Hah? Iya ya ya ya."
Syeira tersadar, menganggukkan kepalanya berkali-kali. Ia lantas melihat ke arah buku menu. Otak nya nge-bug tiba-tiba. Jantungnya yang berdetak tidak normal, rasa panik dan gugup. Serta nama-nama menu itu yang membingungkan baginya. Meski ia pandai bahasa Inggris tapi jika di sebutkan kedalam menu makanan yang belum ia lihat sebelumnya. Syeira jadi bingung sendiri.
"Ah? Em? E?"
Syeira bingung memilih menu yang akan di pilih.
"Nomor 12. Iya nomor 12." Syeira menyebut angka tanpa sepenuhnya membaca nama menu itu.
"Anda yakin, Nona?" Sang pelayan sampai kembali bertanya mengkonfirmasi menu pilihan Syeira.
Syeira hanya mengangguk cepat tanpa menoleh lagi ke buku menu itu, pandangan Syeira tak lepas dari Arend. Tapi ia sedang gugup.
Arend tersenyum sinis memalingkan muka. Dan Syeira tersenyum kaku.
Mereka hanya sama-sama diam. Syeira kini memalingkan wajah melihat-lihat ke arah lain. Berusaha mengurangi kegugupannya. Sedangkan Arend menatapnya dengan tenang.
Ponsel Syeira bergetar. Syeira melihat lalu menggeser layarnya. Arend terus mengamati gerak gerik Syeira.
Syeira hanya tersenyum kaku, tangannya yang memegang ponsel bergerak pelan ke atas meja. Arend menyadari itu. Arend sedikit memalingkan muka. Tapi ia masih memberikan ruang agar dirinya bisa tertangkap kamera ponsel Syeira meski tak sepenuhnya.
Beberapa pelayan datang membawa menu makanan, Mengagetkan Syeira, ia lantas dengan cepat kembali menurunkan ponselnya, lalu me non aktifkan benda pipih itu.
Betapa kagetnya Syeira melihat menu yang di pesannya di hidangkan di atas meja. Itu adalah kepala seekor kambing panggang yang utuh. Syeira refleks mual. Ia membungkam mulutnya sendiri. Dan cepat-cepat lari mencari Toilet, Para Pelayan yang memahami hal itu dengan cepat lari menunjukkan Syeira Toilet nya.
Arend tersenyum sampai bahunya bergetar, tawa yang di tahan. Ia sudah menduga jika pasti menu yang di pilih Syeira adalah menu makanan yang aneh, dari cara pelayan yang kembali menanyakan pilihannya Syeira tadi.
Syeira sampai di Toilet, ia masuk dengan buru-buru lalu memuntahkan semua isi perutnya. Ia begitu mual melihat kepala kambing panggang yang utuh di atas meja makan yang di hidangkan untuknya.
Syeira kembali muntah saat mengingatnya. Sampai isi perutnya kosong tak ada lagi yang bisa ia muntahkan.
Syeira membasuh mukanya dengan air. Melihat wajahnya yang sudah kacau di depan cermin. Mata Syeira merah dan berair karna muntah.
"Bodoh. Bodoh. Bodoh.." Umpat Syeira pada dirinya sendiri.
Ia merasa sangat malu sekarang, makan malam pertamanya yang ia rencanakan atas ide Zico gagal total karna kebodohannya.
Syeira melangkah gontai keluar dari kamar mandi. Saat membuka pintu, Syeira kaget dan berhenti. Arend sudah ada disana menyandarkan tubuhnya yang indah di pandang mata setiap kaum hawa pada dinding dekat pintu yang di buka Syeira.
Arend mengulurkan tangan, memberikan Syeira sapu tangan berwarna putih. Syeira tiba-tiba kembali teringat dengan teman masa kecilnya yang ia lupakan namanya, yang dulu juga memberikan sapu tangan padanya.
Syeira menggelengkan kepalanya, ia menolak sapu tangan yang di berikan Arend. Kedua matanya sudah berkaca-kaca tanpa bisa di cegah. Arend mengernyitkan kening tidak mengerti dengan sikap Syeira. Tapi ia menarik kembali tangannya dan memasukkan kembali sapu tangan itu ke dalam saku jas.
"Masih mau makan?." Tanya Arend yang hanya ingin berbasa-basi. Atau ingin menggoda.
Jelas Syeira menggelengkan kepalanya dengan cepat. Terlihat satu senyum yang sangat manis terukir di bibir Arend. Syeira rasanya Meleyot di buatnya. Ini adalah senyum Arend yang pertama Syeira lihat.
'Betapa indah tuhan memahat wajah dan senyuman mu, Tuan? Tapi kau lebih suka menajamkan mata dan mengeraskan rahang mu?
"Baiklah, kita cari tempat makan yang lain. Kau belum makan. Baru setelah itu kita pulang."
'Hah? Apa itu? Dia berbicara dengan nada suara yang tenang? Oh Tuhan?'
...****************...