Keisha harus putus dengan seorang yang sangat ia cintai, hanya karena sebuah kebodohan.
Setelah ucapan yang membuatnya menyesal itu, Keisha harus terjebak dalam sebuah pernikahan yang sama sekali tidak terbayangkan.
Sebuah pernikahan kontrak yang membuatnya tidak bisa menolak, karena nyawa orangtuanya selalu dijadikan senjata sebagai ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Menunggu di bawah hampir tiga jam, Anita semakin kesal dibuatnya. Lirikan mata sinis ia tujukan kilas pada dua orang baru saja turun dengan Reynand berjalan lebih dulu. Mengangkat tubuh Nabila sudah berlari ke arahnya, Reynand membawanya untuk menemui Anita dan Vano.
Tangan Keisha sudah ia tarik lebih dulu ketika perempuan dipaksa berganti kemeja besar suaminya itu hendak pergi ke kamarnya. Hanya mengenakan kemeja yang mampu menutup sampai paha, Reynand membawanya duduk dengan memangku Nabila. Tentu saja hal itu semakin membuat Anita geram, karena tangan Reynand tak.pernah melepaskan tangan Keisha sedikitpun.
"Papa sakit?" tanya Nabila ketika Vano mulai memeriksa Reynand.
"Bukan sayang, papa kamu sedang pemeriksaan rutin. Takutnya dia sakit darah tinggi" menggoda mencubit hidung Nabila, Vano mendapatkan lirikan laki laki masih memangku putrinya.
"Oh ya, itu mama kamu? kenapa tidak kenalkan ke om?" tambah Vano dengan niatan menggoda Reynand.
"Iya" menjawab dengan suara manjanya, Nabila meraih tengkuk Keisha dan memeluknya.
Berkenalan dengan Vano, mengembangkan senyum dengan tangan kiri masih di genggam Reynand. Sengaja ia meletakkan tangan di pangkuan Keisha, agar perempuan terpaksa tinggal itu tak bisa untuk kabur. Anita yang melirik melihat, benar benar sangat ingin marah. Hal itu tak dipedulikan Reynand karena adanya Nabila di sana.
"Papa, aku mau sama mama" pinta Nabila.
"Oke, tapi tetap disini" sahut Reynand, meletakkan tubuh putrinya di pangkuan Keisha.
"Aku mau ganti baju dulu" ucap Keisha merasa risih dengan pakaiannya, apalagi tangan Reynand indah menempel di atas pahanya.
"Kenapa? bukankah seksi seperti ini?" berbisik lirih mendekatkan wajah di telinga Keisha, lalu mencium sisi lehernya.
Senyumnya mengembang melihat Keisha bergidik geli menjauhkan kepala ke samping. Sangat tidak menyukai apapun yang dilakukan lelaki di sampingnya, Keisha menepis tangan di atas pahanya dan beranjak pergi untuk mengganti pakaian. Ia lebih dulu berpamitan pada putrinya, karena tak mau mengajak untuk ke kamarnya dan membuat Nabila tau dimana ia tinggal.
Vano memperhatikan wajah Reynand yang menyeringai menatap Keisha dari belakang. Mengamati kepergian Keisha, dengan mata menatap setiap senti tubuh perempuan tengah berjalan dengan cepat. Nabila pergi ke kamar bermain atas keinginan Reynand, agar bisa leluasa berbicara.
"Kenapa kamu diam saja?" tanya Reynand pada Anita.
"Kelihatannya kamu sudah senang dengan mainan baru, kenapa peduli denganku lagi?!" sinis Anita, di balas senyum sinis Reynand.
"Kamu sudah sering melihatku bersama wanita lain, kenapa lagi sekarang? bukankah sudah aku bilang cuma kamu yang bisa mendampingiku?" santai Reynand.
"Bullshit!" geram Anita melipat tangan di depan dada, membuang wajah ke arah lain.
"Bicara saja kalian berdua, aku akan pergi sebentar" ucap Vano tak ingin mendengar, dan pergi menyusul Nabila.
Reynand meraih tangan Anita dan menariknya ke pangkuan, melingkarkan tangan pada perut perempuan tengah ia cium lehernya itu intens.
"Aku benci kamu seperti ini" lirih Reynand berbisik, mengusap lembut paha Anita.
"Bisakah kamu menjauh darinya? aku tidak suka" ucap Anita melingkarkan tangan pada tengkuk Rey.
"Apapun itu sayang, asal kamu senang" sahut Reynand mencium perempuan dengan wajah sangat dekat dengannya.
Memainkan tubuh Anita tanpa melepas bibirnya, tidak peduli dengan banyaknya pelayan yang memang biasa menyaksikan hal itu. Vano sengaja menemani Nabila agar gadis kecil itu tak melihat apa yang akan dilakukan Anita juga Reynand, ia tahu jika Rey akan merayu dengan cara biasa.
Dari kejauhan, Keisha sudah kembali dan melihat perbuatan lelaki sudah berulang kali menikmati tubuhnya paksa pagi ini. Menggelengkan kepala dengan rasa jijik, Keisha berjalan menghampiri Nabila di ruang bermain setelah tadi diberitahu oleh pelayan.
Sementara di tempat lain, Reza tengah merasa gundah karena tak bisa menghubungi kekasihnya. Terus mencoba namun tak terhubung sama sekali, ia pun meminta bantuan pada Divia untuk mencoba menghampiri ke rumah Keisha.
Pagi itu, Divia langsung datang ke rumah Keisha karena memang ia merindukan sahabatnya. Alangkah terkejutnya Divia yang datang seorang diri dan bertemu dengan Bunda dari sahabatnya. Duduk bersama dan saling berbincang, Sarah menceritakan perihal pernikahan Keisha dengan Reynand.
Lama berbincang, Divia berpamitan pulang dengan rasa masih tak percaya. Bagaimana bisa sahabatnya menikah dengan orang lain, sementara ia tahu seberapa besar cintanya pada Reza. Bahkan tak ada kabar berita perihal pernikahannya, membuat Divia semakin tak mengerti akan apa yang telah terjadi.
"Gimana cara gue ngomong ke Reza?" batin Divia, menyusuri jalan untuk kembali pulang.
Ponselnya terus berdering panggilan dari Reza yang masih gelisah menanti kabar. Hingga dua puluh panggilan tak berani di angkat oleh Divia sama sekali. Ia masih kebingungan tentang bagaimana cara mengatakan kenyataan pahit ini, sampai ia nekat mengangkat karena tak ingin membuat Reza makin khawatir.
"Lo gimana sih, gue hubungi udah berapa kali engga Lo angkat juga. Gimana sama Keisha? dia baik baik aja kan?" ucap Reza seketika dengan nada khawatir.
"Baik kok Za, dia baik baik aja. Cuma..." sahut gadis tengah menghentikan mobil di pinggir jalan itu ragu.
"Cuma apa? Lo yang jelas dong" sahut Reza dari ujung telpon.
"Keisha udah nikah" ragu dan sangat berhati hati Divia berucap, mengejutkan lelaki tengah duduk di taman kampus seorang diri.
"Apa?! Lo jangan bercanda deh! gak mungkin Keisha khianati gue dan nikah sama orang lain!" tegas Reza bangkit dari duduk.
"Gue juga kaget Za, tadi bundanya yang cerita ke Gue" sahut Divia takut akan nada bicara Reza.
"Gue bakal pulang secepatnya, gue gak akan percaya sebelum tahu dengan mata kepala gue sendiri!" pungkas Reza langsung menutup sambungan telpon.
"Keisha, apa sih yang ada di otak Lo?!" gumam Divia masih memegang ponsel dan menggenggamnya kuat karena geram.
Sekali lagi Reza merasakan kehancuran akan kabar mengejutkan yang ia terima. Luka karena putus dari Keisha baru saja berangsur menghilang, namun kini luka itu kembali lagi dengan lebih parah. Sangat menyesakkan dada, Reza tanpa sengaja menitikan bulir air mata dengan menghempaskan tubuhnya di bangku taman.
"Kenapa Kei? bilang kalau semua ini bohong. Apa salah aku ke kamu sampai kamu tega lakuin ini ke aku? aku cinta sama kamu. Jangan tinggalin aku kaya gini Keisha" gumam Reza menundukkan kepala menyembunyikan air mata.
Harapan yang baru saja muncul untuk sebuah hubungan baru, kini seakan musnah kembali. Meski logikanya tak.percaya akan apa yang terjadi, tak bisa ditampik jika kini hatinya sangat terluka. Cinta nya terlalu besar, sampai ia takkan mampu kehilangan Keisha dan mungkin akan memilih tiada. Tanpa hadirnya Keisha, hidupnya benar benar tak berarti. Reza masih duduk tertunduk dengan luka dan air matanya sendiri.
Kalau like nya udah banyak pasti di up kok mba...