"Aku bertahan bukan karena masih mencintaimu. Tapi, aku bertahan untuk memastikan kalian menyesal."
Alena selalu berusaha menjadi istri yang sempurna, setia, penurut dan, selalu percaya pada suaminya.
Namun, sejak setahun terakhir, Arsen selalu bersikap dingin padanya. Dia masih bisa berpikir positif, jika semua itu karena pekerjaan. Dan, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan sepenuh hati.
Sampai, ia menemukan ponsel kedua milik Arsen dan mengetahui bahwa pria yang ia cintai selama ini ternyata telah mengkhianatinya.
Lucunya, semua orang tahu tentang perselingkuhan itu, kecuali dirinya.
Dan, sejak saat itu, Alena berubah. Ia menghapus air matanya, berhenti menjadi istri yang bodoh. Dan, mulai membangun hidupnya sendiri.
Dalam hati, ia bersumpah akan membalas suami dan selingkuhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Bertemu Kakek Rendra
Mengetahui bahwa beberapa hari terakhir ia hampir tidak pernah bertemu Alena, membuat Arsen diliputi amarah.
Setiap kali pulang, ia selalu mendapati kamar dalam keadaan kosong. Wanita itu sudah tertidur di kamar terpisah. Saat pagi tiba, Alena bahkan sudah berangkat bekerja sebelum ia sempat melihat wajahnya.
Meski demikian, Alena tetap menjalankan kewajibannya. Pakaiannya untuk bekerja selalu disiapkan, sarapan tersedia di meja makan, bahkan kebutuhan sehari-harinya tidak pernah terabaikan.
Namun, entah mengapa, Arsen justru merasa asing. Ia seolah tidak dianggap ada dalam kehidupan Alena. Perasaan diabaikan itu perlahan mengusik harga dirinya.
Di sisi lain, Hana justru terus memperkeruh keadaan.
"Untuk apa mempertahankan pernikahan seperti ini? Ceraikan saja Alena. Setelah itu, kamu bisa segera menikahi Erina," bujuk Hana.
Arsen mengembuskan napas panjang. "Aku akan menceraikannya, tapi tidak sekarang."
"Kenapa harus menunggu?" tanya Erina penasaran.
Tatapan Arsen berubah tajam. "Aku tidak akan membiarkannya pergi begitu saja. Aku harus memastikan dia keluar dari rumah ini tanpa membawa apa pun."
Menurutnya, meskipun modal awal perusahaan berasal dari uang Alena, dialah yang telah bekerja keras membesarkan perusahaan itu hingga menjadi seperti sekarang. Semua aset yang ada saat ini, dalam pikirannya, adalah hasil jerih payahnya seorang diri.
"Selama ini Alena tidak pernah berkontribusi apa-apa. Jadi, dia tidak berhak menuntut apa pun dariku," ucapnya dengan nada dingin.
Erina tersenyum tipis, lalu meraih tangan Arsen.
"Kalau begitu, jangan terburu-buru. Bukankah sekarang Alena sibuk bekerja? Itu bisa menjadi alasan yang menguntungkan untukmu nanti," ucapnya lembut. "Tunggu saja sampai dia benar-benar mengabaikan kewajibannya sebagai istri. Setelah itu, kamu akan punya cukup alasan untuk menceraikannya."
Perkataan Erina berhasil meredakan amarah Arsen.
Wanita itu benar. Ia hanya perlu bersabar dan mencari kesempatan. Sedikit saja kesalahan dari Alena, ia akan menjadikannya senjata untuk mengakhiri pernikahan mereka.
Lagi pula, selama Alena sibuk bekerja dan jarang berada di rumah, ia, Hana, dan Erina bisa lebih leluasa melakukan apa pun tanpa gangguan.
Di sisi lain, Alena benar-benar bekerja keras. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada di hadapannya. Baru beberapa hari menjadi karyawan magang, ia sudah dilibatkan dalam proyek besar di bawah bimbingan Doni.
Alena belajar dengan cepat dan tidak pernah ragu untuk bertanya kepada rekan-rekan kerjanya. Ia menyerap setiap ilmu yang diberikan, seolah takut kehilangan kesempatan berharga itu.
Ya, meskipun sudah diterima bekerja di perusahaan tersebut, statusnya masih sebagai karyawan magang selama tiga bulan. Namun, ada satu kesempatan yang bisa membuatnya diangkat menjadi karyawan tetap lebih cepat, yaitu ia harus berhasil menyelesaikan proyek dan mendapatkan tanda tangan kontrak dari klien.
Karena itulah, Alena terus bekerja keras.
Meski sibuk, ia juga tidak tinggal diam dan membiarkan Arsen begitu saja. Diam-diam, ia mengumpulkan bukti-bukti perselingkuhan dan kecurangan dalam rumah tangganya. Semua itu akan menjadi senjata yang menguntungkannya saat proses perceraian nanti.
Suatu sore, setelah jam kerja berakhir, Alena duduk di halte sambil menunggu bus berikutnya.
Ia mengembuskan napas panjang, lalu memijat bahunya yang terasa pegal.
"Astaga, capek sekali," gumamnya pelan.
Pada saat yang sama, sebuah mobil melintas di depan halte itu. Di dalamnya, Rendra yang sedang dalam perjalanan dan tidak sengaja melihat sosok Alena.
"Berhenti sebentar," perintahnya kepada sopir.
Mobil pun menepi.
"Kamu tunggu di depan saja. Aku ingin turun sebentar," ucap Rendra.
"Baik, Tuan."
Rendra turun dari mobil. Dan, setelah sopir menjalankan mobil perlahan, Rendra segera menghampiri Alena.
"Alena?"
Alena mendongak. Matanya membulat karena terkejut. "Kakek? Apa yang Kakek lakukan di sini?"
Rendra tersenyum, lalu duduk di sampingnya. "Kakek hanya jalan-jalan sore."
Alena menoleh ke kanan dan kiri. "Kakek sendirian?"
Rendra terkekeh kecil. "Kalau tidak sendiri, memangnya harus dengan siapa?"
"Siapa tahu cucu Kakek menemani."
Mendengar itu, wajah Rendra langsung berubah masam.
"Ck, jangan membicarakan dia. Mana mungkin anak itu mau menemani pak tua seperti Kakek?"
Alena hanya tersenyum kecil dan mengangguk.
"Oh, ya." Rendra memperhatikan penampilan Alena dari atas sampai bawah. "Kamu baru pulang kerja?"
"Iya, Kek. Aku diterima bekerja di WIN Group."
Rendra tertegun. "WIN Group?" ulangnya memastikan.
"Iya."
Rendra mengangguk pelan sambil tersenyum. "Akhirnya, Kenan mempekerjakan Alena juga," batinnya lega.
"Kamu bekerja di bagian apa?"
"Aku masih magang, Kek. Jadi, sementara ini aku membantu pekerjaan beberapa karyawan dan ikut belajar di proyek yang sedang berjalan."
"Oh, begitu."
Rendra mengembuskan napas pelan. "Dasar Kenan. Kenapa tidak langsung menjadikan Alena karyawan tetap?" gerutunya dalam hati.
Namun, beberapa detik kemudian, ia teringat ucapan Kenan beberapa waktu lalu.
"Dia sudah menikah, Kek."
Pandangan Rendra perlahan turun ke tangan Alena. Benar saja, sebuah cincin melingkar manis di jari manis wanita itu.
"Alena, kamu sudah menikah?"
Alena mengikuti arah pandang Rendra dan tertawa kecil. "Iya, Kek."
Rendra menggeleng pelan dengan ekspresi kecewa. "Sayang sekali. Padahal, Kakek ingin menjodohkan mu dengan cucu Kakek."
Alena tertawa lebih keras. "Wah, berarti aku memang terlambat mengenal cucu Kakek."
Namun, sedetik kemudian tawanya memudar. Senyum di bibirnya perlahan menghilang. Ia menunduk, memutar cincin di jarinya.
"Kalau saja aku mengenal cucu Kakek lebih dulu..." suara Alena berubah lirih, "...mungkin aku tidak akan sesakit ini."
Rendra terdiam.
Ia menatap Alena yang masih menundukkan kepala. Meski wanita itu berusaha tersenyum, ia bisa melihat kesedihan yang begitu dalam di matanya.
Rendra menyadari bahwa pernikahan Alena mungkin tidak seindah yang selama ini ia bayangkan.
klo istrinya bodoh diem damai hatimu..sekaramg istrimu sudah sadar dia pintar dan berguna bukan orng bodoh yg cima diam tak berdaya di perlakukan semena mena..tunggu langkah selanjutnya
makin seru thor, lanjut...