COOL BOY GUS FASHAN
🌸SEASON DUA DARI USTADZ MUDA ITU SUAMIKU🌸
Seorang pria gagah, tampan, pemalu dan dingin. Sangat menyayangi keluarganya. Seorang pria berumur 25 tahun, Muhammad Fashan Ali Zainul Majdi. Si sulung dari 4 bersaudara.
Kisah cintanya tak berlangsung mulus, apalagi saat dia dituduh atas perbuatan yang tidak pernah dia lakukan. Namun, walaupun begitu. Dia adalah pria yang taat agama dan Sholeh. Menginginkan pasangan terbaik, bahkan keislamannya pun sangat berharga untuk nya. Gus Fashan adalah seorang pebisnis muda, guru dan pengurus pesantren keluarganya Al Bidayah. Karena kejadian malam itu, setelah yakin dengan sholat istikharah. Dia menikahi seorang gadis yang memiliki sifat tidak jauh-jauh darinya, dingin, cuek, galak dsn ketus. Gus Fashan berusaha menjadi sosok yang baik untuk istrinya tercinta Raihanah Sufu Embrace, 22 tahun, santriwati baru di pesantren. Gus Fashan berusaha menjadi pencair suasana, jika dia masih bersikukuh dengan sikap cueknya, entah bagaimana rumah tangga nya dengan Raihanah. Gus Fashan akan terus berusaha mendapatkan penerimaan yang ikhlas dari istrinya, walaupun sulit dan memerlukan waktu. Akankah si ketus Raihanah luluh? kita simak kisahnya..
Happy reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Sepakat bersama
Saat ini, gus Fashan dan Raihanah sedang berada di lapangan luas. Ada Faiza juga untuk mencegah terjadinya hal buruk diantara keduanya, dia yang akan menjadi saksi jika ada fitnah kembali.
Raihanah menyodorkan kantong plastik, berisi jaket gus Fashan. Gus Fashan menerimanya dan Raihanah diam memperhatikan pria di hadapannya.
"Maaf, maksud kamu apa ya. Bilang sama semua Santriwati kita mau menikah, kamu gak tahu seheboh apa Pesantren saat ini?" ketus Raihanah dan gus Fashan malah tersenyum.
"Sengaja" jawab gus Fashan dan Raihanah menggeleng kepala.
"Ini keterlaluan" tegas Raihanah.
"Terus kamu mau nya gimana? Semuanya sudah tersebar, hubungan aku dan kamu karena kejadian itu. Keluarga kita sama-sama menanggung malu Rai" tutur gus Fashan, Raihanah tidak perduli dan dia memalingkan wajahnya.
"Saya gak perduli mau orang bilang apapun tentang saya"
"Saya juga gak perduli, mau kamu nolak terus pun saya tetap mau menikah sama kamu" tegas gus Fashan, begitu yakin dan rasa malunya dia tinggalkan sejenak. Dia pertama kali mengajak Zaenab ta'aruf, tapi Raihanah adalah yang pertama, satu-satunya gadis yang dia lamar dan mengajaknya langsung menikah seperti ini.
"Jangan ngaco" Raihanah merengek-rengek seperti anak kecil. Raihanah berbalik dan melangkah pergi.
"Mari menikah, hidup bersama dan sama-sama berjuang untuk menggapai surga-Nya. Apa kamu yakin tidak ada sedikitpun niat untuk berumah tangga bersama saya Raihanah?" seru gus Fashan lantang, Faiza tersenyum dan Raihanah berbalik agar gus Fashan berhenti.
"Jangan kenceng kenceng" protes Raihanah dan gus Fashan tersenyum tipis.
Gus Fashan tiba-tiba merogoh sakunya, mengeluarkan kotak cincin lalu dia membuka nya, Raihanah terperangah melihat wajah mendamaikan di hadapannya itu. Gus Fashan meletakkan kotak cincin dalam keadaan terbuka, di atas kursi kayu panjang di sebelah keduanya.
"Saya gak bisa memakaikannya, kita bukan mahram. Bawa saja, pakai sendiri kalau memang kamu mau menikah dengan saya. Gak ada pilihan lain, kecuali kita bersama Rai. Saya gak punya apa-apa, saya punya sedikit ilmu, saya punya sedikit keahlian untuk mencari nafkah buat kamu. Saya cuma pedagang, dan seorang pengajar. Saya minta maaf karena sudah menyebut nama kamu dalam doa saya, belum ada rasa cinta diantara kita berdua. Cinta yang sesungguhnya adalah cinta dalam ikatan pernikahan Rai.". Tutur gus Fashan lirih, suaranya begitu lembut. Keyakinan yang mendadak dia dapatkan untuk segera menikahi gadis di hadapannya itu semakin kuat.
"Kamu bukan tipe saya, saya gak suka sama kamu" ujar Raihanah begitu jujur.
"Saya juga tahu, saya juga gak suka sama kamu"
"Lalu kenapa kamu mau menikahi saya, jangan main-main ya Fashan!" Tegas Raihanah, dia lipat kedua tangannya di dada begitu angkuh.
"Niat saya menikah untuk menyempurnakan ibadah, saya gak tahu kenapa Allah memberi saya petunjuk bahwa kamu yang terbaik. Kamu benci sama saya, tapi saya gak pernah benci sama kamu. Dengan kita menikah, kamu punya saya, dan saya punya kamu. Dengan kita menikah juga, saya mau semua orang bungkam dan berhenti mencela kamu lagi. Mari menikah Rai" tutur gus Fashan, di terus menunduk begitu juga dengan Raihanah.
Raihanah merasa sedih, dia tahan air matanya supaya tidak jatuh." Setelah kejadian itu, saya gak tenang Gus. Apalagi setelah saya tahu, saya anak hasil diluar pernikahan. Sepertinya gak ada laki-laki yang mau sama saya, nama saya sudah kotor. Di media sosial bahkan ada yang membuat kronologis kejadian malam itu. Saya di caci maki orang-orang, apalagi di kampus. Gak ada laki-laki yang mau sama saya, saya cuma anak di luar pernikahan Gus" tutur Raihanah, suaranya berat dan akhirnya tangisannya pecah.
"Ada saya, saya siap menikahi kamu, saya siap bertanggung jawab untuk kejadian itu. Karena saya seorang Gus, kesalahan sedikit saja dibesar-besarkan, kesalahan memang tidak bisa dibenarkan, tapi karena gelar yang saya sandang ini. Membuat semua langkah yang saya ambil menjadi sorotan, apapun jawaban kamu saya tunggu Rai. Jangan menangis, saya gak bisa menyeka air mata kamu. Setelah menikah, saya pastikan bahwa tidak ada satu tetes pun air mata yang jatuh di pipi kamu" imbuh gus Fashan tanpa menatap, Raihanah tersenyum tapi dia masih bimbang.
"Saya butuh waktu" ucap Raihanah.
"Saya siap menunggu" jawab gus Fashan pasrah.
****
Nenek sakit.
Raihanah bergegas pergi meninggalkan asrama, dia berpapasan dengan umi Nailah yang baru pulang dari kebun.
"Mau kemana neng, buru-buru banget. Ada masalah?" tanya umi Nailah. Dia senang bisa bertemu dengan Raihanah. Gadis itu sangat susah ditemui akhir-akhir ini.
"Emm enggak umi" jawab Raihanah, dia melihat umi Nailah sepertinya mau berbicara dengannya, benar saja. Setelah dia mengatakan hal itu, umi Nailah meraih tangannya. Menariknya untuk duduk bersama.
"Umi mau ngomong sebentar, boleh?" ucap umi Nailah dan Raihanah mengangguk.
"Boleh" jawab Raihanah begitu lembut.
"Gimana kabar kamu sehat?"
"Alhamdulillah Rai sehat mi"
"Alhamdulillah kalau begitu"
Raihanah tersenyum, dia diam dan membiarkan umi Nailah mengusap lembut kepalanya. Dia merasa nyaman.
"Umi mau nanya neng, begini. Fashan anak umi. Ada niatan untuk melamar kamu" tutur umi Nailah dan Raihanah tersentak, apa harus sekarang gus Fashan memberitahu orang tuanya? Padahal Raihanah masih bingung dengan jawabannya.
"Rai gak suka sama anak umi, maaf" ucap Raihanah, umi Nailah malah tersenyum dibalik cadarnya.
"Umi tahu, Fashan emang jelek, kasar dan bukan seleranya para gadis termasuk kamu"
"Tapi gak jelek juga sih mi, lumayan kok hehe" puji Raihanah malu-malu dan umi Nailah tersenyum. Raihanah mengigit bibir bawahnya kelu, merasa aneh dengan jawabannya sendiri yang keluar begitu saja.
"Ashan serius, kalau kamu setuju dalam waktu dekat kami datang ke rumah kamu" ucap umi Nailah.
"Rai gak bisa mi, banyak Santriwati lain yang jauh lebih baik dari Raihanah. Raihanah cuma gadis miskin ilmu, keluarga juga udah gak utuh, umi pasti tahu kalau seumpamanya Rai nikah. Papi Raihanah gak bisa jadi wali, itu aib. Keluarga umi, keluarga baik-baik. Jangan menaruh harapan sama Raihanah ya mi" tutur Raihanah, dia berat mengatakannya, tapi dia harus. Gus Fashan bisa mendapatkan gadis baik-baik, dan itu bukan dirinya.
"Masya Allah, semua manusia itu sama Rai. Gak ada yang beda, kesalahan orang tua kamu dulu itu kesalahan mereka. Jangan merasa pendek melangkah, kamu gak salah apa-apa, takdir dari Allah SWT yang melahirkan kamu ke dunia sampai sekarang, dan ketemu sama umi. Gak ada manusia sempurna, manusia paling sempurna hanya Nabi Muhammad Saw, dan seluruhnya kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Jangan merasa buruk sayang, kita semua sama. Mau kamu ataupun umi, sama-sama punya salah dan masa lalu." Tutur umi Nailah menjelaskan, Raihanah merasa lega mendengarnya, dari sekian banyak orang yang menghinanya. Allah pilihkan satu keluarga yang begitu baik yaitu keluarga pak kyai. Temannya yang baik hanya Faiza, Dedeh dan Gita. Zaenab dia coret karena sudah tahu belangnya seperti apa.
Setelah mengobrol dengan umi Nailah, Raihanah masih tetap tidak bisa memberikan jawaban. Umi Nailah menyarankan Raihanah untuk sholat istikharah, dengan penuh kerendahan hati dan hanya memohon serta percaya, hanya kepada Allah SWT. Hanya itu jalan terakhir untuk dilakukan Raihanah. Setelah itu, Raihanah pamit tapi dia tidak bilang akan ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Rudi mendelik sebal dan Raihanah tidak perduli.
"Nek, maaf Rai telat" ujar Raihanah. Nenek tersenyum, ingin duduk dan Raihanah membantunya.
"Akhirnya kamu datang, kamu udah gak marah sama nenek Rai?" ucap nenek sedih dan Raihanah tersenyum.
"Memangnya kapan Rai bisa marah sama nenek, Rai cuma butuh waktu sendiri. Nenek ngira Rai marah? Nenek sakit gara-gara Raihanah?" Raihanah merasa bersalah.
"Enggak" ujar nenek." Peluk nenek sayang" pintanya dan Raihanah tersenyum, dia peluk tubuh neneknya lembut. Ada yang masih tersisa, rasa kecewa di hati Raihanah. Tapi dia lebih sayang kepada neneknya, akan berusaha melupakan semuanya.
Malam harinya, Raihanah izin kepada umi Nailah langsung untuk pulang. Padahal dia harus menjaga neneknya di rumah sakit, Raihanah mengompres kening neneknya itu berulang-kali. Hanya nenek yang tulus padanya, dia tidak mau nenek kenapa-kenapa.
*****
Hari ini, gus Fashan menjalani aktivitas seperti biasa. Dia baru saja keluar dari kelas 11 B. Gus Fashan merogoh sakunya saat hapenya itu bergetar, kedua matanya berbinar-binar melihat siapa yang mengirimkan chat padanya.
-Raihanah Sufu Embrace-
"Assalamu'alaikum, saya Raihanah. Sudah saya pakai ya cincin nya, saya gak mau menunda-nunda. Saya gak mau ada fitnah lagi. Cincin nya gemes, saya suka. Tapi sedikit sempit."
Gus Fashan melotot, dia langsung duduk dan mengusap dadanya. Berusaha menetralkan kekagetannya, setelah membaca pesan dari Raihanah.
Apa ini? Gadis itu benar-benar mau menikah dengannya?. Gus Fashan merasa tidak percaya, dia tepuk pipinya satu kali dan terasa sakit. Raihanah memakai cincin dari gus Fashan, sebagai tanda dia menerima untuk segera dinikahi. Raihanah mengambil foto di bawah matahari, begitu terlihat indah cincin dari gus Fashan, terselip dijari manis dan diantara jemari mungil dan lentik.
Pesan balasan.
"Wa'alaikumus Salaam, Alhamdulillah. Terima kasih, tunggu saya dan keluarga datang untuk mengkhitbah. Saya gak tahu ukuran jari kamu Rai."
Gus Fashan terus tersenyum, setelah membalas pesan Raihanah. Dia bangkit dan bergegas pergi ke kantor guru.
Di kampus, Raihanah yang sedang menunggu pesan balasan dari gus Fashan, langsung menatap layar ponselnya saat ponselnya berdering. Bibirnya tersenyum lebar saat membaca pesan dari Gus Fashan.
"Kok jadi gemesin sih, ah tahu ah" Raihanah salah tingkah.
*****
_Pernikahan_
Setelah persiapan pernikahan mendadak rampung, akhirnya hari ini akad akan berlangsung. Setelah prosesi Khitbah dua Minggu yang lalu, Raihanah dan gus Fashan tidak pernah bertemu. Raihanah diminta abi Farhan untuk berdiam diri di rumah saja, dan meninggalkan pondok. Untuk kebaikan bersama, semua tamu sudah berkumpul. Raihanah sudah selesai di hias, dia sedang bersama ayah dan ibunya di kamar. Suasana yang sudah lama tidak dia rasakan. Semua orang tahu Raihanah tidak akan di wali kan oleh ayahnya, Berhan hanya hadir untuk melihat putrinya menikah, tapi dia tidak memiliki hak apapun atas putrinya.
"Mami senang" ujar Rani dan Raihanah hanya diam membisu, dia begitu cantik. Berbalut gaun pengantin berwarna putih, dan syar'i. Gus Fashan sendiri yang membuat gaun tersebut, dengan bahan terbaik agar Raihanah merasa nyaman. Raihanah memberikan gamis nya untuk menyesuaikan ukuran.
"Rombongan pengantin sudah datang" ujar nenek, Rani harus pergi untuk menyambut. Raihanah bangkit dan melangkah ke arah kaca jendela, dia menarik gorden jendela dan melihat calon suaminya.
Gus Fashan baru keluar dari mobil, dia mengenggam peci dan terlihat gugup. Umi Nailah merapihkan juga berwarna putih dan gus Fashan diam, umi Nailah merebut peci dan gus Fashan menunduk lalu uminya memakaikan pecinya.
Cup...
Umi Nailah mengecup kening putranya itu lama dan gus Fashan tersenyum, Raihanah dari kamarnya diam memperhatikan. Saat gus Fashan mendongak dan melihatnya, Raihanah langsung menutup tirai jendela. Raihanah mengigit bibir bawahnya kelu, kenapa gus Fashan saat ini terlihat sangat tampan. Gagah dan berwibawa.
Raihanah duduk kembali dan gugup. Suara gus Fashan mulai terdengar, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Raihanah diam mendengarkan surah Ar Rahman, yang dibacakan oleh calon suaminya begitu membuat suasana menjadi hening dan haru.
"Suaranya bagus ya" puji Berhan dan Raihanah hanya diam, menyimak dengan baik.
Kedua matanya tiba-tiba berair, rasa kagum dan rasa syukur karena akan dinikahi oleh gus Fashan muncul, Raihanah menarik tisu. Lalu menyeka air matanya.
Sudah saatnya untuk mengucapkan ijab qobul, gus Fashan menjabat tangan wali nikah tanpa ragu. Umi Nailah dan abi Farhan deg-degan, karena Fashan dari semalam terlihat tegang.
"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq" seru gus Fashan lantang, dalam satu tarikan nafas, di kamar Raihanah
tak kuasa menahan tangisannya.
(Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah).
"Sah"
"Sah"
Seru semua orang, semuanya menadahkan tangan untuk berdoa. Gus Fashan menutup matanya, kini dia sudah merasa tenang setelah ijab qobul lancar tanpa kendala. Di kamar Raihanah membuka matanya, kini dia sudah menjadi istri dari pria yang sama sekali tidak dia cintai. Keadaan yang membuat semuanya terjadi, menghindar pun Raihanah tak sanggup. Persiapan pernikahan yang serba mendadak berjalan dengan baik, kedua pihak keluarga saling mendukung. Keduanya menikah karena sama-sama mau, walaupun tidak saling mencintai. Hanya sebatas rasa suka, dan entah akan tumbuh menjadi cinta atau malah keduanya berpisah di tengah jalan.
"Silahkan mempelai wanita nya mohon dibawa keluar"
Gus Fashan melirik ke arah tangga, dia mendadak gugup lagi sekarang.
"Rai ayo" ajak Dedeh.
Raihanah menggeleng kepala, dia gugup dan takut untuk keluar.
"Ayo Rai, itu suami kamu udah nunggu" kata Gita.
"Aku malu, banyak orang" ujar Raihanah.
Semua tamu tegang karena Raihanah tak kunjung keluar, raut wajah gus Fashan sudah terlihat tidak tenang. Apa Raihanah kabur?. Pikiran buruk tiba-tiba muncul begitu saja.
"Pengantin nya gak mau keluar" seru keluarga Raihanah. Gus Fashan diam dan melirik uminya.
"Kalian bertengkar?" umi Nailah berbisik, gus Fashan menggeleng kepala.
"Jemput saja sana, mau di jemput kali" titah Raihan kepada Gus Fashan. Setelah mendapatkan izin, akhirnya gus Fashan bangkit. Dia pergi bersama uminya.
"Rai, jangan rese. Ayo nak" ajak Tante nya dan Raihanah diam. Raihanah terus menunduk, semuanya menoleh dan melihat kedatangan umi Nailah dan gus Fashan.
"Ayo" ucap umi Nailah, Gus Fashan mengangguk dan akhirnya dia masuk. Semua orang diam menunggu, gus Fashan menatap istrinya yang begitu cantik, sedang duduk termenung di tepi ranjang. Raihanah terkejut melihat langkah kaki seorang pria mendekatinya. Raihanah diam, sampai akhirnya gus Fashan berlutut dihadapan istrinya itu.
"Assalamu'alaikum" ujar gus Fashan.
Raihanah mencengkram kuat bajunya." Wa'alaikumus Salaam"
"Enggak mau keluar? Saya mau melihat istri saya. Tapi istri saya yang biasanya heboh, hari ini begitu pemalu. Atau ada masalah hemm?" tutur gus Fashan begitu lembut, Raihanah terus menunduk dan tidak berani mengangkat kepalanya. Gus Fashan diam, dia menunduk untuk melihat wajah istrinya itu tapi Raihanah menutupi wajahnya dengan kedua tangannya yang di lukis hena itu.
"Saya keluar sebentar lagi" katanya, dan gus Fashan tersenyum." Keluar Gus, keluar sana" Raihanah merengek-rengek.
"Janji mau keluar kan?"
"Iya" jawab Raihanah sambil mengangguk lucu.
"Saya mau lihat wajah kamu sebentar" pinta gus Fashan dan Raihanah menggeleng kepala.
"Enggak mau, saya harus siap-siap dulu. Awas sana, keluar" titah Raihanah, dia belum siap saling bertatap muka dengan gus Fashan, dia takut melihat wajah tampan itu, takut terpesona.
Gus Fashan bangkit, dia melangkah mundur dan akhirnya keluar dari kamar tersebut. Saat gus Fashan keluar, Raihanah membuka kedua tangannya. Dia menghela nafas panjang dan berusaha untuk tidak gugup.
Setelah siap, Raihanah akhirnya keluar. Semua tamu menoleh, gus Fashan tersenyum melihat tingkah laku Raihanah yang begitu pemalu saat ini, gadis itu terus menunduk. Berusaha menyembunyikan wajah cantiknya.
"Masya Allah Rai" ucap Fahira, dia senang melihat adik iparnya itu.
Gus Fashan diam, dengan sabar dia menunggu. Raihanah ditemani teman, ibu dan neneknya. Gadis itu mengangkat kepalanya, tatapannya dan tatapan gus Fashan bertemu. Gus Fashan terdiam menatap keindahan yang tak biasa itu, dia malah menjadi tidak rela Raihanah di lihat semua orang.
Tring..
Gus Fashan tiba-tiba mengedipkan matanya genit dan Raihanah melotot.
Gue congkel mata lu Shan, bisa-bisanya begitu.
*****
..."Manusia itu punya kendala, tapi Allah yang punya kendali. Manusia itu perencana, tapi Allah yang menghendaki"...
...🌸Raihanah~ Fashan🌸...