Kanaya Tabitha adalah definisi wanita sempurna. Cantik, pintar, dan mandiri, dia sukses membangun bisnisnya dari nol. Di balik keanggunannya, Kanaya adalah sosok wanita tangguh yang menguasai seni bela diri tingkat tinggi, dan jangan harap ada pria yang bisa mendekatinya dan mengusik hidup tenang nya, hubungan dan cinta tidak ada di dalam daftar hidup nya.
Namun, dunia indahnya runtuh saat sebuah rahasia besar mendadak memutarbalikkan hidupnya. Tubuhnya mengalami perubahan aneh yang tak masuk akal. Bagaimana bisa dia hamil tanpa pernah disentuh pria mana pun?
Kanaya tidak tahu bahwa setiap malam, rahimnya telah diklaim oleh Alexander Giorge, Raja Vampir yang posesif dan berbahaya di balik kegelapan.
"Kamu milik ku, Kanaya. Berlari lah sejauh apa pun, darah daging ku akan selalu membimbingku kembali ke tempat tidurmu. Jika ada pria lain yang berani menyentuhmu, ku pastikan namanya tinggal sejarah."_ Alexander Giorge.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PRIA DALAM MIMPI
"Y-yang Mulia Raja...."
Alexander tidak memberikan kesempatan bagi mereka memohon ampun atau sekedar bernapas.
Dengan gerakan secepat kilat, Alexander sudah berada di depan Vampir liar itu, tangan nya mencengkeram leher mahluk itu dan mengangkatnya ke udara.
KREKKKK
Hanya dengan sekali sentakan, leher vampir itu patah dan tubuhnya hancur menjadi debu yang berserakan di lantai
Sementara Vampir yang tersisa, mencoba merangkak untuk melarikan diri dari sang Raja yang sedang murka.
Tapi Alexander hanya melirik mereka semua mata merah nya, sebuah kabut merah melesat, melilit leher mahluk itu dan menariknya kembali, lalu menghempaskan nya ke dinding dengan keras.
BRAKKKK
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Vampir yang menghantam dinding itu langsung batuk darah hitam, tubuhnya merosot ke lantai dengan tulang-tulang yang sudah remuk, dia menatap Alexander dengan tatapan horor, seolah sedang melihat malaikat maut yang siap mencabut nyawanya.
"Ampun, Yang Mulia... Kami cuma menjalankan perintah..." rintih vampir itu dengan sisa-sisa tenaganya, suaranya bergetar hebat karena ketakutan.
Alexander melangkah mendekat dengan perlahan, setiap ketukan sepatunya di atas lantai terdengar seperti lonceng kematian bagi makhluk di depannya.
"Siapa yang mengirim kalian?" tanya Alexander, dengan suara rendah dan tenang nya, namun justru ketenangan itulah yang membuat atmosfer di dalam penthouse terasa semakin mencekam dan membekukan darah.
Vampir itu menggeleng ketakutan, mulutnya terkunci rapat karena dia tahu hukuman dari kelompoknya jauh lebih kejam jika dia berkhianat.
Melihat musuhnya bungkam, Alexander mendengus sinis, seringai tipis muncul di sudut bibirnya, menampilkan sepasang taring tajam yang berkilat di bawah temaram lampu ruangan.
"Kamu pikir dengan diam, kamu bisa menyelamatkan nyawamu?" ucap Alexander dingin.
Tanpa menunggu jawaban lagi, Alexander menggerakkan tangan kanannya, seketika kabut merah darah yang pekat langsung merayap naik dan membungkus seluruh tubuh vampir itu, mengikis kulit dan dagingnya dalam hitungan detik hingga makhluk itu menjerit histeris sebelum akhirnya lenyap menjadi tumpukan abu abu-abu di atas lantai.
Husss...
Angin berembus masuk melalui atap balkon yang hancur, menerbangkan sisa-sisa abu musuh ke udara hingga ruangan itu kembali senyap.
Naya yang sejak tadi menyaksikan pembantaian cepat itu masih berdiri kaku di tempatnya, pisaunya masih tergenggam erat di tangan kanan, sementara tangan kirinya tidak lepas dari perut buncitnya yang terasa semakin melilit dan terasa kram.
Deg
Deg
Deg
Jantung Naya berdegup kencang, matanya melotot menyaksikan apa yang sedang terjadi di depan nya.
Melihat pria yang selama ini dia liah di dalam mimpi nya, kini sedang berdiri di depan nya dengan kekuatan yang belum pernah Naya lihat, seketika membuat otaknya benar-benar lumpuh.
Pria itu baru saja mematahkan leher orang dengan satu tangan, mengeluarkan kabut merah, dan memiliki taring murni.
"M-Monster..." bisik Naya dengan suara bergetar, tenggorokannya mendadak terasa sangat kering.
Alexander membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Naya dengan sepasang mata merah menyalanya yang perlahan-lahan meredup, kembali berubah menjadi warna hitam legam yang pekat dan dalam.
Naya tersentak saat melihat wajah pria itu dengan jelas dari dekat, tatapan matanya, rahang tegasnya, hingga aura dominan yang menguar dari tubuhnya... semuanya terasa sangat tidak asing.
"Kamu..." Naya menahan napasnya, ingatan tentang mimpi-mimpi panasnya setiap malam mendadak berputar cepat seperti kaset rusak di kepalanya.
"Alexander?"
Alexander tidak menjawab dengan kata-kata, dia melangkah untuk mendekati Naya, namun refleks Naya langsung mengacungkan pisaunya ke depan dada, memberi jarak di antara mereka.
"Jangan mendekat! Siapa kamu sebenarnya?! Mau apa kamu ke sini?!" cecar Naya dengan napas yang memburu, meski tubuhnya sudah gemetaran menahan sakit di perutnya, harga dirinya melarang keras untuk terlihat tunduk.
Alexander menghentikan langkahnya, menatap pisau kecil di tangan Naya dengan pandangan meremehkan, lalu pandangannya turun ke arah perut buncit Naya.
Ekspresi dingin di wajah tampan Alexander perlahan melunak, digantikan oleh binar protektif yang sangat kuat.
"Turunkan pisaumu, Naya, senjata mainan itu tidak akan mempan untukku," ucap Alexander dengan suara berat dan tenangnya yang khas, suara yang sama persis dengan pria yang selalu membisikkan kata-kata posesif di telinga Naya setiap malam.
Naya menggelengkan kepalanya kuat-kuat, matanya mulai berkaca-kaca karena rasa syok, takut, dan sakit yang luar biasa di perutnya yang mendadak memanas lagi.
"Nggak! K-kamu... kamu pria yang di mimpi aku, kan? Jadi selama ini itu bukan mimpi? Kamu yang bikin aku hamil?!" teriak Naya frustrasi, suaranya meninggi dengan nada menuntut kebenaran.
Alexander menatap lurus ke dalam manik mata Naya, tidak ada secuil pun keraguan di wajahnya saat dia mengangguk pelan.
"Benar. Itu semua bukan mimpi, Sayang. Janin di dalam rahimmu adalah benihku, darah daging ku," jawab Alexander dengan nada yang sangat posesif, mengakui perbuatannya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Deg
Dunia Naya rasanya runtuh seketika mendengar pengakuan itu, dia benar-benar dihamili oleh seorang pria yang memiliki kekuatan dan juga taring, mahluk malam yang bahkan bukan merupakan bagian dari kaum manusia.
"Kamu gila... kamu monster sialan..." umpat Naya dengan gigi terkatup, air matanya menetes melewati pipinya yang pucat.
Baru saja Naya ingin melangkah mundur untuk menjauh, rasa kram yang luar biasa dahsyat mendadak menyerang perutnya dengan sangat brutal, seolah-olah bayi di dalamnya sedang mengamuk karena merasakan kehadiran sang ayah.
"Uuugghhh!"
Naya menjerit tertahan, pisaunya terlepas dari genggaman, tubuhnya limbung ke depan, kehilangan seluruh kekuatannya dalam sekejap.
Wush
Grep
Sebelum tubuh Naya sempat menyentuh lantai, Alexander sudah bergerak secepat kilat dan menangkap tubuh wanita itu ke dalam dekapan dada bidangnya yang kokoh.
Tangan besar Alexander langsung bergerak mengusap perut buncit Naya dengan lembut, dan anehnya, begitu telapak tangan hangat Alexander menyentuh perutnya, rasa panas membakar dan kram yang menyiksa Naya sejak tadi mendadak mereda dengan sangat cepat, memberikan rasa nyaman yang luar biasa pada rahimnya.
Naya yang masih lemas hanya bisa bersandar pasrah di dada Alexander, napasnya terengah-engah di ceruk leher pria itu yang aromanya sangat maskulin dan menenangkan.
"Lepas..." bisik Naya lemah, mencoba mendorong dada Alexander dengan sisa tenaga tangannya yang tidak seberapa.
Bukan nya di lepaskan, Alexander justru semakin mempererat pelukannya, menenggelamkan wajahnya di rambut Naya sambil menghirup aroma manis tubuh wanita milik nya itu.
"Aku tidak akan melepaskan mu lagi, Naya. Mulai malam ini, hidupmu dan anak kita berada di bawah kekuasaan ku," bisik Alexander posesif di telinga Naya, memberikan kecupan pelan di pelipis wanita itu sebelum akhirnya mengangkat tubuh Naya dengan gaya bridal style untuk membawanya pergi dari penthouse yang sudah hancur berantakan tersebut.