NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31

Pelajaran renang dimulai, murid-murid satu per satu masuk ke kolam.

Nayla berdiri paling belakang, tangannya terasa dingin. Jantungnya berdetak terlalu cepat.

"Nayla! Giliran kamu!" panggil Pak Dinar.

Nayla menelan ludah, ia melangkah pelan mendekati pinggir kolam. Air biru itu terlihat begitu dalam. Begitu menyesakkan.

"Cepat loncat!" teriak beberapa murid.

Nayla memejamkan mata sesaat, lalu perlahan masuk ke dalam air.

Dingin.

Napasnya langsung terasa berat.

Pak Dinar mulai memberi instruksi.

Semua murid berenang bolak-balik.

Nayla berusaha fokus, ia sebenarnya bisa. Namun kepalanya terlalu penuh.

Tentang Deviana.

Tentang Jevan.

Tentang semua orang yang seolah selalu siap menyalahkannya. Saat Nayla berenang menuju tengah kolam, suara tawa beberapa murid terdengar samar.

"Eh liat Nayla tegang banget."

"Takut tenggelem kali."

Nayla berusaha mengabaikannya. Namun semakin lama napasnya semakin tidak teratur.

Dadanya mulai sesak, tangannya gemetar. Dan tiba-tiba—

Bruk.

Seseorang menabraknya dari belakang.

Nayla kehilangan keseimbangan, tubuhnya tenggelam. Air langsung masuk ke hidung dan mulutnya.

Nayla panik.

Ia mencoba naik ke permukaan.

Namun tubuhnya terasa berat, suara di sekitar mulai samar. Ingatan masa kecil itu kembali muncul.

Air.

Jeritan.

Rasa takut.

Nayla menendang panik. Namun semakin bergerak, tubuhnya justru makin tenggelam. Di atas permukaan, beberapa murid mulai menyadari sesuatu.

"Eh Nayla kenapa?"

"Dia bercanda ya?"

"Anjir kayaknya beneran tenggelem!"

Pak Dinar langsung berdiri.

"Nayla!"

Namun seseorang lebih dulu melompat ke kolam.

Jevan.

Cowok itu berenang cepat menuju Nayla lalu menarik tubuh gadis itu ke atas. Begitu sampai di pinggir kolam, Nayla langsung batuk hebat.

Air keluar dari mulutnya, tubuhnya gemetar, wajahnya pucat. Semua murid langsung mengerubungi mereka.

"Ya ampun..."

"Dia beneran hampir tenggelem?"

Pak Dinar panik.

"Nayla kamu gapapa?"

Namun Nayla tidak menjawab. Ia hanya menatap kosong sambil mencoba bernapas.

Jevan masih memegang bahunya, tatapan cowok itu berubah panik.

"Nayla..."

Nayla perlahan menepis tangan Jevan.

Gerakan kecil, namun cukup membuat dada Jevan terasa sesak.

"Jangan sentuh gue," bisik Nayla lirih.

Dan itu jauh lebih menyakitkan dibanding bentakan apa pun.

---

Setelah kejadian itu Nayla dibawa ke UKS.

Bu Siska, penjaga UKS, sibuk memeriksa keadaannya.

"Untung gak kenapa-napa," gumam wanita itu lega.

Nayla hanya diam sambil menatap lantai.

Tubuhnya masih gemetar.

Pintu UKS terbuka pelan.

Jevan masuk.

Nayla langsung memalingkan wajah.

"Bisa keluar dulu gak?" ucap Nayla dingin.

Jevan berdiri canggung.

"Gue cuma mau mastiin lo baik-baik aja."

Nayla tertawa kecil.

"Sekarang peduli?"

Jevan terdiam.

Bu Siska yang merasa suasana mulai tidak nyaman akhirnya keluar sebentar meninggalkan mereka.

Ruangan mendadak sunyi.

Jevan berjalan mendekat.

"Gue gak tau kalau lo takut air."

Nayla menatap kosong ke depan. "Karena lo gak pernah mau tau apa pun soal gue."

Kalimat itu membuat Jevan tercekat.

Nayla menggigit bibir bawahnya, air matanya mulai jatuh.

"Capek, Jevan."

Cowok itu terdiam.

"Capek banget selalu jadi orang yang disalahin."

Jevan mengepalkan tangan.

Sebenarnya sejak Nayla tenggelam tadi, ada rasa bersalah besar yang menghantamnya. Ia tidak pernah berniat membuat Nayla celaka. Namun ia juga sadar belakangan ini dirinya memang terlalu keras pada Nayla. Dan semua itu karena ucapan Bagus yang terus memenuhi kepalanya.

"Papah bilang sejak Nayla lahir semuanya hancur."

Kalimat itu terus terngiang.

Bertahun-tahun.

Sampai tanpa sadar Jevan mulai mempercayainya. Melihat Nayla sebagai sumber masalah. Padahal jauh di dalam hati, Jevan tahu Nayla tidak pernah meminta dilahirkan.

"Nay..."

"Keluar."

Jevan menatap gadis itu lama.

Namun akhirnya ia memilih pergi.

Dan untuk pertama kali, Jevan benar-benar merasa dirinya adalah orang jahat.

---

Hari sekolah berakhir lebih cepat dari biasanya bagi Nayla.

Aluna yang mendengar kabar Nayla hampir tenggelam langsung datang ke UKS dengan wajah panik.

"Nay!"

Nayla meringis.

"Anjir kuping gue..."

Luna langsung memeluknya erat.

"Lo bikin gue takut tau gak!"

Nayla terkekeh pelan.

Untuk pertama kalinya hari itu, dadanya terasa sedikit hangat.

"Gue gak mati juga," gumam Nayla.

"Jangan becanda gitu!"

Luna menatap wajah pucat sahabatnya lalu menghela napas panjang.

"Siapa yang bikin lo sampai kayak gini?"

Nayla diam beberapa detik.

Lalu akhirnya menjawab pelan.

"Jevan."

Luna langsung mengernyit.

"Bukannya kemarin hubungan kalian udah mendingan?"

Nayla tertawa hambar.

"Dia berubah lagi."

Luna duduk di samping Nayla.

"Karena bokapnya?"

Nayla mengangguk pelan.

Luna menggertakkan gigi kesal.

"Gue paling gak suka orang tua yang nyebarin kebencian ke anak sendiri."

Nayla hanya tersenyum kecil.

"Kadang gue mikir... mungkin emang semua masalah dimulai dari gue."

"Jangan ngomong gitu," potong Luna cepat.

Nayla menunduk.

"Tapi semua orang di rumah gue mikir begitu."

"Semua orang atau papah lo?"

Nayla terdiam.

Luna memegang tangan sahabatnya.

"Denger ya Nay. Orang dewasa juga bisa salah. Dan kebencian seseorang bukan berarti itu kenyataan."

Mata Nayla mulai memanas.

Ia benar-benar ingin percaya pada kata-kata itu. Namun hidup terlalu lama di lingkungan penuh kebencian membuat Nayl sulit melihat dirinya berharga.

---

Sore harinya, mansion Raharja kembali terasa sunyi.

Nayla baru saja masuk ke kamar ketika suara ketukan terdengar.

"Masuk aja," ucapnya malas.

Pintu terbuka.

Jevan.

Nayla langsung memalingkan wajah.

"Gue capek."

Namun Jevan tetap masuk.

Cowok itu berdiri beberapa langkah dari pintu dengan ekspresi sulit dijelaskan.

"Tadi... gue gak sengaja."

Nayla tertawa kecil.

"Bagian mana? Nuduh gue? Atau bikin guru gak percaya sama gue?"

Jevan diam.

"Lo tau gue hampir tenggelem tadi?" lanjut Nayla lirih.

"Tau."

"Dan lo masih bisa berdiri kayak gak ada apa-apa sekarang?"

Rahang Jevan mengeras.

"Gue nolong lo."

Nayla langsung menatapnya.

Tatapan kecewa.

"Iya. Setelah lo ikut bikin semuanya makin buruk."

Jevan kehilangan kata-kata.

Nayla bangkit dari tempat tidur.

"Gue cuma pengen tau satu hal," katanya pelan. "Lo benci gue juga sekarang?"

Pertanyaan itu membuat Jevan membeku.

Karena ia sendiri tidak tahu jawabannya.

Jevan memang marah.

Kesal.

Bingung.

Namun membenci Nayla?

Entahlah.

Yang jelas, setiap kali melihat Nayla sedih, ada sesuatu dalam dirinya yang ikut sakit.

Dan itu membuat Jevan semakin membenci dirinya sendiri.

"Gue gak tau," jawabnya jujur.

Nayla tersenyum kecil.

Senyum paling menyakitkan yang pernah Jevan lihat.

"Jawaban lo cukup kok."

Lalu Nayla berjalan membuka pintu kamar.

"Sekarang keluar."

Jevan berdiri diam beberapa detik.

Namun akhirnya ia pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

Dan malam itu, untuk pertama kali dalam hidupnya, Jevan mulai mempertanyakan semua hal yang selama ini dipercayainya tentang Hazel.

Karena kalau Nayla memang seburuk itu,bkenapa justru dirinya yang merasa paling bersalah?

---

Di kamar sebelah, Nayla duduk memeluk lutut di atas kasur.

Moci naik ke pangkuannya sambil mengeong pelan.

Nayla mengusap kepala kucing itu perlahan.

Air matanya jatuh lagi.

Bukan karena Deviana.

Bukan karena Devan.

Tetapi karena Jevan.

Karena ternyata, orang yang paling bisa menyakitimu adalah orang yang diam-diam masih kamu harapkan peduli.

Dan Nayla mulai sadar rumah ini mungkin memang tidak akan pernah benar-benar menjadi tempat pulang baginya.

Namun di tengah rasa sakit itu, ada satu hal yang tidak Nayla ketahui.

Di luar kamarnya, Jevan berdiri cukup lama sambil menatap pintu yang tertutup rapat. Cowok itu mengepalkan tangan kuat-kuat. Untuk pertama kali, suara Bagus di kepalanya mulai terasa salah. Dan untuk pertama kali juga, Jevan takut.

Takut kalau selama ini ia sudah membenci orang yang sebenarnya paling terluka di rumah itu.

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!