NovelToon NovelToon
SUAMI PILIHAN KU SEORANG WARIA

SUAMI PILIHAN KU SEORANG WARIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Danica

Kirana Aqilla, 20 tahun, gadis yatim piatu yang ditinggal kedua orang tuanya karena kecelakaan Ia dijodohkan dengan ustadz beristri tiga.
Tampa sengaja Ia ketemu waria dengan blezer pink di tengah hujan deras. yang menyediakan payung dan tissue untuknya tampa diminta. Nggak ada yang sempurna di antara mereka. Kirana membawa trauma 20 tahun hidup dicecar sebagai pembawa Sial. Saqir membawa luka dibuang keluarga karena jadi dirinya sendiri. Ini bukan kisah cinta yang berisik. Ini kisah tentang dua orang patah yang belajar nerima, saling jagain pas jatuh, dan berjuang pulang bareng. Sedihnya bikin nangis. Lucunya bikin ketawa tengah malam. Romantisnya pelan. Tenangnya bikin pulang. Karena kadang, pulang itu bukan rumah. Pulang itu orangnya.

Dunia bilang mereka nggak pantas bersama. Keluarga Kirana bilang waria itu aib. Ustadz Yusuf bilang Kirana harus balik. Tapi di kontrakan sempit itu, untuk pertama kalinya Kirana merasa aman. Untuk pertama kalinya Saqir merasa diterima.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan Maaf Dari Paman Syarif**

Rumah pondok Al Hidayah sepi sejak seminggu lalu.

Setelah kejadian di kamar, kabar menyebar. Warga tahu ada upaya nikah paksa. Yayasan tahu ada rekaman suara. Bank tahu utang tiga ratus juta tidak dibayar.

Banyak orang tua santri yang menyayangkan kejadian itu dan menyalahkan Ustadz Syarif dan Bik Asih serta ustadz Yusuf. tetapi ada juga yang menyalahkan Kirana karena tidak mau membantu pondok.

Kirana masih tinggal di rumah Umi Zahra. Ia ditemani bebrapa pembantu Umi yang sudah mnganggap Zahra anak mereka sendiri.

Paman Syarif tidak berani keluar dari pondok tiga hari. Ia merasa malu dan gagal menjalankan pondok warisan keluarga mereka.

Hari keempat sejak kejadian tersebut, dia berdiri lama di depan cermin kamar. Baju koko putih yang dulu dipakai mengajar. Sekarang terasa seperti kain kafan. Wajah di cermin tua. Mata merah. Janggut tidak terurus.

13 tahun ia menjadi wali Kirana. 13 tahun juga ia mengajar kirana ngaji. 13 tahun ia dianggap bapak.

Semuanya Hancur dalam satu malam karena diam. Karena memilih utang daripada anak yatim. Karena takut pada Asih.

Paman Syarif menggenggam tasbih. "Aku penghianat."

Aqil adiknya. Titip Kirana sebelum mati. Wasiatnya jelas. Jaga anakku. Dan dia gagal.

Jam delapan pagi, Paman Syarif pergi ke Jember kerumah kakaknya Umi Zahra. Naik motor selama 1 jam lebih. Keringat membasahi punggung. Di depan gerbang rumah Umi zahra, dia berhenti lama. Tangan gemetar mau mengetuk.

Pintu dibuka oleh Kirana. Kirana berdiri di balik pintu kayu. Wajah pucat. Mata cekung. Tidur tidak nyenyak empat malam.

Melihat Paman Syarif, tubuh Kirana kaku. Napas tercekat.

Trauma malam itu masih hidup. Suara Paman yang diam di ranjang rumah sakit. Amplop tiga ratus juta di meja. Yusuf yang maksa tanda tangan.

Paman Syarif membuka mulut. Tidak keluar suara. Canggung. Malu. Lidah kelu.

Kirana bicara lebih dulu. Suaranya pelan. Hati hati. "Ada keperluan apa Paman ke pondok?"

Tidak ada salam. Pertanyaan langsung. Karena takut.

Paman Syarif menunduk. "Saya..."

Kirana memotong. "Kalau Paman masih memaksa saya nikah dengan Ustadz Yusuf, pulang saja Paman. Saya tetap tidak mau."

Tegas. Walaupun suara gemetar.

Paman Syarif langsung menggeleng. Cepat. Panik. "Tidak Nak. Demi Allah tidak."

Mundur selangkah. Jaga jarak. "Paman datang minta maaf. Hanya itu."

Kirana tidak buka gerbang lebar. "Minta maaf Paman?"

"Ya." Suara Paman Syarif pecah. "Paman salah. Paman diam. Paman penghianat untuk Aqil. Penghianat untuk kamu Nak."

Nama Aqil disebut. Kirana terdiam.

Aqil ayahnya. Meninggal saat Kirana umur tujuh tahun. Wasiat terakhirnya di telinga Paman Syarif. Jaga anakku.

Dan Paman melanggar.

Kirana buka gerbang sedikit. "Masuk ke serambi."

Paman Syarif masuk. Duduk di bangku kayu paling ujung. Jarak tiga meter dari Kirana.

Kepala tidak diangkat.

"Paman tidak layak duduk di rumah ini." Bisiknya

Kirana duduk di kursi seberang. "Lalu kenapa Paman datang?"

"Karena harus." Paman Syarif tarik napas panjang. "Kalau mati bawa dosa ini, Paman tidak tenang di kubur Nak."

Hening.

Kirana menatap mushola kecil di halaman. "Bapak sudah tidak ada. Saya sendiri Paman."

"Paman tahu." Paman Syarif menunduk lebih dalam. "Dan Paman yang buat kamu merasa sendiri."

Dia keluarkan amplop cokelat dari tas. Letakkan di meja kayu. Tidak dibuka.

"Ini surat pernyataan Paman." Lanjutnya. "Paman akui semua. Rekayasa sakit. Pemaksaan nikah. Kerja sama dengan Yusuf. Paman tanda tangan di atas materai. Paman serahkan ke yayasan dan polisi minggu depan."

Kirana lihat amplop itu. Tidak sentuh.

"Untuk apa Paman?"

"Untuk meringankan kamu Nak." Paman Syarif akhirnya menatap. "Supaya kamu tidak dituduh macam. Supaya nama Aqil bersih. Supaya kamu bisa urus hidup tanpa bayang Paman."

Kirana menggeleng. "Pondok disita Paman."

"Paman tahu." Paman Syarif tutup mata. "Itu hukuman Paman."

Tangisnya pecah. Tidak keras. Tapi bahunya guncang.

Laki berusia lima puluh tahun menangis seperti anak kecil.

"Paman takut Nak." Akunya. "Takut miskin. Takut dimaki bendahara yayasan. Takut listrik pondok mati. Bibi Asih tiap malam teriak utang. Paman lemah. Paman terpaksa ikut."

Kirana diam.

"Paman ingat kamu umur delapan tahun." Lanjutnya. "Demam tinggi. Kamu Paman gendong. Paman ambil air wudhu. Kamu baca Al Fatihah di telinga Paman. Kamu bilang, Paman jangan aku tidak mau mati."

Air mata Kirana jatuh.

"Dan tiga belas tahun kemudian Paman mau jual kamu." Paman Syarif tutup wajah. "Paman manusia apa Nak."

Kirana mengusap air matanya sendiri. "Saya marah Paman."

"Paman tahu."

"Saya benci Paman."

"Paman terima."

"Saya trauma Paman."

"Paman minta maaf."

Setiap kata Kirana, Paman Syarif jawab dengan satu kalimat.

Tidak membela diri. Tidak berdalih.

Hening lagi. Lama.

Kirana berdiri. Masuk ke ruang dalam.

Paman Syarif tidak bergerak. Pasrah. Kalau disuruh pergi, dia pergi. Kalau dipukul, dia terima.

Kirana kembali. Membawa air putih. Meletakkan di meja. Jauh dari jangkauan Paman Syarif.

"Minum Paman."

Paman Syarif terkejut. Menatap gelas itu. "Untuk Paman Nak?"

"Pondok ini ajarkan tamu diberi minum." Jawab Kirana datar. "Walaupun tamunya penghianat."

Paman Syarif minum. Tangan gemetar. Air tumpah di jenggot.

"Terima kasih Nak."

Kirana duduk lagi. "Saya tidak bisa memaafkan sekarang Paman."

"Paman tidak minta." Cepat. "Paman hanya minta didengar."

"Baik Paman. Saya dengar."

Paman Syarif mengangguk. "Tiga belas tahun lalu, saat Aqil tabrakan, di rumah sakit, dia panggil Paman. Bisik. Syarif, jaga Kirana. Anggap anak kamu sendiri."

Dia menutup mata. "Paman janji. Di depan Aqil yang sekarat. Paman janji Nak."

"Dan Paman ingkari."

"Ya." Paman Syarif tidak menyangkal. "Setelah Aqil mati, Bibi Asih berubah. Dia takut miskin. Dia salahkan Aqil karena tidak tinggalkan uang. Dia salahkan Paman karena tidak bisa cari uang. Lama lama Paman ikut takut Nak."

Kirana menatap ke pohon jambu di halaman. "Bapak bilang. Miskin tidak apa. Asal jujur Paman."

"Paman lupa." Paman Syarif menunduk. "Lupa semua ajaran Aqil. Aqil percaya Paman. Dan Paman khianati." Bisik Paman Syarif.

"Karena Paman pilih uang." Jawab Kirana.

Tamparan itu telak.

Paman Syarif meletakkan surat. "Paman tidak akan ganggu lagi Nak. Setelah ini Paman pulang ke kepondok. Dan kalau pun pondok harus disita. paman mungkin akan pulang Ke rumah orang tua Paman dikampung."

"Dan Bibi Asih Paman?"

"Dia masih kekeh mempertahankan pondok. Demi gengsi dan demi nama baik keluarga ".

Kirana hanya terdiam. ia bisa bayangkan gimana bik asih jika keinginannya tidak dipenuhi. Mungkin sekarang ia akan mengatur rencana lainnya.

" Paman permisi dulu Kirana. Semoga kamu mau memaafkan paman mu ini. Assalamualaikum" Paman beranjak dari bangku.

Sementara Kirana masih terdiam. "waalaikumsalam, hati-hati paman.

Di depan gerbang, paman syarif berhenti sesaat. Menoleh kearah Kirana.

"Kirana."

Kirana menoleh.

"Paman minta maaf kepada Aqil. Kepada kamu Nak. Kepada Allah." Suaranya pelan. "Kalau suatu hari kamu bisa memaafkan Paman, Paman bersyukur. Kalau tidak, Paman terima."

Dia pergi. dengan motornya. Tidak menoleh lagi.

Kirana berdiri di serambi lama.

Gerbang ditutup pelan.

Dia masuk. Mengambil amplop cokelat. Membuka.

Surat pernyataan tiga halaman. Tanda tangan Paman Syarif. Materai.

Di bawahnya ada tulisan tangan.

"Untuk Kirana. Anak yang seharusnya Paman jaga seperti anak sendiri. Maafkan Paman."

Kirana memeluk surat itu. Menangis.

Tapi kali ini bukan karena takut. Karena lega. Karena akhirnya ada yang mengaku salah.

Malam itu Kirana tidur nyenyak. Pertama kali sejak kejadian. Karena beban di dada sedikit berkurang. Karena penghianat sudah mengaku. Tetapi tetap juga ia tidak tenang.

1
Sarah
*Saqir Indrawan, dong... bukan Saqira lagi.
Sarah
Gak bakal mau, Bu. Kan mintanya 20 - 25 tahunan + sholehah.
Miss Danica
Aqil @Sarah
Sarah
Umur 8 thor... 😭
Terus ini namanya Agil atau Aqil sih? Bingung gue... 😭
@Miss Danica
Sarah
Kakaknya thor, bukan adiknya. 😭
@Miss Danica
Sarah
Lho? Bukannya sebelumnya pada nyalahin Kirana juga yah sambil maksa nikah pas demo?
Sarah
Masa wudhu bareng? Kalau wudhu bareng atuh auratnya Kirana kelihatan dong gak pake kerudung jadinya?
🗿
@Miss Danica
Sarah
Mana bisa umroh 40 hari langsung pulang gitu aja?! 😭 @Miss Danica
Sarah
Berarti Saqir udah dateng sebelum Kirana dateng dong?
Sarah
Makasih, semuanya... karena sayang sama akuuu. 😇😂
@Miss Danica
Sarah
Pantesan Bik Asih sama Paman Syarif kayak gak punya anak.
Sarah
Bu... aktor sinetron, bahkan idol K-pop juga dandan, Bu. Tebel. Cuma gak keliatan aja karena make-up natural. 🗿
Sarah
Apaan? Emang lu punya mobil? 😂
Paman Syarif awalnya masih rada bener, ke sini-sini mulai sedeng juga. 😌
Sarah
Mending kemeja pink-lah, daripada sebelumnya dress kan? 😂
Sarah
Akhirnya ada orang yang berpendidikan beneran. 😌
Sarah
Justru Paman Syarif kurang tegas karena gak bisa didik istrinya sendiri selama ini.
Sarah
Woo... rupanya... 😂😌
Sarah
Gak kuat, nih cewek baik banget. 😭
Sarah
Kalau apa bener Mas Saqira dosa itu urusan, Allah. Tapi kalau Kirana sayang sama Mas Saqira itu gak dosa.
Sarah
Bodoh.
Secara undang-undang tindakan mereka namanya “Menyekap”. Itu menyalahi hak asasi manusia, ustadz.
Orang berilmu dari mana-lah kalian? Sejauh cerita ini jalan yg masih waras cuma Ustadz Sobri.
Harusnya tambahin tag “Konflik etika” di novel toon, thor. Ini ceritanya cocok banget masuk tag itu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!