NovelToon NovelToon
Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi 2

Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Fantasi / Bertani / Slice of Life
Popularitas:36.8k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan sepak terjang sang Petani Sultan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memaksa Pengakuan

Gebrakan dari Pak Yudo itu sukses membuat Banyu tersentak hebat. Di dalam hatinya, ia membatin dengan panik, "Apa jangan-jangan ada celah yang tertinggal malam itu dan Rendi berhasil mengenaliku?! Gawat kalau memang begitu!"

Meski kepanikan melanda, Banyu memaksa dirinya untuk tetap tenang. Ia memutar kembali memori insiden malam itu dari awal hingga akhir dengan sangat mendetail di dalam kepalanya. Setelah memastikan bahwa tidak ada satu pun blunder atau kecerobohan yang ia lakukan, Banyu pun menghela napas lega dan menenangkan dirinya, "Pasti anjing gila bernama Rendi itu cuma menggigit sembarangan dan menebak-nebak! Selama aku tutup mulut dan tidak mengaku, mereka tidak punya apa-apa!"

Faktanya, deduksi Banyu seratus persen akurat. Rendi sebenarnya sama sekali buta tentang siapa sosok bertopeng yang melumpuhkannya malam itu. Taktik Banyu yang sengaja meneriakkan nama acak "Hartono" sebelum menyerang benar-benar sukses mengecohnya. Sampai detik ini pun, Rendi masih mengira dirinya adalah korban salah sasaran dari sengketa utang-piutang atau dendam orang lain.

Lalu, kenapa nama Banyu yang terseret? Jawabannya sederhana: Rendi adalah bajingan yang tidak punya moral sama sekali. Ia sengaja memanfaatkan statusnya sebagai korban untuk memeras uang kompensasi! Saat di-BAP oleh polisi, ia berbohong dengan sangat meyakinkan bahwa ia sempat melihat sebagian wajah pelaku sebelum pingsan, dan tanpa ragu ia menuding Banyu sebagai pelakunya.

Alasan Rendi memilih Banyu sebagai kambing hitam sangatlah pragmatis: dari semua orang yang pernah berselisih dengannya, Siska adalah orang yang paling kaya raya. Rendi tahu bahwa hubungan Siska dan Banyu sangat spesial. Dengan menyeret nama Banyu ke penjara, Rendi berharap Siska akan panik dan bersedia menggelontorkan uang damai dalam jumlah raksasa untuk membebaskan pria itu. Rendi sendiri tak pernah menyangka bahwa cerita karangannya itu ternyata... seratus persen adalah kenyataan!

Di sisi lain, Pak Yudo si polisi jangkung ini ternyata merupakan kenalan lama Rendi. Mereka sering menghabiskan waktu bersama sebagai teman minum dan foya-foya. Itulah sebabnya sejak awal Pak Yudo memiliki sentimen pribadi dan sangat agresif menyudutkan Banyu. Tujuannya sangat sederhana: ia ingin menggunakan metode intimidasi psikologis untuk memaksa Banyu mengakui kejahatan yang dituduhkan, sekaligus membantu teman mabuknya membalaskan dendam.

Alasan lainnya tentu saja demi ambisi karier. Kasus penganiayaan berat ini telah menarik atensi khusus dari pimpinan kepolisian distrik. Jika Pak Yudo berhasil memecahkan kasus ini dengan cepat, ia pasti akan mendapat poin plus di mata atasannya dan dianggap sebagai penyidik yang brilian.

Dalam logika dangkal Pak Yudo, karena Rendi sebagai korban sudah berani bersumpah dan menunjuk Banyu sebagai pelakunya secara langsung, maka kebenaran sudah tak perlu diperdebatkan lagi. Ia hanya perlu memberikan tekanan maksimal, dan Banyu pasti akan runtuh. Andaikan Pak Yudo tahu bahwa Rendi hanya membual asal sebut demi memeras uang damai, ia pasti tidak akan tampil se-percaya diri ini, dan mungkin akan langsung mengumpat, "Bajingan itu benar-benar menjerumuskanku!"

Namun, tidak ada kata "andaikan" di dunia nyata. Pak Yudo masih sangat bernafsu memaksa Banyu menandatangani surat pengakuan secepat mungkin. Setelah melemparkan kartu as-nya, mata tajam Pak Yudo mengawasi setiap milimeter perubahan ekspresi di wajah Banyu. Berdasarkan pengalamannya menginterogasi banyak kriminal, selicin apa pun seorang penjahat, saat mereka tiba-tiba diberi tahu bahwa korban mengenali identitas mereka, pasti akan ada riak kepanikan sekecil apa pun yang terpancar dari wajah mereka. Asalkan Banyu menunjukkan setitik saja celah kepanikan itu, Pak Yudo akan langsung mencecarnya tanpa ampun hingga mental Banyu hancur dan patuh menandatangani BAP pengakuan.

Sayangnya, realitas kembali menampar Pak Yudo. Ekspresi wajah Banyu tetap sedatar tembok, seolah-olah tuduhan itu sama sekali tak ada hubungannya dengan dirinya. Pemuda itu justru membalas dengan tawa sinis dan meremehkan. "Kalian percaya pada omong kosong sampah masyarakat seperti Rendi? Hanya karena dia berstatus sebagai korban, dia bebas menuduh siapa saja, dan kalian para polisi langsung bertindak sebagai anjing suruhannya untuk menangkap orang itu?! Wah, ternyata jadi polisi semudah itu ya?!"

Pak Yudo yang merasa diremehkan langsung meledak amarahnya. Ia menggebrak meja logam interogasi dengan sangat keras dan membentak, "Kalau kau memang tidak bersalah, kenapa dari sekian banyak musuhnya, dia hanya menyebut namamu?!"

"Itu kan mulutnya, ya kalian tanya saja padanya!" Banyu membalas dengan wajah sedingin es. "Kalau dia tidak bisa memberikan bukti forensik yang konkret, aku pastikan aku akan menuntutnya balik atas pencemaran nama baik!"

Melihat aura dominasi Banyu yang justru semakin mengintimidasi, Pak Nandito polisi senior yang mendampingi interogasi buru-buru memotong perdebatan itu. "Saudara Banyu, tolong jelaskan dulu posisi Anda dengan masuk akal. Berdasarkan kesaksian Anda sendiri, pada malam kejadian Anda tidur sendirian di rumah. Itu berarti, tidak ada satu pun saksi mata yang bisa mengonfirmasi alibi bahwa Anda benar-benar tidak berada di TKP, kan?"

"Pak Nandito yang terhormat, apakah Bapak bermaksud menetapkan status tersangkaku hanya bermodalkan logika konyol ini?" Banyu tertawa mengejek. "Pada malam kejadian itu, ada puluhan ribu orang di kota ini yang juga tidur sendirian di rumah masing-masing tanpa saksi mata. Apakah itu berarti mereka semua adalah tersangka pelaku kejahatan ini?!"

"Jangan mencoba memutarbalikkan logika!" Pak Yudo memelototi Banyu dengan beringas. "Korban sendiri yang secara eksplisit menunjuk hidungmu sebagai pelakunya!"

Pak Nandito tak mau kehilangan momentum, ia langsung menyambung dengan nada diplomatis namun penuh tekanan, "Saudara Banyu, saya sarankan Anda jujur saja. Anda pasti tahu prinsip hukum kita, kan? Mengakui kejahatan dan bersikap kooperatif akan meringankan hukuman, sedangkan melawan dan keras kepala hanya akan memperberat hukuman!"

Mendengar rentetan gertakan itu, otak cerdas Banyu akhirnya menangkap konklusinya. Kesaksian Rendi ternyata hanya dianggap sebagai 'petunjuk awal' oleh pihak kepolisian, bukan sebagai 'bukti hukum' yang absolut. Jika kesaksian itu dianggap bukti kuat, polisi tidak akan repot-repot membawanya ke mari dengan status "membantu penyelidikan"; mereka pasti sudah menerbitkan surat perintah penahanan resmi dan menjebloskannya ke sel tahanan! Fakta bahwa Pak Yudo dan Pak Nandito menghabiskan banyak waktu dan energi untuk mengintimidasinya secara lisan membuktikan satu hal: mereka sangat putus asa dan membutuhkan pengakuan langsung dari mulut Banyu untuk bisa menutup kasus ini secara resmi.

Menyadari posisi di atas angin ini, senyum tipis yang meremehkan muncul di sudut bibir Banyu. Di dalam hatinya ia mencibir, "Jujur bawa untung, bohong bawa buntung? Ah, teori basi! Yang benar itu: Mengaku sama dengan membusuk di penjara, sementara diam adalah kunci pulang merayakan tahun baru dengan tenang! Teori semurah ini kalian pikir aku tidak paham? Mau memaksaku mengaku? Bermimpilah!"

Setelah memantapkan tekadnya, Banyu memutuskan untuk melancarkan aksi mogok bicara. Ia menutup mulutnya rapat-rapat. Tak peduli ancaman, bujukan, atau bentakan apa pun yang dilontarkan oleh Pak Yudo maupun Pak Nandito, Banyu tetap diam mematung layaknya patung batu. Toh, secara konstitusional, polisi hanya memiliki wewenang maksimal 1x24 jam untuk menahannya guna keperluan interogasi. Begitu batas waktu itu terlampaui tanpa ada bukti kuat, mereka wajib membebaskannya. Banyu sudah menyusun rencana: begitu ia keluar dari gerbang neraka ini, hal pertama yang akan ia lakukan adalah menghubungi penasihat hukum perusahaannya, Pengacara Johan, dan membiarkan profesional hukum yang membereskan sisa kekacauan ini.

Menyadari bahwa taktik intimidasi verbal sama sekali tak mempan pada pemuda keras kepala ini, Pak Yudo dan Pak Nandito saling bertukar pandang. Mereka akhirnya memutuskan untuk menggunakan taktik usang namun mematikan: Interogasi Kelelahan Ekstrem. Keduanya mulai bergantian mencecar Banyu dengan pertanyaan tanpa henti. Mereka sama sekali tak memberi Banyu kesempatan untuk mengistirahatkan matanya, bahkan menolak memberinya setetes air minum pun! Mereka sangat berharap Banyu akan menyerah pada kelelahan fisik dan mental dalam kurun waktu 24 jam ini, lalu tanpa sadar membeberkan pengakuan.

Sayangnya, perhitungan Pak Yudo dan Pak Nandito lagi-lagi meleset jauh. Dengan kualitas fisik mutan yang dimiliki Banyu saat ini, jangankan cuma begadang sehari semalam tanpa makan minum; disuruh tidak tidur berhari-hari pun ia masih sanggup berlari maraton! Sejak siang hari, kedua penyidik itu telah melancarkan bombardir pertanyaan yang menguras energi. Namun, saat jam dinding menunjukkan pukul 10 malam, Banyu justru masih terlihat sangat segar bugar dengan sorot mata yang tajam. Ia tetap mempertahankan kebisuan mutlaknya, sementara Pak Yudo dan Pak Nandito justru mulai terlihat frustrasi, kehabisan napas, dan putus asa.

Kondisi fisik kedua polisi itulah yang justru mulai tumbang. Frekuensi pergantian shift interogasi mereka menjadi semakin sering. Menjelang tengah malam, Pak Yudo yang sudah kelelahan dan emosional kembali menggantikan Pak Nandito. Saat ia melihat Banyu yang posisinya masih tak bergeser sedikit pun dari kursi, lengkap dengan senyum sinis yang seolah mengejek penderitaan penyidiknya sisa kesabaran terakhir Pak Yudo akhirnya menguap tak berbekas.

Api kemarahan membakar akal sehat Pak Yudo. Ia merasa pemuda Asia ini sengaja mempermainkan dan merendahkan otoritasnya sebagai penegak hukum. Tak tahan lagi, ia melompat berdiri dari kursinya dan membentak dengan suara menggelegar, "Kau jangan terlalu sombong! Ini kantor polisi, bung! Aku punya seribu satu cara untuk memaksa mulut bajinganmu itu terbuka!"

Banyu tak gentar sedikit pun. Ia ikut berdiri, menatap tajam ke arah penyidik temperamental itu. Meskipun kedua tangannya masih terborgol di belakang punggung, auranya tak kalah mendominasi. "Oh? Jadi sekarang Bapak berniat memeras pengakuan dengan kekerasan fisik? Silakan, keluarkan semua trik kotor Bapak! Kalau sampai aku meringis kesakitan sedikit saja, panggil aku anak anjing seperti Bapak!"

"Kau sendiri yang mencari mati, Keparat!" Pak Yudo menyeringai buas. Tanpa ragu, ia mencabut sebuah tongkat pemukul berbahan karet solid dari sarung di pinggang belakangnya. Ini adalah senjata khusus yang memang sudah ia siapkan untuk menghadapi tahanan membandel. Pukulan dari tongkat karet ini menghasilkan rasa sakit yang sangat mendalam dan melumpuhkan saraf, tapi secara ajaib nyaris tidak meninggalkan memar luar yang terlihat secara forensik. Senjata ini sangat sempurna untuk menyiksa bajingan keras kepala seperti Banyu tanpa meninggalkan jejak yang bisa diperkarakan.

Sambil menepuk-nepukkan tongkat karet itu ke telapak tangannya secara berirama, Pak Yudo melangkah pelan memutari meja interogasi, mendekati Banyu seperti predator yang mengintai mangsanya. Keputusannya sudah bulat: meskipun Banyu tiba-tiba bersedia mengakui semua kejahatannya saat ini juga, ia tetap akan menghajar pemuda ini sampai babak belur. Kesombongan dan sikap menantang Banyu telah melukai egonya, dan ia tidak akan merasa puas sebelum melihat pemuda ini merintih memohon ampun di bawah kakinya.

Namun, Banyu sama sekali tak terintimidasi oleh gertakan itu. Ia berdiri tegak dengan wajah tanpa ekspresi, menanti langkah Pak Yudo mendekat. Di dalam otaknya, ia mulai mengalkulasi skenario terbaik: Apakah lebih baik membiarkan polisi gila ini memukulku beberapa kali dulu agar aku punya alasan kuat untuk melaporkannya atas tindakan kekerasan aparat? Atau... lebih aman langsung menghajarnya sampai pingsan sebelum dia sempat menyentuhku?

Tepat saat ketegangan di ruang interogasi memuncak dan bentrokan fisik nyaris pecah... Pintu baja ruang interogasi itu mendadak didorong terbuka dari luar dengan sangat kasar!

Sesosok wanita melangkah masuk dengan aura dingin yang membekukan seisi ruangan. Wajah cantiknya sekaku es, memancarkan amarah yang sangat menakutkan. Wanita itu tak lain adalah Siska!

1
Noor hidayati
kayaknya authornya ini memang menyukai free sex
Sri Murtini
Sesuai takdir Siska adalah isteri pertamamu banyu ...mslh dayang lainya ikuti mengalir saja tp dgn pertimbangan istri pertama ya !!
Yusup Surya
sialan plot twist dalam plot twist
Sri Murtini
Banyu segera nikahi Siska siapa tahu ada banyu yunior yg singgah dirahim siska sblm zina berlanjut💪😍😍
wan auw
ahhh kurang bnyak thorrr
isnaini naini
stlh beratus ratus episode...akhirnys....emang author satu ini pnuh kjutan
Memyr 67
𝗆𝖾𝗇𝖺𝗇𝗀 𝖻𝖺𝗇𝗒𝖺𝗄 𝗍𝗎 𝖻𝖺𝗇𝗒𝗎. 𝖽𝖺𝗁 𝖻𝖾𝗋𝗁𝖺𝗌𝗂𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖾𝖻𝗈𝗅 𝗄𝖾𝗉𝖾𝗋𝖺𝗐𝖺𝗇𝖺𝗇 𝗌𝗂𝗌𝗄𝖺, 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌 𝗆𝖺𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖾𝖻𝗈𝗅 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗉𝖾𝗋𝖺𝗐𝖺𝗇 𝗒𝗀 𝗆𝖺𝗇𝖺 𝗅𝖺𝗀𝗂? 𝗍𝖺𝗇𝗉𝖺 𝗉𝖾𝗋𝗇𝗂𝗄𝖺𝗁𝖺𝗇? 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋 𝗉𝗅𝖺𝗒𝖻𝗈𝗒 𝖼𝖺𝗉 𝗄𝖺𝗉𝖺𝗄.
Hardware Solution
akhirnyaaaa.....
Memyr 67
𝗉𝗎𝖺𝗌𝗒, 𝗒𝗎𝖽𝗈 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖻𝖺𝗅𝖺𝗌𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗍𝗂𝗆𝗉𝖺𝗅
Gege
akhirnya banyu pecah prewi...dan ular kadutnya pun berevolusi bukan buat kencing ajah...🤭🤣
Cui Lan Seng
hahaha emang benar novel terjemahan berarti emang indonesia bukan asia ya
Zamo: Anjirr, aku ampe mikir apa maksudnya ini? tapi bener juga ya, dikiranya Indonesia benua sendiri🤭
total 1 replies
Endro Budi Raharjo
lalu crita ditangkep polisi gmn kelanjutannya ???
Riyanganz
seperti biasa dramanya 4 chapter ga selesai selesai😄
Was pray: biasa .... muter2 kayak gangsing, satu konflik gak kelar2.. .. 🤭
total 1 replies
Memyr 67
𝗉𝖾𝗆𝗎𝖽𝖺 𝖺𝗌𝗂𝖺. 𝗄𝖺𝗇 𝗉𝗈𝗌𝗂𝗌𝗂 𝖻𝖺𝗇𝗒𝗎 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀 𝖽𝗂 𝖺𝗌𝗂𝖺 𝗍𝗁𝗈𝗋.
asammanis
wkwk bosen hidup🤣🤣
BaksoEnak
hahahah kayaknya ini novel terjemahan Da Xia yaa ketahuan kamu🤭🤭🤭
Was pray
jadi tersangka penganiayaan itu Rendi biar banyu mikir dulu kalau mau bertindak, udah jelas menganiaya Rendi di tempat publik( rumah sakit)itu udah veruko tinggi
Gege
othor berusaha membuat konflik yang memicu emosi pembacanya, ..🤣
asammanis
wkwk kekuatan amplop emang paling top🤣
asammanis
wkwk susternya kena mental 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!