⚠️ Disclaimer⚠️
Untuk yang punya humor tingkat tinggi di atas ranah Bahalil Sovereign Immortal Mythic Glory Realm yang bisa menangkap esensi dari perjalanan Slamet dan Faksi-faksi di Overlord.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
#Fantasi
#Komedi
#Petualangan
#Respawn
#SalahPahamMassal
#KalongMania62
#BukanKonspirasi
#TapiSemuaPanik
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Lilin-lilin lemak monster di ruang bawah tanah Theocracy hampir habis terbakar.
Tiga dari delapan lilin sudah padam, menyisakan sumbu hitam yang melengkung di atas genangan lilin beku. Dua lainnya menyala redup, nyala apinya bergetar tidak stabil, seolah sedang berjuang melawan sesuatu yang tidak terlihat.
Di tengah ruangan, The Thousand Leagues Astrologer duduk bersila di atas bantalan sutra hitam. Di depannya, sebuah gulungan perkamen terbentang, dipenuhi simbol-simbol sihir yang ditulis dengan tinta perak. Jari-jarinya yang pucat bergerak perlahan di atas permukaan perkamen, mengikuti alur simbol yang mulai memudar dengan sendirinya.
Di belakangnya, seorang pria tua berjubah putih duduk di kursi batu yang dipenuhi ukiran lambang-lambang kuno. Jubahnya jatuh menggumpal di pangkuannya, dan tangannya yang keriput memegang erat tongkat kayu gelap. Di ujung tongkat itu, ada batu merah kecil yang berkilau samar setiap kali dia menggerakkan jarinya.
Cahaya lilin hanya menerangi separuh wajahnya. Kerutan di dahinya semakin dalam ketika dia menunggu.
"Masih tidak berhasil?" tanyanya dengan suara berat yang bergema di antara dinding batu.
The Thousand Leagues Astrologer membuka mata. Pupilnya yang berwarna abu-abu muda tampak lelah, dengan urat-urat merah tipis di sudut matanya. Dia menghela napas pelan, dan uap putih keluar dari mulutnya—meskipun ruangan itu tidak dingin.
"Belum, Yang Mulia. Anomali di hutan Elf masih mengganggu seluruh proses divinasi. Sama seperti sebelumnya."
"Apa yang kau lihat?"
Dia menatap perkamen di depannya. Simbol-simbol yang dia tulis mulai memudar dengan cepat, meninggalkan bekas abu-abu di atas kertas.
"Hanya kabut. Dan angka-angka asing yang terus berulang."
Pria tua itu menyipitkan mata. Di bawah alisnya yang putih, matanya yang hitam pekat menatap tajam.
"Empat-Nol-Empat?"
"Ya."
Jawabannya datang tanpa ragu. Dia sudah mendengar angka itu berkali-kali, dan setiap kali dia mengucapkannya, ada rasa aneh di lidahnya—seperti sedang mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya diucapkan.
"Angka itu terus muncul. Berulang tanpa pola yang bisa dipahami. Seolah-olah ada sesuatu yang menolak untuk dianalisis."
Ruangan kembali sunyi. Hanya suara lilin yang berderak pelan, diselingi tetesan lilin yang jatuh ke permukaan batu dengan bunyi plok yang samar.
Jari-jari Cardinal mengetuk sandaran kursinya dengan irama lambat. Bunyi ketukan itu bergema di ruangan.
"Bagaimana dengan ekspedisi ke hutan Elf?"
Astrologer menggeleng pelan. Rambutnya yang panjang bergerak mengikuti gerakan, beberapa helai lepas dari ikatannya.
"Terlalu berbahaya untuk saat ini. Pasukan kita belum sepenuhnya pulih setelah bentrokan dengan monster perempuan itu."
Cardinal itu tidak langsung menanggapi. Matanya bergerak ke arah jam pasir di sudut ruangan yang hampir kosong.
"Kalau begitu, bagaimana situasi Holy Kingdom?"
"Mata-mata kita melaporkan adanya aktivitas yang tidak biasa."
Wanita itu memejamkan mata sesaat. Di bawah kelopak matanya, dia mengingat laporan-laporan yang diterimanya. Kertas-kertas perkamen yang masih berbau tinta segar.
"Ada peningkatan mobilisasi logistik dan pergerakan pasukan di beberapa wilayah. Sepertinya mereka sedang mempersiapkan sesuatu."
"Perang?"
"Mungkin."
Nada suaranya terdengar ragu.
"Masalahnya, tidak ada informasi yang cukup untuk memastikan siapa lawan mereka."
Cardinal menghentikan ketukan jarinya.
"Lalu pria dengan tanda segitiga hitam itu?"
The Thousand Leagues Astrologer kembali menggeleng.
"Penyelidikan masih berlangsung. Sejauh ini tidak ada perkembangan berarti selain laporan awal."
"Laporan yang menyebut dia bekerja sebagai kurir?"
"Benar."
Wanita itu menatap perkamen yang mulai kosong. Di atasnya, bayangan samar mulai terbentuk—sosok seorang pria dengan pakaian lusuh, berjalan di tengah salju.
"Perilakunya tidak menunjukkan sesuatu yang mencurigakan. Namun tanda di dahinya bukan seperti tato biasa. Para agen melaporkan bahwa simbol tersebut terlihat seolah tumbuh dari dalam kulit."
Keheningan kembali memenuhi ruangan. Api lilin di sampingnya berkedip beberapa kali sebelum kembali stabil.
Cardinal perlahan berdiri dari kursinya. Suara gesekan batu terdengar ketika kursi itu bergeser di atas lantai.
"Tingkatkan pengawasan."
Suaranya terdengar tegas.
"Aku ingin laporan lengkap mengenai pria itu. Ke mana dia pergi, apa yang dia lakukan, dan siapa saja yang berhubungan dengannya."
Ia berhenti sejenak.
"Dan siapkan ekspedisi ke hutan Elf. Cepat atau lambat anomali itu harus diselidiki."
The Thousand Leagues Astrologer menundukkan kepala.
"Perintah diterima, Yang Mulia."
Cardinal berbalik dan berjalan menuju pintu batu. Jubah putihnya bergerak mengikuti langkahnya. Bayangan tubuhnya memanjang di dinding sebelum akhirnya menghilang bersama suara langkah kaki yang semakin menjauh.
The Thousand Leagues Astrologer tetap duduk di tempatnya. Di depannya, perkamen itu sekarang benar-benar kosong, meninggalkan bekas abu-abu yang mulai pudar. Seperti sedang menunggu untuk digunakan lagi.
*
*
*
Di ruang kerja Demiurge, peta besar yang membentang di atas meja hampir tidak memiliki ruang kosong lagi.
Titik-titik merah memenuhi berbagai wilayah Holy Kingdom. Beberapa bahkan terpaksa ditandai di tepi peta karena tidak ada tempat tersisa.
Demiurge menambahkan tiga tanda baru di wilayah barat sebelum meletakkan kuasnya. Kuas itu terbuat dari bulu monster yang diawetkan, dengan gagang kayu gelap yang sudah halus karena sering digunakan.
Desa Alpha: empat target.
Desa Beta: enam target.
Desa Gamma: tiga target.
Total sementara mencapai dua puluh delapan target.
Masih kurang.
Jauh dari jumlah yang dibutuhkan.
Ia mengambil perkamen lain dan mulai menulis instruksi tambahan. Ujung pena bulu angsa itu bergerak cepat di atas permukaan kertas, menciptakan deretan huruf yang rapi dan terukur.
Perluas radius pencarian ke wilayah pinggiran ibu kota.
Target tidak harus berasal dari desa terpencil.
Penduduk pinggiran kota juga tidak akan terlalu diperhatikan jika menghilang.
Setelah selesai menulis, ia mengangkat kepalanya. Di langit-langit di atasnya, seekor laba-laba hitam kecil sedang merayap perlahan di antara retakan-retakan batu.
"Kirim perintah ke seluruh unit."
Suaranya tenang seperti biasa.
"Operasi dimulai dua hari lagi. Prioritaskan wilayah yang minim pengawasan."
Dari bayangan di sudut ruangan, terdengar suara pelan—seperti bisikan yang keluar dari celah di antara dimensi.
"Perintah diterima, Demiurge-sama."
Bayangan itu bergerak sesaat sebelum menghilang dan menyatu kembali dengan kegelapan.
Demiurge kembali menatap peta. Jari-jarinya menyentuh salah satu titik merah di dekat perbatasan barat. Di bawah jarinya, tinta masih sedikit basah.
Holy Kingdom sedang dalam kekacauan. Konflik internal membuat perhatian mereka terpecah. Dalam situasi seperti itu, hilangnya beberapa orang di desa-desa tidak akan segera menimbulkan kecurigaan.
Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.
Dan Demiurge tidak berniat menyia-nyiakannya.
*
*
*
Di tenda logistik Holy Kingdom, Neia sedang menghitung ulang persediaan yang tersisa.
Matanya bergerak cepat mengikuti deretan angka di atas kertas, sesekali berhenti untuk menandai sesuatu dengan ujung pensil yang sudah tumpul.
Tali busur: tersisa dua gulungan.
Anak panah: dua ratus tiga puluh empat batang.
Obat-obatan: persediaan untuk sepuluh hari.
Makanan: cukup untuk seminggu, jika dibagi dengan porsi minimal.
Semuanya semakin menipis.
Ia menandai setiap barang yang keluar dan masuk sebelum akhirnya meletakkan pensilnya. Di ujung pensil, serbuk kayu halus menempel di jarinya.
Pengiriman berikutnya dijadwalkan tiga hari lagi. Jika cuaca bersahabat, semuanya mungkin berjalan lancar. Sayangnya musim dingin jarang memberikan kemudahan.
Jalan bisa tertutup salju. Gerobak bisa tergelincir. Kurir bisa terlambat. Atau bahkan tidak datang sama sekali.
Pikirannya tanpa sadar tertuju pada satu orang.
Slamet.
Pria itu hampir selalu datang. Kadang terlambat. Kadang terlihat lebih lelah dari biasanya. Namun sejauh ini dia tidak pernah gagal menyelesaikan tugas yang diberikan.
Neia menoleh ke sudut tenda.
Slamet sedang berbaring di atas tumpukan karung goni. Salah satu karung di bawah kepalanya sudah kempes, membuat posisi lehernya terlihat tidak nyaman. Napasnya pelan dan teratur, dengan kadang-kadang suara dengkuran kecil yang keluar saat dia menarik napas dalam-dalam.
Tidak ada dengkuran malam ini.
Mungkin dia sudah tertidur lebih dalam.
Mungkin hanya memejamkan mata.
Atau mungkin sedang memikirkan sesuatu yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun.
Neia tidak tahu.
Dan kemungkinan besar tidak akan pernah tahu.
Ia kembali menatap laporan di depannya. Di sudut kertas, ada noda lilin kecil dari lilin yang menetes saat dia bekerja sebelumnya.
Besok akan ada tugas baru. Dan seperti biasa, Slamet akan bangun, mengambil kotak kayu berikutnya, lalu berjalan menuju pos tujuan tanpa banyak bicara. Langkahnya akan meninggalkan jejak di salju, dan saat matahari terbenam, dia akan kembali dengan kotak kosong di tangannya.
Neia menghela napas. Uap putih keluar dari mulutnya, membaur dengan udara dingin di dalam tenda. Dia mematikan lilin kecil di sampingnya, dan kegelapan menyelimuti ruangan.
Dia tidak tahu bahwa di luar tenda, di antara bayangan pepohonan yang tertutup salju, ada dua pasang mata yang sedang mengawasi.