Seseorang yang mengharapkan cinta dari orang yang paling ia cintai, justru adalah orang yang paling menyakiti. Hingga suatu saat mungkin harapan itu akan muncul dan menemukan seseorang jauh dan mampu memberikan rasa nyaman dan cinta.
Raisa adalah gadis yang baik, namun dia tidak seperti wanita pada umumnya yang di berikan cinta seluas samudera, berharap bahwa suatu saat nanti akan ada cahaya di balik kegelapan yang menyelimuti hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 - Terluka dan Khawatir
Bab 15 - Terluka dan Khawatir
Namun Senopati justru tak bergerak sedikit pun. Tatapannya tetap dingin, tajam, dan tak menunjukkan rasa takut sedikit pun—bahkan justru terlihat lebih mengintimidasi dibandingkan pria yang mengacungkan senjata itu.
“Mau mati?” ulang Senopati pelan, nadanya datar namun menyayat hati. “Jika kau pikir pisau itu bisa membuatku gentar, kau salah besar. Bahkan jika kau tusukkan itu ke tubuhku sekarang, kau takkan sempat melihat hasilnya sebelum tubuhmu sendiri tergeletak di lantai ini.”
Pria itu menggenggam gagang pisau lebih erat, urat-urat di lehernya menonjol karena emosi yang meluap. “Kau sudah merampas segalanya dariku! Usahaku, hartaku, bahkan masa depan keluargaku! Semua gara-gara perjanjian kotor yang kau buat!”
Mendengar kata-kata itu, alis Senopati sedikit mengernyit. Ia tidak menyangka kalau pria itu menyalahkannya atas apa yang menimpanya. Padahal semua itu terjadi kepadanya karena ia telah menjadi orang yang serakah dan licik.
“Jadi kau masih punya nyali untuk datang ke sini, Pak Hendra?” ucap Senopati, menyebut nama pria itu dengan nada sinis. “Bukan aku yang menghancurkanmu. Kau sendiri yang menghancurkan dirimu dengan keserakahan dan kecerobohanmu. Aku hanya menagih apa yang menjadi hakku sesuai kesepakatan yang kau tanda tangani sendiri.”
Hendra terguncang, tangannya sedikit gemetar. Ia melirik sekilas ke arah Raisa yang berdiri di belakang Senopati, lalu tertawa getir. “Mudah bagimu bicara! Kau punya segalanya—kekuasaan, harta, dan sekarang bahkan wanita yang seharusnya… ah, tidak ada gunanya bicara lagi!
Jantung Raisa seakan berhenti berdetak. Belum sempat ia mencerna semua ucapan pria itu, tiba-tiba dengan gerakan yang tak terduga, Hendra melesat melewati celah di antara para pengawal yang sempat lengah sesaat. Dalam sekejap saja, ia sudah berada tepat di samping Raisa.
Tanpa ampun, lengan kirinya melingkar erat memeluk tubuh gadis itu dari belakang, sementara ujung pisau tajam langsung ia tempelkan dengan hati-hati namun mengancam ke leher jenjang Raisa. Darah seketika berdesir kencang di seluruh tubuh Raisa, matanya membelalak ketakutan, napasnya tertahan tak berani bergerak sedikit pun.
“Jangan bergerak! Siapa pun yang maju selangkah, leher gadis ini akan terbelah sekarang juga!” teriak Hendra dengan suara parau dan gemetar, emosinya meledak tak terkendali.
Senopati yang baru saja hendak melangkah maju seketika menghentikan langkahnya. Tatapannya berubah seketika—dari dingin berubah menjadi tajam mematikan, amarah yang meluap mulai menyala di balik tatapan matanya. Nada bicaranya kini terdengar rendah, berat, dan penuh tekanan yang menakutkan.
“Lepaskan dia. Sekarang juga,” perintah Senopati, setiap kata terucap dengan tegas seolah memancarkan getaran ancaman yang nyata. “Jika kau berani melukai rambutnya saja, aku pastikan kau takkan sempat melihat matahari terbenam besok.”
Hendra malah tertawa getir, tangannya semakin menekan sedikit gagang pisau itu, membuat Raisa merasakan dinginnya logam tajam itu bersentuhan langsung dengan kulitnya. “Kau kira aku tak tahu siapa dia? Dia adalah taruhan terbaikku untuk membuatmu mendengarkan! Kau ambil segalanya dariku, maka kau harus ganti dengan apa yang paling kau hargai sekarang!”
Raisa merasakan dadanya sesak, air mata mulai menggenang di sudut matanya karena takut, tapi ia berusaha tetap tenang agar tidak menggerakkan lehernya. Ia melirik sekilas ke arah Senopati, dan di balik ketakutannya, ia melihat sorot mata pria itu yang penuh kewaspadaan—bukan hanya marah, tapi juga ada rasa khawatir yang terlihat jelas.
“Dengar aku baik-baik, Pak Hendra,” ucap Senopati perlahan, mencoba menenangkan situasi sambil terus mengamati setiap gerakan kecil pria itu. “Apa yang kau inginkan? Uang? Waktu? Atau penjelasan? Bicaralah, tapi lepaskan dia. Dia tidak ada sangkut pautnya dengan urusan masa lalu kita.”
“Tidak ada sangkut paut?” teriak Hendra semakin keras. “Semua ini karena kesalahanmu, kamu pikir aku tidak menyelidiki-mu, aku tau wanita mudah ini adalah calon istrimu, bukankah dia berharga bagimu?" Tawanya sambil terus memajukan pisaunya sehingga leher Raisa sedikit tergores dan mengeluarkan dara segar.
Senopati yang menyaksikan itu semakin marah amarahnya seakan tak bisa ia bendung, namun untuk saat ini ia tak bisa berbuat apa karena takut Hendra semakin melukai Raisa.
"Raisa tenang dan jangan bergerak." Senopati berusaha menenangkan Raisa yang semakin terlihat ketakutan dan panik.
Suasana menjadi sangat mencekam. Para pengawal sudah bersiap siaga di sekeliling, menunggu isyarat sekecil apa pun dari Senopati, namun tak ada yang berani bergerak demi keselamatan Raisa. Sementara itu, Senopati terus berusaha mencari celah, memikirkan cara untuk menyelamatkan Raisa tanpa membahayakan nyawanya.
Ia tiba-tiba mengangkat pisau itu lebih tinggi, bersiap mengarahkan ke Raisa. Namun sebelum ia sempat bergerak lebih jauh, dua pengawal yang sudah menunggu perintah langsung melesat dan menahan lengannya dengan cepat dan kuat. Dalam hitungan detik, pisau itu terlepas dan jatuh berdentang ke lantai, sedangkan Hendra terjepit di antara kedua lengan pengawal itu, tak bisa bergerak lagi.
“Bawa dia ke ruang bawah tanah. Jangan sakiti dia dulu—aku ingin mendengar semua yang ingin ia sampaikan, tapi bukan dengan cara mengancam nyawa orang lain di sini,” perintah Senopati dengan tegas.
Setelah Hendra dibawa pergi dan suasana kembali tenang, barulah Senopati berbalik menghadap Raisa. Ia melihat wajah gadis itu masih pucat, tangannya mengepal erat menahan getaran. Tanpa banyak bicara, Senopati melangkah mendekat dan meletakkan tangannya lembut di bahu Raisa.
“Tenanglah. Semuanya sudah aman sekarang,” ucapnya dengan nada yang jauh lebih lembut dibandingkan tadi, seolah ingin menghapus rasa takut yang baru saja melanda. "Kita obati dulu lukamu ya." Senopati lalu membawa Raisa keruang tamu dan menyuruh Bi Lastri mengambil kotak p3k.
Raisa mengangkat wajahnya, menatap mata Senopati. “Dia… dia orang seperti apa, Tuan? Mengapa dia begitu marah pada Tuan?”
Senopati menghela napas panjang, lalu mengusap pelan bahu Raisa sebelum menarik tangannya kembali. “Hanya seseorang yang tak mau bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri. Jangan dipikirkan terlalu dalam, itu bukan urusanmu.”
"Tapi dia...?" Belum sempat Raisa menyelesaikan ucapannya Senopati sudah menutup mulutnya. Sehingga kedua mata mereka bertemu beberapa detik sebelum Senopati mengatakan sesuatu...
"Saya bilang jangan di pikirkan, jangan bicara saya akan mengobati lukamu. Kamu tenang saja hal ini tidak akan terjadi lagi kepada kamu." Setelah mengatakan itu Senopati melepaskan tangannya dari mulut Raisa dengan perlahan.
"Auhh...?"
"Apakah perih? Tahan sebentar ini tidak akan lama." Setelah membersihkan darahnya, Senopati lalu memainkan salep dan plaster. "Selesai, bagaimana apakah kamu jadi pulang?" Sambil memasukkan kembali salep dan kapas kedalam kotak p3k.
Raisa hanya mengangguk, apa yang terjadi tadi bukan berarti ia membatalkan niatnya untuk pulang.
"Tapi saya tidak tenang jika kamu pergi dari rumah ini?"