Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.
Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.
Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 : Telepon dari Suami
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu kamar yang cukup keras dan tiba-tiba seketika mengejutkan Vina. Jantungnya yang sudah berdegup kencang karena syok melihat kalung perak di tangannya, kini semakin berpacu liar.
"Iya, sebentar!" seru Vina, mencoba mengatur nada suaranya agar terdengar sekeren dan senormal mungkin.
Dengan napas yang memburu dan tangan yang gemetar hebat, Vina bergegas memasukkan kembali kalung perak bersayap elang itu ke dalam kotak beludru merahnya. Karena terlalu panik dan tergesa-gesa, ia langsung melempar kotak kecil yang masih dalam keadaan terbuka itu ke dalam laci meja riasnya, lalu mendorong laci tersebut hingga menutup dengan bunyi berdentum pelan.
Vina menarik napas dalam-dalam, mengusap sisa air mata di sudut matanya, lalu melangkah mendekati pintu utama kamar dan membukanya. Seorang pelayan wanita paruh baya tampak berdiri di depan pintu dengan sikap hormat dan kepala sedikit menunduk.
"Ada apa, Bi?" tanya Vina lembut.
"Mohon maaf mengganggu waktu istirahatnya, Nyonya. Di bawah ada telepon masuk dari luar, dan orang di seberang sana meminta untuk berbicara langsung dengan Nyonya Vina," lapor pelayan itu dengan sopan.
Vina mengernyitkan dahi sejenak, merasa bingung siapa yang meneleponnya ke jalur rumah utama. "Oh, iya kah? Baiklah, aku segera turun ke bawah sekarang."
Sebelum melangkah keluar, Vina berbalik masuk kembali ke dalam kamar selama beberapa detik. Ia mengambil setumpuk pakaian kotor milik Radit yang berada di dalam keranjang sudut kamar, memeluknya erat di dada, dan sekalian membawanya ke bawah agar bisa langsung diserahkan ke ruang binatu pelayan. Hal itu ia lakukan sekaligus untuk mengalihkan perhatian dari kegelisahan batinnya.
Sesampainya di aula bawah, Vina meletakkan tumpukan baju kotor itu di atas meja koridor samping dan langsung melangkah menuju meja kayu tempat pesawat telepon kabel mansion berada. Ia mengangkat gagang telepon hitam yang masih tergeletak di atas meja, lalu menempelkannya ke telinga dengan perlahan.
"Iya, halo... Selamat siang. Dengan siapa di sini?" tanya Vina dengan nada suara yang lembut dan ramah.
Di seberang sana, terdengar suara helaan napas berat namun terdengar sangat familier, disusul oleh sebuah kekehan rendah yang terdengar begitu seksi dan berwibawa di telinga Vina.
"Vina. Ini aku. Radit," sahut suara di seberang telepon dengan nada yang seketika berubah menjadi teramat sangat lembut dan hangat.
Bibir Vina tanpa sadar langsung menyunggingkan senyuman manis, dan rona merah alami seketika terbit di kedua pipinya. Rasa cemas akibat rahasia kalung tadi mendadak sedikit mereda hanya karena mendengar suara suaminya. "Oh, iya, Mas Radit. Ada perlu apa menelepon siang-siang begini? Apa ada barang yang tertinggal?"
"Tidak ada yang tertinggal, Sayang. Aku cuma mau memberitahu dan meminta izin kepadamu, bahwa sepertinya aku akan telat pulang ke rumah malam ini. Ada beberapa dokumen dan rapat koordinasi mendadak di markas komando yang tidak bisa kutinggalkan," jelas Radit, terdengar suara gemerisik kertas di latar belakang teleponnya. Radit terdiam sejenak, lalu nadanya berubah menjadi sangat dalam dan penuh perhatian. "Vina... bagaimana keadaanmu di sana? Apa kau baik-baik saja di rumah? Tidak ada kejadian buruk atau orang asing yang berbuat sesuatu seperti kemarin, kan?"
Vina terkekeh pelan, merasa sangat dihargai dan dicintai karena sikap protektif Radit yang luar biasa. "Iya, Mas. Aku di sini sangat baik dan aman. Jangan terlalu khawatir tentang aku secara berlebihan, Mas Radit fokus saja pada pekerjaan di markas. Ibu... Ibu hari ini sangat baik padaku. Tadi kami bahkan mengobrol banyak hal di atas."
"Oh ya? Ibu bersikap baik padamu?" Radit terdengar sangat terkejut sekaligus lega di seberang sana. "Syukurlah kalau begitu. Tapi tetap saja, hatiku tidak tenang kalau harus membiarkan istriku yang cantik dan baru sembuh ini kutinggal sampai larut malam tanpa pengawasanku langsung."
Wajah Vina semakin memanas mendengarnya. "Mas Radit, ih... jangan menggoda begitu. Ini telepon mansion, nanti kalau ada pelayan lain yang lewat dan tidak sengaja mendengar bagaimana?"
"Biar saja mereka mendengar, biar semua orang di rumah itu tahu kalau Tuan Mudanya sedang rindu setengah mati pada istrinya sendiri," goda Radit lagi dengan tawa renyah yang terdengar sangat menjengkelkan namun sekaligus manis di hati Vina. "Vina... apa kau tidak merindukanku juga? Baru beberapa jam kutinggal, rasanya aku ingin langsung pulang dan memelukmu sekarang."
"Mas Radit, sudah... hentikan," cicit Vina malu-malu, menggigit bibir bawahnya sambil memutarkan jari-jarinya di kabel telepon yang melingkar.
Tap... tap... tap...
Suara ketukan langkah sepatu selop yang anggun dan tegas tiba-tiba terdengar menuruni anak tangga utama. Vina menoleh dan mendapati Nyonya Besar Laksmana sudah turun ke lantai bawah dengan penampilan yang sangat rapi, elegan, dan formal, mengenakan gaun Cheongsam sutra berwarna biru tua dengan rambut yang ditata konde rapi.
Vina seketika panik dan berbisik pelan ke arah gagang telepon. "Mas... Mas Radit, maaf sekali, teleponnya harus ku matikan dulu sekarang, ya? Ada ibumu baru saja turun ke bawah, sepertinya beliau mau pergi ke suatu tempat yang sangat penting."
Di seberang sana, Radit menghela napas pasrah namun terdengar terkekeh geli. "Hahaha, baiklah, baiklah. Jaga dirimu baik-baik di rumah, Vina. Sampai jumpa nanti malam... I love you, Sayang."
Klik.
Vina tersenyum malu dengan wajah yang sudah merah padam mendengar ucapan penutup dari suaminya, lalu dengan cepat menutup panggilan dan meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya tepat saat Nyonya Besar Laksmana berjalan mendekat ke arahnya.
"Dari siapa teleponnya, Vina?" tanya Nyonya Besar dengan nada suara yang tenang dan tidak lagi ketus.
Vina segera membalikkan tubuhnya dan membungkuk sopan. "Dari Mas Radit, Bu. Katanya dia menelepon untuk memberi kabar kalau kemungkinan besar akan pulang telat malam ini karena ada urusan mendadak di markas." Vina melirik ke arah pakaian rapi mertuanya. "Ibu... rapi sekali. Apa Ibu mau pergi ke suatu tempat?"
Nyonya Besar mengangguk pelan, merapikan letak selendang bulu yang melingkari bahunya. "Iya, Vina. Ibu mau pergi sekarang untuk menjemput ayah Radit di bandara internasional kota. Jadwal pendaratan pesawatnya dari Amerika dimajukan lebih cepat dari perkiraan semula." Nyonya Besar menghentikan kalimatnya, menatap Vina dengan pandangan mata yang penuh harap dan sedikit ragu. "Vina... sebelum Ibu berangkat, apa Ibu bisa meminta tolong sesuatu hal kepadamu?"
Vina langsung mengangguk dengan binar mata tulus tanpa ragu sedikit pun. "Tentu saja bisa, Bu. Apa saja tugas dan permintaannya, asal hal itu masih bisa dan mampu Vina kerjakan, pasti akan Vina siapkan dengan sebaik-baiknya untuk Ibu dan Ayah."
Nyonya Besar tersenyum puas mendengar kepatuhan menantunya. "Tolong masak dan siapkan sesuatu makanan dan hidangan malam yang istimewa untuk menyambut kedatangan ayah Radit nanti sore. Tapi ingat satu hal, seleranya sangat ketat dan berbeda, buatlah makanan yang jangan pedas, dan jangan terlalu manis. Dia menyukai hidangan yang gurih dan kaya akan rempah alami. Kau bisa membeli semua bahannya ke pasar kota di dekat sini, atau kau bisa meminta tolong pada sopir dan pelayan di sini untuk membelikan semua daftar bahan yang kau butuhkan. Kau tidak perlu mengeluarkan uang atau membayar apa pun, semuanya masuk ke rekening mansion. Bagaimana? Apa kau punya ide masakan yang cocok dengan kriteria seperti itu?"
Vina tampak berpikir sejenak, memutar otaknya untuk memikirkan menu kuliner tradisional Tionghoa kuno yang bernilai tinggi namun ramah di lidah orang tua yang baru sembuh dari sakit. Sebuah ide brilian langsung melintas di benaknya.
"Ada, Bu. Vina punya ide masakan yang sangat cocok untuk menyambut Ayah," jawab Vina dengan percaya diri dan senyuman manis.
Nyonya Besar Laksmana menaikkan satu alisnya dan tersenyum jenaka. "Apa masakan itu sejenis seperti kejutan dan rahasia dapurmu yang manis tadi pagi?"
Mereka berdua seketika tertawa bersama di tengah aula utama, menciptakan momen kebersamaan yang hangat dan harmonis antar keluarga yang baik dan saling menyayangi. Dan setelah berpamitan dan mencium tangan mertuanya, akhirnya Vina melangkah masuk ke dalam area dapur yang luas dan bersih untuk mulai memasak sesuai permintaan khusus dari Nyonya Besar Laksmana tadi.
Di dalam dapur, Vina langsung bergerak dengan sangat sigap dan penuh konsentrasi. Ia memutuskan untuk memasak menu Beggar's Chicken atau nama kampung nya Ayam Pengemis dan Sup Hisit Jamur Matsutake Gurih.
Vina mengambil seekor ayam kampung utuh yang gemuk, lalu melumurinya dengan bumbu gurih hasil ulekan rahasianya yang terdiri dari kecap asin premium, minyak wijen murni, bawang putih hancur, dan bubuk lima rempah (Ngohiong). Bagian dalam perut ayam itu kemudian ia jejali dengan tumisan jamur kuping, rebung muda, dan daging cincang gurih.
Setelah ayam dibumbui dengan sempurna, Vina membungkus seluruh tubuh ayam itu berlapis-lapis menggunakan lembaran daun teratai segar yang besar dan wangi untuk mengunci kelembapan dan aromanya. Tahap terakhir yang membuat masakan ini begitu mewah dan unik adalah, Vina membungkus luar daun teratai tersebut menggunakan adonan tanah liat bersih yang dicampur sedikit garam batu, membentuknya bulat kokoh seperti batu besar sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam tungku oven besar untuk dipanggang perlahan selama beberapa jam hingga tanah liatnya mengeras dan matang sempurna.
Sambil menunggu ayam panggangnya matang, Vina beralih membuat kaldu sup yang sangat gurih dan bening, merebus tulang ayam bersama jahe tua dan irisan jamur Matsutake yang sangat mahal dan langka, menghasilkan aroma gurih alami yang sangat pekat tanpa menggunakan pemanis atau cabai sedikit pun. Seluruh pelayan yang berada di sekitar dapur sampai menelan ludah mereka sendiri karena aroma masakan Vina yang begitu harum dan menggugah selera memenuhi seisi ruangan.
Namun, di tengah-tengah kesibukannya mengaduk kuah sup di atas kompor, pikiran Vina mendadak kembali ditarik pada ingatan dan kenyataan pahit di kamarnya tadi. Sepasang kalung kembar bersayap elang itu... dan wajah Dimas di dalam foto album.
Fokus Vina mendadak pecah. Pegangannya pada sendok sayur besar melonggar, dan matanya menatap kosong ke arah api kompor yang menyala biru. Jantungnya kembali dilingkupi rasa cemas dan ketakutan yang teramat sangat mendalam.
"Sore ini Ayah akan pulang dari Amerika bersama Ibu... dan bagaimana jika Bang Dimas juga tiba-tiba ikut pulang setelah mendengar Ayah sudah sembuh...?" bisik Vina di dalam hatinya dengan kepanikan yang mendalam, membayangkan badai besar apa yang akan menghantam pernikahannya dengan Radit jika rahasia masa lalu tentang kalung kembar itu terbongkar di depan seluruh keluarga besar Laksmana malam ini.
itu mas dimas mau buat skenario sendiri kah😭
mba vina sini mba cerita, aku nanti yg tanya tanya deh ke mas Radit sama mas dimas nya😭🙏