NovelToon NovelToon
Balas Dendam Nyonya Cha

Balas Dendam Nyonya Cha

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mayraa Ibnurafa

Han Ji-an rela dicap "mandul" dan dihina mertua demi menutupi aib suaminya, Kang Min-woo, yang tidak subur. Namun, ketulusannya dikhianati. Min-woo berselingkuh dengan sahabat sekaligus dokter kandungan Ji-an, memalsukan rekam medisnya, lalu mendepaknya tanpa sepeser uang pun.

​Di titik hancur, Ji-an dinikahi Cha Jin-wook, CEO nomor satu di Korea. Tiga tahun berlalu, Ji-an membuktikan kebohongannya dengan melahirkan dua anak. Kini, ia kembali ke Seoul sebagai Nyonya Besar Cha Group yang elegan, siap menghancurkan karier, rumah tangga, dan harga diri orang-orang yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 : Retakkan di dinding kaca

​Keheningan yang mencekam menyelimuti kabin mobil Rolls-Royce Phantom dalam perjalanan pulang dari Hotel Shilla. Di kursi belakang, Cha Jin-wook masih menggenggam jemari Han Ji-an. Pandangan mata Jin-wook lurus ke depan, namun ibu jarinya terus mengusap punggung tangan Ji-an dengan lembut, seolah menyalurkan kehangatan yang sempat terenggut oleh masa lalu wanita itu.

​Ji-an menatap keluar jendela. Pantulan lampu kota Seoul yang berkilauan di kaca mobil tampak seperti potongan ingatan yang buram. Tiga tahun lalu, di bawah langit kota yang sama, dia disingkirkan seperti sampah. Malam ini, dia kembali dan menginjak-injak harga diri orang-orang yang menghancurkannya.

​Puas? Ya. Namun, hatinya belum sepenuhnya lega. Ini baru goresan pertama pada dinding kekuasaan keluarga Kang.

​"Kau memikirkan apa?" Suara berat Jin-wook memecah keheningan.

​Ji-an menoleh, menatap wajah tegas suaminya yang terpapar cahaya temaram jalanan. Senyum tipis terukir di bibirnya. "Aku hanya berpikir... wajah Jung Se-hee tadi benar-benar tontonan yang bagus. Dia terlihat seperti baru saja melihat hantu."

​Jin-wook tidak tersenyum. Tatapannya justru mendalam, dipenuhi rasa protektif yang pekat. "Itu belum seberapa, Ji-an ah. Besok pagi, badai yang sesungguhnya akan menghantam mereka. Aku sudah memerintahkan tim hukum dan humas Cha Group untuk memastikan rekaman keributan di lobi tadi menyebar ke media ekonomi.

Saham Ilsung Group akan dibuka dengan penurunan tajam."

​Ji-an menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Jin-wook. "Terima kasih, Jin-wook ya. Karena selalu berada di sampingku."

​Jin-wook melingkarkan lengannya, memeluk Ji-an erat. "Kau adalah istriku, Ibu dari anak-anakku. Siapa pun yang berani menyentuhmu, artinya mereka sedang menggali kuburan mereka sendiri."

​Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Kang di Seongbuk-dong, atmosfer berubah menjadi neraka jahanam.

​PRANNGGG!

​Sebuah vas bunga porselen dinasti Qing hancur berkeping-keping setelah dihantamkan Kang Min-woo ke lantai ruang tamu. Napasnya memburu, wajahnya merah padam karena amarah dan rasa malu yang membakar dadanya.

​"Bagaimana ini bisa terjadi?! Bagaimana jalang itu bisa menjadi istri Cha Jin-wook?!" teriak Min-woo histeris. Ia mencengkeram rambutnya sendiri, frustrasi. "Dan dua anak? Dia melahirkan dua anak untuk Cha Group?! Se-hee! Jelaskan padaku! Kau bilang dia mandul total!"

​Jung Se-hee duduk bersimpuh di atas sofa, menangis tersedu-sedu dengan bahu yang berguncang hebat. Gaun merah mahalnya kini tampak kusut dan kotor akibat tumpahan sampanye.

​"Aku... aku tidak tahu, Min-woo ya! Rekam medis yang kulihat saat itu... rahimnya memang bermasalah!" Se-hee berbohong demi menyelamatkan kulitnya sendiri.

​"Bohong!"

​Nyonya Oh berjalan mendekat dengan langkah pincang karena syok, lalu tanpa ampun melayangkan sebuah tamparan keras ke pipi Se-hee. PLAK!

​"Ibu!" jerit Se-hee, memegangi pipinya yang seketika memerah.

​"Jangan panggil aku Ibu, wanita ular!" bentak Nyonya Oh, napasnya memburu hingga dadanya yang dihiasi kalung berlian naik-turun dengan cepat. "Kau yang merencanakan semua ini, bukan? Kau menjebak Han Ji-an agar kau bisa masuk ke rumah ini! Kau bilang kau hamil anak Min-woo, tapi beberapa bulan kemudian kau bilang keguguran! Dan sekarang... ternyata putraku yang..."

​Nyonya Oh tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Kenyataan bahwa putra kebanggaannya, penerus Ilsung Group, ternyata seorang pria mandul adalah aib yang lebih besar daripada kematian bagi wanita tua yang angkuh itu.

​Min-woo menatap ibunya dengan tatapan kosong. "Ibu... jadi, Ibu percaya pada dokumen yang dibawa Cha Jin-wook?"

​"Bodoh! Apakah Cha Jin-wook tipe pria yang akan membawa dokumen palsu ke hadapan publik?!" Nyonya Oh berteriak di depan wajah putranya. "Dia memegang semua bukti suap dan rekam medismu yang asli! Jika dokumen itu sampai ke tangan dewan direksi dan pers, paman-pamanmu akan langsung menendangmu dari kursi Wakil Presdir besok pagi!"

​Min-woo terduduk lemas di lantai, di antara pecahan porselen. Dunianya, kekuasaannya, dan harga dirinya sebagai pria runtuh dalam satu malam. Ia teringat bagaimana tiga tahun lalu Ji-an bersujud di kakinya, menangis mengemis keadilan, sementara ia justru membuangnya demi menutupi aibnya sendiri.

​Ternyata... Han Ji-an tidak mandul. Dia wanita subur yang bisa memberikan keturunan. Dan aku... aku menghancurkan satu-satunya wanita yang tulus mencintaiku demi wanita ular ini? Min-woo menatap Se-hee dengan kilatan kebencian yang mendalam.

​Keesokan harinya, pukul 08.00 KST.

​Prediksi Cha Jin-wook terbukti seratus persen. Berita utama di seluruh portal media ekonomi Korea Selatan tidak lagi membahas tentang perayaan ulang tahun Ilsung Group, melainkan skandal manipulasi medis dan penolakan investasi dari Cha Group.

​[EKSKLUSIF] Krisis Investasi Ilsung Group: Hubungan Masa Lalu Wakil Presdir Kang Min-woo dan Nyonya Besar Cha Group, Han Ji-an, Terungkap!

[HOT] Saham Ilsung Group Anjlok 15% dalam 10 Menit Pembukaan Pasar Akibat Isu Keretakan Finansial dan Skandal Keluarga.

​Di kantor pusat Ilsung Group, ruangan rapat dewan direksi mendadak riuh. Presdir Utama Kang, ayah Min-woo, memukul meja rapat dengan dokumen koran pagi itu.

​"Masuk!" bentak Presdir Kang.

​Min-woo melangkah masuk dengan tubuh gemetar. Lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa ia tidak tidur setitik pun semalam.

​"Ayah... aku bisa jelaskan..."

​"Penjelasan apa?!" Presdir Kang berdiri dan melemparkan dokumen itu tepat ke wajah Min-woo. "Karena urusan ranjangmu yang menjijikkan dan kebohonganmu di masa lalu, Cha Group membatalkan seluruh proyek di Jeju! Bank-bank mulai menarik pinjaman mereka karena takut kita bangkrut! Kau tahu apa artinya ini?!"

​"Ayah, Cha Jin-wook pasti sengaja memprovokasi kita karena Han Ji-an—"

​"Cukup!" Presdir Kang memotong dengan tegas. "Mulai hari ini, seluruh posisimu di perusahaan dibekukan. Kau dilarang mengambil keputusan apa pun sampai situasi ini mereda. Dan satu lagi... urus istrimu yang tidak berguna itu. Jika firma hukum Cha Group benar-benar mengajukan gugatan pidana atas pemalsuan dokumen medis, kau harus memastikan wanita itu yang menanggung semuanya sendirian. Jangan seret nama Ilsung!"

​Min-woo mengepalkan tangannya. Ia diasingkan dari perusahaannya sendiri. Diusir dari takhtanya.

​Sore harinya, di sebuah kafe privat di kawasan mewah Cheongdam-dong.

​Jung Se-hee duduk dengan gelisah, terus-menerus meminum air putih untuk menenangkan sarafnya yang tegang. Ia terpaksa menyamar dengan kacamata hitam besar dan syal untuk menghindari wartawan yang mulai menguntitnya sejak pagi.

​Pintu ruangan privat terbuka. Han Ji-an melangkah masuk dengan sangat anggun. Ia mengenakan setelan blazer kasual berwarna lavender yang membuatnya tampak segar, berkelas, dan mematikan. Dua pengawal bertubuh tegap berjaga di luar pintu.

​Ji-an duduk di hadapan Se-hee, meletakkan tas Hermes-nya dengan tenang, lalu menatap mantan sahabatnya itu dengan senyuman tipis.

​"Kau datang tepat waktu, Se-hee ya. Kupikir kau sedang sibuk mengemas barang-barangmu untuk pindah ke penjara," kata Ji-an santai.

​Se-hee langsung melepaskan kacamata hitamnya, matanya merah karena menangis. "Ji-an ah! Aku mohon... maafkan aku! Tiga tahun lalu... aku terpaksa melakukannya! Min-woo yang memaksaku! Dia mengancam akan menghancurkan karierku sebagai dokter jika aku tidak membantunya memalsukan dokumen itu!"

​Ji-an bersedekap, bersandar pada kursi. "Oh? Jadi sekarang kau menyalahkan Min-woo? Padahal di dalam pesan singkatmu tiga tahun lalu, kau terdengar sangat bangga memamerkan perutmu yang katanya berisi anaknya."

​"Itu... itu semua karena aku butuh uang untuk melunasi utang judi ayahku, Ji-an ah! Min-woo menjanjikanku posisi Nyonya Muda Ilsung jika aku berhasil menyingkirkanmu!" Se-hee memohon, mencoba meraih tangan Ji-an di atas meja, namun Ji-an dengan cepat menarik tangannya dengan ekspresi jijik.

​"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu," desis Ji-an, suaranya mendadak berubah sedingin es. "Kau tahu apa yang paling membuatku sakit hati, Se-hee? Bukan pengkhianatan Min-woo. Tapi kau. Kau adalah sahabatku. Kau tahu bagaimana aku menangis setiap malam karena dihina oleh Nyonya Oh. Kau tahu bagaimana aku meminum obat-obatan pahit itu sampai lambungku rusak... dan kau, sebagai seorang dokter dan sahabat, justru tertawa di belakangku sambil merancang skenario kemandulanku."

​Air mata Se-hee mengalir deras. "Ji-an ah..."

​"Sudah terlambat untuk menangis," kata Ji-an tegas. Ia mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya dan melemparkannya ke depan Se-hee. "Ini adalah surat pencabutan izin praktik medismu dari Asosiasi Dokter Korea yang akan diproses besok. Dan di bawahnya, adalah surat panggilan dari Kejaksaan Distrik Pusat Seoul atas kasus penyuapan dan pemalsuan dokumen publik."

​Se-hee menatap kertas-kertas itu dengan pandangan horor. "Kau... kau mau menghancurkan hidupku?"

​"Bukan aku. Tapi keserakanmu sendiri," jawab Ji-an tenang. Ia berdiri, memakai kacamata hitamnya kembali. "Nikmatilah sisa harimu sebagai wanita bebas, Se-hee ya. Karena setelah ini, kau bahkan tidak akan mampu membeli sebotol air mineral."

​Ji-an berbalik dan melangkah keluar dari ruangan kafe, meninggalkan Se-hee yang berteriak histeris memanggil namanya.

​Ketika Ji-an berjalan keluar menuju mobilnya yang sudah menunggu di lobi, sebuah mobil sedan perak tiba-tiba berhenti dengan rem yang berdecit keras tepat di depannya.

​Pintu mobil terbuka, dan Kang Min-woo keluar dari sana dengan penampilan yang berantakan. Dasinya miring, dan matanya tampak liar.

​"Han Ji-an!" panggil Min-woo, suaranya parau.

​Ji-an menghentikan langkahnya, dua pengawalnya langsung pasang badan di depan Ji-an, namun Ji-an mengangkat tangannya, memberi isyarat agar pengawalnya mundur.

​Ji-an menatap mantan suaminya dengan pandangan datar. "Ada perlu apa lagi, Wakil Presdir Kang? Ah, maaf... kudengar posisimu baru saja dibekukan oleh ayahmu?"

​Min-woo melangkah mendekat, mengabaikan sindiran Ji-an. Tatapan matanya yang dulu penuh keangkuhan, kini digantikan oleh keputusasaan yang mendalam.

​"Ji-an ah... bisakah kita bicara? Hanya berdua," bisik Min-woo, suaranya bergetar. "Aku... aku tahu aku salah. Aku minta maaf. Aku merindukanmu, Ji-an ah. Pernikahanku dengan Se-hee adalah sebuah kesalahan besar. Wanita yang sesungguhnya kucintai... adalah kau."

​Ji-an tertegun sejenak, lalu... ia tertawa terbahak-bahak. Tawa yang terdengar sangat meremehkan hingga menusuk ulu hati Min-woo.

​"Kau mencintaiku?" Ji-an menyeka sudut matanya yang sedikit berair karena tertawa. "Kang Min-woo, kau tidak pernah mencintaiku. Kau hanya mencintai dirimu sendiri dan harga dirimu yang cacat itu. Sekarang, setelah kau tahu aku adalah Nyonya Besar Cha Group dan ibu dari anak-anak Cha Jin-wook, kau baru datang merangkak dan mengemis cinta?"

​"Ji-an ah, aku bersumpah! Aku akan menceraikan Se-hee! Aku akan meninggalkan Ilsung jika perlu! Mari kita mulai lagi dari awal!" Min-woo mencoba meraih pundak Ji-an dengan nekat.

​Namun, sebelum tangan Min-woo sempat menyentuh seujung kuku Ji-an, sebuah tangan besar dan kuat mencengkeram pergelangan tangan Min-woo dengan cengkeraman yang begitu keras hingga terdengar bunyi gemertak tulang.

​"AAAKHHH!" Min-woo menjerit kesakitan.

​Cha Jin-wook telah berdiri di sana. Pria itu entah sejak kapan datang, wajahnya memancarkan kegelapan yang siap menelan Min-woo hidup-hidup. Jin-wook menghempaskan tangan Min-woo dengan kasar hingga pria chaebol itu terhuyung dan jatuh ke atas aspal.

​Jin-wook berdiri di depan Ji-an, memblokade mantan suami istrinya itu sepenuhnya dari pandangan Ji-an.

​"Jika kau berani mendekati atau menyentuh istriku sekali lagi, Kang Min-woo," kata Jin-wook, suaranya pelan namun bergetar dengan kemarahan yang sangat berbahaya, "aku tidak hanya akan menghancurkan Ilsung Group... tapi aku akan memastikan kau lenyap dari negara ini tanpa menyisakan jejak."

​Min-woo menatap Jin-wook dari lantai aspal dengan rasa takut yang mencengkeram seluruh jiwanya. Di belakang tubuh besar Jin-wook, Han Ji-an menatapnya dengan senyuman dingin yang penuh kemenangan.

​Mantan istrinya yang dulu lemah, kini telah sepenuhnya berada di luar jangkauannya—dilindungi oleh pria paling berkuasa di Korea.

1
Mutia Kim🍑
Seneng banget deh Ji-An dapat pengganti yg jauh lebih baik🥰
Mutia Kim🍑
Memang lebih baik kamu pergi saja dari keluarga toxic itu Ji-an😌
Mayraa_Tapaa: makasih ka udah mampir
total 1 replies
Mayraa_Tapaa
Mampir ya readers readers yg baik dan keren-keren, udah up banyak episode loh jadi enak bacanya...setiap hari juga bakal up min 4 episode sehari ya....
kutunggu kehadiran kaliam🤗✨️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!