Maya terpaksa menggantikan ibu nya yang tengah sakit untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah seorang pengusaha kaya raya yang sudah memiliki seorang istri yang berprofesi sebagai model.
Karna kesibukan sang istri yang begitu padat membuat Alvian lebih banyak mengahabiskan waktunya di rumah bersama pembantunya daripada dengan istrinya sendiri, hingga pada suatu hari ia melakukan kesalahan yang fatal terhadap pembantunya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raisya ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Malam itu Maya memutuskan untuk mengerjakan tugas-tugasnya di ruang tamu, ia menyimpan semua buku dan juga laptopnya di atas Meja kaca, kemudian ia duduk di lantai yang beralaskan karpet.
Ia sengaja mengerjakan tugasnya di sana agar ia bisa segera mengembalikan laptop tersebut kepada pemiliknya saat ia sudah selesai meminjamnya.
Malam semakin larut, namun tugas kuliah Maya belum juga selesai, bahkan Maya sudah beberapa kali menguap menahan rasa kantuk.
Hal itu di saksikan oleh Alvian, ia baru saja turun dari kamarnya untuk mengambil minum di dapur
"May... tugas kamu belum selesai" tanya Alvian menghampiri Maya dengan membawa gelas Kosong.
"Belum tuan, saya sedikit kesulitan menyelesaikannya, karna ada beberapa tugas yang belum saya pahami"jawab Maya.
"Eh.. tuan mau ngambil minum ya, sini tuan biar saya yang ambilin, tadi saya lupa tidak menyimpan air minum di kamar tuan" ucap Maya saat melihat gelas di tangan Alvian, ia hendak beranjak dari duduknya.
"Tidak usah May, saya bisa ngambil sendiri. coba sini saya lihat tugas-tugas kamu, siapa tau saya bisa bantu" ucap Alvian sambil duduk di sebelah Maya.
"Memangnya tuan ngerti tentang ilmu kedokteran"tanya Maya mengerutkan keningnya, bagaimana mungkin seorang pengusaha seperti Alvian bisa mengerti dengan ilmu kedokteran.
"Dulu saya sempat belajar banyak tentang ilmu kedokteran, karna cita-cita saya sama seperti Farel, yaitu menjadi dokter, tapi sayangnya saya tidak punya keberanian untuk membantah Papi saya" jelas Alvian.
"Oh gitu" ucap Maya sambil mengangguk-angukan kepalanya.
Alvian mulai melihat tugas-tugas yang tengah di kerjakan Maya, setah itu ia menjelaskan kepada Maya tentang hal-hal yang tidak di pahami oleh Maya, Maya pun tidak sungkan-sungkan untuk bertanya kepada Alvian.
"Sini May... biar saya yang teruskan" ucap Alvian mengambil alih Laptop yang ada di tangan Maya.
"Tidak usah tuan biar saya saja yang mengerjakannya" ucap Maya merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa May... kamu istirahat dulu aja sebentar, tangan kamu juga pasti pegel" ucap Alvian lagi.
Saat Alvian tengah serius mengerjakan tugas Maya, Maya tidak berhenti mengamati wajah Alvian dari samping, ia benar-benar kagum kepada majikannya itu, selain tampan dan juga mapan, Alvian juga pintar dalam segala hal, kalau saja Alvian tidak pernah melakukan hal itu kepada dirinya, Maya pasti akan menganggap Alvian sebagai pria paling sempurna di Dunia ini, tapi terlepas dari itu semua, Maya mengakui kalau Alvian memang orang yang sangat baik, kalau bukan karna pengaruh minuman keras, Alvian tidak mungkin melakukan hal kurang ajar kepadanya.
Tanpa terasa, Maya malah tertidur pulas di samping Alvian, ia membenamkan kepalanya di atas meja, menjadikan kedua tangannya sebagai bantalan.
Saat menyadari Maya tertidur, Alvian malah tersenyum, ia juga merasa kasihan terhadap Maya, karna Maya harus membagi waktunya antara kuliah dan juga bekerja di rumahnya, ia tau semua itu pasti tidak mudah dan sangat melelahkan sekali.
"May... bangun May" ucap Alvian sambil menggoyangkan bahu Maya pelan, namun tidak ada respon sama sekali.
"May... bangun May" Alvian mencoba membangunkan Maya sekali lagi, ia mau meminta Maya untuk pindah ke kamarnya tapi lagi-lagi Maya tidak bergeming, ia tidak tega melihat Maya tidur dengan posisi seperti itu, lagipula di sana sangat dingin.
Akhirnya Alvian memutuskan untuk memindahkan Maya ke sofa panjang yang ada di belakangnya, agar Maya bisa sedikit nyaman tidurnya, ia tidak mungkin memindahkan Maya ke kamarnya, karna ia tidak mau membuat Maya salah paham.
Dengan perlahan-lahan, Alvian mengendong Maya untuk memindahkannya ke sofa, setelah itu ia mengambil selimut untuk menghangatkan tubuh Maya, namun tanpa ia sadari Alvian terus memandangi wajah Maya sejak tadi, rasanya ia tidak ingin berkedip, ia mengagumi kecantikan Maya, wajah yang tampak cantik alami tanpa polesan Make up sedikitpun.
Setelah Puas memandangi wajah Maya, Alvian kembali mengerjakan tugas-tugas Maya hingga akhirnya ia pun ketiduran di atas meja.
Maya begitu terkejut saat mendapati dirinya tengah berbaring di atas Sofa, ia takut jika kejadian malam itu terulang lagi, Maya mengintip pakaiannya dari balik selimut, dan ternyata pakaiannya masih lengkap.
"Syukurlah... tidak terjadi sesuatu sama aku" ucap Maya sambil bernapas lega.
"Ya ampun tuan Alvian... kenapa dia tidur di situ" Maya baru menyadari keberadaan Alvian, lalu ia segera menghampirinya, Maya juga melihat jika semua tugas-tugasnya sudah selesai, Maya benar-benar merasa tidak enak sekaligus merasa bersalah terhadap Majikannya itu.
"Tuan... bangun tuan, sudah pagi" Sekarang giliran Maya yang mencoba membangunkan Alvian, ia menggoyangkan tubuh Alvian dengan perlahan.
Alvian tampak menggeliat dan mulai membuka matanya "jam berapa sekarang" tanya Alvian dengan suara serak dan rambut yang tampak berantakan.
"Sudah jam 6 tuan"
"Tuan... Kenapa tuan harus melakukan semua ini"Tanya Maya tidak berani melihat wajah Majikannya.
Seketika kedua mata Alvian membulat "Tidak May... saya tidak melakukan apa-apa sama kamu, saya cuman mindahin kamu ke sofa aja, tidak lebih dari itu, saya tidak bermaksud kurang ajar sama kamu, tolong kamu percaya sama Saya" Ucap Alvian tampak panik, Ternyata Alvian salah mengartikan ucapan Maya.
"Ia tuan ia... saya percaya sama Tuan, maksud saya bukan itu, maksud saya kenapa tuan harus repot-repot menyelesaikan tugas kuliah saya, dan sampai ketiduran di sini" jelas Maya.
Alvian menghela napas lega"Ya ampun May... saya kira kamu salah paham sama saya, tidak apa-apa May... saya tidak merasa di repotkan, lagipula saya senang mengerjakan nya" jawab Alvian sambil tersenyum.
"Maksih banyak ya tuan, mungkin kalau tuan gak bantuin saya, saya gak bakalan bisa menyelesaikan semua tugas-tugas ini"
"Sama-sama May... kalau kamu butuh bantuan saya, kamu jangan sungkan-sungkan bicara sama saya ya" ucap Alvian lagi
"Ia tuan... kalau gitu saya mau nyiapin sarapan dulu ya buat tuan"
"Ia May, saya juga mau mandi dulu, kamu juga jangan lupa cuci muka dulu ya, nanti masakannya asin kena iler kamu" ucap Alvian mengejek Maya.
"Tuaaaannn" ucap Maya sambil mengusap sudut bibirnya.
Semenjak saat itu hubungan Maya dan Juga Alvian kembali membaik, tidak ada lagi ketegangan di antara mereka dan tidak ada pula kebencian di hati Maya, Maya berusaha untuk menerima kenyataan ini, karna kejadian malam itu merupakan sebuah musibah yang tidak bisa untuk di hindari, dan berkali-kali Maya meyakinkan hatinya bahwa semua ini bukan sepenuhnya kesalahan Alvian, ia tidak ingin terus membenci Alvian atas perbuatan yang tidak sengaja di lakukan Alvian, bahkan Alvian pun tidak sadar atas apa yang di lakukan nya malam itu.
Yang menjadi kekhawatiran Maya saat ini yaitu, bagaimana dengan nasib pernikahannya nanti, apa yang harus ia katakan kepada laki-laki yang akan menjadi suaminya nanti, ia sudah tidak mempunyai mahkota untuk di persembahkan kepada suaminya nanti, di malam pertamanya, apa yang harus ia katakan kepada suaminya saat suaminya itu mempertanyakan kegadisannya.
Maya hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi pada dirinya suatu hari nanti, menjalani semua takdir nya dengan ikhlas.
Saat ini Maya akan berusaha untuk melupakan kejadian malam itu, mengubur dalam-dalam semua kenangan buruk itu, biarlah hanya mereka berdua yang tau tentang semua ini.