NovelToon NovelToon
In Times Of Rain

In Times Of Rain

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Cintapertama / Contest / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:97k
Nilai: 5
Nama Author: Mila Y

Berawal dari menolong seorang laki-laki yang habis-habisan di hajar oleh ketiga preman. Maila juga harus bertemu kembali dengan laki-laki itu di sekolah barunya. Yang ternyata laki-laki itu adalah kakak kelasnya sendiri, yang merupakan laki-laki populer di sekolah. Yang ternyata namanya adalah Larbi.


Bukan hanya itu. Larbi juga terus mengusik dirinya. Sehingga, membuat Maila sebal pada Larbi sendiri. Namun, tanpa mereka sadari. Pertemuan mereka ada hubungannya dengan masa lalu mereka sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wekeend Days 2.

"Ini udah ada, baju kak Larbi besar semua. Dan cuman ini yang agak sedikit kecil kelihatanya," ucap Aleta sambil memperlihatkan baju tersebut. Nampak baju Hoodie berwarna putih, yang ku lihat sepertinya besar jika aku pakai. Dan ia juga memperlihatkan celana training berwarna hitam.

"Loh itu kan Hoodie kesayangan kakak dek," Ucap Larbi. Dan benar saja kan mereka itu adalah adik kakak. Larbi nampak tidak mau Hoodie kesayangannya di pakai orang lain, tapi kelihatannya ia terpaksa untuk meminjamkannya padaku.

"Biarin, kakak tinggal beli lagi," ucap Aleta sambil memegang tanganku untuk ke luar dari kamar ini. Dan kamar ini ternyata adalah kamar milik Larbi.

"Larbi itu kakak kamu Aleta?" tanyaku padanya sambil mengikutinya berjalan.

"Iya kak Larbi adalah kakakku. Kak Maila pasti sudah kenal kakakku kan?" jawabnya sambil bertanya padaku.

"Iya."

"Aleta tadi liat loh! Kak Larbi menolong kak Maila saat tercebur di kolam renang, dan nampaknya kak Larbi khawatir sama kak Maila. Dan Aleta rasa kak Larbi suka sepertinya sama kak Maila. Kak Maila ini pasti pacarnya kakakku kan?" Aku nampak tertegun memdengar ucapannya.

"Ah, bukan. Kakak bukan pacarnya," ucapku.

"Oh berarti baru mau, ya?"

"Aduh udah deh Aleta. Kakak mau ganti dimana bajunya?" ucapku sedikit sebal, sementara Aleta hanya terkekeh.

Adik dan kakak sama-sama menyebalkan sekali sih?!

"Kakak gantinya di kamar aku."

Aleta mengajakku ke sebuah pintu kamar lainnya. Ia membuka kamar tersebut, lalu mengajakku masuk ke dalam.

"Nah ini kamar aku kak, yang tadi kamar kak Larbi. Aku ambil dulu ya pakaian dalamnya," ucap Aleta sambil membuka lemari pakaian, setelah di ambil ia langsung memberikannya padaku. Pakaian tersebut masih disimpan di tas belanjaan.

"Kakak ini, kamar ganti nya di sebelah kamar mandi ya!" ucapnya sambil menunjuk ke sebuah pintu. Dan aku pun langsung masuk ke dalamnya untuk mengganti pakaian ku yang basah.

Setelah mengganti di kamar ganti, aku nampak sebal karena bajunya kebesaran untukku. Bahkan kalau di bilang hampir menutupi tubuhku, bahkan celana training ini terlalu panjang, karena tubuh Larbi tinggi. Bahkan aku melipatkan sedikit celana tersebut agar tidak kepanjangan. Mau keluar pun aku takut di tertawakan karena baju yang kebesaran.

Aku membuka pintu, dan nampak Aleta sedang menungguku di kasurnya. Ia menatapku dari bawah sampai atas. Ia nampak mendengus tawa melihatku.

"Agak terlalu kebesaran, ya? Tapi nggak papa kok kak, kalo di lihat kakak tetap cantik walaupun bajunya kebesaran," ucap Aleta sambil membawaku ke tempat riasnya.

"Rambut kakak berantakan dan basah. Supaya kering pakai hair dryer aku, dan di rapihkan pakai sisir," ucap Aleta sambil mengambil hair dryernya.

"Mau sama kakak sendiri atau sama aku?" tanyanya.

"Sama kakak sendiri aja," jawabku, ia memberikan hair dryer tersebut padaku dan langsung ku gunakan saja. Setelah selesai aku memberikan hair dryer padanya.

"Kak, baju kakak yang basah biar bi Neni aja yang cuci sambil keringin ya kak?"

"Nggak usah, biar kakak bawa saja ke rumah kakak. Kakak nggak mau ngerepotin lagi."

"Harusnya Aleta yang ngerepotin kakak, karena kakak sudah mau membantu Aleta memainkan biola."

"Tapi kakak belum mengajari kamu bermain biola?"

"Tapi tetap saja, kakak dengan senang hati menolong Aleta."

"Kita mulai latihannya di teras taman saja ya, pemandangannya bagus loh." Ucapnya dan aku hanya mengangguk untuk mengiyakan. Baguslah di taman, aku bisa melihat pemandangan setelah melihat tawon menyebalkan itu.

Aku dan Aleta pun beranjak menuruni anak tangga. Aku sedikit malu sih dengan pakaian yang aku pakai ini. Di bawah terlihat Larbi dan bunda sedang duduk sambil menonton tv. Dan saat aku turun mereka terus memperhatikanku. Larbi nampak mendengus tawa melihatku, sedangkan bunda nampak tersenyum ke arahku.

"Wah! Ternyata bagus juga baju Larbi di pakai kamu, walaupun agak kebesaran sih," Bunda nampak memujiku sambil memegang kedua leganku. Ia nampak kagum padaku.

"Kamu cantik sayang." Pujinya lagi, aku nampak malu mendengarnya.

Aleta membawa jus dan biolaku yang berada di teras dekat kolam tadi, sambil mengajakku menuju teras di taman. Aku pun hanya mengikutinya. Dan setelah sampai aku pun nampak takjub dengan pemandangannya.

Kini aku mulai mempelajarinya cara yang mudah terlebih dahulu seperti cara menempatkan biola, memegang busur biola tersebut, mengatur nada biola, menyempurnakan posisi tangan, dan cara memggesek senar biola tersebut. Ketika aku mempepalajarinya nampaknya ia sudah lumayan paham. Dan kini aku akan mempelajarinya ke tahap selanjutnya.

Karena aku sedikit capek, aku duduk di kursi teras sambil menekluk jus yang sudah Aleta buat untukku. Setelah beberapa jam aku mempelajarinya, rasanya aku ingin pulang sekarang.

"Sepertinya kita sudah selesai latihannya, minggu besok kita lanjut lagi," ucapku pada Aleta.

"Kalau begitu kakak istirahat sebentar disini dulu."

"Lebih baik kakak pulang saja Aleta. Oh ya, baju kakak yang basah tadi ada di kamar mandi kamu. Boleh antar kakak untuk mengambilnya?"

"Tadi bunda menyuruh bi Neni untuk mencuci baju kakak, dan baju kakak baru tadi di jemur." Aku tertegun, kenapa harus di cuci segala disini sih?

"Boleh kakak bawa pulang?"

"Belum kering kak. Memangnya kenapa kalau di cuci disini?"

"Nggak papa kok."

"Aleta!!!" panggil bunda sambil menghampiri kami berdua.

"Apa bund?" tanya Aleta.

"Kita jemput ayah yuk di bandara. Katanya ayah sudah pulang dari Malaysia," jawab bunda.

"Memangnya om habis ngapain dari Malaysia bund?" tanyaku penasaran.

"Biasalah bisnis," jawab bunda.

"Oh ya, Maila bunda boleh minta tolong?" lanjutnya.

"Boleh kok, minta tolong apa bunda?"

"Kamu bisa nggak disini sebentar menjaga rumah bunda?"

"Bukannya disini sudah ada penjaga, pembantu, dan Larbi juga disini?"

"Larbi tadi ke rumah temannya dulu. Sebenarnya ayah Aleta sempat telpon untuk menjeputnya di bandara, dan bunda juga bilang kalau disini kedatangan tamu. Dan bunda juga bilang loh kalau tamu nya cantik dan seumuran dengan Larbi. Jadi ayah Aleta pengen liat kamu," jawab bunda. Dan itu membuatku tertegun, kenapa jadi begini? Kenapa bunda harus bilang begitu?

Kenapa sih satu keluarga ini menyebalkan?

"Mau, kan?" tanyanya. Aku masih terdiam ragu untuk menjawab.

"Kalau kamu lapar, pengen minum, tinggal panggil bi Neni aja. Atau kamu ingin melihat-lihat di sekitar sini juga nggak papa," ucap bunda. Kalau gini sih tidak apa-apa. Lagian tawon menyebalkan itu sekarang tidak ada di rumah.

"Iya bunda, Maila mau," jawabku sambil mengangguk.

"Ayo Aleta kita jemput ayah," ajak bunda pada Aleta.

"Aku dan bunda pergi dulu ya kak," ucap Aleta padaku. Bunda dan Aleta pun pergi.

"Ah, kok jadi gabut gini sih?" ucapku.

"Oh ya ponselku." Aku mengambil ponselku di dalam tas kecil yang ku bawa. Aku mengirim SMS pada ibu kalau aku masih berada di rumah temanku dan akan pulang agak lama.

Karena aku bosan aku pun menghampiri sofa yang berada di ruang menonton tv. Karena tv tidak di matikan, sambil duduk di sofa aku juga sambil menonton tv.

"Masih disini ternyata? Betah banget?" ucap seseorang dan ku tengok. Aku hanya menatap malas ke arahnya. Ia duduk di sofa di dekatku. Cepat sekali dia pulang dari rumah temannya?!

Tiba-tiba perutku mendadak lapar. Karena saat pagi-lagi aku hanya sarapan sedikit.

Kruk... Kruk... Kruk...

Ia langsung menatap ke arahku, dan aku hanya terdiam karena malu. Kenapa sih ini perut mendadak teriak-teriak di waktu yang tidak tepat?

"Mau makan?" tanyanya.

"Nggak," jawabku ketus kepadanya.

"Yakin? Nggak usah malu."

"Gue bilang nggak, ya nggak."

"Yaudah, lebih baik gue makan." Ia beranjak ke dapur. Sebenarnya aku ingin makan, hanya saja aku malu terhadap dia.

Dan kebetulan ada biskuit yang berada di kaleng yang tergeletak di atas meja. Bukankah bunda bilang, kalau aku ingin makan tinggal panggil bi Neni? Tapi kalau makan biskuit yang sudah ada disini sepertinya tidak apa-apa jika langsung di makan.

Aku pun meraih kaleng tersebut dan membuka tutupnya. Aku mengambil biskuit lalu memakannya, ada sedikit aneh sih dengan rasa biskuit ini. Dan bau nya sedikit berbeda. Tapi aku tidak peduli dan tetap memakan biskuit tersebut. Tinggal dikit lagi, lebih baik aku habiskan saja.

Tiba-tiba datang Larbi dengan membawa sebuah roti kemasan di tangannya.

"Loh itu kan biskuit kadaluwarsa," ucapnya padaku. Dan aku hanya terdiam.

"Bibi! Kenapa biskuit kadaluarsa ini belum di buang?" teriak Larbi memanggil pembantu disini.

"Aih!! Bibi lupa ngebuangnya den!" sahut bibi tersebut.

Aku nampak terkejut, jadi biskuit yang aku makan ini biskuit kadaluwarsa? Mampus aku!!! Tiba-tiba aku merasakan kram di perutku.

Dan tiba-tiba perutku terasa mual, dan ingin sekali muntah. Aku menutup mulutku karena tidak tahan untuk memuntahkan rasa mual ku.

"Lo kenapa?" tanya begitu panik melihatku.

"Mau muntah? Ikut gue!" Ia menuntunku ke sebuah toilet. Setelah sampai aku pun masuk ke dalam toilet dan menutup pintu toilet tersebut.

Hoek... Hoek... Hoek...

Aku memuntahkan rasa mualku. Aku merasa mual setelah memakan biskuit kadaluarsa itu. Setelah memuntahkan aku pun keluar dari toilet. Dan nampak Larbi sedang menungguku di luar. Dan tiba-tiba saja aku merasa pusing dan sakit kepala, dan tiba-tiba aku terjatuh pingsan. Dan sepertinya Larbi menahan tubuhku yang hampir terjatuh ke lantai.

Setelah pingsan tadi, aku membukakan mataku. Badanku terasa lemas sekali saat di gerakan. Saat membuka nampak bunda sedang mengelus-elus kepalaku, dan Aleta nampak menatapku dengan khawatir.

"Kak Maila sudah sadar?" tanya Aleta.

Jangan lupa like, komen, vote, dan rate

1
Ai laelasari
Aku udah mampir kak, jangan lupa mampir di novel aku ya "MY TROUBLE MAKER SECRET HUSBAND"
auliasiamatir
mari saling dukung yah Kaka auyhor
Lee anna
kok kota kediri? othor berasal dari kediri kah?
Hiatus: Hehe bukan, Author bukan orang Kediri. itu cuman pantun 😅🙏
total 1 replies
Ria Diana Santi
Alhamdulillah kalau kamu senang Maila! Aku juga ikut senang! 🥰

Oh, jadi gitu. Syukurlah, ingatan kamu balik Larbi. Semoga, kalian bisa semakin dekat lagi, ya!🥰🥰

Benar! Cinta pasti akan ada coba dan uji. Tidak mungkin akan selalu mulus² saja. 👍🏻❤️

Tetap semangat ya Dek! Semoga, Allah selalu menjaga dan melindungi kamu serta membimbing kamu di mana dan kapanpun itu. Sehat terus! Aamiin!!

Sukses terus buat kamu, Dek!🥰👍🏻❤️
Ria Diana Santi: Aamiin ya rabbal alamin!🙏🏻🥰 🤲🏻❤️🤗 Makasih banyak doanya, Dek.
total 2 replies
Ria Diana Santi
Pasti lah rasa rindu itu menguasai dirimu, Maila! Apalagi, kalian terpisah ruang, jarak dan waktu. 😔😔
Ria Diana Santi
Apa tuh yang dititip ke Anggi oleh Maila?🙄🙄
Ria Diana Santi
Buku diary itu bertuliskan kisah cinta kalian yang teramat indah, Maila. Larbi ... ayo kembali ... 🥺🥺
Yukity
mampir lagi Thor..
like😍
TK
next Thor
Mila sari
bakal rindu mereka😪😪
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
dah end ya☺️
tetap semangat thor
ditunggu karya barunya💪
Lenkzher Thea
Keren thor, lanjut 👍❤❤❤
IG: Saya_Muchu
lanjut
Lenkzher Thea
Lanjut ka semangat 👍❤❤❤💪💪
Roselia Dufan
next thorr
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
semangat💪☺️
Ria Diana Santi
Ini namanya ujian hidup, Maila!

Kita tidak bisa menentang takdir yang sudah di tetapkan! 🤧🤧
Mila sari
lanjut thor
Roselia Dufan
smangattttt thorr
Lenkzher Thea
Lanjut ka mila, 👍❤❤❤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!