~Bahkan, goresan peluru sekalipun tak pernah sesakit ini...
Pandu tak pernah menyangka akan terjebak dalam permainan seorang wanita licik penuh rahasia bernama Celine.
Terikat dalam pernikahan bersama wanita itu tak pernah memberikan bahagia untuk Pandu. Hingga lama kelamaan, perlahan kebencian itu mulai menghilang dan menghadirkan rasa yang asing di hati Pandu.
Namun, ketika Pandu memutuskan untuk mengutarakan isi hatinya, Celine malah berpamitan pergi. Tidak hanya dari rumah Pandu tetapi juga dari kehidupan lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang masa lalumu
"Kamu tidur di situ?" Celine bertanya dengan tegang ketika melihat Pandu sudah mengambil posisi di sisi kiri tempat tidur dan bersiap untuk memejamkan mata.
"Memangnya, mau di mana lagi?" tanya Pandu sambil duduk dan bersandar di kepala ranjang.
"Terus, aku?"
"Disini!" jawab Pandu sembari menepuk tempat kosong di sebelahnya.
"Emangnya boleh?"
"Yang bilang nggak boleh siapa?" ujar Pandu bertanya balik. Kedua alisnya terangkat dengan wajah polos.
"Bukannya kamu yang nggak sudi sekamar sama aku sebelumnya?" Batin Celine.
Pandu menghela napas ketika Celine masih berdiri di tepi ranjang. Apa perempuan ini sedang menguji kesabaran Pandu atau bagaimana?
"Mau tidur di sini atau di luar, Celine?"
Celine kelabakan menjawab. Ia bingung harus mengatakan apa.
"Hmm..." Perempuan itu mulai berpikir keras.
"Apa?" tanya Pandu tak sabaran.
"Di-diluar aja," jawab Celine asal.
"Yakin?" tanya Pandu memastikan.
Celine mengangguk cepat sebagai jawaban.
"Kalau gitu, aku keluar ya!" pamitnya dengan buru-buru.
Pandu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wanita ini benar-benar membuatnya kebingungan. Celine seperti sedang bermain tarik ulur dengannya. Pada awalnya, Celine lah yang menjebak Pandu untuk tidur bersama. Dan, ketika keduanya sudah menikah dengan posisi Pandu yang sangat membenci Celine, wanita itu juga yang selalu bersikap sok dekat pada Pandu. Tapi sekarang? Saat Pandu sudah bersedia mendekat, justru Celine yang malah ingin menjauh. Benar-benar rubah kecil licik, pikir Pandu.
Sementara Celine yang tiba di ruang tamu mulai kebingungan. Ia lupa membawa bantal dan juga selimut dari dalam kamar. Bagaimana caranya ia bisa tidur lelap di sini? Pasti terasa tidak akan nyaman dan sudah pasti kedinginan. Berpikir untuk kembali lagi ke dalam kamar rasanya juga tidak mungkin. Celine terlalu canggung untuk bertemu dan melihat wajah Pandu kembali.
"Celine..." panggil Pandu dengan suara pelan. Kepalanya melongo keluar dari balik pintu kamar.
"Astaga!" Celine terperanjat kaget. Hampir saja jantungnya copot dari tempatnya. Ia lalu bergerak cepat untuk duduk di sofa. Berpura-pura tidak terpengaruh pada kemunculan lelaki dengan lesung pipi menawan itu.
Melihat ekspresi lucu Celine, Pandu berusaha untuk menahan tawa. Ia sengaja mengulum bibirnya agar suara tawanya tidak meledak detik ini juga.
"Kamu serius mau tidur di situ?" tanya Pandu usai tawanya berhasil ia bungkam.
"Memangnya kenapa? Di sini nyaman, kok!" jawab Celine sembari merebahkan dirinya di sofa yang terdapat di ruang tamu kamar hotelnya.
"Kakiku nggak muat. Huhuhu...." ringis Celine dalam hati.
Pandu tahu bahwa Celine merasa tak nyaman berbaring di sana. Ukuran Sofanya terbilang kecil untuk orang setinggi Celine. Lihat saja! Kaki perempuan itu bahkan harus di tekuk agar bisa muat.
Tiba-tiba, Pandu terpikirkan sebuah ide.
"Kamu nggak pernah dengar cerita mistis tentang ruang tamu kamar ini, ya?" Pandu sengaja membuat suaranya terdengar seram. Menakuti Celine sepertinya solusi yang paling tepat.
Mata Celine yang tadinya terpejam, kembali terbuka. Meskipun, ia enggan untuk bangun.
"Kamu tahu kenapa kamar ini nggak pernah di sewain ke tamu-tamu hotel di sini?" lanjut Pandu lagi.
"Bukannya karena ini kamar pribadi khusus Pak Bima?" tebak Celine.
Pandu menggeleng. Posisinya masih tetap sama seperti tadi. Hanya kepalanya yang melongo di celah pintu yang terbuka sedikit.
"Salah."
"Terus?" tanya Celine penasaran.
"Karena, di sini ada penunggunya." Pandu sengaja berbisik agar aura seram makin terasa nyata. "Dulu, pernah ada tamu yang nginap disini terus nggak sengaja ketiduran di tempat kamu sekarang."
Mata Celine membelalak ketakutan.
"Dan kamu tahu apa yang terjadi?"
Celine tak menjawab. Degupan jantungnya semakin tak karuan karena mulai ketakutan.
"Besok paginya, dia bangun di gudang yang ada di basement hotel. Nggak tahu siapa yang mindahin. Kata pekerja di sini, yang mindahin itu gen..."
Belum selesai cerita Pandu, Celine sudah lebih dulu melompat dan berlari masuk menerobos Pandu. Bodo amat! Entah Celine bisa tidur nyenyak dengan Pandu di sampingnya atau tidak. Namun, di culik dan di pindahkan oleh penunggu kamar ini tentu jauh lebih menyeramkan.
"Dasar anak kecil!" geleng Pandu sambil tertawa puas.
Membohongi Celine ternyata jauh lebih mudah daripada membohongi Arkan dan Azkia. Hanya dengan cerita bohong tentang penunggu kamar ini sudah cukup membuat wanita itu patuh melebihi bocah 5 tahun.
"Katanya nggak mau tidur disini!" sindir Pandu sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.
Celine lagi-lagi hanya diam. Ia berpura-pura tertidur dengan selimut yang menutupi hingga kepala.
Perlahan, Celine merasakan selimutnya semakin lama semakin turun. Ia tahu bahwa semua itu pasti ulah Pandu. Entah apa lagi yang akan lelaki itu lakukan terhadapnya. Tidak tahukah Pandu bahwa Celine saat ini sangat-sangat gugup? Memang, tadi pagi mereka sudah melakukan hubungan suami istri. Namun, hal itu tentu saja belum cukup bagi Celine untuk mengusir segala kecanggungan. Walau bagaimana pun, hubungannya dengan Pandu baru saja membaik.
"Masa' sih udah langsung tidur?" Pandu mendekat untuk mengintip Celine yang berpura-pura tidur sambil membelakanginya.
"Sstt..." Pandu berbisik di telinga Celine.
"Celine..." panggilnya lagi.
"Aku tahu kamu belum tidur, Celine!" ucap Pandu seraya memberi gigitan kecil pada bahu Celine.
Wanita itu terperanjat. Ia berbalik dan memukul ringan lengan Pandu.
"Apaan sih, Ndu? Aku mau tidur!" ujarnya setengah kesal. Ia lalu kembali membaringkan tubuhnya membelakangi Pandu.
"Yakin udah ngantuk?" Pandu lagi-lagi mendekat. Berbaring dengan posisi miring dengan kepala terangkat untuk mengintip wajah Celine.
"Iya," jawab Celine menahan senyum.
"Katanya mau tidur, kok malah senyum?" Pandu menggoda Celine dengan mengelus lengan wanita itu.
"Pandu..." tegur Celine yang akhirnya bangkit untuk duduk karena tak tahan lagi dengan kejahilan Pandu.
Kesempatan itu tak lantas di sia-siakan Pandu. Dengan cepat, lelaki itu mendaratkan kepalanya di pangkuan Celine.
"Kamu ngapain?" tanya Celine salah tingkah.
"Pengen di Nina bobo-in sama kamu!" jawab Pandu sambil meraih sebelah tangan Celine untuk ia dekap.
"Kamu kan bukan anak kecil lagi, Ndu!" Celine berusaha untuk tidak bertatapan mata dengan Pandu. Tangannya berusaha ia singkirkan dari dekapan Pandu. Namun, nampaknya hal itu tak berhasil karena Pandu justru semakin mempererat genggamannya.
"Kalau gitu, anggap aja aku masih anak kecil. Gampang kan?"
"Tapi..."
"Aku punya penyakit insomnia. Hampir tiap malam aku nggak bisa tidur." Pandu dengan cepat memotong kalimat Celine. "Jadi, apa kamu bisa bantu aku untuk tidur lebih cepat setidaknya untuk malam ini?"
Celine bak tersihir. Sekali menatap ke dalam netra legam Pandu, wanita itu seolah tersesat dan tidak menemukan jalan untuk keluar. Kesadarannya baru kembali ketika Pandu memejamkan mata dan bersiap untuk tidur.
"Tapi, aku nggak hafal lagu itu!" kata Celine dengan nada lemah.
"Hmm?" Mata Pandu kembali terbuka.
"Sejak kecil, Mami nggak punya waktu untuk ngurusin aku. Jangankan nyanyiin. Nemenin tidur aja, nggak pernah." Celine tertawa hambar saat mengenang masa kecilnya. "Jadi, aku sama sekali nggak hafal lagu itu. Maaf!"
"Papa kamu?" tanya Pandu penasaran. Luka yang berusaha Celine sembunyikan di balik tawanya mampu Pandu rasakan. Ada rasa iba ketika tahu bahwa masa kecil Celine ternyata seperih itu. Bahkan, lagu Nina Bobo saja belum pernah perempuan berkulit putih itu dengar.
"Sibuk ngabisin uang yang Mami dapetin," jawab Celine yang kali ini tidak mampu menahan tangisnya. Entah, sudah berapa kali dalam sehari ini Celine memperlihatkan air matanya pada Pandu. Rasanya memalukan namun juga sedikit memberi perasaan lega.
"Jangan nangis," bisik Pandu yang saat ini sedang mengusap air mata Celine dengan ibu jarinya.
"Aku nggak apa-apa, kok! I'm okay!" Celine tertawa dan berusaha mengusir rasa sedihnya. "Aku nyanyiin lagu yang lain, boleh?" lanjutnya untuk mengalihkan pembicaraan.
Pandu terdiam beberapa detik. Lelaki itu tahu bahwa Celine lagi-lagi melarikan diri dari topik mengenai kehidupannya.
"Okay!" angguk Pandu setuju tanpa ingin bertanya lebih jauh lagi. Sudah cukup untuk hari ini.