NovelToon NovelToon
Langit Yang Menyimpan Janji

Langit Yang Menyimpan Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Rencana mereka untuk pergi ke penginapan terpaksa batal. Sebelum kaki mereka sempat melewati gerbang kota, sosok yang berdiri menunggui keberadaan mereka telah mencegat jalur.

Gu Qingli langsung mengenali pemuda berjubah biru yang berdiri anggun di dekat gerbang tersebut. "Gu Lin..."

Pemuda berparas tampan dengan usia sekitar dua puluh tahun itu adalah sepupu Gu Qingli. Tatapan Gu Lin mulanya tertuju pada Qingli, namun detik berikutnya beralih tajam ke arah Yunche. Raut wajahnya berubah dingin seketika. "Shen Yunche."

Yunche mengaitkan sebelah alisnya, merespons santai. "Ada apa?"

Gu Lin melangkah mendekat dengan gestur tegap. "Aku diperintahkan untuk membawamu."

Yunche terkekeh pelan. "Membawaku ke mana?"

"Kediaman Utama Keluarga Gu."

"Untuk alasan apa?"

Gu Lin memilih bungkam, tak berniat membeberkan alasan.

Gu Qingli memotong cepat, melangkah pasang badan. "Dia tidak perlu pergi ke sana."

Gu Lin menatap sepupunya itu seraya memanggil pelan, "Qingli..."

"Dia pergi bersamaku," pangkas Qingli tegas.

Kening Gu Lin berkerut dalam. "Patriark sendiri yang memintanya untuk menghadap."

"Kalau begitu, suruh Ayah datang ke sini dan membawanya sendiri," tantang Qingli tanpa ragu.

"Qingli, jangan membuat masalah," hela Gu Lin, mencoba mengontrol situasi.

Iris mata Gu Qingli berkilat tajam. "Membuat masalah, katamu?"

"Patriark hanya ingin bicara dengannya," bisik Gu Lin melunakkan nada bicaranya.

Yunche akhirnya menengahi perdebatan itu. "Baiklah, aku akan ikut."

Qingli refleks menoleh panik. "Yunche!"

"Aku akan pergi, Qingli."

"Kenapa kau mau menurutinya?!"

"Sebab ada satu hal yang juga ingin kutanyakan langsung pada ayahmu," sahut Yunche tenang. Dia beralih menatap lurus ke dalam sepasang mata Gu Lin. "Aku ingin tahu alasan sebenarnya... mengapa ayahmu membantai ayahku."

Gu Lin terbungkam, kehilangan kata-kata. Jemari Gu Qingli mengepal rapat di samping tubuhnya.

"Jika dia punya jawaban atas hal itu..." Yunche mulai mengayunkan langkahnya melintasi Gu Lin, "...maka aku sangat ingin mendengarnya secara langsung."

Gu Qingli langsung berbalik dan mengekor di sisinya.

Melihat hal itu, Gu Lin buru-buru menyela, "Qingli, kau tidak boleh ikut."

Langkah Yunche dan Qingli terhenti seketika. "Mengapa begitu?" tanya Yunche.

"Ini adalah urusan pribadi antara Keluarga Shen dan Patriark," tegas Gu Lin.

Gu Qingli menatap sepupunya itu dingin, lalu kembali melangkah tanpa memedulikan larangannya. "Kalau begitu, aku makin berhak untuk ikut."

"Qingli!"

"Aku ini anak dari Patriark Keluarga Gu," potong Qingli menekan setiap kata.

"Justru karena kau adalah putrinya—"

"Dan..." Gu Qingli menghentikan langkahnya tepat di samping Yunche, menyejajarkan bahu mereka. "...aku memiliki keterikatan erat dalam masalah ini."

Yunche menoleh, menatap samping wajah gadis itu. Namun Qingli tetap memandang lurus ke depan tanpa membalas tatapan Yunche.

"Jadi, aku tetap akan ikut," tandas Gu Qingli mutlak.

Gu Lin terkunci rapat, tak mampu membalas argumen sepupunya lagi.

Dari barisan belakang, Shen Mo menyunggingkan senyum penuh arti seraya bergumam usil, "Keterikatan erat, hm?"

Gu Qingli seketika menoleh ke belakang dengan tatapan membunuh. "Diam kau!"

Kediaman Utama Keluarga Gu.

Yunche kembali melangkahkan kakinya memasuki kompleks kediaman yang megah itu. Namun kali ini, atmosfer yang menyambutnya terasa jauh berbeda. Para pelayan yang melintas spontan menghentikan langkah, menatapnya dengan bisik-bisik ketakutan.

Yunche tak acuh pada tatapan-tatapan itu dan terus mengayunkan langkahnya dengan tegap. Di sisinya, Gu Qingli berjalan berdampingan. Tanpa gadis itu sadari, jemarinya meremas erat ujung lengan baju Yunche. Yunche meliriknya sekilas, namun memilih untuk membisu.

Langkah mereka berakhir di aula utama kediaman. Gu Tianming sudah berdiri menunggu di sana. Saat iris matanya menangkap kehadiran Yunche, raut mukanya berubah seketika.

"Shen Yunche..." gumamnya lirih.

Yunche berdiri tegap membusungkan dada. "Patriark Gu."

Gu Tianming lalu beralih menatap putrinya. "Qingli... kenapa kau ikut ke sini?"

"Karena aku memang ingin ikut," sahut Qingli dingin tanpa ragu.

Gu Tianming menghela napas panjang, lalu membuang pandangannya kembali pada Yunche. "Bagaimana keadaanmu?"

"Aku baik-baik saja."

"Kudengar Gunung Tianyuan runtuh."

"Benar."

"Apakah kau... menemukan sesuatu di sana?"

Yunche menatapnya tajam. "Ya."

Gerakan Gu Tianming seketika membeku. Yunche mengambil satu langkah maju mendekati sang Patriark.

"Aku menemukan jejak mendiang ayahku," tekan Yunche dengan genggaman tangan yang merapat kuat.

Gu Tianming refleks menundukkan pandangannya. Yunche mengamati perubahan mikro pada raut muka pria paruh baya di hadapannya itu. "Patriark Gu... kenapa kau tampak begitu takut?"

Gu Tianming mendongak pelan. "Aku tidak takut."

"Benarkah?"

"Ya."

Yunche menatap lurus ke dalam sepasang matanya. "Jika kau tidak takut... lantas kenapa kedua tanganmu gemetaran seperti itu?"

Gu Tianming refleks melihat ke bawah. Benar saja, jemarinya gemetar hebat.

Yunche menyunggingkan senyum pahit. "Proyeksi ingatan ayahku pernah menyampaikan..."

Tubuh Gu Tianming menegang seketika. "...apa katanya?"

"...bahwa kau bukanlah satu-satunya orang yang melancarkan serangan pada malam kelam itu."

Gu Tianming mendadak beranjak bangkit dari kursinya, tampak terguncang. "Dia... dia benar-benar mengatakan hal itu padamu?!"

"Benar."

"Apakah dia memberitahumu... siapa sosok lainnya?" cecar Gu Tianming panik.

Yunche menggeleng pelan. "Belum."

Helaan napas lega berembus pelan dari bibir Gu Tianming. Namun, Yunche terus mengunci tatapannya pada sang Patriark. "Aku dipastikan akan menemukan mereka."

"Yunche..."

"Jangan pernah berani memanggil namaku dengan akrab!" potong Yunche dingin, membiarkan kebencian membias dari kilat matanya. "Kau adalah orang yang telah menebas ayahku. Sampai detik ini, aku belum memaafkan perbuatanmu."

Gu Qingli di sisinya hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam.

"Aku tahu," sahut Gu Tianming lirih.

"Tapi..." Yunche menahan kalimatnya sejenak, "...aku tidak akan mencabut nyawamu hari ini."

Gu Tianming tersentak, sementara Gu Qingli refleks mendongak menatap Yunche.

"Karena aku belum mendapatkan keseluruhan dari benang merah kebenaran tragedi itu," tegas Yunche jujur. "Aku tidak ingin mengambil keputusan yang salah sekarang."

Gu Tianming menatap pemuda di hadapannya untuk waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya berkata, "Itu adalah keputusan yang bijak. Jika kau langsung menghabisi nyawaku saat ini... kau tidak akan pernah mengetahui kenyataan yang sebenarnya."

Yunche membisu saat Gu Tianming kembali duduk di kursinya.

"Ada satu hal penting yang harus kau ketahui, Yunche," ujar Gu Tianming dengan raut serius. "Shen Tianyu... sebenarnya tidak tewas karena tebasan pedangku."

Kata-kata itu menghantam ruangan bagai petir. Yunche dan Qingli mematung seketika.

"Apa katamu?!" sentak Yunche tak percaya.

"Malam itu aku memang menyerangnya dengan pedangku," aku Gu Tianming. "Tetapi tebasan itu bukan serangan terakhir yang merenggut nyawanya."

Suasana aula mendadak hening mencekam.

"Siapa yang melayangkan tebasan terakhir itu?!" tuntut Yunche dengan rahang mengeras.

Gu Tianming menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu."

"Jangan membual padaku!"

"Aku tidak berbohong, Yunche!"

Aura Yunche melonjak naik, hendak melangkah maju menyerang. Namun, jemari lembut Gu Qingli dengan cepat menahan tangannya. Yunche menoleh, mendapati gadis itu menggelengkan kepala dengan raut memohon.

"Jangan, Yunche..." bisik Qingli pelan.

Yunche terhenyak dan menahan diri.

Gu Tianming mengamati interaksi keduanya, lalu mengalihkan pandangannya pada sang putri. "Qingli."

"Ya, Ayah?"

"Mulai hari ini..." tatapan Gu Tianming berganti teramat dalam, "...jangan pernah sekalipun kau melangkah jauh dari sisi Yunche. Lindungi dan jaga dia baik-baik."

Gu Qingli terpaku. "Apa maksud Ayah?"

Yunche pun dibuat terkejut oleh instruksi tersebut. "Kenapa kau menyuruhnya begitu?"

Gu Tianming tak menjawab pertanyaan Yunche, tatapannya tetap terkunci pada Qingli. "Sebab... orang-orang itu sudah mulai bergerak mendekat."

Wajah Gu Qingli memucat. "Orang-orang siapa?"

"Pihak yang sebenarnya bertindak sebagai dalang atas kematian Shen Tianyu," tegas Gu Tianming.

Yunche melangkah tegap ke depan. "Siapa nama kelompok mereka?!"

"Organisasi itu dikenal dengan nama... Yue Ming."

"Yue Ming?" kening Yunche bertaut tajam. "Siapa sebenarnya mereka ini?"

Gu Tianming menggeleng lemah. "Kekuatan mereka bergerak di balik bayangan, tak ada yang tahu pasti struktur mereka."

Yunche mendengus hampir tertawa sinis. "Lagi-lagi 'tidak ada yang tahu'..."

"Namun satu hal yang pasti," potong Gu Tianming tajam, "mereka mengetahui segalanya tentangmu. Mereka tahu betul perihal rahasia darah mulia yang mengalir di tubuhmu—Darah Langit—dan berniat menangkapmu hidup-hidup karena kau adalah kuncinya."

Yunche secara refleks menyentuh liontin kuno di dadanya. "Kunci untuk apa?"

Sebelum Gu Tianming sempat menjawab, gema derap langkah panik terdengar mendekat. Seorang pelayan kediaman berlari terengah-engah memasuki aula.

"Patriark! Berita buruk!"

Gu Tianming berdiri seketika. "Ada apa?!"

"Orang-orang dari organisasi Yue Ming... mereka telah menerobos masuk ke dalam batas kota!" seru pelayan itu dengan suara bergetar ketakutan.

Yunche mengencangkan cengkeramannya pada hulu pedang. "Berapa banyak dari mereka?!"

"Ka-kami tidak tahu pasti... tapi..." Pelayan itu menelan ludah parau, "...mereka menyeret sebuah jasad ke tengah jalan kota."

Atmosfer aula seketika membeku. "Jasad siapa?" tuntut Gu Tianming.

"Sesosok jasad... yang membawa tanda ukiran lambang utama Keluarga Shen!"

Iris mata Yunche membelalak lebar dalam keterpakuan. "Keluarga... Shen?!"

Pelayan itu mengangguk cepat.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Yunche melesat keluar dari aula utama secepat kilat.

"Yunche! Tunggu aku!" jerit Gu Qingli seraya menyusul berlari tepat di belakangnya.

1
Deutsch
mantap thor
Gia Uw
lanjut lagi
Alia Chans
Datang tiba-tiba, tujuan nya Darah 😭😭
apa gk syok tuh thor
obeng min
luar biasa
obeng min
hurra
obeng min
josss
obeng min
mana nih ketua
DeZigur: besok bang. 5 bab crazy up.
total 1 replies
obeng min
joss
obeng min
mantap
obeng min
lanjut thor
obeng min
gas thor mantap💪💪💪💪👍👍👍👍👍
Semoli Ginon
blom waktunga yunche. sabar 🤭
Semoli Ginon
🤣🤣
Semoli Ginon
duh yunche celamitan pula/Cry/
Semoli Ginon
dasar mc koplak emang 🤣
Semoli Ginon
merepet aja mulutnya yunche. husss diam dulu
Semoli Ginon
sangat tidak sopan 🤣
Semoli Ginon
mc nya rada koplak ini ya? 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!