NovelToon NovelToon
Menantu, Tolong Ampuni Aku

Menantu, Tolong Ampuni Aku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.

Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.

Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 025: Akuisisi Kilas Digital

Kilas Digital berkantor di sebuah gedung lama dekat pusat Jakarta, gedung yang dulu pernah terlihat modern sebelum kaca depannya mulai kusam dan logo perusahaan lain satu per satu dilepas dari papan lobi.

Di lantai tujuh, ruang redaksi masih hidup.

Tetapi hidupnya seperti lampu neon yang berkedip.

Ada meja panjang dengan komputer tua, rak arsip berdebu, papan ide liputan yang penuh tempelan kertas, dan beberapa jurnalis yang tetap mengetik dengan cepat meski gaji dua bulan terakhir selalu datang terlambat.

Kilas Digital pernah punya nama.

Mereka pernah membongkar proyek fiktif di perusahaan daerah, pernah membuat serial laporan tentang banjir Jakarta, pernah memenangkan penghargaan kecil yang sertifikatnya masih dipasang miring di dinding ruang rapat.

Namun nama baik tidak selalu membayar server.

Iklan turun.

Traffic direbut platform video pendek.

Pembaca mengeluh berita panjang terlalu melelahkan.

Investor lama ingin keluar.

Vendor hosting mengirim peringatan.

Di ruang rapat kecil, pemimpin redaksi Kilas Digital menatap proposal penjualan dengan wajah yang sulit dibaca. Di hadapannya, Dinda Permata duduk tenang, ditemani dua pengacara dan satu analis media.

"Saya sudah bertemu tiga calon pembeli," kata pemimpin redaksi itu. "Yang pertama ingin menjadikan kami pabrik advertorial. Yang kedua ingin kami berhenti menulis soal beberapa konglomerat. Yang ketiga bahkan meminta daftar reporter yang dianggap terlalu keras."

Dinda tidak memotong.

"Jadi sebelum kita bicara harga," lanjutnya, "saya ingin tahu Cakra mau membeli apa. Nama kami? Arsip kami? Atau mulut kami?"

Pertanyaan itu membuat salah satu pengacara Cakra mengangkat mata.

Dinda justru tersenyum tipis.

"Kalau saya mau membeli mulut, saya akan mencari akun gosip. Lebih murah dan lebih patuh."

Pemimpin redaksi itu tidak tertawa, tetapi matanya berubah sedikit.

"Kami ingin membeli perusahaan yang masih punya kredibilitas," kata Dinda. "Kredibilitas tidak bisa dibangun dengan memerintah reporter menulis sesuai selera investor. Jadi editorial harian tetap di tangan redaksi."

"Terlalu indah untuk kontrak bisnis."

"Karena belum sampai klausul yang membuat Anda curiga."

Dinda menggeser dokumen.

Di halaman ketujuh belas, ada pasal yang sudah ditandai.

Hak Eksklusif Prioritas Pemberitaan.

Pemimpin redaksi membaca perlahan.

"Pada perkara tertentu yang berkaitan dengan kepentingan publik, tata kelola perusahaan terbuka, penyalahgunaan kekuasaan, atau pembelaan terhadap pihak yang menjadi korban pemberitaan palsu, pemegang saham strategis dapat memberikan data awal kepada redaksi dan memperoleh hak prioritas untuk penayangan eksklusif pertama, dengan tetap tunduk pada verifikasi redaksional."

Ia mendongak.

"Ini bukan editorial independence murni."

"Tidak ada media yang murni tanpa kepentingan," jawab Dinda. "Yang bisa dibuat bersih adalah batasnya. Kami tidak meminta kalian berbohong. Kami tidak meminta kalian menutup kasus yang benar. Kami meminta, kalau suatu hari ada data yang harus dibuka, Kilas punya prioritas untuk memeriksa dan menayangkannya."

"Data dari Cakra?"

"Kadang dari Cakra. Kadang dari kuasa hukum. Kadang dari pelapor yang butuh kanal yang tidak langsung dibeli lawan."

Pemimpin redaksi itu menatap pasal tersebut.

Ia sudah terlalu lama di media untuk percaya pada malaikat.

Tetapi ia juga sudah terlalu lama bertahan untuk tahu bahwa tanpa uang, idealisme berubah menjadi rapat pemutusan hubungan kerja.

"Harga yang Anda tawarkan rendah."

"Perusahaan Anda rugi tiga tahun, server menunggak, dan investor lama mau keluar dalam enam minggu. Harga kami rendah karena risiko Anda tinggi."

"Jujur sekali."

"Lebih baik jujur di awal daripada manis sampai tanda tangan."

Analis media Cakra membuka ringkasan rencana.

Dana segar untuk server dan keamanan digital.

Pelunasan utang vendor prioritas.

Dana perekrutan lima reporter investigasi.

Pelatihan verifikasi data dan keamanan narasumber.

Integrasi distribusi video pendek dengan NusaPlay, tanpa memaksa jurnalis menjadi selebritas.

Pemimpin redaksi membaca semua itu.

"Kenapa Cakra peduli pada berita?"

Dinda melipat tangan di meja.

"Karena pasar bergerak bukan hanya oleh angka. Ia bergerak oleh cerita. Kalau cerita buruk bisa menghancurkan perusahaan yang benar, maka cerita benar juga harus punya tempat untuk bergerak cepat."

"Kedengarannya seperti seseorang sedang menyiapkan perang."

"Saya hanya menyiapkan media yang tidak mati."

Jawaban itu rapi.

Terlalu rapi.

Pemimpin redaksi tahu ada sesuatu yang tidak disebut. Ia tahu Cakra Capital terlalu besar untuk membeli Kilas Digital hanya karena kasihan pada jurnalisme. Namun ia juga melihat angka di rekening perusahaan. Ia melihat meja reporter yang mulai kosong. Ia melihat penghargaan di dinding yang tidak bisa dijual untuk membayar listrik.

"Saya punya satu syarat," katanya.

Dinda mengangguk.

"Reporter kami tidak boleh dipaksa menulis serangan pribadi tanpa bukti."

"Setuju."

"Kami boleh menolak data dari Cakra kalau tidak bisa diverifikasi."

"Wajib menolak."

"Dan kalau suatu hari pemegang saham memakai kami untuk menutup kebenaran?"

Dinda menatapnya lurus.

"Tulis tentang itu."

Kali ini ruang rapat benar-benar sunyi.

Pemimpin redaksi itu menyentuh ujung dokumen dengan ibu jari.

"Entah investor Anda sangat percaya diri, atau sangat berbahaya."

"Bisa dua-duanya."

Tanda tangan dilakukan sore itu.

Tidak ada konferensi pers besar. Hanya keterbukaan singkat, transfer dana tahap pertama, dan email internal yang membuat ruang redaksi berhenti mengetik selama beberapa detik.

Kilas Digital diselamatkan.

Janji kosong tidak cukup.

Dua hari kemudian, server diperbarui.

Seminggu kemudian, tiga tunggakan vendor dibayar.

Dua reporter yang hampir pindah kerja menarik kembali surat pengunduran diri.

Satu bulan berikutnya, Kilas Digital mulai menerbitkan laporan panjang dengan desain baru, data lebih rapi, dan video ringkas yang didistribusikan lewat NusaPlay.

Pembaca lama kembali pelan-pelan.

Pembaca baru datang karena potongan video mereka tidak berteriak, tetapi memberi konteks.

Pada rapat redaksi pertama setelah dana masuk, suasananya masih canggung.

Reporter politik bertanya apakah mereka boleh menulis tentang konflik kepentingan di sebuah tender pemerintah daerah yang melibatkan kenalan investor lama. Reporter ekonomi ingin mengangkat praktik pinjaman vendor yang menekan usaha kecil. Editor video mengusulkan format ringkas untuk menjelaskan istilah pasar modal agar pembaca biasa tidak hanya menjadi penonton ketika perusahaan besar saling menekan.

Pemimpin redaksi mendengarkan semua usulan itu, lalu menatap ruangannya.

"Kita tidak dibeli untuk menjadi lebih takut," katanya. "Tapi kita juga tidak dibayar untuk menjadi sembrono. Mulai sekarang, setiap laporan investigasi punya dua lapis verifikasi. Dokumen, narasumber, hak jawab. Kalau data lemah, tidak naik. Kalau data kuat, tidak ditahan karena pemilik takut."

Beberapa reporter saling pandang.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi ruang redaksi yang hampir mati, sederhana pun bisa terasa seperti kemewahan.

Di ujung meja, seorang reporter muda bertanya, "Kalau nanti yang kena adalah orang besar?"

Pemimpin redaksi mengangkat salinan perjanjian.

"Maka kita pastikan dulu buktinya cukup besar untuk menanggung akibatnya."

Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, orang-orang di ruang itu tidak hanya bicara tentang bertahan.

Mereka bicara tentang bekerja.

Di kantor yang sama, lampu neon yang dulu berkedip diganti.

Pemimpin redaksi berdiri di depan papan liputan, memegang salinan perjanjian akuisisi. Ia membaca lagi pasal hak eksklusif prioritas pemberitaan.

"Semoga kali ini benar-benar ingin membuat berita," gumamnya kepada dirinya sendiri. "Bukan ingin mengendalikan sesuatu."

Malam itu, di Villa Puncak, Arga menerima salinan konfirmasi akuisisi.

Ia membaca satu halaman saja.

Pasal itu.

Hak prioritas, verifikasi redaksional, larangan intervensi kebohongan.

Ia menutup map.

Orang yang kuat tidak perlu semua media tunduk.

Ia hanya perlu satu tempat yang cukup bersih untuk menaruh kebenaran ketika seluruh ruangan lain mulai dipenuhi asap.

1
Solardy Lardy
joooss👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!