NovelToon NovelToon
SKENARIO KEHANCURAN UNTUK SUAMIKU

SKENARIO KEHANCURAN UNTUK SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Bagi Aris dan ibunya, Tita adalah istri sempurna: kaya, penurut, dan sabar. Saat Tita divonis tak bisa memberi keturunan, mereka berlagak menerima dengan lapang dada. Padahal di belakangnya, Aris diam-diam menikah siri demi mendapatkan anak sambil terus menikmati kemewahan dari uang Tita.
​Mereka pikir Tita bodoh. Padahal, Tita sudah tahu segalanya.

​Tanpa air mata atau labrakan emosional, Tita tersenyum dingin. Ia mulai memutus aliran dana, merebut asetnya, dan menjebak bisnis Aris ke jurang utang.

​"Kalian pikir bisa hidup mewah di atas penderitaanku? Mari kita lihat seberapa lama kalian bertahan tanpa sepeser pun uangku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kado pernikahan siri suamiku

"Tita, Ibu itu bersyukur sekali punya menantu seperti kamu. Cantik, sukses, mandiri, dan yang paling penting, sangat berbakti pada keluarga. Masalah anak... ah, sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Ibu dan Aris sudah menerima kekuranganmu sejak awal dengan lapang dada. Bagi kami, kehadiran kamu di rumah ini sudah menjadi berkah yang luar biasa."

​Kata-kata manis Ibu mertuaku, Ibu Rahma, masih terngiang jelas di telingaku. Kalimat itu diucapkan dengan mata yang berkaca-kaca, raut wajah penuh welas asih, dan genggaman tangan yang begitu hangat di atas meja makan.

Kejadiannya tepat di hari ulang tahun pernikahan kami yang kelima, sekitar tiga bulan yang lalu.

​Saat itu, aku hampir saja meneteskan air mata terharu. Aku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia karena memiliki suami penyayang seperti Aris dan seorang ibu mertua yang begitu pengertian. Di luar sana, banyak wanita dengan vonis mandul sepertiku yang disiksa batinnya oleh keluarga suami.

Namun aku? Aku justru dihujani cinta dan penerimaan yang tampak begitu tulus. Aku merasa sangat berutang budi pada kebaikan mereka.

​Namun, sore ini, di balik meja kebesaranku sebagai CEO Glowinc Cosmetics, kehangatan yang selama lima tahun ini kusimpan rapat di dalam dada menguap tanpa sisa. Digantikan oleh hawa dingin yang menusuk perlahan, membekukan setiap jengkal hatiku hingga mati rasa.

​Aku menatap layar tablet di hadapanku dengan pandangan lurus. Di sana, terpampang laporan keuangan bulanan dari kartu kredit tambahan yang kupasrahkan pada Aris, suamiku. Sebagai istri yang sibuk memimpin perusahaan kosmetik besar dengan ratusan karyawan, aku memang jarang memeriksa detail pengeluaran Aris. Bagiku, memberikan fasilitas kartu kredit dengan limit ratusan juta adalah bentuk dukunganku agar dia bisa tampil percaya diri sebagai seorang pengusaha di depan relasi-relasinya. Aku memercayainya tanpa syarat.

​Namun, kecurigaanku bermula saat sistem keuangan perusahaanku memberikan peringatan tentang adanya transaksi di luar batas kewajaran pada kartu tambahan tersebut dalam dua bulan terakhir.

​Rincian Transaksi Kartu Tambahan – an. Aris Pratama:

​12 Mei 2026 – Tiffany & Co. (Plaza Indonesia) – Rp 85.000.000

​14 Mei 2026 – PT. Agung Property Regency (Uang Muka) – Rp 120.000.000

​Setiap tanggal 5 (Auto-debit rutin) – Kiriman Dana an. Larasati Putri – Rp 35.000.000

​Aku menyandarkan punggungku ke kursi kerja kulit yang empuk, menghela napas perlahan demi menjaga keteraturan detak jantungku. Kepalaku tidak pusing, air mataku tidak menetes, dan dadaku tidak berdegup kencang seperti adegan-adegan dramatis wanita yang diselingkuhi di dalam sinetron televisi.

Aku justru merasa... geli. Sungguh sebuah lelucon yang sangat menggelikan.

​Bagaimana mungkin Aris, pria yang setiap pagi selalu menyempatkan diri mengecup keningku, membuatkan teh hangat, dan berbisik bahwa dia hanya mencintaiku seumur hidup, bisa bertindak seceroboh ini? Ataukah dia memang terlalu meremehkanku? Apakah dia berpikir bahwa karena aku begitu mencintainya, aku akan menjadi wanita bodoh yang matanya tertutup rapat dan tidak akan pernah memeriksa aliran uang dari rekening pribadiku sendiri?

​Tok! Tok!

​Ketukan pintu memecah keheningan ruang kerjaku yang luas dan ber-AC dingin. Siska, asisten pribadiku yang sudah bekerja bersamaku selama tujuh tahun sekaligus orang kepercayaanku, melangkah masuk dengan langkah kaki yang diseret pelan. Wajahnya tampak luar biasa tegang. Di dadanya, ia mendekap sebuah map kulit berwarna hitam pekat.

​"Bu Tita," panggil Siska dengan nada suara yang sangat hati-hati, seolah takut suaranya bisa memecahkan kristal kaca di ruangan ini. "Semua informasi dan bukti yang Ibu minta... sudah berhasil dikumpulkan oleh tim penyelidik swasta."

​"Letakkan saja di meja, Sis," jawabku tenang. Suaraku terdengar sangat datar, bahkan terlalu santai untuk ukuran seorang istri yang sebentar lagi akan menyaksikan bukti nyata dari runtuhnya mahligai rumah tangganya.

​Siska melangkah mendekat, lalu dengan perlahan meletakkan map hitam itu tepat di hadapanku. Ia membukanya dengan gerakan ragu-ragu, lalu menyisipkan beberapa lembar foto cetak berkualitas tinggi di atas meja kaca.

​Fokus mataku langsung tertuju pada foto pertama.

​Di sana, Aris tengah merangkul mesra pinggang seorang wanita muda berwajah manis, polos, dengan sapuan riasan tipis. Mereka sedang berdiri di depan sebuah toko perlengkapan bayi di salah satu pusat perbelanjaan mewah. Perut wanita itu tampak mulai membuncit di balik gaun longgar yang dikenakannya.

Namun, yang paling menarik perhatianku adalah leher wanita itu. Sebuah kalung berlian indah melingkar di sana. Aku sangat mengenali desainnya itu adalah kalung edisi terbatas dari Tiffany & Co. seharga 85 juta rupiah yang tertera di laporan transaksi kartu kredit suamiku beberapa minggu lalu. Kalung yang dibeli menggunakan uangku, kini melingkar manis di leher wanita lain.

​Aku beralih ke foto kedua.

​Foto itu diambil di dalam sebuah ruangan berdekorasi sederhana yang didominasi warna putih. Tampak sebuah prosesi pernikahan siri. Aris mengenakan jas koko putih berpeci, duduk bersanding dengan wanita muda yang sama di hadapan seorang penghulu. Dan yang membuat sudut bibirku berkedut sinis adalah sosok paruh baya yang berdiri di sudut foto sambil tersenyum lebar dengan mata berbinar-binar penuh kemenangan.

​Itu adalah Ibu Rahma. Ibu mertuaku yang katanya sangat menyayangiku. Di foto itu, ia tampak begitu bahagia, menggenggam erat tangan menantu barunya seolah wanita muda itulah menantu idaman yang sesungguhnya yang selama ini ia nantikan.

​"Namanya Larasati Putri, Bu Tita. Usianya baru dua puluh empat tahun," Siska mulai menjelaskan dengan suara tertahan, berusaha menjaga profesionalitasnya meski aku bisa mendengar nada geram di dalam suaranya. "Dia mantan karyawan magang di salah satu vendor kosmetik kita dulu. Menurut laporan penyelidik, mereka sudah melangsungkan pernikahan siri sekitar enam bulan yang lalu. Pernikahan itu tidak hanya diketahui, tapi difasilitasi dan disetujui sepenuhnya oleh Ibu Rahma serta adik ipar Ibu, jessica."

​Siska menjeda kalimatnya sejenak, menatapku untuk memastikan keadaanku sebelum melanjutkan. "Saat ini, Larasati sedang mengandung anak Pak Aris, usianya jalan empat bulan. Mereka tinggal di sebuah unit apartemen mewah di daerah Jakarta Selatan... yang seluruh biaya sewa tahunannya didebit langsung dari rekening pribadi Ibu dengan kedok investasi properti baru yang diajukan Pak Aris waktu itu."

​Aku mendengarkan penjelasan Siska tanpa menyela sedikit pun. Mataku terus menatap foto Ibu mertuaku yang tersenyum sangat tulus di pernikahan siri tersebut. Senyuman yang belum pernah sekali pun kulihat selama lima tahun aku menjadi menantunya. Kepada Tita yang kaya raya ini, Ibu Rahma hanya selalu menampilkan senyum penuh sungkan, senyum manis yang dipaksakan demi mendapatkan belas kasihan dan aliran dana bulanan.

​Sekarang, semua kepingan teka-teki di kepalaku terjatuh tepat pada tempatnya.

​Pantas saja belakangan ini Ibu Rahma mendadak sangat rajin berkunjung ke rumahku hanya untuk meminta uang saku tambahan. Alasannya selalu mulia: sedang aktif di yayasan keagamaan, butuh donasi sosial untuk anak yatim, atau ingin membeli perhiasan baru untuk menghadiri arisan sosialita agar tidak mempermalukan namaku sebagai menantu kaya.

​Ternyata, semua uang hasil keringat dan kerja kerasku dari pagi hingga malam digunakan untuk membiayai maduku sendiri. Uangku dipakai untuk membayar biaya kontrol kehamilan ke dokter spesialis terbaik, membelikan susu formula kelas premium, dan memenuhi semua gaya hidup mewah wanita simpanan suamiku.

​Mereka hidup mewah di atas penderitaanku. Mereka menggunakan uangku, menikmati fasilitas mobil dari perusahaanku, tinggal di properti milikku, lalu dengan teganya menikamku dari belakang dengan dalih meneruskan keturunan. Mereka memperlakukanku layaknya sebuah mesin ATM berjalan yang bodoh dan bisa dimanipulasi hanya dengan beberapa kalimat sanjungan murah.

​"Bu Tita..." Siska memanggilku lagi dengan nada sangat khawatir. Ia mungkin heran melihatku yang hanya diam membisu tanpa reaksi ekstrem seperti menangis, berteriak, atau menghancurkan barang-barang di meja kerja.

"Apakah Ibu baik-baik saja? Mau saya hubungi tim pengacara perusahaan sekarang juga? Kita bisa langsung melabrak mereka ke apartemen itu, atau melaporkan Pak Aris ke polisi atas tuduhan perzinahan dan penipuan keuangan."

​Aku menarik pandanganku dari foto-foto tersebut, lalu menegakkan posisi dudukku. Perlahan, sebuah senyuman tipis terukir di sudut bibirku. Itu bukan senyuman sedih atau pasrah, melainkan senyuman dingin, tajam, dan penuh dengan perhitungan yang bahkan membuat Siska yang sudah bertahun-tahun mengenalku sedikit bergidik ngeri.

​"Melabrak mereka secara langsung, Sis? Untuk apa?" tanyaku dengan nada suara yang sangat santai, seolah-olah kami hanya sedang mendiskusikan penurunan omset bulanan yang sepele. "Kalau aku pergi ke sana, menangis, lalu melabrak mereka di depan umum, drama ini akan selesai terlalu cepat. Aris hanya akan berlutut, menangis bersujud di kakiku, meratapi kesalahannya, dan ibunya yang bermuka dua itu akan memohon-mohon pengampunan atas nama cinta dan masa lalu kami. Setelah itu apa? Mereka akan tetap merasa aman karena tahu aku adalah Tita yang lemah lembut dan tidak tegaan."

​Aku mengetukkan jemariku yang terawat rapi ke atas permukaan meja kaca, menciptakan ketukan ritmis yang memecah keheningan ruangan.

​"Mereka semua... suamiku yang tidak tahu diri itu, ibu mertuaku yang serakah, dan adik iparku yang parasit, mereka semua berpikir bahwa aku ini Tita yang bodoh. Tita yang bucin setengah mati sampai rela membiayai seluruh gaya hidup keluarga suaminya tanpa banyak tanya. Mereka berpikir, karena aku memiliki kekurangan fisik berupa kemandulan, aku akan pasrah menerima dimadu secara diam-diam asalkan Aris tidak pergi meninggalkanku. Mereka pikir ketakutanku akan kesepian akan membuatku menerima pengkhianatan ini dengan mata tertutup."

​Mataku berkilat tajam menatap asisten pribadiku. "Aris memiliki usaha kuliner bernama Aris Kitchen yang belakangan ini cabangnya sudah bertambah menjadi lima di area Jabodetabek, kan? Siska, tolong ingatkan aku lagi, dari mana asal seluruh modal awal untuk mendirikan restoran pertama di jalur utama itu?"

​"Seratus persen modal awal berasal dari dana pribadi Ibu Tita, Bu," jawab Siska dengan sigap dan lancar. "Bahkan jaminan ruko tiga lantai yang digunakan sebagai kantor pusat dan restoran utamanya pun adalah aset milik anak perusahaan Glowinc Group yang Ibu pinjamkan tanpa biaya sewa."

​"Lalu, bagaimana dengan rantai pasok bahan bakunya? Siapa yang membantu menegosiasikan kontrak kerja sama dengan para distributor daging dan sayur terbesar sehingga mereka mau memberikan harga miring dengan sistem pembayaran tempo?"

​"Ibu Tita juga, Bu. Kontrak-kontrak itu bisa berjalan karena adanya jaminan nama besar Glowinc Group sebagai penjamin pihak ketiga. Tanpa nama Ibu, para distributor itu tidak akan pernah mau memberikan kelonggaran pembayaran pada bisnis sekecil milik Pak Aris."

​"Bagus sekali," aku menutup map hitam di hadapanku dengan satu gerakan pelan yang tegas. "Aris merasa dirinya sudah menjadi lelaki yang sangat sukses dan hebat saat ini. Dia merasa gagah karena memiliki bisnis kuliner yang ramai, seorang istri siri muda yang subur dan siap memberinya anak, serta seorang istri sah yang kaya raya namun bodoh dan bisa dengan mudah diperalat. Dia merasa sedang berada di atas angin, menikmati semua kenikmatan hidup tanpa perlu memeras keringat terlalu keras."

​Aku berdiri dari kursi kerjaku, melangkah perlahan menuju jendela kaca besar setinggi langit-langit yang langsung menampilkan pemandangan hutan beton dan gedung-gedung pencakar langit Jakarta di bawah sana. Sinar matahari sore yang mulai meredup menerangi wajahku, memantulkan ekspresi dingin tanpa kehangatan.

​"Mari kita lihat, seberapa hebat seorang Aris Pratama jika aku memutus seluruh nadi finansialnya dari akar terkecil. Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri, apakah istri siri yang katanya sangat dia cintai karena subur itu, akan tetap tersenyum manis dan setia mendampinginya saat Aris tidak memiliki sepeser pun uang di dompetnya. Aku ingin tahu seberapa kuat cinta mereka saat dikejar-kejar oleh penagih utang."

​"Lalu, apa langkah pertama yang harus saya siapkan, Bu Tita?" tanya Siska. Matanya kini tidak lagi memancarkan rasa khawatir, melainkan binar kekaguman dan kesiapan penuh untuk mendukung setiap langkah pembalasanku.

​Aku berbalik membelakangi jendela, menatap Siska dengan senyuman kemenangan yang tertahan di bibirku.

​"Pertama, siapkan tim hukum kita untuk menarik semua jaminan aset ruko restoran utamanya dari bank atas nama pribadiku. Lakukan secara perlahan dengan dalih restrukturisasi aset tahunan perusahaan agar Aris tidak langsung mencium rencana kita. Kedua, hubungi semua distributor bahan baku utama Aris Kitchen. Katakan pada mereka bahwa Glowinc Group akan segera menarik diri sebagai penjamin kontrak kerja sama mereka mulai bulan depan secara sepihak karena alasan kepatuhan internal bisnis."

​Aku menjeda kalimatku, membayangkan kekacauan yang akan terjadi di dapur restoran suamiku saat para pemasok tiba-tiba menghentikan pengiriman barang atau menuntut pembayaran tunai di muka.

​"Dan yang ketiga... biarkan ibu mertua dan adik iparku terus berfoya-foya minggu ini menggunakan sisa limit kartu kredit mereka. Aku bahkan akan mengirimkan beberapa voucher belanja tambahan ke rumah mereka malam ini. Aku ingin mereka merasa sangat senang, sangat aman, dan berada di puncak kesombongan mereka terlebih dahulu."

​Aku tersenyum sangat manis, namun dengan tatapan mata yang luar biasa dingin.

​"Aku akan memberikan mereka umpan terakhir yang paling lezat, sebelum aku menarik jaring perangkap ini dan membuat mereka semua merangkak di lantai di hadapanku, memohon belas kasihan tanpa sisa."

1
Noey Aprilia
Udh nebak dr awl kl felix emng ada rsa sm tita...kl ga mh,ga mngkn rela ninggalin smuanya dmi mmbela tita...ykin bgt kl smua prosesnya cpt krna cmpr tngan dia.....😁😁😁....
tp bgus lh...saatnya ngejar cntamu kmbli y felix...
Noey Aprilia
Do'amu d kbulkn y jesika....bntr lg klian bkl ktmu sm mntan,bedanya sma2 jd gembel.....😛😛😛
Arieee
bagus👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Wega Luna
babat habis orang kayak mereka yg maunya instan dan gratisan🤣🤣🤣🤣
Ariany Sudjana
hahaha nikmati saat terakhir kamu Reno, kamu dan mama kamu juga akan jadi gembel
Ariany Sudjana
itulah hukum tabur tuai, terima saja konsekuensinya 🤣🤣😂😂
Noey Aprilia
Nmanya hkum tabur tuai...
dlunya nabur kjhtan,skrng mnuai akibtnya....slmt jd gembel.....😛😛😛
Muft Smoker
dtggu season si Jessica tinggal di kolong jembatan kak 😒😒😒😒
Noey Aprilia
Ngsih mkan ank2nya dr hsil nipu sih,jdinya ya ky gt....yg 1 d sel,yg 1 mlah ga mau nampung emaknya....dfnisi hkum krma ta smnis kurma.....😛😛😛
Anita Rahayu
Thor adiknya masa gk kena miskin sih thor gk adil dong masa berat sebelah penebusan karmanya😤😤😤😤😤😤😤😤😤
blcak areng: sabar kak
total 1 replies
Noey Aprilia
Aku lg byangin....hkumn apa yg bkl mreka ksih????d gebukin dlu,atw pke balok gt...ga mngkn sling jmbak kn y,scra bkn emak2 yg lg lbrak pelakor.....🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
waah semoga jantung si Aris Bae Bae aj ,,
😂😂😂 jgn sampe deh pindah ke jempol kaki ,, 😁😁😁😁
Muft Smoker: hadiiir kakk ,, duh jgn panggil2 gt doonk ,, gx kmn2 koq ,, msh di pantau si Aris dr sini ,, 😂😂😂😂😂
total 2 replies
Muft Smoker
aduuh si Aris otw jd perkedel niih ,,
tu laa akibat dr keserakahan berkedok pengen punya anak ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker
waaah raja singa yg sesungguh ny ,, msh otw ke jakarta ,,
😱😱😱😱😱
Muft Smoker
bagus tita ,, hama Kya mereka yg gx pandai bersyukur mending hempas kan saja ,,
pdahl msh byk cara lain supaya punya anak ,, bisa adopsi anak kn ,, emnk dasar pgen selingkuh aj ,, 😒😒😒😒
Noey Aprilia
tragis jg y nsib mreka.....stlh msuk bui,gliran emaknya otw jd gmbel...
tp yg pling ngeri,nsibnya aris d pnjra.....scra kknya tita udh blik buat ngsih doa pljran......
Wega Luna
💪💪💪tita kamu keren perempuan kuat GK akan mengisi penghianatan,
Noey Aprilia
Ga msti viral krna jambak2an,toh akhrnya mreka kalah sndri....tkang tipu vs korban tipu...😛😛😛
Muft Smoker: kompak kn mereka kak ,, sang penipu dan si tertipu ,,
😂😂😂😂
total 1 replies
Lee Mba Young
keren istri sah🔥🔥🔥🔥
Noey Aprilia
Ckkk.....abg labil....
udh buka aib sndri,skrng mlah msuk kandang singa......ga ykin kl pad kluar dia msih utuh.....🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!