Mengisahkan tentang seorang kakak yang memendam perasaannya terhadap adiknya.
Seorang Ma Jiaqi pemuda pendiam, yang menyimpan rasa cintanya terhadap sang adik selama lebih dari sepuluh tahun. Perasaan itu seakan terus tumbuh seiring berjalannya waktu yang selama itu juga menyebabkan dirinya harus melewati rasa sakit yang Ia pendam.
"Apa benar bahwa kakak menyukaiku?"
"Maafkan kakak."
"JAWAB PERTANYAANKU!" Teriak Wati saat mengetahui semua fakta.
Sehingga ... pada suatu hari sang adik mengetahui tentang perasaannya. Jawaban apa yang akan sang kakak berikan? Apakah Jiaqi akan memberitahu tentang perasaannya? Atau bahkan sebaliknya?
Juga beberapa dari sahabatnya yang mengalami permasalahan CINTA yang mereka lalui.
"Pergilah dari hadapanku! Aku tak butuh kau berada di kehidupanku."
"Dewi sebegitu benci kah kamu terhadapku?"
"Ben j-jangan terlalu kasar! Ini sa-sakit."
"M-maaf aku terbawa suasana."
Penasaran? Yuk ikuti terus cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wati Charoline H., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serapah Whidie.
Yoonikha mencari-cari keberadaan Dewi yang entah pergi kemana, saat ia keluar dari supermarket dirinya sudah tak melihat Dewi ia pun segera bergegas mencari Dewi.
"Dewi kamu kemana dek ...? Tolong jangan bikin kakak khawatir," gumam Yoonikha saat ia berjalan menuju lorong yang di lewatinya.
Yoonikha sudah mencari Dewi kemana-mana namun hasilnya nihil ia tak menemukan gadis itu, ia pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah siapa tau Dewi ada di sana, saat ia membuka pintu dan ternyata Dewi tengah terduduk di sofa yang terdapat di ruangan rumahnya.
"Dewi ...?" ucap Yoonikha.
Dewi menoleh ke arah kakak sepupunya dengan pandangan kosong, Yoonikha pun menghampirinya.
"Dek ... Kamu kemana saja tadi? Kakak mencarimu kemana-mana," ucap Yoonikha saat dirinya sudah berada di samping Dewi.
"Maaf kak, tadi aku tiba-tiba gak enak badan jadi aku memutuskan untuk kembali... Maaf jika aku sudah membuat kakak khawatir," ucap Dewi tanpa melihat kakak sepupunya.
Yoonikha mengangguk ia tak mau bertanya terlalu banyak pada adiknya ini, ia tau kalau sang adik sedang ada yang di pikirkannya, "Yasudah ... Sebaiknya kamu istirahat!! ini juga sudah malam!"
Dewi pun mengangguk dan segera meninggalkan kakaknya yang masih di ruang tamu.
Dewi membuka pintu kamarnya ... Ia tak berniat langsung tidur tetapi ia masih menatap langit-langit malam di kaca jendelanya, gadis itu sedikit membuka jendela di kamarnya untuk lebih jelas pemandangan indah itu.
"M-maafkan ak-"
"Aku membencimu!!"
Ingatan itu membuat Dewi menundukkan kepalanya, apa yang ia lakukan? Kenapa ia harus menampar laki-laki yang baru di kenalnya beberapa hari lalu, kenapa ia harus membencinya? Kenapa ia harus membenci semua yang berhubungan dengan laki-laki? "Bu ... Aku merindukanmu ibu sedang apa sekarang? Apakah laki-laki itu memukulmu lagi?"
***
Tok... tok... tok...
"Dek, apakah kamu sudah bangun?" Yoonikha mengetuk pintu kamar adik sepupunya, Dewi pun yang sudah selesai dengan seragam sekolahnya berjalan menuju pintu.
Ceklek...
"Iya kak Yoon?" ucap Dewi saat membuka pintu kamarnya.
Yoonikha tersenyum melihat adik sepupunya sudah terlihat baik-baik saja, "Tidak... Kakak kira kamu belum bangun, yaudah yuk biar kakak antarkan kamu ke sekolah."
Dewi mengangguk. "Iya kak Yoon."
***
"Win ...," Edwin yang sedang duduk melamun di kantin sekolah kena jeplakkan Ivander.
"Apaan sih! Gak lucu tau," ucap Edwin yang memenangi kepalanya.
"Kamu yang gak lucu! Kamu semalam kemana hah?"
"Di rumahlah di mana lagi."
Plak!!!
"Apa sih Ivander ...?" geram Edwin pada sahabatnya itu.
"Kelewatan kamu ya, dasar kepala botak belum tumbuh bulu rambutan. Kamu tau gak semalam aku nungguin kamu berapa lama? 1 jam!!" sarkas Ivander.
Edwin memukul jidatnya pelan, "Aduh...."
"Apa aduh, aduh?"
Edwin melihat Ivander yang terlihat kesal, "Maaf, maaf... Nanti aku traktir es krim deh."
"Emang kamu anggap aku pria ganteng baru berak... Hah? Pake nyogok es krim segala? Yaudah deh aku mau rasa coklat," ucap Ivander yang membuat Edwin geleng-geleng kepala.
"Tapi aku makasih juga sih sama lu win," ucap Ivander.
"Makasih karena apa?" tanya Edwin bingung.
"Karena kamu udah gak dateng semalam."
"Kenapa begitu?"
Ivander tersenyum-senyum saat ia mengingat kejadian semalam. Edwin yang mengernyitkan dahinya bingung segera menjitak dahi sahabatnya.
"Auw, iyaaaaaak!! Dasar ketombe basah kenapa kamu malah menjitak dahiku?" teriak Ivander saat ia mendapat perhatian dari seorang Edwin. Hal itu mengundang perhatian para anak-anak sekolah yang ada di kantin.
"Habis kamu senyum-senyum gak jelas gitu, udah kaya mau di tawar aja," ujar Edwin menahan tawanya.
"Di tawar sama siapa?" tanya Ivander.
"Malaikat."
"Anak tuyul lu, aku tonjok juga mukamu Win lama-lama," geram Ivander atas jawaban Edwin.
Saat sedang bergurau dengan Ivander, Edwin tak sengaja melihat sosok yang di kenalinya.
'Dewi...,' batin Edwin saat ia benar-benar melihat gadis itu di dalam kantin sekolah bersama dengan temannya. Laki-laki langsung berdiri untuk menghampiri gadis itu.
"Dewi...."
Dewi yang sedang memesan makanan menoleh ke belakang, ia nampak sedikit terkejut akan sosok laki-laki di depannya.
Mengapa Ia ada di sini?
Kenapa dia juga memakai seragam yang sama?
Dewi menatapnya dengan tatapan datar tanpa ekspresi, ia pun langsung membalikkan badannya untuk kembali memesan makanan yang sempat ia tunda.
"Dewi ... Dia siapa?" tanya Whidie yang juga melihat laki-laki itu memanggil nama temannya.
"Tidak tau."
Mendapat respon singkat dari sahabatnya ia pun membalikkan badannya dan tersenyum pada Edwin, "Hai... Kenalin aku Whidie teman putu kampret ini." ucap Whidie yang mendapat geplak kan dari Dewi, namun ia mengabaikannya dan kembali berucap.
"Pacarnya Dewi ya?" Dewi yang mendengar Whidie mulai ceplas-ceplos akhirnya mengambil nampan yang berada di samping kirinya dan segara mendaratkan nampan itu di kepala Whidie.
Prang!!!
Satu kantin mengalihkan pandangannya kepada Dewi dan Whidie termasuk Edwin.
Dewi yang masih dengan nampan yang ia pegang... Sedangkan Whidie?
"Haaaiiiis, kepalaku, otakku, rambutku, kulit kepalaku... Iyaaaaaak! Dewi sialan, Dewi kampret, Dewi setan, Dewi keranda, Dewi lontong, Dewi tuyul telanjang berani-beraninya kamu memukul kepala ratu polos," cerocos Whidie yang menyumpahi Dewi dengan sumpah serapahnya.
Yang di sumpahi hanya menatapnya seraya berkata, "Maaf whid, aku sengaja."
"Iyaaaaaak jagung gosong!!" teriak Whidie sambil memegangi kepalanya yang mungkin sudah benjol.
"Dewi tunggu!!" Edwin mengajar Dewi yang sudah meninggalkan mereka berdua.
"Aduh... Kenapa aku yang malah di tinggal!! Bukannya di tolongin juga! Punya temen kaya berak kencur sukanya mukul-mukul orang," celotehnya kesal, "Apa liat-liat!! Liatnya pake Idung lagi." imbuhnya saat satu kantin melihat ke arahnya.
"Maafkan edwin temanku ya ... Dia tidak bermaksud meninggalkanmu dia sepertinya lagi ada masalah dengan temanmu."
"Lain kali ajari teman kamu it-" Whidie membulatkan matanya saat sosok di depannya ternyata adalah Ivander.
"Kamu ...!!" Ucap Ivander dan Whidie serempak.
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan like, komen dan rate kalian ya!! Agar aku bisa lebih bersemangat lagi dalam membuat cerita ini, Terimakasih. 🙏😘💗
Mohon maaf, ijin promo ya thor. Ada suka cerita perang epik dng MC yg punya bnyk pasukan..mampir yuk di novel sy " penguasa dua benua" moga suka..
semangat semoga dengan sedikit kritikan bisa memotivasi penulis untuk menjadikan karya yg lebih baik.. aminn
1. akhirnya wati tau klo jiaqi bukan kakak kandungnya.
2. sera sama tony akhirnya pisah.
3. dewi meninggoy, cowoknya jadi sad boy.
4. menik mencoba menerima ben.
5. whidie nikah sama cowoknya.
btw berarti yg happy ending cma si whidie dong yg lainnya sad ending and open ending 😭😖
paling menarik peehatian kata2 patkay coklat, masa upil disamakan sm cinta 🤣🤣🤣