NovelToon NovelToon
Istri Cantik Tuan Presdir

Istri Cantik Tuan Presdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 4.8
Nama Author: Asti Amanda

Lanjutan dari novel: Wanita Cantik Tuan Muda Dingin.
__________

Setelah melewati banyak waktu dan masalah. Raka sang CEO termuda di perusahaan Welfin telah berhasil menemukan kekasihnya dan bahkan tak menyangka jika kekasihnya itu memberikan sepasang anak kembar yang cerdas dan menggemaskan.

Namun masalah kembali datang dari istri tercinta yang memiliki Kepribadian Ganda. Karena itulah Raka mencoba menyembuhkan Sovia dan mulai belajar untuk menjadi Suami idaman untuk sang istri.

Akan tetapi seseorang mulai meneror keluarga kecilnya dan bahkan mencoba menyingkirkan satu persatu keluarga dekatnya. Hal ini karena perebutan harta waris di masa lalu di keluarga Welfin. Dapatkah Raka melindungi sang Istri dan kedua anak kembarnya, serta menyembuhkan mental Sovia?

Yuk kita simak perjuangan Raka dalam menyembuhkan Sovia dan perjuangannya menyelesaikan masalah yang silih datang berganti di keluarga kecilnya Raka.

Baca sampai selesai ya ^^
Terima kasih~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asti Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Tidak Mau!

...[Beri like dan komen]...

Esok harinya, sinar matahari mulai terbit menyapa pagi ini. Di kamar yang luas terlihat pria muda tampan masih setia memeluk gulingnya. Hanya ia sendiri di dalam kamar itu yang tak lain ia adalah Raka.

Raka perlahan berbalik masih dalam keadaan mata tertutup, terlihat tangannya mencari-cari sesuatu di sampingnya.

Karena merasa tak ada siapa-siapa, Raka pun langsung membuka mata dan ternyata tak ada siapa pun di sampingnya.

Raka langsung melihat sekeliling kamar mencari keberadaan Istrinya.

Karena tak melihat Sovia, Ia kemudian beranjak bangun dan berjalan ke arah kamar mandi. Ia kini merasa kuatir kembali.

Krek!

Pintu kamar mandi terbuka, namun tak ada siapa pun di dalam kamar. Raka kemudian menutupnya lalu berjalan segera ke arah pintu kamarnya. Kekuatirannya semakin besar saja di pagi ini.

Raka keluar dari kamarnya lalu berjalan meyusuri lorong-lorong rumah besarnya itu. Raka kemudian mengecek setiap kamar kosong yang ia lewati.

Setelah membuka semua pintu kamar yang ia lewati, ternyata Raka masih tak menemukan Sovia.

"Aduh, di mana dia sekarang." desis Raka mulai panik.

Ia takut akan seperti kemarin di mana Sovia pergi begitu saja tanpa sepengetahuannya.

Tiba-tiba kamar Andis terbuka, terlihat Andis keluar dengan seragam sekolahnya. Raka yang kebetulan melihat Andis, ia segera mendekatinya.

"Andis, kamu lihat kakakmu?" tanya Raka dengan tampang cemasnya.

"Tidak." jawab Andis biasa-biasa saja.

"Kalau begitu, di mana dia sekarang." gumam Raka melihat sekeliling isi rumahnya.

"Memangnya kenapa?" Andis mulai penasaran.

"Kakakmu tak ada di kamar, takutnya dia keluar lagi." jawab Raka mash terlihat kelelahan karena kemarin mencari Sovia.

Tiba-tiba saja, ada suara benda terjatuh di arah ruang dapur membuat keduanya terkejut.

Prang!

Kedua lelaki itu langsung menuruni tangga dan berjalan cepat ke arah ruang dapur.

Sesampainya Raka dan Andis di dapur, keduanya pun langsung terdiam di tempat melihat Sovia dan Dean membereskan piring yang berjatuhan.

Raka pun merasa lega melihat istrinya masih berada di rumah. Raka kemudian berjalan mendekati keduanya.

"Aduh maaf, Mih. Dean tak sengaja tadi jatuhin piringnya." Dean berkata dengan raut wajah sedih. Gadis kecil itu menjatuhkan piring yang berisi sarapan pagi ini. Itu juga karena kemauan Dean yang ingin membantu Ibunya.

"Hahaha ... tak apa, lagian sarapannya masih banyak kok,"

"Dean duduk di kursi saja lihatin Mami, setelah sarapannya sudah siap nanti kita sama-sama bangunin Papi di kamar." lanjut Sovia mengelus lembut kepala putrinya itu yang dari tadi menunduk.

"Tidak perlu," ucap Raka dari belakang mereka membuat Sovia dan Dean langsung menoleh dan nampak terdiam mematung. Keduanya tentu terkejut melihat Raka yang sudah berada di sana.

"Kalian kenapa melakukan ini? Suruh pelayan saja yang membuatkan sarapan." lanjut Raka kini berdiri di depan mereka.

"Ahaha ... itu, aku ... aku cuma ingin membuatkan sarapan khusus untukmu saja."

Sovia terbata-bata, ia sebenarnya merasa bersalah atas kemarin dirinya yang membuat Raka mencari dirinya kemana-mana dan itu pasti sangat melelahkan.

Dan ia mencoba meminta maaf dengan cara membuatkan sarapan sendiri untuknya di pagi ini.

"Tak usah, kalian duduk lah saja bersama Andis di sana. Urusan ini berikan saja pada pelayan," ucap Raka kini melihat beberapa pelayan yang dari tadi menunduk tak jauh dari mereka.

"Kalian!" Tunjuk Raka dengan tampang dinginnya kepada pelayannya.

"Bereskan semua ini dan siapkan sarapan untukku segera mungkin!" titah Raka dengan coolnya lalu berjalan ke meja makan dan kemudian duduk santai di kursi menunggu sarapannya disiapkan.

"Baik, Tuan Muda." ucap para pelayan bersamaan.

"Permisi, Nyonya Muda. Biarkan kami yang membereskannya. Nyonya lebih baik duduk saja." ucap salah satu dari mereka kepada Sovia.

"Baiklah, maaf sudah merepotkan tugas kalian, hehe." cengir Sovia menggaruk tengkuknya.

"Ini sudah tugas kami, Nyonya." Pelayan itu menunduk lalu ia pun menjongkok membersihkan kekacauan yang dibuat Dean.

Sovia dan Dean kemudian pergi duduk bersama dengan Raka dan Andis.

Terlihat Sovia terus menerus menunduk saja dan itu membuat Raka heran.

"Kamu kenapa lagi, sayang?" Raka mulai bertanya.

Sovia segera melihatnya dan langsung tersenyum lalu menggelengkan kepala.

"Kamu baik-baik saja, kan?" Raka kembali bertanya sambil mengelus rambut Sovia.

Sovia yang merasakan belaian suaminya yang begitu lembut, ia langsung meraih tangan Raka lalu menatapnya.

"Soal kemarin itu aku tak sengaja keluar dari rumah. Kamu pasti capek mencariku kemarin, maaf sudah membuatmu kesusahan." lirih Sovia menunduk masih merasa bersalah.

"Aish, kenapa kamu selalu memikirkannya," desis Raka tak habis pikir.

"Aku sudah tidak peduli lagi dengan kemarin. Yang penting kamu sudah ada di sampingku lagi, jadi jangan dipikirkan lagi ya." lanjut Raka tersenyum lalu menepuk pelan kepala Sovia.

"Hm, baiklah." ucap Sovia membalas tersenyum.

Andis dan Dean yang melihat dua orang itu cuma bisa jadi penonton saja. Walau begitu, Dean nampak senyum-senyum melihat kedekatan kedua orang tuanya.

Beberapa saat kemudian, pelayan akhirnya telah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka. Kini mereka pun memakan sarapan mereka masing-masing dan seperti biasa tak ada suara apa pun selain kunyahan mereka namun itu masih membuat suasana terasa hening.

Setelah selesai sarapan. Andis pun langsung berdiri dari kursinya dan kemudian pamit kepada Sovia.

"Aku berangkat dulu ke sekolah." ucap Andis sangat datar lalu mengambil tasnya menuju keluar rumah dan menaiki motornya. Usia bocah itu sudah 15 tahun lebih dan bahkan mulai mendekati 16 tahun.

Sovia yang melihat sifat dan tingkah Andis yang begitu dingin padanya, ia nampak heran karena sangat berbeda dari apa yang Sulis katakan padanya jika adiknya itu sebenarnya adalah bocah yang cerewet dan tidak seperti sekarang.

Dean yang selesai sarapan, ia segera turun dari kursinya lalu melihat kedua orang tuanya.

"Mami, Papi. Dean ke kamar dulu ya. Mau telponan sama kak Deva." ucap Dean tersenyum dengan wajah yang amat menggemaskan.

"Dean tak mau ikut ke kantor sama Papi?" tanya Raka yang kini juga selesai sarapan.

"Hm, tidak. Dean mau cerita-cerita sama Kak Deva, hihihi ...." Dean tertawa cekikikan merasa tak sabar. Sovia yang mendengar tawa putrinya, ia malah langsung terdiam. Ia nampak teringat dengan mimpinya yang melihat sosok menyeramkan itu tertawa cekikikan padanya juga.

"Ya sudah, setelah telponan. Dean jangan lupa ceritakan juga pada Papi ya." ucap Raka kini berdiri di dekat Dean sambil mengelus rambut anak kecil itu.

"Baik, Pih." Dean tersenyum manis lalu segera berjalan menaiki tangga menuju ke arah kamarnya.

Raka yang melihatnya cuma menggelengkan kepala. Namun tiba-tiba alis kanannya terangkat melihat Sovia terdiam di kursinya yang terus menerus melihat piring kosong di depannya.

Raka pun segera menepuk bahunya namun ternyata itu membuat Sovia terkejut.

"Aakh! Jangan sentuh aku!" pekik Sovia langsung menepis tangan Raka dan membuat pria itu ikut terkejut. Sovia akhirnya sadar akan tindakannya barusan.

"Sayang, kamu kenapa?" Raka bertanya lalu kembali duduk di dekat Sovia.

"Maaf ... maaf, tadi itu aku tak sengaja." ucap Sovia menundukkan kepala.

"Sayang, coba katakan padaku apa yang kamu lamunkan?"

"Tidak ada apa-apa, kok." ucap Sovia nampak tak mau memberitahukannya.

"Huft ... jika saja aku bisa membaca pikirannya. Aku pasti tahu apa yang lagi ia pikirkan." gumam Raka dalam hati sedikit kecewa.

"Ya sudah, kamu ikut aku ke kantor." Raka nampak berdiri lalu meraih tangan Sovia.

"Kamu mau ke kantor sekarang?" tanya Sovia sedikit terkejut karena melihat penampilan Raka yang masih memakai piyama saja (pakaian tidur).

"Tidaklah, nanti setelah aku siap-siap baru deh ke kantor. Jadi kamu bantu aku menyiapkannya." ucap Raka menarik kembali tangan Sovia lalu berjalan menaiki tangga.

Namun tiba-tiba saja Raka langsung berhenti lalu menoleh melihat Sovia lalu mendekatkan wajahnya ke muka istrinya itu.

"Oh ya, sekalian juga bantu aku mandi ya sayangku ...." bisik Raka terdengar manja ke telinga Sovia.

Seketika mata Sovia langsung membola, ia kini ingat waktu itu ia pernah mandi bersama dengan Raka dan di mana Raka sering membuatnya terangsa4ng.

"Tidak mau! Dasar mesum!" Sovia melepaskan genggaman Raka lalu pergi duluan ke kamarnya. Terlihat ia sedikit kesal dengan ucapan Raka tadi.

"Pffft ... hahaha ...." Raka tertawa lepas melihat kekesalan istrinya itu, ia pun segera menyusul Sovia ke kamarnya.

____

Bersambung ....

Terima kasih sudah membaca. Doain ya semoga author bisa sembuh total dan bisa crazy up cerita ini.

Terima kasih juga atas perhatiannya

1
caca
kayaknya pelaku kecelakaannya pak Hendra sih
arfan
up
Anonim
Anita lu gk tau diri
Aurora Almera
lanjut kakak
Ana Uhibbuka Fillah
aku mampir thor
Ernita Anggara
thor lia kn profesor... d awal baca dy kn yg membantu si tian Al....
Ernita Anggara
mata merah jangan2 it ayah nya mira. ato saudara ayah nya mira... y kan thor
uhuuuyyy
akyuuu sukaa cerita nyaa...maachii yaa thoor...selamat..karyamu sungguh menarik..hebaatttt😍😘
uhuuuyyy
ooh ikut bahagia thoor😍😍
uhuuuyyy
semakin seru
uhuuuyyy
apakah itu kakaknya mira
uhuuuyyy
haduuh perutku mules ngekek aja
uhuuuyyy
uhuuyyyyu coo cuiiit ..anita n willy😘😘😍😍
uhuuuyyy
haizzzh pasti modus ini si mira n liana n kevin🤭
uhuuuyyy
papa hendra mau menguasai harta keturunan welfin kyk nya
uhuuuyyy
pasti dalang di balik pertengkaran paman Al rachel dan ayahnya welfin adalah papa hendra..
uhuuuyyy
waah pak hendra gk beres niich
uhuuuyyy
ikutan tegang thoor🙈
uhuuuyyy
bahagia nyaa mrk bersatu dan berkumpul lagi😍
uhuuuyyy
berati Raka putra nya tuan Al...makanya Raka sperti tuan Al bisa melihat makluk astral
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!