"Kau istriku, Laura!"
Sabiel membopong tubuh telanjang Laura. Dan membanting pelan tubuh itu di tempat tidur. Laura berteriak histeris ketika Sabiel mulai mencumbuinya kembali. Air mata sudah tak bisa ia tahan, Sabiel benar-benar membuatnya merasa ketakutan.
"Kau mungkin bisa menyentuh tubuhku Sabiel, tapi kau tidak akan bisa menyentuh hatiku." ucap Laura disela tangisnya yang semakin terdengar pilu.
Gadis itu memejamkan matanya rapat, ketika Sabiel mulai menciumi tubuhnya dengan buas.
Update setiap hari kecuali minggu.
Jangan lupa like, vote dan komen! 😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewinisme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Dua hari kemudian.
Kondisi ayah Laura semakin membaik setelah beberapa hari dirawat intensif di rumah sakit. Tentu saja hal itu membuat Laura serta paman dan bibinya tersenyum lega. Hari-hari masa kecemasan mereka telah berlalu. Kini ayah Laura yang ditemani oleh anak dan adiknya yang tak lain paman Laura, tengah bersiap-siap untuk kembali pulang.
Laura dan pamannya tampak sibuk mengemas barang-barang, ayahnya sendiri hanya duduk tenang di kursi roda sambil memperhatikan kedua orang yang sedang merapikan barang bawaan. Bibi Laura berada di rumah, dia juga tengah sibuk menyiapkan semua kebutuhan kakak iparnya yang hendak pulang ke rumah.
Binar kesenangan terpancar jelas di bola mata coklat gelap milik Laura. Dia begitu bahagia, melihat kesembuhan ayahnya.
"Sudah selesai Laura?" tanya Ali, pamannya bertanya ketika ia sudah selesai mengepak satu barang yang akan di bawa langsung ke dalam mobil pribadinya. Dia melihat Laura masih mengepak beberapa barang lagi yang ia gabung menjadi satu.
"Sebentar paman." Laura tinggal membuat simpul tali pada bawaannya. "Nah, sudah." Laura tersenyum cerah.
Setelah melihat barang-barang yang sudah siap untuk di bawa pulang. Ali bergerak lebih dulu, dia membawa kedua barang berukuran besar di tangan kanan kirinya untuk ia taruh di bagasi mobil.
"Kau tunggulah disini bersama ayahmu. Paman bawa barang-barang ini terlebih dulu." ucap Ali ketika ia mulai melangkah keluar ruangan.
Tak berapa lama saat Ali keluar, ponsel Laura berdering. Matanya langsung melihat ponsel yang ia keluarkan dari dalam tas selempangnya. Sabiel menghubunginya.
"Halo?" sapa Laura.
"Laura, berikan aku alamat rumah sakit tempat ayahmu dirawat." ucap Sabiel tergesa di seberang sana.
"Apa?!" Laura heran.
"Berikan aku alamat rumah sakit ayahmu, Laura." Sabiel mengulang perkataannya.
"Memang ada apa?" tanya Laura penasaran.
"Aku sekarang berada di Jakarta." ucap Sabiel santai.
"Di Jakarta? Kau sedang apa disini?" Laura tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Ish, kemarin aku ada urusan di Universitas Indonesia. Aku pikir kenapa tidak sekalian saja mengunjungi ayahmu." Sabiel mencoba meyakinkan ucapannya.
Sebenarnya dia sengaja datang ke Jakarta menemui Laura. Urusan di Universitas Indonesia hanyalah alasannya saja. Berhari-hari tanpa melihat gadis itu di kelas membuatnya hampir gila menahan rindu. Ketika Laura tempo hari mengatakan ayahnya sebentar lagi akan pulang, Sabiel langsung berinisiatif untuk datang dan pulang kembali ke Bandung bersama Laura. Rencananya ia ingin ikut menginap di rumah Laura. Atau jika pun ternyata Laura tidak mengijinkan, ia akan tetap mencari hotel atau penginapan untuk ia beristirahat. Yang pasti, ia akan kembali ke Bandung dengan gadis itu.
"Matraman, nama rumah sakitnya Rumah Sakit Jantung Jakarta." Laura yang tidak memiliki kecurigaan apapun pada Sabiel, memberikan alamat rumah sakit itu. "Lekas kemari, karna kami akan segera berangkat pulang." ucap Laura kemudian.
Sabiel tersenyum senang. Perintah Laura dengan nada tegas menyentil hatinya. Dia jadi merasa kedatangannya sedang ditunggu oleh gadis itu. Setidaknya itu yang Sabiel yakini.
"Ok. Tunggu aku." ujarnya lugas.
Begitu ponsel itu dimatikan, Sabiel langsung menambah kecepatan laju mobilnya. Dia tak sabar ini bertemu dengan gadis yang berhari-hari mengusik tidurnya. Memikirkan Laura, sungguh membuatnya gundah gulana.
🍁🍁🍁
Setelah semua urusan administrasi rumah sakit yang cukup panjang, mereka langsung pulang ketika Sabiel sampai di pelataran rumah sakit. Saat tiba di hadapan ayah dan paman Laura, Sabiel hanya sempat memperkenalkan dirinya sebagai teman Laura di Bandung. Tatapan penuh tanya tentu saja terlihat jelas dari raut wajah ayah dan paman Laura, pasalnya sosok Sabiel terlihat begitu dewasa jika dijadikan hanya sekedar teman. Namun karna saat itu mereka hendak bergegas pulang, baik paman atau pun ayah Laura tidak mengajukan pertanyaan apapun pada Laura atas kehadiran lelaki dewasa nan tampan yang hendak ikut pulang bersama mereka.
Kelelahan langsung menyergap Laura sore itu. Dia bersama pamannya dan di bantu oleh Sabiel baru saja selesai menurunkan semua barang bawaan dari rumah sakit.
Di teras rumah, kedatangan mereka langsung di sambut oleh bibi dan keponakan Laura. Pandangan kedua orang itu langsung tertuju pada sosok asing yang ada ditengah keluarga mereka.
Tanpa banyak bertanya, Dian dan Fajar segera ikut merapikan semua barang. Sedangkan Laura, setelah mempersilahkan Sabiel untuk masuk, ia mengantarkan ayahnya untuk membersihkan diri karna hari sudah sore.
"Masuk nak, anggap saja rumah sendiri. Tak perlu sungkan." ucap Dian tersenyum ramah pada Sabiel ketika mengambil barang bawaan terakhir yang dikeluarkan dari bagasi mobil.
"Iya tante, terima kasih." ucap Sabiel.
"Ayo masuk." Ali menepuk bahu Sabiel dari arah belakang. Mengajaknya masuk juga. "Laura sedang membantu ayahnya membersihkan diri dulu." sambungnya memberitahu Sabiel yang hendak duduk di kursi tamu.
Setelah dipersilahkan masuk, Sabiel ditemani paman Laura duduk di ruang tamu. Tak berapa lama Dian datang membawa sepiring kudapan sore dan minuman.
"Ayo dimakan nak?" ucap Dian berpikir sedikit ragu.
"Sabiel tante." Sabiel menjawab kebingungan wanita berusia empat puluh lima tahun di hadapannya.
"Oh Sabiel. Ayo dicoba makanannya nak Sabiel." ujar Dian hangat sembari duduk di samping suaminya.
Tak berapa lama, Laura ikut bergabung di ruang tamu. Dia datang bersama ayahnya yang duduk di kursi roda. Ayah Laura bersikeras ingin menemui Sabiel, lelaki yang tadi memperkenalkan diri sebagai teman anaknya. Padahal Laura sendiri sudah melarang karna khawatir ayahnya kelelahan sehabis di perjalanan tadi.
Setelah mendekatkan kursi roda ayahnya dengan tempat paman dan bibinya duduk, Laura berjalan untuk mengambil tempat di seberang meja, bersebelahan dengan posisi duduk Sabiel. Sabiel tampak gugup dikelilingi oleh keluarga Laura, ia merasa seperti sedang berada di ruang interogasi dengan petugas-petugas yang akan mencecarnya dengan banyak pertanyaan.
"Nak Sabiel kenal dimana dengan Laura?" pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Rama, ayah Laura lah yang mengawali obrolan sore itu.
"Kenal.. Kenal di kampus om." jawab Sabiel canggung.
Rama beserta adik dan adik iparnya melihat kecanggungan itu dari bibir dan raut muka Sabiel yang tampak kaku. Mereka tersenyum lembut menatap lelaki itu.
"Tidak perlu canggung, panggil ayah saja." Rama mencoba menenangkan kegugupan Sabiel. "Teman-teman dekat Laura selalu memanggil om, ayah. Jadi nak Sabiel juga, panggil om, ayah saja." sambungnya kemudian.
"Nak Sabiel bekerja dimana?" Ali bertanya ketika menyadari pakaian yang Sabiel pakai seperti pakaian kantoran. Lengkap dengan sepatu panthopel hitam mengkilap.
"Dia itu dosen Laura, paman." ucap Laura melihat pada paman, ayah dan bibinya. "Dosen muda." sambungnya lagi ketika melihat ekspresi terkejut dari keluarganya. Sabiel yang melihat keterkejutan keluarga Laura hanya tersenyum kikuk.
"Ya ampun, dosen Laura ternyata." pekik Dian tak percaya sambil menepuk paha suaminya yang tersenyum menatap Sabiel di seberang meja.
Setelah mengetahui fakta menarik mengenai profesi Sabiel, perbincangan sore itu berlanjut dengan santai. Semua pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupannya, ia jawab dengan baik. Satu hal yang ia syukuri dari banyaknya pertanyaan yang ayah, paman, dan bibi Laura tanyakan saat itu. Bahwa tidak ada satu pun pertanyaan yang mengarah pada status pernikahannya.
Entah karna, mungkin saja keluarga Laura berpikir bahwa tidak mungkin lelaki beristri tiba-tiba datang berkunjung pada keluarga seorang gadis. Sehingga mereka merasa tidak perlu menanyakan status Sabiel yang sudah menikah atau belum. Terlebih lagi, melihat sikap Laura yang tampak nyaman dan tidak sungkan di hadapan teman lelakinya itu, Membuat keluarganya yakin bahwa tidak ada yang perlu di pertanyakan mengenai status Sabiel.
Laura tidak mungkin mengijinkan lelaki beristri untuk dekat dengannya. Itulah yang ada dalam pikiran semua keluarga Laura.
Senjakala sore itu beberapa saat lagi akan hilang dari ujung cakrawala. Warna kelabu langit bersiap akan berubah hitam.
Kudapan di meja ruang tamu itu telah habis dilahap bergantian oleh orang-orang yang berada disana. Sikap canggung dan kikuk Sabiel hilang sudah karna penerimaan keluarga Laura yang amat hangat. Sabiel jadi merasa lebih leluasa tertawa ketika ayah dan paman bibi Laura menceritakan kelucuan Laura saat masih kecil.
Sabiel juga jadi mengetahui berkat laporan bibi Laura yang mengatakan bahwa sejak Laura sekolah, sudah banyak yang menyukainya. Bahkan sampai ada lelaki yang datang ke rumah mereka di dini hari, hanya untuk memberikan Laura buket bunga segar dan satu box kecil coklat swiss. Parahnya lagi, Laura dengan cueknya mengatakan pada lelaki itu bahwa dirinya tidak bisa menerima bunga karna alergi serbuk sari. Sedangkan box coklatnya ia terima untuk ia berikan pada Fajar, keponakannya.
Semua orang di ruangan itu tertawa puas ketika bibi Laura melanjutkan cerita bahwa ia sampai harus membuat bintik bintik merah di wajah dan tangan serta kaki Laura hanya untuk membuat lelaki malang itu percaya bahwa Laura mengidap alergi serbuk sari.
"Sudah, hentikan. Itukan masa lalu, lagi pula siapa yang menyuruhnya datang dipagi buta." dengus Laura sebal mengingat kelakukan lelaki yang mengejarnya dulu.
"Ok ok, sang pelaku mulai tersinggung." ledek Dian melihat Laura mendengus sebal.
Sabiel menyeka sudut matanya yang berair menertawakan Laura. Dadanya begitu lapang dan terasa hangat berada di lingkaran orang-orang yang begitu saling mengkasihi. Matanya melihat begitu sayangnya mereka pada Laura. Begitu pun Laura, sikap manjanya yang baru disadari Sabiel saat itu membuktikan bahwa gadis itu tumbuh dengan kehangatan dan kasih sayang yang berlimpah. Sabiel merasa beruntung menjadi lelaki yang mengetahui sisi lain dari Laura yang terlihat cuek dan tegas ketika berada di kampus.
Tanpa mereka sadari, diam-diam Sabiel berkhayal, bagaimana jika Laura sampai menjadi istrinya kelak. Tentu Laura akan tumbuh menjadi istri yang penyayang nantinya. Apalagi Sabiel melihat bagaimana Laura bersikap pada semua keluarganya. Kepedulian Laura pada ayahnya, rasa khawatirnya ketika melihat bibinya tersedak kudapan, atau sikap pengayomnya ketika Fajar datang ditengah obrolan dengan mengeluh banyaknya tugas yang harus ia selesaikan dan meminta Laura untuk mengajarinya. Terlihat jelas bahwa gadis itu, begitu menyayangi keluarga kecilnya.
Sikap-sikap itulah yang membuat Sabiel semakin terpacu untuk mendapatkan Laura dan menjadikannya istri di masa yang akan datang. Sabiel butuh sikap yang ada dalam diri Laura. Sabiel ingin merasakan bagaimana disayangi, diperhatikan dan menjadi orang yang Laura pedulikan setiap hari.
"Nak Sabiel menginap saja disini." ucapan ayah Laura membangunkannya dari khayalan kecil tentang kehidupan ideal yang ia impikan bersama Laura.
"Iya. Nak Sabiel menginap saja. Nanti tidur di kamar tamu." Ali menambahkan.
"Tidak usah ayah, paman. Saya bisa menginap di penginapan saja. Terlalu merepotkan jika saya menginap disini." Sabiel pura-pura menolak, padahal di dalam hatinya ia bersorak senang menanti-nanti hal itu.
"Iishhh, merepotkan apa. Teman Laura tidak ada yang merepotkan." Dina menimpali. "Laura, siapkan kamar tamunya sana." Dina langsung menyuruh Laura memeriksa kamar tempat Sabiel akan menginap.
Laura berdiri dari duduknya,
"Menginap saja." ucapnya tersenyum hangat ketika melintasi tempat duduk Sabiel dan menatap bola mata Sabiel yang mendongah melihat dirinya yang berdiri dekat dengan Sabiel.
🍁🍁🍁
Hai, para kesayangan.
Biar enak membayangkan ceritanya, nih Author kasih gambaran tokoh Sabiel dan Laura.
Jangan ngambek kalo ga sesuai selera yaaa.. 😉😉