NovelToon NovelToon
PUTRI TERKUTUK DAN KESATRIANYA

PUTRI TERKUTUK DAN KESATRIANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Tiga tahun setelah perang besar melawan Abyss, dunia tak pernah benar-benar pulih.

Retakan neraka muncul di berbagai penjuru benua, memuntahkan monster, iblis, dan roh-roh jahat yang merasuki manusia.

Rowan Desmond, kesatria terkuat dari Kerajaan Aurelius telah menghabiskan tiga tahun memburu petaka yang tak kunjung berakhir.

Sampai suatu malam Rowan menangkap seorang pencuri bernama Cecilia Landon yang mencuri relik kuno milik kerajaan. Namun Cecilia menyimpan kemampuan besar, dimana ia dapat melihat roh, mendengar bisikan arwah, dan memurnikan kegelapan yang sangat dibutuhkan oleh Rowan.

Rowan akhirnya membuat sebuah perjanjian; Ia akan membantu Cecilia mengumpulkan relik-relik yang diburunya. Sebagai gantinya, Cecilia harus membantu Rowan menghadapi roh-roh yang mengancam seluruh benua.

Namun semakin jauh perjalanan mereka, semakin banyak rahasia yang terkuak, tentang Cecilia yang ternyata terkutuk.

Akankah mereka mampu menyelamatkan dunia atau justru kehilangan satu sama lain

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10. KERASUKAN

"Mati?" gumam Rowan ketika mendengar bisikan penuh ejekan itu.

Rowan langsung kembali menatap Cecilia dan gestur yang sedikit panik, takut kalau bisikan itu akan jadi nyata.

Cecilia masih sama seperti sebelumnya, tidak berkedip, bergerak, atau merespon. Seolah jiwanya tidak lagi berada di dalam tubuhnya.

"Cecilia?!"

Rowan langsung memegang kedua pundak gadis itu. Mengguncang sang gadis untuk menyadarkannya.

"Cecilia! Tatap aku! Cecilia, sadarlah!" seru Rowan.

Tetap tidak ada jawaban. Hanya air mata yang terus mengalir dalam tangis tanpa suara sang gadis.

Jantung Rowan langsung berdegup keras. Ia belum pernah melihat seseorang ketakutan seperti ini.

Bahkan prajurit yang menghadapi medan perang paling mengerikan pun tidak pernah menunjukkan ekspresi seperti Cecilia saat ini.

Garrick yang melihat keadaan itu langsung memucat.

Tidak, Nona. Jangan lagi. Kutukan itu kembali datang, batin Garrick penuh kekhawatiran.

"Ambil loncengnya! Pergi ke barak! Ambil lonceng Nona Cecilia! Sekarang juga!" teriak Garrick mendadak ke arah pintu, tertuju pada bawahannya.

Salah satu bawahan Garrick yang tahu maksud pria itu kini langsung berlari keluar.

Rowan menatap Garrick dan bertanya, "Apa yang terjadi? Kau tahu yang terjadi pada Cecilia?"

Garrick tidak langsung menjawab. Wajah pria itu tampak suram.

"Semua pelayan keluar," perintah Garrick.

"Apa?" Rowan bingung.

"Keluar sekarang!" Nada suara Garrick begitu tegas hingga para pelayan langsung mundur ketakutan.

Rowan masih belum mengerti.

Garrick menunjuk pintu dan berkata pada pelayan dan kesatria yang ada di sana, "Jauh dari ruangan ini. Tidak ada yang masuk sampai aku mengizinkan."

Para pelayan segera pergi menjauh, namun tetap berada di koridor karena takut sang empunya rumah membutuhkan mereka.

Rowan kembali menatap Cecilia. Gadis itu masih sama dengan tatapan kosong penuh ketakutan.

"Apa yang terjadi padanya?" tanya Rowan sekali lagi.

Garrick menghela napas panjang untuk menenangkan diri, lalu menjawab dengan suara berat. "Kutukan."

Rowan mengernyit. "Kutukan?"

"Ya," jawab Garrick cepat.

"Kau tidak pernah memberitahuku hal sepenting ini," protes Rowan.

"Karena Nona tidak suka membicarakannya dan juga aku sempat lupa memberitahumu," jawab Garrick jujur.

Rowan memandang Garrick tajam. "Jelaskan," tuntutnya.

Keheningan sejenak memenuhi ruangan. Lalu Garrick berkata perlahan. "Ada entitas bernama Madness. Makhluk yang hanya bisa dilihat oleh Nona Cecilia, dan saat ini entitas itu pasti ada di ruangan ini."

Rowan membeku mendengar hal itu.

"Sejak tiga tahun lalu. Sejak Nona membuka Gerbang Arwah terbuka. Madness selalu memburu Nona. Selalu mengusiknya siang atau pun malam. Kapan pun dan di mana pun. Makhluk itu menginginkan tubuh Nona karena tubuh Nona cukup kuat untuk menampung roh sebesar Dewa sekali pun," beritahu Garrick.

Rowan menatap Cecilia, lalu kembali kepada Garrick.

"Maksudmu kerasukan?" konfirmasi Rowan.

"Lebih buruk." Garrick menggertakkan rahangnya. "Ketika Nona memasuki Gerbang Arwah, tubuhnya terkontaminasi oleh kematian itu sendiri. Roh-roh jahat. Iblis. Makhluk dari sisi dunia lain. Semuanya menginginkan tubuhnya. Mereka ingin menggunakan tubuh Nona sebagai wadah agar bisa hidup di dunia. Dan Madness adalah salah satunya yang terobsesi dengan Nona. Dia adalah anak iblis yang ingin berkuasa dan menebarkan teror di dunia ini."

Ruangan mendadak terasa sunyi.

Rowan kembali melihat Cecilia. Dan tiba-tiba banyak hal mulai masuk akal; kenapa gadis itu selalu tampak kelelahan. Kenapa terkadang ia terlihat menyimpan ketakutan yang begitu dalam. Kenapa matanya sering menunjukkan kesedihan yang tidak bisa dijelaskan.

Karena selama ini Cecilia berperang sendirian. Setiap hari setiap waktu. Melawan sesuatu yang bahkan tidak bisa dilihat orang lain.

"Bagaimana cara menyembuhkannya?" tanya Rowan cepat.

Garrick menunduk. "Tidak bisa."

Jawaban itu membuat Rowan langsung menegang.

"Apa?"

"Tidak bisa. Itu bukan penyakit, bukan racun atau luka yang ada obatnya. Itu adalah kutukan abadi," jawab Garrick dengan wajah seperti ingin menangis.

Wajah Rowan mengeras.

Garrick melanjutkan, "Suatu hari Nona pernah bertemu roh tua yang keluar dari Gerbang Arwah. Roh itu mengatakan sesuatu. Bahwa separuh jiwa Nona masih berada di dalam Gerbang Arwah."

Rowan membelalak. "Jiwanya ada dalam gerbang arwah?!"

Garrick mengangguk pelan. "Satu-satunya cara agar Nona bisa selamat adalah mengambil kembali bagian jiwanya yang hilang. Jika tidak Madness akan terus memakan kewarasannya. Sedikit demi sedikit. Dan waktu Nona tidak banyak lagi."

Rowan merasa dadanya diremas. "Berapa lama?"

Garrick memejamkan mata. "Hanya kurang dari dua tahun."

Dunia seolah berhenti saat Rowan mendengar bahwa kematian gadis ini seolah sudah ditentukan.

Rowan menatap Garrick dengan penuh ketidakpercayaan. Berharap ini hanya candaan semata.

Namun Garrick tidak sedang bercanda.

Tidak mungkin gadis yang berdiri di hadapannya kemarin, yang masih tersenyum dan berdebat dengan Rowan memiliki waktu hidup sesingkat itu.

"Kenapa dia justru terlihat baik-baik saja dengan kematian di depan mata seperti itu?" gumam Rowan.

Garrick tersenyum pahit. "Karena Nona tidak ingin dikasihani. Nona bukan hanya ingin menyelamatkan kerajaannya. Nona juga ingin hidup. Tidak ada manusia yang tidak takut pada kematian. Terlebih jika kau tahu kapan kematianmu akan datang. Semakin dekat waktunya justru akan semakin menakutkan."

Rowan tidak menjawab karena ia benar-benar memahami beban yang selama ini dipikul Cecilia.

Tak lama kemudian suara langkah kaki terdengar.

Kesatria yang dikirim Garrick kembali. Di tangannya terdapat benda kayu panjang yang dihiasi banyak lonceng kecil.

Lonceng-lonceng emas itu menggantung indah melingkari tongkat kayu tersebut. Mirip alat ritual para gadis kuil kuno. Setiap gerakannya menghasilkan bunyi nyaring yang jernih.

Garrick langsung mengambilnya. "Semoga ini masih berhasil."

Garrick berdiri di samping tempat tidur. Mengangkat alat itu, lalu mulai membunyikannya.

Cing!

Cing!

Cing!

Cing!

Suara lonceng memenuhi ruangan, lembut. Namun memiliki gema aneh. Seakan mampu menjangkau tempat yang tidak terlihat manusia.

Garrick terus menggoyangkannya.

Semakin cepat.

Semakin keras.

Cing!

Cing!

Cing!

Cing!

Cing!

Dalam dunia ilusi Madness tiba-tiba berhenti tertawa. Wajahnya berubah marah. Kabut hitam di sekelilingnya mulai bergetar.

Suara lonceng terdengar dari kejauhan.

Madness menoleh dengan raut murka.

"Tidak! Siapa yang mengangguku! Sedikit lagi! Sedikit lagi aku akan mendapatkannya!" raung Madness.

Suara lonceng semakin dekat dan jelas

Retakan cahaya mulai muncul di dunia ilusi.

Madness menjerit. Jeritan yang mengerikan dan penuh kebencian.

"Kau milikku!"

"Kau milikku!"

"Kau milikku!"

Namun cahaya terus membesar membelah dunia. Menghancurkan ilusi hingga pekatnya kabut. Mengusir bayangan dan ketakutan.

Dan akhirnya semuanya pecah seperti kaca.

Cecilia terbatuk keras.

"Khuk!"

Tubuh sang gadis membungkuk.

"Khuk! Khuk!"

Cecilia terengah-engah seperti orang yang baru diseret keluar dari sungai setelah tenggelam.

Udara memenuhi paru-parunya. Matanya berkedip untuk mencoba fokus perlahan kembali.

Lalu sang gadis melihat ruangan untuk memastikan keberadaannya.

Ia sadar dari dunia ilusi. Dunia mulai kembali, ruangan yang dingin mulai menghangat.

Namun sesaat kemudian air mata kembali mengalir di gadis itu. Kali ini lebih deras karena rasa takut itu masih ada. Ilusi itu masih terasa nyata. Semuanya masih membekas di kepalanya.

Cecilia menunduk, lalu menangis. Tangisan seorang gadis yang sudah terlalu lama memikul beban sendirian.

Tanpa berkata apa pun. Rowan duduk di pinggir tempat tidur. Perlahan dan hati-hati seolah mendekati burung kecil yang terluka. Lalu ia menarik Cecilia ke dalam pelukannya.

Cecilia tidak melawan, tidak menolak. Karena saat ini ia terlalu lelah akan rasa takut. Ilusi Madness semakin hari semakin kuat untuk Cecilia hadapi.

Rowan mengusap punggung sang gadis perlahan. Gerakan yang stabil dan menenangkan.

"Sudah. Kau aman. Kau baik-baik saja." Rowan terus mengusap punggungnya. "Tidak ada yang akan menyakitimu di sini."

Tangisan Cecilia bergetar. Tubuhnya gemetar di dalam pelukan itu.

Rowan mengangkat satu tangan.

"Garrick?" panggil Rowan.

"Ya."

"Minta pelayan membawa air dan teh penenang. Segera," perintah Rowan.

Garrick mengangguk lalu pergi mengurusnya.

Sementara Rowan tetap di sana. Tidak melepaskan Cecilia sama sekali.

Tangisan gadis itu perlahan memenuhi ruangan yang kini sunyi.

Rowan mengusap rambut pirang platinum Cecilia, seperti mencoba menghapus semua ketakutan yang baru saja dialaminya.

Meski Rowan tahu itu mustahil. Karena ia tidak tahu apa yang dilihat Cecilia. Tidak tahu seperti apa ilusi yang menghancurkannya atau pun monster seperti apa yang terus memburu gadis itu setiap hari.

Namun satu hal yang Rowan ketahui; Rowan tahu betapa menakutkannya sebuah kematian itu. Ia sudah mengalaminya ketika harus dihadapkan kehilangan orang terpenting dalam hidup Rowan.

Cecilia terdiam dalam tangisnya.

"Kematian tidak akan mengambilmu. Tidak selama kau berada dalam perlindunganku, Cecilia," ucap Rowan yang kini menjadi sumpahnya sebagai seorang kesatria.

Cecilia perlahan mengangkat wajahnya. Mata birunya yang basah menatap Rowan, lalu ia melihat wajah Rowan yang luat biasa sedih seolah air mata akan tumpah di wajah Kesatria nomor satu itu.

"Kematian siapa yang sudah kau lihat sampai kau memasang wajah seperti ini?" tanya Cecilia.

"Seseorang yang mengenalku sejak kecil, dan dia meninggal karena kebodohanku," jawab Rowan yang kini juga diliputi duka.

Cecilia menatap Rowan tanpa berkata apa pun, lalu melihat ke belakang Rowan. Roh pria paru baya yang menatap Rowan dengan penuh kesedihan. Roh yang selalu mengikuti Rowan seperti bayangan.

1
Nisfu Romadhon
Rowan kah yang memanggil?
serius,,, seperti nonton film kolosal,,, KEREN k Othor,,, lopiyu muachh /Kiss/
Nisfu Romadhon
aduh,,,aduh,,, gimana ini gimana ini,,,/Gosh//Gosh//Gosh/menghilanglah Cecil,,,🫣🫣🫣
Nisfu Romadhon
aihh,,, merinding guys,,,/Panic//Panic//Panic/
Nisfu Romadhon
aisshh,,,gegara kesibi duta,,,aku telat tegang nya /Facepalm/
Siti Nurjanah
oh berati arwah yg ngikutin rowan itu paman colton mungkin
Archiemorarty: Bisa jadi 🤭
total 1 replies
Hary Nengsih
kaya nya ia
Eli Rahma
apa cecil dirasuki roh nya paman colton..hingga dia bisa menghadapi monster....cecil kan pernah melihat satu roh yg selalu mengikuti Rowan....iyaaa..pasti itu rohnya paman colton..iyaa kan thor??😆
Archiemorarty: Bisa jadi 🤭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
cari in jodoh nya Evan k Othor,,, please /Whimper//Whimper//Whimper/
Archiemorarty: Abis Rowan ntar buat Evan yak 🤭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
siapa si pengkhianat ini?🤔
Hary Nengsih
yg d imcar cecilia kayanya
Archiemorarty: Yeps 🤭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
wow,,, Great Job Lowan👏👏👏/Kiss//Kiss//Kiss/
Nisfu Romadhon
ehh pak Diego,,, logikanya ya kalo Lowan suka sama Joanna,,dia g akan nunggu hari ini datang bersama Cecilia pasti dari dulu sudah bersama Joanna paling tidak bertunangan,,,ya g netizens 🤔,,, berhubung Lowan g suka sama anakmu Yo wes tho terima nasibmu /Chuckle//Chuckle//Chuckle/
Archiemorarty: Nggak mau terima dia makanya begitu 🤭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
udah nasibnya orang ganteng digilai cewek-cewek lah ya /Drool//Drool//Drool/
Archiemorarty: Hooh 🤭 mana kaya lagi
total 1 replies
Nisfu Romadhon
aisshh,,, horor banget ini mah🫣
Archiemorarty: Fantasy horor kali ini tema nya 🤭
total 1 replies
Eli Rahma
serem bgt mbayanginya...
Jelita S
lanjut thor 😍
Archiemorarty: Siap kakak 🥰
total 1 replies
Eli Rahma
eaaalaahhh main tiyum² ajaaaaa..😅
Jelita S
eh si Rowan udah main cium2 z nih😄
Eli Rahma
cieeeee..Lowan..udah menyatakan tinta nih ceritanyaaa..🥰🥰🥰
Archiemorarty: Gx mau ketinggalan dia 🤭
total 1 replies
Eli Rahma
syukurlah cecillia sadar..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!