NovelToon NovelToon
Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Romansa Fantasi / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat

Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.

Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.

Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.

Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8. dunia baru dan masalah baru

Tulisan besar yang muncul di langit perlahan memudar dan berubah menjadi butiran cahaya kecil yang berterbangan seperti kunang-kunang, lalu masuk ke dalam dada setiap orang yang ada di sana. Rasanya seperti ada energi hangat yang mengalir ke seluruh tubuh, membuat semua orang merasa lebih kuat, bahagia, dan… benar-benar hidup.

Zarek masih melompat-lompat kegirangan, sambil memegang pedangnya yang kini berubah menjadi lebih cerah dan berkilau. “Wah! Rasanya sungguh luar biasa! Dulu gerakanku terasa seperti diatur, tapi sekarang aku bisa bergerak sesuka hati! Lihat ini, aku bisa melompat setinggi separuh istana!”

Belum sempat Leon melarangnya, Zarek sudah berlari kencang dan melompat setinggi menara istana. Ia benar-benar melayang di udara sambil berteriak senang, lalu bukannya jatuh, ia mendarat dengan sangat mulus di atas air mancur. Ia berdiri tegak sambil menyeka wajahnya yang basah terkena percikan air.

“LIHAT! HEBAT KAN AKU?!” teriaknya sambil tersenyum lebar.

Para penjaga dan penasihat yang tadinya terlihat kaku kini tertawa terbahak-bahak melihat tingkahnya. Bahkan Raja Eldrin pun ikut bertepuk tangan sambil tertawa lepas untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, wajahnya kembali terlihat cerah.

Liora yang berdiri di samping Leon menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. “Dasar Zarek… memang kelakuannya tidak pernah berubah. Tapi aneh rasanya… dulu sifat cerobohnya itu karena kau tuliskan, tapi sekarang ia ceroboh karena memang itu pilihannya sendiri. Rasanya terasa jauh lebih… asli.”

Leon mengangguk sambil mengamati sekeliling. Istana yang tadinya sunyi senyap kini berubah menjadi sangat ramai. Penghuni istana, prajurit, pelayan, semuanya saling mengobrol, tertawa, dan bertukar kabar. Ada yang mencoba membuat hiasan baru, ada yang berlatih sihir, dan ada pula yang bernyanyi. Dunia ini kini benar-benar hidup, dan Leon merasa sangat bangga bisa menjadi bagian dari semuanya.

Valgus yang sedang bersandar santai pada sebuah tiang besar tiba-tiba bersuara dengan nada datar: “Memang hebat kau bisa membuat mereka bahagia. Tapi jangan kira semuanya sudah selesai dan akan damai selamanya. Dunia ini sangat luas, Penulis. Dan karena kau telah memberikan mereka kebebasan… berarti sekarang mereka juga bisa menimbulkan masalah atas kehendak mereka sendiri.”

Jantung Leon terasa berhenti berdetak sejenak. “Hah? Apa maksudmu?”

Belum sempat Valgus menjawab, tiba-tiba terdengar suara teriakan panik dari arah gerbang utama. Seorang penjaga berlari tergopoh-gopoh memasuki halaman istana dengan napas yang terengah-engah.

“TUAN RAJA! TUAN PUTRI! TERJADI KERUSUHAN… ADA KERUSUHAN DI PASAR PUSAT KOTA! DAN… ADA SESEORANG YANG MENGAKU DIRINYA SEBAGAI RAJA BARU DI WILAYAH SELATAN! KATANYA IA TIDAK MAU LAGI DIPERINTAH OLEH ISTANA!”

Seluruh orang yang hadir langsung terdiam dan menatap penjaga itu dengan wajah terkejut.

Raja Eldrin mengerutkan kening, namun tidak terlihat marah justru terlihat penasaran. “Benarkah? Ada yang berani mengaku raja baru? Berani juga ia. Siapakah dia?”

“Menurut kabar… namanya Pak Tani Joko,” jawab penjaga itu sambil menggaruk kepalanya yang tampak bingung. “Dulu ia hanyalah seorang petani biasa yang kau tuliskan sebagai ‘pria yang rajin bertani’, namun sekarang ia dikabarkan memiliki pasukan yang terdiri dari sesama petani. Ia berencana membagikan tanah dan hasil panen secara cuma-cuma kepada seluruh rakyat tanpa memungut pajak! Banyak warga yang menyukainya, sehingga tidak sedikit yang ikut mendukungnya!”

Leon langsung menepuk dahinya. Pak Tani Joko! Ya ampun, ia benar-benar ingat tokoh itu! Dulu dalam tulisannya, ia hanyalah tokoh tambahan yang hanya disebutkan dalam satu paragraf saja, sekadar untuk menjelaskan bahwa di wilayah selatan terdapat ladang padi yang luas. Leon hanya menulis: “Di selatan tinggal seorang petani bernama Joko, ia sangat rajin dan berharap agar semua orang bisa hidup kenyang.”

Ia mengira itu hanya sekadar kalimat pelengkap! Ternyata sekarang pria itu justru menjadi pemimpin pemberontak berkat kebebasan yang telah ia berikan!

Liora menatap Leon sambil menahan tawa melihat ekspresi terkejutnya. “Leon… kau dengar kan? Pak Tani Joko ingin menjadi raja. Ia benar-benar mewujudkan apa yang diinginkannya: membuat semua orang hidup kenyang. Hanya saja caranya berbeda dengan aturan yang berlaku di istana.”

“Lalu kenapa bisa terjadi kerusuhan di pasar?” tanya Zarek sambil melompat turun dari atas air mancur, sudah siap untuk bertindak.

“Di pasar… terjadi perselisihan dengan seorang penjual kue,” lanjut penjaga itu. “Dulu kau tuliskan bahwa kue yang dijual di sana rasanya sangat lezat dan berharga mahal. Namun sekarang ada pembeli yang merasa kuenya terlalu manis, ada pula yang menganggapnya kurang manis, dan ada yang meminta dibuatkan rasa baru. Penjualnya menjadi marah dan berkata, ‘Ini adalah kue asli dengan resep dari Sang Penulis, tidak boleh diubah!’ Pembeli pun ikut marah dan menjawab, ‘Kami bebas meminta rasa apa saja yang kami inginkan!’ Akhirnya mereka saling berdesak-desakan dan bertengkar menggunakan kue!”

Leon tertegun dan tidak mampu berkata-kata. Ternyata ini adalah babak baru yang sesungguhnya! Dulu masalah muncul karena tulisannya yang tidak jelas, namun kini masalah muncul karena setiap orang memiliki keinginan masing-masing dan pendapat yang berbeda!

Valgus tertawa kecil suaranya berat namun terdengar antusias. “Sudah kubilang bukan? Damai bukan berarti tidak ada masalah. Sekarang masalahnya bukan lagi karena tulisanmu yang berantakan, melainkan karena mereka memiliki kehendak sendiri. Ini adalah masalah… makhluk hidup. Menarik, bukan?”

Raja Eldrin berdiri tegak, menatap kami semua dengan semangat yang terpancar dari matanya. “Anak-anak… sepertinya kedamaian abadi yang kita impikan tidak akan pernah ada, ya. Namun justru hal itulah yang membuat hidup menjadi menarik. Ada yang ingin menjadi raja, ada yang ingin membuat kue yang lezat, ada yang menginginkan ini, ada yang menginginkan itu. Liora, Zarek, Leon, Valgus… maukah kalian membantuku menyelesaikan ‘masalah kebebasan’ ini?”

Liora tersenyum lebar, matanya berbinar cerah. “Tentu saja, Ayah! Ini adalah petualangan baru, bukan? Lebih seru daripada sekadar melawan penjahat biasa!”

Zarek langsung mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. “SIAP! AKU SIAP MENANGANI PAK TANI JOKO DAN PASUKAN PETANINYA! AKU AKAN BERBICARA DENGAN BAIK-BAIK… JIKA MEREKA TIDAK MAU MENDENGAR, BARU AKU AKAN MEMBUAT MEREKA MENYERAH DENGAN CARA YANG ADIL!”

Valgus berjalan menuju gerbang, jubahnya berkibar gagah. “Aku akan pergi ke pasar saja. Menyelesaikan pertengkaran yang menggunakan kue memang terdengar konyol, namun bisa berujung pada kekacauan besar jika dibiarkan. Lagipula aku penasaran, rasa kue seperti apa yang bisa membuat orang bertengkar?”

Semua mata kini tertuju kepada Leon. Ia penulis yang dulu sering menimbulkan kekacauan kini menjadi penengah dalam masalah yang lahir dari kebebasan.

Leon menarik napas panjang, tersenyum lebar, lalu mengangkat buku catatannya ke atas. Halaman-halaman buku itu kini tidak lagi kosong, melainkan penuh dengan tulisan cerita, gambar, dan catatan kecil namun kali ini semuanya tersusun rapi, jelas, dan penuh makna.

“Baiklah, kawan-kawan!” serunya dengan penuh semangat. “Ternyata ceritanya belum berakhir! Justru ini adalah awal yang benar-benar seru! Dulu akulah yang mengatur kalian, namun sekarang kita akan berjalan bersama menghadapi dunia yang hidup ini! Kita akan pergi ke selatan menemui Pak Tani Joko, menyelesaikan masalah kue di pasar, dan menjelajahi seluruh dunia untuk melihat apa saja yang telah mereka ciptakan sendiri!”

Leon menuliskan baris baru di halaman paling depan bukunya dengan huruf yang besar dan jelas.

BAB BARU: DUNIA YANG BEBAS & PETUALANGAN TANPA SKENARIO

“AYO BERANGKAT!” teriak Leon, lalu langsung berlari mendahului menuju gerbang, mengikuti langkah Valgus yang sudah mulai berjalan keluar.

Liora berlari di samping Leon, rambutnya melambai tertiup angin sambil tersenyum cerah. “Leon… kau tidak takut lagi, kan? Takut menulis hal yang salah atau menimbulkan masalah?”

Leon menatap Liora, lalu menoleh ke langit biru yang luas, dan akhirnya menatap teman-temannya yang berjalan di sampingnya.

“Tidak lagi, Liora,” jawabnya dengan tulus. “Sekalipun ada masalah, kita akan menyelesaikannya bersama-sama. Sekalipun ada kesalahan, kita akan memperbaikinya bersama-sama. Karena sekarang ini bukan lagi hanya ceritaku… ini adalah cerita kita semua. Dan cerita yang ditulis bersama-sama pasti akan menjadi cerita paling luar biasa di dunia!”

Kami berlima. sang Penulis, Putri Kerajaan, Ksatria Perkasa, Penjaga Dunia, serta segala hal unik yang ada di antara kami. berjalan melintasi gerbang istana, memasuki dunia yang luas, penuh warna, penuh kejutan, dan banyak hal yang belum pernah Leon bayangkan sebelumnya.

Di belakang kami, tepat di atas gerbang istana, sebuah tulisan baru perlahan muncul.

CERITA BELUM TAMAT. SELAMA MASIH ADA YANG BERKARYA, BERKELANA, DAN BERJUANG… CERITA AKAN TERUS BERJALAN.

Dan jauh di ujung selatan, di tengah hamparan ladang padi yang hijau subur, seorang pria bertopi caping lebar berdiri di atas sebuah batu besar, diikuti ribuan petani lain yang membawa arit dan cangkul. Ia menatap ke arah utara, ke arah istana, sambil tersenyum penuh tekad.

“Bersiaplah… Raja dari Istana Cahaya… Pak Tani Joko datang untuk menetapkan aturan baru tentang kenyang dan keadilan!” bisiknya pelan, lalu tertawa lepas.

Petualangan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan ia ...Leon si Penulis Ceroboh yang kini telah tumbuh menjadi Penulis Sejati. siap menuliskan setiap halamannya dengan tinta pengalaman dan kebersamaan.

1
Sarah
Ini karya yang bagus sih, Kak Anggita. Aku suka sama pesan tentang menerima takdir dan Leon yang akhirnya sadar tempatnya itu di dunia nyata. Aku juga suka sama endingnya yang kerasa adem banget terus penuh dengan pesan saling memaafkan juga. Aku juga suka sama proses tentang sihir Reza itu yang akhirnya beneran ditunjukkan awal mulanya. Saran aku sebagai pembaca bener-bener ditampung dan dipertimbangkan. Ceritanya santai dan ringan banget. Aku pasti bakal rate sih, Kak. Meski bukan sekarang. 👍
Sarah
Nah ’kan~
Aku sudah mencium baunya. /Doge/
Sarah
Laki-laki juga boleh nangis, kok. Kalian kan juga manusia. Cuma turun-turunin ego aja~
(Dan jangan di tempat umum juga sih~) 😌
Sarah
Ia, tempatmu di sini, Leon. Kecuali kalau kamu bener-bener mati di dunia nyata terus isekai. Jodohmu cari yang satu dimensi aja. 😂
Sarah
Sejak awal juga sebenarnya aku bingung...
Nanti kalau Leon jadi sama Liora... gimana??
Tinggalnya dimana?
Terus kalaupun ada jembatan antara dua dunia... bingung juga sih...
maksudku...
Di dunia cerita dia beristri, putri dari kerajaan cahaya pula.
Sementara di dunia nyata ibu-ibu masih suka nanya, “Leon kapan nikah?” 😭
Sarah
Baru tau kekuatan dukun bisa untuk isekai... mau juga dong... 😭
Sarah
Meskipun aku kritik bukan berarti aku benci yah.
Semangat yah, aku kasih 2 bunga deh./Rose/👍
Sarah
Sayangnya kematian Liora masih terasa kurang emosional. Kurang pendalaman emosi sama reaksi karakter lain (selain Leon. Zarek, Valgus, Raja, semuanya juga orang terdekat Liora. Padahal mereka orang yang bahkan lebih lama bersama Liora, Tapi yang di highlight paling terpukul... Leon doang. Zarek reka Liora sejak lama, Valgus... dulunya musuh tapi sekarang temannya juga, Raja... ya... bayangin aja, putri kesayangan lu satu-satunya mati di hadapan lu. Harusnya yang paling terpukul gak cuma Leon doang. Reaksi karakter lain gak langsung tegar dan suruh Leon balik. Masih ada tahap renungan dulu pasca tubuh Liora memudar.)
Mana scene pas matinya itu kayak masih berada cepet banget.
Paling kekurangan besar cerita ini... dramanya sih.
(Ya... lain kali aja aku jabarkan lebih jelas soal ini.)
Sarah
Aku jadi bertanya-tanya lagi, Leon ini sebenarnya penulis hebat atau amatir sih? Kalau di bilang yang udah jago rasanya gak mungkin deh. Karena ya... dunia cerita dia ajak se-gak jelas itu. Dan jujur tokoh-tokoh di dunia ceritanya Leon masih kerasa kaku kurang natural dan ada vibe klise nya juga. Tapi, dipuji guru yah?... bagus dong tulisannya.
Atau apakah gini...
Tulisan yang dimaksud kayak tulisan yang tugas-tugas gitu, tapi kalau buat nulis novel masih belum...?
Sarah
Gue pikir bakal di bogem. Untung kagak. Biasanya kan gitu di cerita-cerita film/novel. 😂
Ya... meskipun emang salah, kalau dia langsung nge-bogem juga Dimas jadi ikutan salah. Bayangin aja baru bangun, masih di RS, terus dipukul. /Facepalm/
Sarah
Kamu masih punya ortu dan temen-temenmu, Leon...
Sarah
Wait, meskipun aku gak terlalu sedih sih tapi... agak gak nyangka juga dia bakal mati sekarang. 😦😮
Sarah
Jangan lupa mie instan, Bang~ 😌
Sarah
Mon maap, Leon udah berapa hari di dunia cerita yah? Takut gak bisa balik eyy. Asaan udah lamaa. /Scowl/
Sarah
Nama, thor. Biasakan huruf awal kapital.
Sarah
Masa selamanya? Nanti layu dong. 😂
Wulandari Ayuningtyas
Semangat thor💪
Ananda Anggit: semangat💪💪
total 1 replies
Sarah
Kalau menurutku... Bimo emang gak sejahat itu sih, dia iri aja itu mah. Coba pikirin deh, 5 tahun koma... tidak sadarkan diri, titik paling tak berdaya, itu bukan waktu yang singkat lho. Dalam jangka waktu itu kalau Bimo mau, dia bisa aja bunuh Leon. Diam-diam tinggal cabut alat-alat rumah sakit yang ada badannya, atau bisa lewat cara apa aja asal diam-diam. Udah deh, bisa wassalam itu Si Leon. Tapi meski 5 tahun, tapi dia gak ada niatan bunuh Leon. Padahal itu waktu yang panjang banget untuk merencanakan sesuatu...
Sarah
Tapi, aku masih bertanya-tanya... soal Leon yang awalnya ingetnya dia anak kost dan sebelum masuk cerita dia lagi di kamar kost-an. Padahal nyatanya dia sama sekali gak pernah nge-kost?
Sarah
Nah, mulai lebih make sense nih. Good job. 👍😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!