Di sudut kota Bogor yang basah oleh hujan, Farrel (22 tahun) hanyalah seorang supir angkot jurusan Baranangsiang–Bubulak yang hidupnya di ujung tanduk.
Setiap hari ia harus menahan lapar, dicaci maki oleh kernet lain, difitnah mencuri uang setoran oleh mandor pangkalan, dan puncaknya: diputuskan oleh kekasihnya karena tidak mampu membelikan kuota internet. Modal hidupnya setiap hari setelah setoran hanyalah sebungkus nasi rames karet dua dan sebatang rokok eceran.
Namun, sebuah insiden pengeroyokan oleh oknum ormas di Terminal Baranangsiang mengubah takdirnya. Saat sekarat, sebuah suara mekanis bergema di otaknya: [Sistem Afeksi Kekayaan Berhasil Diaktifkan].
Sistem ini memberikan Farrel saldo tak terbatas, namun dengan syarat gila: uang tersebut hanya bisa digunakan untuk membiayai atau membelikan barang untuk wanita yang memiliki potensi afeksi (rasa suka) terhadapnya. Setiap kali persentase Favorability (tingkat kesukaan) wanita tersebut naik, saldo pribadi Farrel akan berlipat g
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 2
"Lepas! Sialan, tangan lu terbuat dari besi apa, hah?!"
Dika menjerit, wajahnya yang sangar kini berubah pucat menahan rasa sakit.
Cengkeraman Farrel di pergelangan kakinya terasa seperti tangan baja yang siap meremukkan tulang.
Bang Jay dan satu anggota ormas lainnya, Dani, tertegun di tempat. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Farrel si supir angkot ringkih yang biasanya pasrah menerima makian dan tendangan kini berdiri tegak dengan tatapan mata yang begitu mengintimidasi.
Aura di sekitar tubuh Farrel mendadak terasa dingin dan menekan, membuat bulu kuduk mereka meremang di tengah gerimis Bogor yang kian menderu.
Brak!
Tanpa membuang kata, Farrel menyentakkan tangannya. Tubuh Dika yang berbobot hampir delapan puluh kilogram itu terlempar ke samping, menghantam bodi samping angkot hingga menimbulkan penyok yang cukup dalam.
Dika mengerang kesakitan, memegangi pinggangnya yang membentur besi tua itu.
"Farrel! Lu udah gila, ya?!"
Bang Jay membentak, mencoba menyembunyikan getaran ketakutan di suaranya.
Ia mencabut sebilah pisau belati dari balik pinggangnya.
"Berani lu ngelawan kami? Lu gak bisa narik lagi di Bogor, hah?!"
Farrel tidak menjawab. Di dalam kepalanya, sebuah layar transparan berwarna biru muda melayang, menampilkan status terbarunya.
[Status Pengguna]
• Nama: Farrel Aditama
• Kekuatan: 18 (Rata-rata manusia normal: 10)
• Kecepatan: 15 (Rata-rata manusia normal: 10)
• Stamina: 20 (Rata-rata manusia normal: 10)
• Saldo Khusus Wanita: Rp 10.000.000.000
• Saldo Pribadi: Rp 10.000 (Uang kumal di saku)
Efek dari Ramuan Penguat Tubuh Tingkat Rendah benar-benar nyata. Farrel merasa setiap otot di tubuhnya dipenuhi oleh energi yang meledak-ledak.
Rasa lapar yang tadinya menyiksa perutnya kini menguap begitu saja, digantikan oleh adrenalin yang berpacu cepat.
"Gua udah cukup sabar selama ini, Bang Jay," kata Farrel, melangkah maju setapak demi setapak.
Sandal jepitnya yang tipis menapak mantap di atas genangan air.
"Setiap hari gua setor tepat waktu. Tapi lu pada selalu nyari alasan buat meras gua. Hari ini, gua gak akan kasih sepeser pun."
"Kurang ajar! Dani, pukul dia!" teriak Bang Jay memberi perintah.
Dani, yang memegang sebatang balok kayu, langsung mengayunkannya ke arah kepala Farrel.
Gerakan itu di mata manusia biasa mungkin cepat, namun di mata Farrel yang telah ditingkatkan oleh sistem, gerakan Dani terasa sangat lambat seperti video yang diputar dengan kecepatan setengah.
Farrel dengan mudah memiringkan kepalanya ke kiri, menghindari hantaman balok kayu tersebut. Sebelum Dani sempat menarik kembali senjatanya, tangan kiri Farrel melesat maju, mencengkeram kerah jaket loreng Dani,
sementara tangan kanannya mengepal kuat dan menghantam tepat di rahang bawah pria itu.
Bugh!
Suara hantaman daging bertabrakan dengan tulang terdengar begitu solid. Dani langsung ambruk ke tanah, matanya mendelik ke atas sebelum akhirnya pingsan seketika dengan air liur bercampur darah yang menetes dari sudut mulutnya.
Satu pukulan bersih yang mematikan.
Melihat rekannya tumbang dalam satu detik, nyali Bang Jay langsung ciut.
Belati di tangannya bergetar hebat.
"Lu... lu bukan Farrel..."
Farrel menatap Bang Jay dengan dingin.
"Pergi dari sini. Dan kasih tahu ketua kalian... mulai hari ini, Terminal Baranangsiang bukan lagi ladang duit haram kalian."
Tanpa perlu diperintah dua kali, Bang Jay segera memapah Dika yang masih merintih kesakitan, lalu mereka berdua lari terbirit-birit meninggalkan pangkalan angkot, mengabaikan Dani yang terkapar pingsan di atas aspal.
Farrel menghela napas panjang. Ketegangan di tubuhnya perlahan mereda. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang tampak sedikit lebih bersih dan kokoh dari sebelumnya.
Sistem ini benar-benar nyata. Ia bukan lagi Farrel yang lemah.
Namun, perutnya tiba-tiba berbunyi nyaring. Kekuatan fisik yang besar ternyata membutuhkan asupan energi yang besar pula.
Farrel teringat uang sepuluh ribu rupiah miliknya yang terjatuh di genangan air. Ia memungutnya, mengibaskan sisa air, lalu melangkah keluar dari area terminal yang mulai sepi menuju sebuah warung tenda di pinggir jalan yang menyajikan soto kuning khas Bogor.
Aroma kuah santan kuning yang kaya rempah dan uap panas dari daging yang direbus langsung menyapa indra penciumannya, membuat air liurnya menetes.
"Eh, Farrel. Baru kelar narik, Rel?" Sebuah suara lembut menyapa dari balik etalase kaca warung.
Seorang gadis berusia sekitar 20 tahun sedang mengelap mangkuk dengan cekatan. Namanya Nisa.
Dia adalah anak dari pemilik warung soto ini. Nisa memiliki wajah yang manis khas gadis Sunda, dengan kulit kuning langsat dan mata bulat yang jernih.
Rambutnya yang hitam panjang diikat ekor kuda, memperlihatkan lehernya yang jenjang.
Di mata Farrel, Nisa selalu menjadi oase di tengah kerasnya kehidupan terminal, meskipun Farrel tahu diri untuk tidak pernah menyatakan perasaannya karena kondisinya yang miskin mampus.
"Iya, Nis. Mau makan, tapi..." Farrel menunjukkan uang sepuluh ribu rupiahnya yang basah dengan senyum canggung.
"Dapatnya cuma segini. Bisa dapet nasi pakai kuah sama kerupuk aja gak?"
Nisa menatap uang kumal itu, lalu menatap wajah Farrel yang tampak memiliki beberapa bekas goresan samar (sisa pengeroyokan yang belum sembuh total dari sistem).
Tatapan mata Nisa berubah menjadi penuh rasa iba, namun bercampur dengan ketulusan yang mendalam.
"Sini duduk dulu, Rel," kata Nisa sambil tersenyum manis, lesung pipitnya terlihat di pipi kirinya.
"Gak usah dipikirin uangnya.
"Kebetulan hari ini warung lagi mau tutup, dan masih ada sisa daging lumayan banyak. Biar aku buatin yang spesial buat kamu."
Farrel duduk di bangku panjang kayu. Tak lama kemudian, Nisa datang membawa semangkuk besar soto kuning yang penuh dengan potongan daging sapi, babat, dan empal yang empuk, lengkap dengan sepiring nasi putih yang mengepul hangat.
"Makan yang banyak, Rel.
"Kamu kelihatan capek banget hari ini,"
ucap Nisa lembut, duduk di bangku seberang Farrel sambil menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Farrel dengan pandangan teduh.
Saat itulah, suara mekanis sistem kembali berdering di otak Farrel, mengejutkannya hingga hampir menjatuhkan sendok yang ia pegang.
【 Ding! Mendeteksi target wanita potensial di dekat Pengguna. 】
【 Analisis Target: Nisa Amanda (20 tahun). Tingkat Kecantikan: 85/100 (Sangat Cantik/Gadis Desa). Status: Perawan. Tingkat Kesukaan (Favorability) Awal terhadap Pengguna: 45% (Memiliki rasa simpati dan ketertarikan terpendam). 】
【 Misi Sistem Diaktifkan: Tingkatkan afeksi Nisa Amanda hingga mencapai 60% dalam waktu 24 jam. 】
【 Aturan Penggunaan Saldo: Pengguna dapat membelanjakan uang sistem senilai Rp 10.000.000.000 hanya untuk kepentingan target. Setiap kenaikan 5% afeksi, Pengguna akan mendapatkan hadiah uang tunai pribadi senilai Rp 50.000.000 yang langsung masuk ke rekening bank pribadi. 】
Farrel tertegun. Jantungnya berdegup kencang saat menatap Nisa yang sedang tersenyum di hadapannya.
Sepuluh miliar rupiah siap digunakan, dan jika ia berhasil membuat Nisa menyukainya lebih dalam, ia akan mendapatkan uang asli untuk dirinya sendiri!
"Nis..." Farrel menelan ludah, mencoba menenangkan suaranya yang mendadak gugup.
"Kamu... lagi butuh sesuatu gak sekarang? Maksudku, ada yang lagi kamu pengen banget tapi belum kesampaian?"
Nisa sedikit terkejut dengan pertanyaan Farrel yang tiba-tiba. Ia sempat terdiam, lalu menghela napas pendek yang terdengar agak berat, membuat senyum manisnya sedikit memudar.
"Kenapa nanya gitu, Rel?" Nisa terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana.
"Tapi kalau ditanya jujur... sebenarnya aku lagi pusing."
"Ibu besok harus bayar tunggakan sewa tempat warung ini ke pemilik ruko sebesar lima belas juta. Kalau gak dibayar besok, tempat ini mau disegel dan diganti jadi toko kelontong sama pemiliknya."
"Aku bingung harus cari pinjaman ke mana lagi..."
Mata Nisa berkaca-kaca saat menceritakan hal itu. Warung soto ini adalah satu-satunya mata pencaharian keluarganya setelah ayahnya meninggal dua tahun lalu.
Farrel merasakan dadanya bergetar. Ini adalah kesempatan emas yang diberikan oleh sistem, sekaligus kesempatannya untuk membalas kebaikan Nisa yang selalu tulus membantunya saat kelaparan.
"Jangan nangis, Nis," kata Farrel, tangannya bergerak secara refleks menggenggam jemari Nisa yang terasa halus namun sedikit kasar karena sering bekerja di dapur.
"Masalah sewa ruko itu... biar aku yang selesaikan sekarang juga."