Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.
"Aku pergi, Mas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
Aska mengangguk kecil saat menjawab pertanyaan Pak Rahman.
"Iya, Pak. Saya kenal Celsi."
Pak Rahman tersenyum ramah.
"Oh, teman Celsi ternyata. Kirain siapa. Jarang sekali Celsi bawa teman ke rumah."
Celsi langsung salah tingkah.
"Ayah, aku ke dapur dulu."
Dia tidak menunggu jawaban siapa pun. Langkahnya cepat kembali ke dapur.
Namun meski sudah menjauh, suara Aska masih terdengar dari ruang tamu.
Dan entah kenapa, itu membuat jantungnya semakin tidak tenang.
Di dapur, Celsi mencoba mengalihkan pikirannya.
Dia mengambil adonan bakwan yang sudah disiapkan ibunya.
Tangannya mulai mencampurkan sayuran dan bumbu.
Namun pikirannya tetap tertinggal di ruang tamu.
Aska datang ke rumahnya.
Bertemu ayah dan ibunya.
Kenapa harus datang?
Dan kenapa perasaannya justru semakin kacau?
Sementara itu di ruang tamu, suasana antara Aska dan Pak Rahman jauh lebih santai dari yang Celsi bayangkan.
"Kerja di kota masih ramai, Ka?" tanya Pak Rahman.
"Masih, Pak. Banyak yang berubah sekarang. Harga barang naik terus."
Pak Rahman mengangguk.
"Iya. Sekarang apa apa mahal. BBM naik sedikit saja, semua ikut terasa."
"Betul, Pak. Biaya operasional juga ikut naik."
Pak Rahman menghela napas kecil.
"Belum lagi dolar naik. Orang yang punya usaha harus pintar atur semuanya."
Aska tersenyum.
"Bapak juga mengikuti berita ekonomi?"
Pak Rahman tertawa kecil.
"Ya harus. Apalagi anak saya punya usaha. Saya harus tahu keadaan."
Aska ikut tersenyum.
"Bapak pasti bangga sama Celsi."
Pak Rahman langsung tersenyum lebar.
"Bangga sekali. Dulu dia sering bilang mau punya usaha sendiri. Saya kira cuma mimpi anak muda."
"Ternyata jadi kenyataan."
"Iya. Walaupun keras kepala."
Aska tertawa kecil.
"Saya rasa itu salah satu hal yang membuat dia berhasil."
Pak Rahman memperhatikan Aska.
Cara pria itu berbicara tentang Celsi terdengar berbeda.
Tidak seperti sekadar teman biasa.
Namun sebelum bertanya lebih jauh, Pak Rahman melihat ke arah dapur.
"Wah, sepertinya Celsi sedang masak."
Aska tersenyum.
"Kalau bakwan buatan Celsi, saya sudah pernah coba."
"Enak?"
"Asli, Pak. Enak."
Pak Rahman terlihat senang.
"Celsi memang suka bikin camilan."
"Saya suka bakwan yang ada cabainya banyak."
Pak Rahman langsung tertawa.
"Wah, sama."
Aska mengangkat alis.
"Bapak juga suka pedas?"
"Saya paling suka sambal matah."
Aska langsung tersenyum.
"Serius, Pak? Saya juga paling suka geprek sambal matah."
Pak Rahman tertawa.
"Pantas saja kamu cocok ngobrol sama saya."
Aska ikut tertawa.
"Kebetulan selera kita sama."
Dari dapur, Celsi mendengar percakapan itu.
Dia berhenti mengaduk adonan.
Ayahnya dan Aska ngobrol seperti sudah lama kenal.
Dan yang membuatnya semakin tidak nyaman, Aska terlihat sangat mudah menyatu dengan keluarganya.
"Celsi."
Suara ibunya membuat dia tersentak.
"Ibu?"
Bu Dewi berdiri di belakangnya sambil tersenyum kecil.
"Kamu mau cerita sesuatu sama ibu?"
Celsi langsung pura pura sibuk.
"Cerita apa?"
"Ibu lihat cara dia melihat kamu."
Celsi diam.
"Aska itu bukan datang cuma sebagai teman, kan?"
Celsi menghela napas.
"Ibu salah paham."
"Benarkah?"
"Iya. Kami cuma teman."
Bu Dewi masih menatap anaknya.
"Teman sampai datang ke rumah?"
"Iya, Bu."
"Celsi."
"Ibu, serius. Tidak ada hubungan spesial."
Dia mengambil sayuran lagi.
"Aska cuma pemilik ruko tempat aku sewa buat cabang kedua Geprek Cinta. Dia membantu aku banyak soal usaha."
Bu Dewi masih terlihat ragu.
"Hanya itu?"
"Iya."
"Kamu yakin?"
Celsi terdiam sebentar.
"Terserah ibu mau percaya atau tidak."
Bu Dewi menghela napas.
"Ibu cuma takut kamu menyimpan sesuatu sendiri."
"Aku baik baik saja, Bu."
Bu Dewi akhirnya mengalah.
Dia mengambil sebagian adonan bakwan.
"Sudah, ibu goreng dulu ini."
"Lho, aku saja."
"Kamu buat bola keju itu dulu. Nanti bawa ke depan."
Celsi menatap ibunya.
"Ibu sengaja?"
Bu Dewi tersenyum.
"Sengaja apa?"
"Nyuruh aku ke depan."
"Ibu cuma menyuruh anak ibu menemui tamu."
Celsi menghela napas.
Namun akhirnya dia kembali membuat bola keju.
Beberapa waktu kemudian, Bu Dewi keluar membawa piring berisi bakwan hangat.
Aska langsung tersenyum.
"Wah, jadi ini bakwan terkenal itu?"
Pak Rahman tertawa.
"Silakan coba."
Aska mengambil satu.
Begitu mencicipinya, wajahnya langsung berubah senang.
"Enak, Pak."
Bu Dewi tersenyum.
"Serius?"
"Serius, Bu. Renyah di luar, tapi dalamnya lembut."
Pak Rahman bangga.
"Anak saya memang pandai masak."
Tidak lama kemudian Celsi keluar membawa bola keju.
Dia duduk dengan jarak yang cukup aman dari Aska.
"Ini."
Aska mengambil satu.
"Kamu juga bikin ini?"
Celsi mengangguk.
"Iya."
Aska mencicipinya.
"Ini juga enak."
Celsi hanya tersenyum kecil.
"Jangan berlebihan."
"Saya tidak berlebihan."
Aska menatapnya.
"Saya memang suka makanan buatan kamu."
Celsi langsung mengalihkan pandangan.
Pak Rahman dan Bu Dewi hanya memperhatikan.
Setelah pembicaraan ringan berlangsung cukup lama, Aska akhirnya meletakkan gelasnya.
Wajahnya berubah lebih serius.
"Celsi."
Celsi menatapnya.
"Iya?"
"Sebenarnya ada alasan saya datang ke sini."
Suasana ruang tamu langsung berubah.
Pak Rahman ikut memperhatikan.
"Aska?"
Aska menarik napas.
"Saya datang karena saya ingin bicara dengan Celsi dan Bapak Ibu."
Celsi mulai merasa tidak tenang.
"Ko Aska..."
Aska menatapnya lembut.
"Saya ingin bertanggung jawab atas Celsi."
Dunia Celsi seperti berhenti.
Wajahnya langsung panik.
"Ko..."
Pak Rahman mengernyit bingung.
Bu Dewi menatap mereka bergantian.
"Bertanggung jawab?"
"Sebenarnya... Kami sudah..."
Mata Celsi membulat melebar dan makin panik...
"Koh! Jangan..."