NovelToon NovelToon
Sisa Rasa Yang Terlarang

Sisa Rasa Yang Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: HebiKage

Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.

Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:

Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Yang Mengubah Segalanya

Aku sama sekali tak ingat bagaimana tepatnya aku bisa sampai kembali ke kamar kos malam itu. Segalanya terasa samar, seolah‑olah aku berjalan dalam keadaan setengah melamun.

Yang masih tersisa jelas di ingatanku hanyalah momen saat aku dan Aldo masih duduk berdampingan di bangku kayu tua itu, di bawah naungan pohon trembesi yang rindang. Kami duduk berdua, membicarakan negeri yang jauh bernama Australia, membicarakan rentang waktu dua tahun yang terasa begitu panjang namun sekaligus begitu singkat, serta membayangkan masa depan yang tiba‑tiba terasa begitu jauh di seberang samudra, namun di saat yang sama terasa sangat dekat karena menjadi bagian dari impianku sendiri.

Setelah percakapan itu usai, Aldo mengantarku pulang. Sepanjang perjalanan di dalam mobil, aku tak dapat mengingat topik apa saja yang sempat kami bahas. Yang aku ingat dengan pasti hanyalah satu hal: tangan Aldo tak pernah sekalipun melepaskan genggamanku. Ia menggenggamnya erat, seolah ingin menyalurkan segala kekuatan dan ketenangan yang ia miliki agar aku tidak goyah. Dan matanya—sepasang mata berwarna coklat gelap yang biasanya selalu teduh dan menenteramkan hati—kali ini tampak sayu dan berbinar sendu, persis seperti langit kelabu yang menggantung berat sesaat sebelum turun hujan.

"Sudah sampai, Tari," ucap Aldo lembut, seraya memarkirkan kendaraannya tepat di depan pagar kosan.

Aku menatap ke luar jendela kaca. Gerbang besi berwarna hitam yang menjadi batas tempat tinggalku tampak kokoh dan tak berubah seperti biasa. Lampu teras memancarkan cahaya kuning yang hangat, dan dari kejauhan, samar‑samar terdengar suara siaran televisi yang berasal dari kamar Rina di lantai dua. Suasana yang biasa saja, namun malam itu terasa terasa lain di hatiku.

"Kamu… mau ikut masuk sebentar?" tanyaku perlahan. Suaraku terdengar asing dan berat di telingaku sendiri.

Aldo menggeleng pelan. "Tidak usah dulu. Aku takut mengganggu waktu istirahatmu. Kamu pasti sudah sangat lelah setelah seharian menanggung banyak pikiran."

"Aku sama sekali tidak lelah, Aldo," bantahku lemah.

"Tari…"

"Benar, aku tidak lelah secara fisik," potongku, lalu menatap matanya lekat‑lekat. "Aku hanya… bingung. Aku tak tahu apa yang harus kurasakan saat ini. Apakah harus bahagia, atau justru harus bersedih."

Aldo menghela napas panjang yang berat. Ia lalu mematikan mesin mobil, sehingga seketika itu juga suasana di dalam kabin menjadi sunyi senyap. Satu‑satunya suara yang terdengar hanyalah detak jarum jam yang menempel di papan kemudi—tik… tik… tik…—berirama teratur, persis seperti detak jantungku sendiri yang sedang berpacu tak karuan karena perasaan yang berkecamuk.

"Kalau begitu, jujur saja… aku pun sama, tidak tahu harus merasa bagaimana," kata Aldo akhirnya dengan suara yang rendah namun terdengar jelas. "Di satu sisi, aku merasa sangat bangga padamu. Namun di sisi lain, hatiku terasa sedih sekali. Aku juga merasa takut… namun di saat yang sama aku turut bahagia karena impianmu akhirnya terbuka jalan ke depannya. Semua rasa itu bercampur menjadi satu, tak dapat dipisahkan."

"Kamu… kamu takut?" tanyaku kaget, sedikit ragu mendengarnya mengakui hal itu.

Aldo menatapku dalam‑dalam. "Ya. Aku takut. Aku takut kehilanganmu di tengah jarak yang begitu jauh dan waktu yang terasa panjang itu."

"Aldo…" panggilku, hatiku terasa perih mendengar pengakuannya.

"Tapi ketahuilah satu hal," sambungnya tegas namun lembut. "Ketakutanku itu tidak akan pernah membuatku melarangmu pergi. Aku tidak mau kamu mengorbankan masa depan dan cita‑citamu yang indah itu hanya demi rasa takutku semata."

Segera aku meraih tangannya—tangannya terasa dingin, dan sedikit gemetar menahan perasaan yang sama beratnya dengan yang kurasakan.

"Kamu tidak akan kehilangan aku, Aldo," ucapku sungguh‑sungguh. "Aku berjanji padamu."

Aldo tersenyum—senyum yang terasa begitu rapuh, senyum yang nyaris tak terbentuk sempurna karena tertahan rasa sedih, namun cukup untuk membuat dadaku terasa sesak oleh kasih yang mendalam.

"Janji itu beban yang sangat berat untuk dipikul, Tari," katanya pelan.

"Aku tahu betul beratnya sebuah janji," jawabku mantap. "Namun aku takkan pernah mengucapkannya jika aku belum yakin sanggup menepatinya sampai kapan pun."

Aldo pun membalas genggamanku dengan erat. "Baiklah kalau begitu. Aku percaya padamu sepenuh hati."

Kembali keheningan menyelimuti kami berdua. Di luar kendaraan, terdengar suara jangkrik yang bersahutan dari balik semak‑semak, serta desau angin malam yang berhembus pelan di sela‑sela dedaunan—seolah menjadi saksi bisu percakapan hati kami itu.

"Kamu sebaiknya masuk dan beristirahat sekarang," kata Aldo, memecah keheningan itu dengan nada lembut namun menegaskan. "Besok kita bicarakan semuanya lagi dengan kepala yang lebih tenang."

"Besok?" ulangku, seolah belum rela mengakhiri pertemuan itu.

"Ya, besok pagi. Aku akan datang menjemputmu tepat pukul sepuluh," janjinya. "Kita akan pergi ke rumah orangtuamu. Kamu harus menyampaikan kabar ini kepada Mama dan Papa. Mereka berhak mengetahuinya langsung dari mulutmu sendiri."

Aku menghela napas panjang, membayangkan reaksi kedua orangtuaku. "Aku takut, Aldo."

"Takut soal apa?"

"Takut kalau Mama kecewa mendengarnya. Takut kalau Papa marah karena aku berniat pergi jauh. Takut kalau mereka mengira aku egois karena lebih memilih mengejar mimpi daripada tetap tinggal di dekat mereka."

Aldo menggeleng tegas. "Mereka tidak akan berpikir begitu, apalagi sampai marah atau kecewa. Aku yakin hati mereka penuh dengan rasa bangga padamu."

"Kamu tidak mengenal Mama dan Papa sebaik aku mengenal mereka," sanggahku pelan.

"Memang benar, aku belum mengenal mereka selengkap dan sedalam dirimu," akunya jujur. "Namun ada satu hal yang aku pahami dengan pasti."

"Apa itu?"

"Orang tua yang tulus menyayangi anaknya tidak akan pernah menghalangi jalan kebahagiaan dan kesuksesan anaknya itu sendiri," jawabnya tenang namun mantap.

Aku terdiam, tak dapat menemukan kata‑kata untuk membalasnya. Begitulah selalu kata‑kata Aldo—sederhana cara penyampaiannya, namun tepat sekali menyentuh inti hati dan membuat segala keraguanku perlahan luntur.

"Sudah, masuklah sekarang. Istirahatlah dengan nyenyak. Besok kita akan menghadapi semuanya bersama‑sama, tidak sendirian," katanya meyakinkan.

Aku mengangguk perlahan. Kubuka pintu mobil, melangkah turun, lalu berjalan menuju gerbang kosan. Sesampainya di sana, aku berbalik badan menatap kembali ke arah kendaraan. Aldo masih duduk di tempatnya, menatapku keluar, dengan senyum tipis yang tetap ia hadiahkan meski terasa berat.

"Pukul sepuluh pagi," ucapku mengingatkan.

"Pukul sepuluh pagi," ulangnya menegaskan kesepakatan kami.

Aku pun melangkah masuk melewati pagar, menaiki anak tangga satu per satu menuju kamarku, membuka pintu, lalu menjatuhkan diri ke atas kasur yang empuk. Di sana, aku hanya menatap langit‑langit kamar yang sedikit retak di beberapa bagian—langit‑langit yang sama yang dulu sering kulihat saat aku menangis tersedu‑sedih karena sakit hati akibat sikap Reza, berbulan‑bulan yang lalu.

Namun malam ini, air mata itu tak kunjung jatuh.

Aku hanya merasa… bingung.

Bingung di antara rasa bahagia yang meluap dan rasa sedih yang menyelinap pelan.

Bingung memilih antara mengejar mimpi yang telah lama dinanti, atau tetap tinggal di dekat cinta yang menjadi kekuatan hidupku kini.

***

Keesokan harinya, tepat pukul sembilan pagi, Aldo sudah datang menjemputku di depan pagar kosan.

Ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih bersih, disetrika rapi hingga tak ada lekukan sedikit pun—penampilan yang sangat sopan dan resmi, persis seperti orang yang hendak menghadap atasan di kantor, bukan sekadar berkunjung menemui orangtua kekasihnya. Wajahnya tampak tegang dan serius, namun seketika berubah lembut dan tersenyum begitu melihatku keluar dari pintu gerbang.

"Kamu sudah siap?" tanyanya.

"Jujur saja… belum sepenuhnya siap," jawabku jujur. "Tapi rasanya aku juga tak punya pilihan lain selain maju."

Aldo tersenyum kecil. "Kita sama saja. Aku pun merasakan hal yang serupa."

Kami naik ke dalam mobil. Aldo menyalakan mesin, lalu kendaraan pun perlahan melaju meninggalkan kawasan kosan, menuju rumah orangtuaku di Pondok Labu. Perjalanan terasa hening namun penuh dengan persiapan hati yang sama‑sama kami rasakan.

***

Pukul sepuluh lewat tiga puluh menit, mobil Aldo berhenti tepat di depan pagar rumahku.

Mama sedang berdiri di halaman depan, sedang sibuk menyiram tanaman hias dengan selang air. Saat melihat kedatangan kami, raut wajahnya berubah seketika—dari santai menjadi penuh rasa ingin tahu dan sedikit waspada. Mungkin ia tak menyangka kami berdua datang berkunjung tanpa memberi kabar terlebih dahulu.

"Tari? Aldo? Ada apa gerangan hingga kalian datang berdua pagi‑pagi begini?" tanyanya seraya meletakkan selang air ke tepi, lalu berjalan mendekat.

"Ada hal penting yang ingin kusampaikan, Ma," jawabku dengan suara yang sedikit bergetar menahan gugup.

Mama mengernyitkan dahi, menatapku lekat. "Menyampaikan sesuatu? Kok serius sekali wajahmu itu."

"Memang ini hal yang serius, Ma," tegasku.

Mama segera memanggil Papa yang sedang ada di dalam rumah. Beberapa saat kemudian, Papa keluar menyambut kami dengan mengenakan kemeja batik lengan pendek dan sandal jepit kesukaannya. Wajahnya tampak datar dan tenang, sulit sekali ditebak apa yang ada di pikirannya.

"Masuklah dulu ke dalam," kata Papa singkat, memberi isyarat agar kami berjalan mendahuluinya.

Kami pun masuk ke ruang tamu yang sejuk. Mama dan Papa duduk bersandar di sofa utama, sementara aku dan Aldo duduk berhadapan tepat di depan mereka.

"Ada kabar apa sebenarnya, Tari?" tanya Papa, menatap lurus ke arahku tanpa berkedip sedikit pun.

Aku menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan seluruh keberanian yang ada. Tanganku terasa gemetar hebat menahan rasa cemas. Namun di bawah meja, tangan Aldo perlahan terulur dan menggenggam tanganku erat—memberikan isyarat diam‑diam bahwa ia ada di sampingku, dan aku tidak sedang menghadapi semuanya sendirian.

"Pa… Ma… aku mendapat kabar gembira sekaligus besar," awalku pelan namun jelas. "Aku diterima mendapatkan beasiswa."

Mama terkejut, matanya sedikit membelalak. "Beasiswa? Beasiswa untuk apa, Nak?"

"Beasiswa Sastra Nusantara… untuk melanjutkan pendidikan jenjang Magister Seni Penulisan Kreatif di Universitas Melbourne, di Australia," jelasku lengkap.

Ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap. Papa dan Mama saling berpandangan satu sama lain, seolah saling bertanya lewat tatapan mata saja.

"Australia…?" suara Mama terdengar kecil, hampir berbisik, penuh keterkejutan.

"Benar, Ma. Dan masa studinya berlangsung selama dua tahun lamanya," tambahku melengkapi penjelasan.

Mama menundukkan kepalanya perlahan. Aku melihat bahunya bergetar halus—tanda bahwa ia sedang menahan tangis yang mulai muncul.

"Mama sangat bangga padamu, Tari… sungguh bangga sekali," ucapnya akhirnya dengan suara yang pecah tertahan. "Mama bangga karena kamu berhasil meraihnya dengan kemampuanmu sendiri. Tapi… jujur saja, hati Mama juga terasa sedih sekali. Tempatnya sangat jauh, Nak… seberang lautan luas."

Aku segera berdiri dari tempat dudukku, berjalan mendekati Mama, lalu memeluknya dengan erat.

"Aku pasti akan pulang menjenguk Mama, kok. Dua tahun itu kan tidak terlalu lama," hibur aku sebaik mungkin.

"Mama tahu itu, Nak… Mama tahu," jawabnya lirih sambil membalas pelukanku. "Tapi tetap saja rasanya berat melepaskan anak perempuan satu‑satunya pergi jauh."

"Dan aku janji, akan menelepon Mama setiap hari tanpa putus. Mau pagi, siang, atau malam, pasti aku kabari," tambahku meyakinkan.

Mama tertawa kecil di sela‑sai tangisnya. "Kamu ini ya… pandai sekali bicara untuk menenangkan hati Mama."

Papa, yang sedari tadi diam menyimak, akhirnya membuka suara dengan nada tenang namun tegas.

"Tari, Papa sama sekali tidak akan menghalangi langkahmu. Tapi sebelum memberi restu, Papa punya satu pertanyaan yang harus kau jawab dengan jujur."

"Apa saja pertanyaan Papa, akan kujawab sejujur‑jujurnya," jawabku sambil menatap wajah ayahku.

"Apakah kamu yakin keputusan pergi ke sana adalah keinginanmu sendiri yang paling tulus? Bukan karena ada tekanan dari orang lain? Dan bukan pula karena kamu ingin lari atau menjauh dari sesuatu yang ada di sini?" tanyanya menelusuri.

Aku menatap mata Papa dalam‑dalam tanpa ragu sedikit pun.

"Aku yakin sepenuh hati, Pa. Ini adalah impianku sendiri. Impian yang sudah ada sejak aku masih kecil, jauh sebelum aku mengenal Reza. Jauh pula sebelum aku bertemu dan jatuh cinta pada Aldo. Jadi ini mimpi yang sudah lama kujaga, dan kini baru terbuka kesempatannya."

Papa mengangguk perlahan, tampak puas mendengar jawabanku.

"Baiklah kalau begitu. Papa mendukungmu sepenuhnya," ucapnya tegas.

"Pa…"

"Tapi ada satu hal lagi yang harus kamu janjikan pada Papa," potongnya cepat.

"Apa itu, Pa? Akan kupenuhi sebisa kemampuanku."

Papa menoleh sekilas ke arah Aldo, lalu kembali menatapku dengan pandangan yang penuh kasih.

"Jaga dirimu baik‑baik selama di negeri orang. Belajarlah dengan rajin, bergaullah dengan orang baik‑baik, dan jangan sampai terjadi apa‑apa padamu di sana. Itu saja permintaan Papa," katanya lembut namun penuh makna.

Aku tersenyum haru. "Aku janji akan menjaga diri sebaik‑baiknya, Pa."

Papa kembali mengangguk, lalu berdiri perlahan dan berjalan menuju ruang kerjanya di bagian belakang rumah. Mungkin ia tak ingin kami melihat butiran air mata yang mulai berkaca‑kaca di matanya yang tegas itu.

***

Kira‑kira dua jam berlalu sejak percakapan itu usai, aku dan Aldo sudah berdiri kembali di teras depan rumah, bersiap untuk berpamitan pulang.

Mama sudah terlihat jauh lebih tenang, meski kelopak matanya masih tampak merah bekas menangis tadi. Ia menatap Aldo yang sedang berdiri di sampingku.

"Nak Aldo…" panggilnya lembut.

"Iya, Bu? Ada yang bisa saya bantu?" jawab Aldo dengan sopan.

"Nanti saat Tari sudah berada di sana… tolong tetap jaga dia dengan baik ya. Meski kamu tak ada di sampingnya secara fisik, jagalah hatinya agar tetap tenang dan merasa diharapkan," pesan Mama dengan nada tulus.

Aldo tersenyum penuh keyakinan. "Saya berjanji akan selalu melakukannya, Bu. Saya akan selalu ada untuk Tari, di mana pun ia berada."

Mama tersenyum puas mendengarnya, lalu beranjak masuk ke dalam rumah.

Aldo kemudian menoleh sepenuhnya kepadaku. "Bagaimana perasaanmu sekarang, Tari? Sudah lebih tenang?"

"Aku… merasa lega sekali," jawabku jujur sambil menarik napas panjang yang dalam.

"Lega?"

"Ya… lega karena ternyata Mama dan Papa tidak marah. Lega karena mereka tidak menahan aku, melainkan justru mendukung impianku sepenuhnya," jelasku dengan hati yang ringan.

Aldo tersenyum dan meraih tanganku untuk digenggamnya. "Bukankah sudah kukatakan sejak awal? Mereka menyayangimu lebih dari apa pun, dan kasih sayang itu takkan pernah membelenggu."

Aku tersenyum membalas genggamannya. "Kamu ini… seolah‑olah kamu tahu segalanya ya?"

"Aku tidak tahu segalanya," jawabnya santai namun lembut. "Aku hanya berusaha mengetahui hal‑hal yang paling penting dalam hidup."

"Dan hal‑hal apa saja yang kamu anggap paling penting itu?" tanyaku menggoda sedikit.

Aldo menatapku lama, pandangannya dalam dan teduh, persis seperti hamparan lautan yang tak pernah ada habisnya.

"Kamu, Tari. Hanya kamu. Kamulah satu‑satunya hal yang paling penting bagiku," jawabnya pelan namun begitu tegas dan menyentuh hati.

Kata‑katanya membuatku terdiam seribu bahasa. Tak ada kalimat balasan yang mampu aku ucapkan selain senyum bahagia yang mengembang di bibirku, seraya merasakan dadaku dipenuhi kehangatan yang menenangkan, meski jarak dan waktu masih terbentang di depan kami.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!