Asap kelabu dari sisa pembakaran minyak mesin siber menyelinap masuk melalui celah pilar obsidian Aula Gerhana, berputar-putar menciptakan bayangan kaku di atas lantai batu yang dingin. Di luar menara istana, langit Planet Akuma sedang memuntahkan badai hujan merkuri cair yang paling pekat sepanjang satu abad sejarah klan Shinto. Ketukan logam mendidih yang menghantam atap baja terdengar konstan, menciptakan simfoni bising yang meredam detak kehidupan normal. Dengan gaya tarik bumi yang bekerja seratus kali lipat lebih ekstrem, atmosfer di dalam bilik bersalin itu terasa begitu menjepit raga, memaksa setiap hela napas yang keluar dari tenggorokan terasa berat dan membakar sistem pernapasan seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Fajar Pasca-Invasi dan Konfrontasi Politik Terakhir di Aula Agung
Matahari kelabu di ufuk timur Planet Akuma-0 muncul lambat. Sinar fajar keunguan menembus gumpalan awan beracun yang mendidih. Berita mengenai kegagalan total penyerangan rahasia dari sindikat penjahat luar angkasa, Black-Void, menyebar dengan sangat cepat. Informasi tentang hancurnya pasukan penyusup itu menembus dinding-dinding Aula Utama Sektor Delapan sebelum fajar pertama selesai bergulir. Rencana berdarah yang dirancang halus oleh faksi pengkhianat kini resmi menemui kegagalan massal yang sangat memalukan. Keheningan total yang melanda menara Kuil Tinggi setelah tewasnya para pembunuh bayaran meninggalkan ketakutan politik yang sangat pekat di dalam benak Tetua Kaelen, selir tiri Renka, dan Valen Vorash.
Pagi itu, Aula Agung Dewan Tetua dipadati oleh ribuan pasang mata murid klan Shinto. Mereka menahan napas dalam ketegangan yang sangat mencekam. Di atas kursi besi besarnya yang mendengung pekat, Tetua Kaelen duduk kaku dengan lempengan wajah besinya yang memancarkan lampu indikator tanda bahaya yang kacau. Renka berdiri di sampingnya dengan jemari yang gemetar keras karena menahan rasa terkejut yang luar biasa. Di samping mereka, Valen Vorash berdiri diam dengan sisa baju besi raksasanya yang hancur berantakan. Di tengah ruangan, Instruktur Jurota bersama barisan guru veteran Perguruan Batu Hitam telah berdiri tegak memegang gagang pedang besi kasar mereka. Mereka membentuk barisan tameng pelindung tradisional yang menolak tunduk pada ancaman dewan tetua.
KREEEEK...
Pintu gerbang Aula Agung dihantam terbuka secara perlahan dari arah luar. Gerakan itu memotong keheningan sunyi yang mencekam ruangan. Ryuken melangkah masuk dengan tubuh kurusnya yang dipenuhi oleh belasan bekas luka bakar hangus berlapis darah kering sisa pertarungan semalam. Baju hitam miliknya yang compang-camping dan robek tampak kusam diselimuti oleh debu jalanan yang kotor. Namun, sepasang kakinya tetap melangkah tegap menahan jepitan gaya tarik bumi yang seratus kali lipat lebih ekstrem. Ia melangkah tegap murni mengandalkan keteguhan otot tubuhnya yang mengeras setelah kebangkitan awal kekuatan tersembunyi nya. Di pinggang kirinya, katana tua berkarat di dalam sarung kayu yang telah lapuk tetap terikat bisu, tanpa memancarkan energi apa pun.
Berjalan tepat satu langkah di belakang posisi Ryuken, Sayuri melangkah dengan keanggunan seorang putri bangsawan yang seluruh dinding kesombongan sedingin esnya telah runtuh total. Ia dipaksa menelan trauma mendalam akibat menyaksikan pembantaian di malam pertamanya sebagai seorang istri. Sayuri mengenakan gaun sutra putih sucinya yang kini dipenuhi oleh noda cipratan darah segar suaminya yang mengering menjadi warna kecokelatan pekat. Sepasang mata biru jernihnya tampak menatap lurus ke arah kursi Kaelen dengan sorot kemarahan dan rasa frustrasi mendalam, memutus hubungannya dari lingkaran kelompok dewan tetua yang serakah.
Sayuri memajukan langkah kakinya yang anggun melintasi lantai batu hitam Aula Agung. Ia membiarkan ujung gaun sutranya yang berlumuran darah menyapu tumpukan debu perak. Kehadiran dirinya yang membawa hawa dingin langsung membungkam sisa-sisa bisikan para murid Sektor Delapan seutuhnya. Ia mengangkat wajah cantiknya yang pucat, menatap lurus ke dalam pusat mata merah Tetua Kaelen dengan sorot kemarahan yang belum pernah terpancar sepanjang hidupnya.
"Rencana penyerangan rahasia kalian bersama sindikat luar angkasa Black-Void telah resmi menemui kegagalan yang memalukan di depan gerbang kamarku, Tetua Kaelen!" suara Sayuri melesat tajam bagai sebilah belati es yang memutus keheningan sunyi Aula Agung di hadapan ribuan saksi mata. Ia mengangkat tangan kanannya yang seputih salju, menunjuk lurus ke arah wajah besi Kaelen tanpa ada setitik pun rasa takut. "Kalian sengaja mematikan seluruh sistem gerbang pelindung kuil bawah tanah, murni hanya untuk menjual diriku ke pasar budak luar angkasa!"
Kegemparan dan kepanikan langsung meletus gila di sepanjang barisan murid senior perguruan yang mendengar kesaksian berani dari mulut Sayuri. Riuh rendah suara makian kasar bergaung di udara, menuntut penjelasan tentang rencana busuk dari mulut para penguasa Sektor Delapan yang serakah. Instruktur Jurota bersama barisan ksatria veteran langsung mempererat cengkeraman tangan mereka pada gagang pedang besi, memosisikan tubuh raksasa mereka sebagai benteng hukum pertahanan yang mengunci ruang gerak pasukan pengawal siber Kaelen.
BRAAK!
Tetua Kaelen mengepalkan kedua tangan besinya hingga tiang besi penahan di samping kursi kristal kerajaannya mengeluarkan bunyi derit patah yang sangat keras disertai kepulan asap hitam. Wajah besinya berkilat merah pekat penuh rasa marah yang terluka akibat kegagalan total para pembunuh bayaran Black-Void tadi malam. "Jaga lidahmu, Putri Sayuri!" raung Tetua Kaelen, suaranya yang berat bergetar hebat menahan beban kemarahan komputernya yang mendadak error melampaui batas aman. "Dewan Tetua tidak pernah terlibat dalam perjanjian kotor bersama sindikat penjahat luar angkasa! Penyerangan malam tadi adalah murni akibat kelalaian sistem keamanan kuil bawah tanah yang dipimpin oleh budak cacat di sampingmu itu!"
Renka melangkah maju di samping Kaelen, melipat kipas sutra emasnya dengan ketukan keras yang sangat sinis. "Jangan biarkan air mata ketakutanmu mengotori kesucian ruangan pengadilan adat ini, Sayuri!" desis Renka dengan nada suara yang penuh kelicikan. "Suami cacat pilihan ayahmu itu telah terbukti tidak punya kekuatan untuk menjaga keamanan kompleks perguruan! Dia adalah buronan kasta rendah yang membawa sial bagi kelangsungan hidup perdagangan klan Shinto kita!"
Ryuken tetap berdiri tegap diam membeku di posisinya di tengah ruangan pengadilan, membiarkan jubah hitamnya yang compang-camping berkibar lambat dihantam asap belerang yang menyelinap masuk dari sela-sela jendela aula. Ia tidak mengangkat katana berkaratnya atau memicu ledakan kekuatan sucinya untuk membalas makian kasar dari mulut Renka. Sepasang mata hitam legamnya yang setenang kematian hanya menatap lurus ke arah mata merah Kaelen dengan sorot ketenangan murni yang sangat pekat, yang seketika membungkam seluruh raungan suara parau mekanis dewan tetua di dalam ruangan.
Keheningan yang keluar dari tubuh kurus Ryuken perlahan-lahan meredakan sisa-sisa kegemparan di sepanjang lantai Aula Agung. Instruktur Jurota mengambil satu langkah tegap ke depan, menghantamkan gagang pedang besi kasarnya ke atas lantai porselen hingga menciptakan dentuman keras yang memicu bergetarnya mesin zirah para perwira Sektor Delapan.
"Kaelen, kalian tidak bisa memutar balik fakta aturan hukum adat murni hanya karena posisi politik zirah mesin kalian ketakutan!" geram Jurota, suara besinya bergaung berat memotong ruangan. "Semalam, Ryuken telah menyerahkan tubuhnya untuk menahan badai pembantaian Black-Void murni demi mematuhi janji suci cawan kuil. Dia adalah pewaris sah yang menolak tunduk pada emas kotor Vorash, dan dewan instruktur veteran tidak akan membiarkan keputusan pengusiran sepihak mu menodai kesucian martabat pedang klan Shinto!"
Tetua Kaelen mengepalkan jemari besi mekanisnya hingga lampu indikator komputernya berbunyi pekat memancarkan warna merah tanda bahaya. Rencana kelicikannya kini telah terbentur kaku pada tameng baja barisan instruktur tradisional yang siap memicu perang jika ia bersikeras.