Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.
Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.
Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.
Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.
Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.
Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putri Terakhir Sang Ratu
Rumah besar keluarga Amara mendadak berubah sunyi. Tidak ada suara rapat bisnis, dan langkah kaki sekretaris yang sibuk keluar masuk.
Hanya suara alat monitor medis yang berdetak pelan di kamar utama. Amara jatuh sakit. Awalnya hanya kelelahan biasa. Namun tubuh manusia tetap memiliki batas, bahkan untuk seseorang seperti dirinya.
Puluhan tahun memikul dua kehidupan sekaligus akhirnya mulai meminta harga. Dan untuk pertama kalinya, madam A terlihat lemah.
Arsen langsung mengambil alih sebagian besar urusan bisnis. Raka menangani semua urusan hukum dan keamanan keluarga. Namun yang paling berubah adalah Nayla.
Putri bungsu Amara yang kini menjadi dokter memutuskan berhenti sementara dari pekerjaannya demi merawat ibunya sendiri.
“Aku tidak percaya orang lain menyentuh Ibu sembarangan,” katanya dingin pada para perawat pribadi.
Amara yang sedang berbaring hanya menghela napas kecil.
“Kau terlalu protektif.”
“Turunan siapa?”
Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, Amara tertawa kecil. Meski sakit, aura Amara tetap membuat semua orang segan. Bahkan dokter senior pun masih gugup ketika berbicara dengannya.
Namun di depan Nayla, Amara berubah menjadi ibu biasa. Kadang ia mengeluh obat pahit, kadang diam-diam tidak mau makan, kadang pula ia pura-pura tidur agar tidak dimarahi putrinya.
Sebenarnya, sikap Nayla yang terlalu protektif bukan muncul begitu saja. Ada sebuah janji yang pernah ia ucapkan bertahun-tahun lalu. Janji sederhana yang mungkin sudah dilupakan Amara, tetapi tidak pernah hilang dari ingatan Nayla.
Saat itu Nayla baru berusia dua belas tahun.
Ia baru masuk sekolah menengah pertama. Arsen berusia enam belas tahun, sementara Raka empat belas tahun. Demi masa depan ketiga anaknya, Amara memutuskan untuk menempatkan mereka di asrama. Bukan karena Amara ingin menjauh dari anak-anaknya. Justru sebaliknya. Ia ingin mereka memiliki lingkungan belajar yang lebih teratur, mendapatkan pendidikan yang baik, dan tumbuh menjadi pribadi mandiri. Amara tahu ia tidak bisa selalu berada di sisi mereka. Ia harus bekerja dan menjalankan banyak urusan demi memastikan masa depan ketiga anaknya aman.
Sore itu, ruang makan rumah mereka dipenuhi buku catatan, daftar kebutuhan, dan beberapa kantong belanja. Arsen sedang memeriksa perlengkapan sekolahnya. Raka sibuk menghitung jumlah buku yang harus dibawa. Sementara Nayla duduk di samping Amara sambil menuliskan barang-barang pribadi yang masih belum terbeli. Sabun, sampo, handuk, perlengkapan mandi, beberapa pakaian tambahan, dan beberapa kebutuhan kecil untuk tinggal di asrama.
Nayla menghitung semuanya dengan sangat serius. Sesekali ia menunduk, lalu kembali menulis angka di atas kertas. Amara memperhatikannya sambil tersenyum.
“Sudah selesai?”
Nayla mengangguk.
“Sudah, Mah.”
“Berapa totalnya?”
Nayla melihat kembali catatannya.
“Dua juta.”
Amara sempat terdiam. Jumlah itu tidak sedikit bagi mereka pada masa itu. Namun ia tidak ingin anak-anaknya merasa kekurangan hanya karena keadaan mereka belum baik.
Nayla lalu menyerahkan kertas itu kepada ibunya.
“Mah, ini Nayla pinjam dulu, ya.”
Amara mengangkat alis.
“Pinjam?”
“Iya. Nanti kalau Nayla sudah kerja, Nayla akan balikin semua uang Mama.”
Amara tertawa kecil.
“Kapan kamu mau balikin?”
“Kalau Nayla sudah punya pekerjaan.”
Amara pura-pura berpikir.
“Hmm… kalau begitu, nanti waktu kamu mau balikin uang Mama, Mama sudah tua.”
Nayla mengangguk polos.
“Tidak apa-apa. Nayla tetap akan balikin.”
Amara kembali menggoda putrinya.
“Jangan-jangan nanti Mama sudah tua, lalu kalian bertiga malah menempatkan Mama di panti jompo.”
Kalimat itu sebenarnya hanya candaan. Namun wajah Nayla langsung berubah. Bibir kecilnya bergetar, dan matanya mulai berkaca-kaca. Dalam beberapa detik, air mata jatuh membasahi pipinya.
“Mama jangan ngomong begitu…”
Amara terkejut.
“Lho, Mama cuma bercanda.”
Namun Nayla langsung memeluk tubuh ibunya erat.
“Tidak akan terjadi,” katanya sambil menangis.
“Nayla tidak akan pernah taruh Mama di panti. Nayla akan jaga Mama.”
Amara terdiam. Tangan Nayla memeluknya semakin kuat.
“Nanti kalau Mama tua, Mama tinggal sama Nayla. Nayla yang rawat Mama.”
Amara mengusap rambut putrinya perlahan.
“Iya, Sayang.”
“Pokoknya Mama jangan tinggal sendiri.”
“Baik.”
Nayla menghapus air matanya, lalu menatap ibunya dengan wajah serius.
“Nayla janji.”
Saat itu Amara hanya tersenyum. Ia menganggapnya sebagai janji polos seorang anak berusia dua belas tahun. Namun bertahun-tahun kemudian, ketika Amara jatuh sakit dan tubuhnya mulai melemah, Nayla mengingat setiap kata yang pernah diucapkannya. Ia tidak membiarkan perawat menggantikan seluruh tugasnya.
Ia memeriksa obat ibunya sendiri, memastikan Amara makan, bahkan tidur di sofa dekat tempat tidur agar bisa langsung bangun jika ibunya membutuhkan sesuatu. Karena bagi Nayla, merawat Amara bukan kewajiban. Itu adalah janji.
Janji seorang anak kecil kepada perempuan yang telah mengorbankan seluruh hidupnya demi masa depan mereka.
Dan satu orang lagi yang selalu berada di sekitar kamar Amara adalah Kael Adrian. Kael adalah Bodyguard pribadi keluarga.
Kael bukan pria biasa. Tingginya hampir seratus sembilan puluh sentimeter, tubuhnya tegap dengan wajah dingin yang nyaris tidak pernah menunjukkan emosi. Ia selalu berdiri diam seperti bayangan. Namun semua orang di keluarga tahu, Kael adalah salah satu orang paling berbahaya yang pernah dipilih langsung oleh Amara.
Bahkan Leon Volkov sendiri pernah berkata,
“Kalau Kael bergerak, biasanya seseorang akan mati.”
Namun anehnya, Kael sangat lembut pada Amara. Dan bahkan jauh lebih lembut lagi pada Nayla.
Tidak banyak orang tahu latar belakang Kael sebenarnya. Ia adalah anak buangan dari keluarga konglomerat rival bisnis keluarga Amara. Ayahnya membuangnya sejak kecil demi mempertahankan pewaris lain yang dianggap lebih “layak”.
Kael tumbuh di lingkungan keras. Ia dikhianati, diperalat, dan diburu. Hingga suatu malam Amara menemukannya hampir mati dalam operasi pengkhianatan internal.
Saat itu usia Kael baru dua puluh tahun. Semua orang menyuruh Amara membunuhnya. Namun Amara justru berkata:
“Anak ini tidak haus kekuasaan.”
Leon sampai mengernyit.
“Kau yakin?”
Amara menatap Kael muda yang penuh luka.
“Dia hanya ingin tempat pulang.”
Dan sejak malam itu, Kael menjadi orang Amara. Loyalitasnya mutlak. Ia bahkan paling tahu arti dari semua gerakan madam A.
Kini usia Kael sama dengan Arsen. Dan selama bertahun-tahun, Amara diam-diam memperhatikan satu hal. Yaitu cara Kael memandang Nayla.
Ia Selalu tenang dan selalu menjaga jarak.
Namun terlalu hati-hati untuk sekadar seorang bodyguard.
Suatu malam ketika Nayla tertidur di sofa samping tempat tidur ibunya karena kelelahan, Amara membuka mata perlahan. Tamapak Kael masih berdiri menjaga di dekat jendela.
“Kael.”
“Ya, Madam.”
“Duduk.”
Kael ragu beberapa detik sebelum akhirnya duduk. Amara memperhatikannya lama.
“Kau menyukai Nayla?”
Kael langsung membeku. Suasana di ruangan itu terasa sunyi cukup lama. Lalu pria itu menjawab pelan,
“Saya tidak pantas untuk Nona Nayla.”
Jawaban itu justru membuat Amara tersenyum kecil.
“Berarti iya.”
Kael menunduk diam. Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, pria itu terlihat gugup. Mulut boleh berkata tidak. Namun jauh di lubuk hatinya, ia sangat menyukai wanita itu. Bahkan diam-diam ia telah lama jatuh cinta pada putri majikannya.
“Aku ingin Nayla menikah denganmu.”
Kalimat itu membuat Kael langsung mengangkat kepala.
“Madam—”
“Aku serius.”
Kael terlihat benar-benar panik sekarang.
“Saya hanya pengawal.”
“Kau lebih manusia daripada banyak pria kaya yang pernah kutemui.”
Sunyi. Hanya bunyi deru napas sejenak tidak teratur, yang memenuhi ruangan itu.
Amara melanjutkan dengan suara lemah namun tegas.
“Kau mungkin lahir dari keluarga monster… tapi kau memilih menjadi manusia baik.”
Tatapan Kael sedikit bergetar. Karena tidak ada yang pernah mengatakan hal seperti itu padanya. Tidak pernah.
Keesokan paginya Nayla memarahi Kael karena tidak tidur semalaman.
“Kamu pikir tubuhmu robot?”
“Saya baik-baik saja.”
“Kamu bahkan belum makan.”
“Aman.”
Nayla memijat pelipis kesal.
“Kamu keras kepala sekali.”
Kael hanya diam. Namun diam-diam tatapannya melembut saat melihat Nayla sibuk mengganti infus Amara. Dan Amara yang pura-pura tidur hanya tersenyum kecil melihat mereka.
Beberapa hari kemudian, kondisi Amara sedikit membaik. Sore itu mereka duduk bersama di taman belakang rumah. Nayla membantu ibunya memakai selimut tipis. Sementara Kael berdiri tidak jauh dari sana seperti biasa.
Amara tiba-tiba berkata santai,
“Nayla.”
“Hm?”
“Bagaimana menurutmu tentang Kael?”
Nayla mengernyit bingung.
“Kenapa?”
“Dia tampan.”
Kael hampir tersedak untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
“Ibu!”
Amara tertawa kecil pelan. Sudah lama rumah itu tidak mendengar tawanya.
“Dia setia,” lanjut Amara santai. “Jarang ada pria seperti itu sekarang.”
Nayla langsung sadar arah pembicaraan itu. Wajahnya memerah.
“Ibu jangan aneh-aneh.”
“Aku serius.”
Kael kini benar-benar ingin menghilang dari bumi. Majikannya benar blak-blakan. Namun Amara hanya menatap keduanya bergantian dengan mata lembut. Karena sebagai seorang ibu, ia tahu. Dari semua anaknya, Nayla adalah yang paling membutuhkan seseorang yang tidak akan pernah meninggalkannya.