Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.
ikuti untuk bab selanjutnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Katanya Aku Menantu Pembangkang
Mas Viyan bangkit dari duduknya. Beliau berjalan mondar-mandir beberapa langkah. Kemudian berhenti tepat di depan ibunya.
"Ma..Kalau memang butuh uang...kenapa enggak bilang?"
"Mama malu."
"Malu sama siapa?"
"Malu sama kamu."
"Lho? Lebih baik Mama jujur daripada uang kuliah Dinda enggak dibayar."
Bu Mirna mulai menangis. "Apa sekarang Mama jadi ibu yang jahat? Tega ya kalian menghakimi Mama."
Kalimat itu langsung mengubah arah pembicaraan. Dari membahas uang kuliah... Menjadi membahas perasaan Bu Mirna.
Aku menggigit bibir bawahku. Persis seperti dugaanku. Beliau sangat pandai membalik keadaan.
"Astaghfirullah..."Sejak kamu nikah...Mama selalu salah. Sedikit-sedikit Mama disalahkan. Mama capek."Bu Mirna mengusap air matanya.
Aku melihat Dinda langsung memeluk ibunya. "Iya, Ma. Sudah, jangan nangis."
Kemudian Dinda menoleh tajam ke arahku. "Semua ini gara-gara Mbak!"
Aku terkejut. "Apa maksudmu?"
"Kalau Mbak enggak ngajak Abang ke kampus....enggak bakal kayak gini."
Aku menarik napas panjang. "Dinda. Yang membuat masalah bukan aku. Tapi kebohonganmu."
"Diam! Kamu puas sekarang? Mama nangis!" Bentak Dinda.
Belum sempat aku menjawab, Bu Mirna kembali berkata sambil terisak,
"Sudahlah Dinda. Jangan salahkan Fitri. Mungkin memang Mama yang enggak berguna. Mama memang ibu yang gagal."
Aku menatap beliau. Tangis itu terdengar menyedihkan. Namun kata-katanya... Selalu berhasil membuat orang lain merasa bersalah.
Mas Viyan akhirnya berbicara. "Cukup."
Suasana langsung hening. "Aku enggak sedang mencari siapa yang paling jahat. Aku cuma ingin masalah ini selesai." Lanjut mas Viyan.
Beliau mengambil map dari atas meja.
"Mulai semester depan...uang kuliah Dinda akan Abang bayarkan langsung ke kampus. Dan mama kalau uang arisan mama sudah dapat segera bayar ke kampus. Aku tidak mau berurusan lagi dengan tagihan ini karena aku sudah memberikan uangnya" Ucap Mas Viyan tegas.
Dinda langsung mengangkat kepala. "Bang...jangan gitu bang. Uang buku gimana? Aku kan juga butuh buku." Ucap Dinda.
"Kalau kamu butuh buku, abang kasih hanya saja kamu harus memberikan struk pembayaran buku nya. Awas saja kalau kamu membohongi abang lagi." Ucap Mas Viyan lagi.
"Enggak ada lagi uang tunai. Kalau memang untuk kuliah...Abang transfer langsung ke rekening kampus." Lanjut Mas Viyan lagi.
Aku sedikit mengembuskan napas lega. Setidaknya... Mas Viyan mulai belajar mengelola masalah dengan lebih tegas.
Namun... Aku melihat wajah Bu Mirna berubah. Beliau tampak tidak senang dengan keputusan itu. Tatapannya sesaat mengarah kepadaku.
Tatapan yang seolah berkata, "Kamu berhasil memengaruhi anakku."
Aku hanya menundukkan kepala. Aku tahu... Mulai hari ini... Bu Mirna akan menganggap ku sebagai musuh yang lebih berbahaya. Karena untuk pertama kalinya... Mas Viyan tidak lagi mengikuti semua keinginannya tanpa bertanya. Dan sejak detik itu pula... Konflik di rumah ini perlahan mulai memasuki babak yang jauh lebih besar.
***
Sejak hari Mas Viyan memutuskan akan membayar uang kuliah Dinda langsung ke kampus, suasana rumah berubah drastis. Bu Mirna tidak lagi banyak berbicara kepadaku.
Kalaupun berbicara... Nadanya selalu dingin. Sedangkan Dinda semakin terang-terangan menunjukkan rasa tidak sukanya.
Aku tetap memilih bersikap seperti biasa. Bagiku, pekerjaan rumah tetap harus diselesaikan.
Pagi hari sabtu itu, aku sedang menjemur pakaian. Bu Mirna keluar dari kamar sambil membawa sapu.
"Fitri."
"Iya, Ma."
"Nanti habis pulang kerja, pel dapur sama ruang tamu dua kali."
"Dua kali, Ma?"
"Iya. Lantainya masih lengket. Pokoknya sampai mengkilap, Bersih semua" Ucap mertuaku dingin.
Aku menatap lantai yang baru saja kupel semalam namun aku tidak menolaknya karena kalau ku menolak, akan seperti peperangan besar. "Baik, Ma."
"Terus kamar Mama jangan lupa dibereskan."
"Iya."
"Oh iya. Kasur Mama dijemur juga."
Aku mengangguk lagi. "Baik."
Belum selesai. Bu Mirna kembali menambahkan.
"Halaman belakang juga banyak rumput. Nanti cabutin."
"Iya, Ma. Kalau cabut rumput. Minggu sekalian ya ma. Kalau sekaligus Fitri enggak kuat" Ucap ku lirih.
"Apaan sih kamu. Itu tugas enteng loh. Mama engga mau tau, pokoknya semua itu harus beres." Ucap mertuaku.
Aku hanya mencatat semua itu di dalam kepala.
Siang harinya, saat jam istirahat kantor, aku mendapat pesan dari Mas Viyan.
"Sayang, nanti pulang jangan terlalu capek ya." Pesan mas Viyan.
Aku tersenyum kecil. "Iya, Mas."
"Mas pulang agak telat. Ada lembur."
"Semangat ya."
Aku menyimpan kembali ponselku. Setidaknya, di tengah semua masalah ini, suamiku mulai fokus memperhatikanku.
Sore hari aku tiba di rumah sekitar pukul 3 sore. Cuaca juga entah kenapa sangat terik. Belum sempat mengganti pakaian, Bu Mirna sudah berdiri di depan pintu.
"Lama sekali."
"Tadi macet, Ma." Jawabku
"Halah.. Alasan."
Beliau menunjuk dapur. "Itu piring numpuk."
Aku melihat ke arah wastafel. Ada belasan piring, gelas, panci, dan wajan. Sepertinya sengaja tidak dicuci sejak siang.
"Iya, Ma."
Aku langsung menggulung lengan bajuku. Saat sedang mencuci piring, Dinda datang sambil membawa segelas es.
"Mbak."
"Hmm?" Jawabku masih fokus mencuci piring.
"Kalau habis ini selesai nyuci...tolong setrika bajuku ya." Ucap Dinda sambil memperlihatkan baju nya.
Aku menghentikan gerakan tanganku.
"Maaf, Din. Kalau baju kamu...coba disetrika sendiri ya." Jawab ku masih baik.
Dinda langsung mengernyit. "Kenapa?"
"Aku masih banyak kerjaan nih." Jawabku sambil mengusap keringat dengan pergelangan ku.
"Lah. Kan sekalian aja lah. menyetrika baju ku engga sampai 15 menit"
Aku tersenyum sopan. "Aku enggak sempat."
Dinda langsung mendengus. "Pelit banget sih."
Aku kembali mencuci piring. Tidak menanggapi. Beberapa menit kemudian... Bu Mirna keluar dari kamar.
"Dinda."
"Iya, Ma?"
"Bajumu sudah disetrika?" Tanya mertuaku.
"Belum. Mbak Fitri enggak mau." Jawab DInda dengan nada sedih.
Bu Mirna langsung menoleh kepadaku.
"Fitri."
"Iya, Ma."
"Kenapa enggak mau?"
"Aku masih cuci piring, Ma." Jawabku
"Terus?"
"Setelah ini masih harus ngepel." Jawabku.
"Ya tinggal setrika sebentar 15 menit jadi terus kamu lanjut ngepel." Ucapnya enteng.
Aku meletakkan piring yang sedang kupegang. "Ma. Boleh aku bicara?"
Bu Mirna melipat kedua tangannya.
"Apa?"
"Aku bersedia membantu pekerjaan rumah. Tapi...Baju Dinda sebaiknya disetrika sendiri. Itu hal yang sangat mudah. Dinda juga sudah dewasa. Dia juga enggak kerja. Masih punya banyak waktu." Jelasku sopan.
Ruangan mendadak hening. Dinda langsung berdiri.
"Ma! Lihat kan! Mbak Fitri sekarang berani nyuruh-nyuruh aku!" Ucap Dinda dengan
Aku menggeleng. "Aku enggak nyuruh. Aku cuma mengajarkan tanggung jawab. Perempuan ketika sudah baligh itu sudah bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri, Kamu kan juga sudah besar tau mana yang baik atau buruk."
"Enggak usah sok ngajarin! Memangnya Mbak siapa?" Teriak Dinda.
Aku masih berusaha tenang. "Dinda. Nanti kalau sudah menikah....kamu juga harus bisa mengurus kebutuhanmu sendiri."
Belum sempat Dinda menjawab.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiriku.
Aku membeku.
Tanganku refleks memegang pipi. Bu Mirna berdiri tepat di depanku.
Tatapannya penuh kemarahan.
"Kurang ajar! Kamu berani mendidik anak Mama?" Bentaknya.
Air mataku langsung menggenang. "Ma...Aku cuma..."
"Diam! Anak Mama enggak perlu diajarin sama orang luar!" Bentak mertua ku lagi padaku.
Dadaku terasa sesak. Selama ini... Aku diminta membantu. Aku diminta mengalah. Aku diminta sabar. Namun baru kali ini... Beliau benar-benar mengangkat tangan kepadaku.
Bersambung...