NovelToon NovelToon
Aku Hidup Kembali

Aku Hidup Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: LaQuin

Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji Sederhana

Bab 16

Suara bel pergantian jam kuliah baru saja berbunyi ketika mahasiswa mulai keluar dari ruang kelas. Koridor yang semula sunyi mendadak ramai oleh obrolan dan langkah kaki yang saling bersahutan.

Karin merapikan buku-bukunya ke dalam tas. Ia baru saja berdiri ketika Kai menghampirinya dari depan kelas.

"Sudah selesai?"

Karin mengangguk.

"Iya."

Kai melirik jam tangan.

"Aku masih ada waktu sekitar satu jam sebelum ke bengkel."

Karin tersenyum kecil.

"Berarti kita jadi ke perpustakaan?"

"Kalau kamu nggak berubah pikiran."

"Tentu saja nggak."

Dari bangku belakang, Nia yang sedari tadi memperhatikan mereka langsung menyeringai.

"Wah... sekarang janjian terus, ya?"

Karin spontan menoleh.

"Bukan begitu."

"Bukan bagaimana?" goda Nia. "Kalian sekarang sering banget bareng."

Kai hanya tersenyum tipis, sementara Karin menggeleng pasrah.

"Nia, kamu ini."

"Aku cuma bilang apa yang kulihat."

Mereka bertiga akhirnya berjalan menuju perpustakaan.

Suasana perpustakaan cukup tenang. Hanya terdengar suara lembaran buku yang dibalik dan ketikan pelan dari beberapa mahasiswa.

Karin duduk berhadapan dengan Kai.

Awalnya mereka benar-benar fokus mengerjakan tugas. Sesekali hanya terdengar pertanyaan singkat.

"Bagian ini sudah?"

"Sudah."

"Kalau rumus yang ini?"

"Coba lihat halaman empat puluh dua."

Sederhana.

Namun justru kesederhanaan itu membuat Karin merasa nyaman.

Beberapa kali ia diam-diam memperhatikan Kai. Pria itu benar-benar berbeda dengan kesan yang selama ini beredar di kampus.

Pendiam, memang.

Tetapi juga sabar.

Saat Karin kesulitan memahami sebuah materi, Kai tidak pernah menunjukkan wajah kesal. Ia akan menjelaskan perlahan sampai Karin mengerti.

"Kamu paham sekarang?" tanyanya.

Karin mengangguk.

"Iya."

"Lumayan cepat."

Karin tersenyum.

"Soalnya gurunya bagus."

Kai terkekeh pelan.

"Baru kali ini ada yang bilang begitu."

Menjelang sore, mereka keluar dari perpustakaan.

Angin berembus pelan membawa aroma tanah yang masih basah sisa hujan semalam.

"Kai."

"Hm?"

"Aku boleh tanya sesuatu?"

"Boleh."

"Kamu sebenarnya kenapa memilih kerja di bengkel?"

Kai memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

"Waktu SMA aku pernah kerja macam-macam."

"Macam-macam?"

"Angkat barang di toko bangunan."

"Jadi kurir."

"Cuci motor."

"Baru akhirnya belajar di bengkel."

Karin mendengarkan tanpa menyela.

"Kenapa bertahan di bengkel?"

Kai tersenyum kecil.

"Karena aku suka mesin. Aku senang kalau sesuatu yang rusak bisa hidup lagi."

Kalimat itu membuat langkah Karin terhenti.

"Hidup lagi..."

Entah kenapa, kalimat sederhana itu terdengar begitu dekat dengan dirinya.

Bukankah ia juga sedang menjalani kehidupan yang hidup kembali?

Kai menoleh.

"Kenapa?"

"Nggak."

Karin menggeleng sambil tersenyum.

"Aku cuma merasa... itu alasan yang bagus."

Mereka berjalan hingga tiba di halte.

Bus belum datang. Beberapa orang berdiri sambil memainkan ponsel masing-masing.

"Karin."

"Iya?"

"Akhir-akhir ini kamu kelihatan lebih sering tersenyum."

Karin menoleh.

"Serius?"

Kai mengangguk.

"Waktu pertama kali kenal, kamu sering melamun."

"Sekarang sudah nggak."

Karin tertawa kecil.

"Mungkin karena sekarang aku punya teman."

Kai diam beberapa detik.

"Teman?"

"Iya."

"Kamu, Nia...Dan Mama senang karena aku jadi nggak sering murung."

Kai mengangguk pelan.

"Bagus."

Jawaban singkat itu justru membuat senyum Karin semakin lebar.

Di sisi lain kampus...

Sebuah mobil berwarna hitam berhenti di dekat taman. Gio turun sambil merapikan kemeja yang dikenakannya.

Hari itu sebenarnya ia berniat mengajak Karin makan malam. Beberapa hari terakhir ia sengaja menahan diri untuk tidak datang mencari Karin.

Menurutnya, pendekatan yang terlalu terburu-buru seperti yang ia lakukan akhir-akhir ini justru akan membuat Karin menjauh.

Namun begitu memasuki area kampus, langkahnya terhenti. Dari kejauhan ia melihat Karin dan Kai berdiri berdampingan di halte.

Mereka tidak melakukan hal istimewa. Hanya berbincang ringan sambil sesekali tertawa. Tetapi justru pemandangan sederhana itu membuat dada Gio terasa sesak. Ia belum pernah melihat Karin tersenyum selepas itu ketika bersamanya.

Gio menarik napas panjang sebelum berjalan mendekat.

"Karin."

Karin menoleh.

"Gio."

Senyum Karin pudar.

"Aku kebetulan lewat."

Gio melihat ke arah Kai, begitu pula sebaliknya. Namun mereka saling diam, seolah-olah enggan untuk memulai lebih dulu menyapa.

"Ada apa?" tanya Karin.

Meski malas untuk bertanya, tapi Karin terpaksa melakukannya.

"Aku mau mengajakmu makan malam."

"Makan malam?"

Karin tersentak.

"Iya. Kebetulan ada restoran baru."

Karin tampak ragu. Ia melirik Kai sebentar.

"Lain kali saja."

"Kenapa?"

"Aku sudah janji."

"Janji?"

Karin mengangguk.

"Aku sama Kai mau menyelesaikan tugas yang belum selesai."

Gio tersenyum.

"Oh begitu."

Nada bicaranya tetap tenang. Namun di dalam hati, ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sakit berulang kali di tolak.

"Kalau begitu tidak apa-apa. Ganti lain kali."

"Hm."

Bus yang mereka tunggu akhirnya datang. Kai lebih dulu naik. Karin menoleh kepada Gio. Namun tidak berpamitan.

"Hati-hati."

Meski begitu, Gio masih berusaha meraih perhatian Karin.

Bus perlahan meninggalkan halte.

Gio tetap berdiri di tempatnya sampai kendaraan itu menghilang di tikungan. Senyumnya masih terpasang. Namun begitu tidak ada lagi orang di sekitarnya, senyum itu perlahan memudar.

Ia marah karena kalah. Kalah dari seorang Kai yang di matanya hanya seorang pemuda rendahan.

Ia mengeluarkan ponselnya, lalu membuka foto lama. Foto ketika dirinya masih kecil bersama ayahnya dan Pak Wirawan. Di sisi foto itu, tampak seorang gadis kecil yang sedang memegang balon merah.

Karin.

Gio menatap foto itu cukup lama.

"Aku sudah kehilangan Ayah. Aku juga kehilangan kehidupan yang dulu. Karena itu...Aku tidak akan membiarkan orang lain mengambil masa depanku."

Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Tatapannya kembali mengarah ke jalan yang baru saja dilalui bus. Namun kali ini, tidak ada kemarahan di wajahnya. Hanya sebuah tekad yang mulai tumbuh perlahan.

Sementara itu, di dalam bus, Karin sama sekali tidak mengetahui bahwa penolakan yang sering ia lakukan telah meninggalkan luka pada harga diri Gio.

Di sampingnya, Kai sedang memandang keluar jendela.

Tanpa mereka sadari, hubungan yang awalnya hanya dimulai dari sebuah permintaan bantuan kini perlahan berubah menjadi kebiasaan.

Dan sering kali..., perasaan yang paling dalam memang tidak tumbuh dari pernyataan cinta. Melainkan dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan bersama setiap hari.

-

-

-

Bersambung...

1
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
kali ini jalanmu tak kan mulus gi
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
mungkin jalanmu akan berubah mulai sekarang gi..
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
weehh gercep juga si gio ya, udah sampai ke bengkel
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
kita liat
Author.N.
Untunglah ada saksi
Author.N.
pasti ini orang suruhan Gio
Author.N.
Dasar licik Gio 😏
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
semoga bisa merubah semua yg lalu
Author.N.
alhamdulillahnya tuh ayah ibunya menyambut baik
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
mau apa? bikin gentar kai?
Author.N.
lahhh dianya beneran 😅
Author.N.
pikirkan cara lagi buat menghancurkan Gio, Rin. Cari tau kehidupan dia
Author.N.
huwaaa misteri lagi. Gio dari awal licik sih ya,
Author.N.
cieee belum2 udah perhatian nih 😍
Author.N.
hati2 abang Kai ada yg lagi mengawasimu
Author.N.
Kasian 🤣
Author.N.
thoorr kasih visualnya cepetaaann 😍
Author.N.
mau es teh jumbo yang 4rebuan apa 5rebuan nih bang
Author.N.
ganteng tapi nyakitin 😌😌
Author.N.
eh mendadak ada teka teki
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!