....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi lain
Setelah keluar dari kamar Evan, Jayden masuk ke kamarnya. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil memeriksa ponselnya.
Tiba-tiba terdengar suara Mama dari bawah.
"Adek... Ini ada yang menjenguk kamu, nih!"
Jayden mengerutkan keningnya.
"Siapa?" gumamnya pelan.
Tak lama kemudian, Mama menaiki tangga dan masuk ke kamar Jayden. Di belakang Mamanya, berdiri seorang wanita yang membawa sekeranjang buah. Wanita itu tersenyum manis.
Dara.
Jayden tidak menyangka Dara yang akan datang. Sudah tiga tahun sejak terakhir kali dia datang ke rumah ini. Dulu Dara memang sering datang ke rumah ini, sehingga tidak heran jika Mama sudah mengenalnya dengan baik. Dara memang pandai bergaul. Kata-katanya yang manis membuatnya mudah disukai orang.
Dara menyapa lebih dulu.
"Hai, gimana keadaan lo?"
Jayden menyisir rambutnya ke belakang dengan tangan, lalu mengalihkan pandangannya.
"Udah mendingan."
Dara terdiam. Ia menatap Jayden beberapa saat, lalu berkedip beberapa kali.
Ia melihat Jayden dengan rambut berantakan dan wajah bare-face nya. Penampilan itu justru membuat Jayden terlihat semakin tampan. Sudah tiga tahun, baru kali ini lagi ia melihat Jayden seperti itu.
[Bayangin aja kayak gini ya hehe.]
Mama Jayden kemudian berkata kepada Dara,
"Tante ke bawah dulu ya. Mau bikinin minum buat kamu."
Dara segera menjawab,
"Eh gak usah Tante, gausah repot-repot."
Mama tersenyum.
"Ah gapapa kok."
Setelah Mama turun, Dara meletakkan keranjang buah di atas meja samping tempat tidur Jayden. Lalu ia bertanya,
"Gue boleh duduk gak?"
Jayden menggeser posisinya sedikit, memberi ruang untuk Dara duduk di sampingnya.
Dara masih terus memperhatikan Jayden. Rambutnya, tubuhnya, pipinya. Sementara itu Jayden hanya menunduk. Kedua sikunya bertumpu di atas pahanya.
"Kenapa lo liatin gue kayak gitu?" tanya Jayden.
Dara tersenyum kecil.
"Gue kangen aja. Udah lama baru liat lo kayak gini lagi."
Jayden menghela napas. Ia menegakkan tubuhnya, lalu menoleh ke arah Dara. Dara langsung tersenyum. Namun Jayden tidak.
"Lo sama siapa ke sini?" tanya Jayden.
Dara menjawab,
"Sama sopir. Tapi tadi udah gue suruh pulang."
Jayden mengangguk.
"Makasih ya udah sempatin waktu lo."
Tangan Dara terangkat, hendak menyentuh dahi Jayden. Namun dengan cepat Jayden langsung menghindar. Tangan dara tertahan di udara.
"Mau ngapain?" tanya Jayden.
Dara menjawab gugup,
"Sorry, gue... Cuma mau cek suhu tubuh lo."
Jayden menatapnya.
"Gue udah mendingan."
Dara mengangguk.
"Syukur deh."
Jayden kemudian berkata dengan nada datar,
"Gue ngizinin lo duduk di kasur gue. Bukan berarti lo boleh nyentuh yang lainnya."
Dara terdiam. Jari-jarinya meremas ujung roknya.
"iya sorry"
Ucap Dara tiba-tiba berucap lagi. "Gue mau minta maaf juga untuk kesalahan gue di masa lalu."
Jayden menoleh.
"Maksud lo?"
Dara menarik napas.
"Untuk hubungan yang berakhir cuma karena bosan."
Jayden diam sejenak.
"Nggak usah bahas masa lalu. Karena gue udah gak inget semua itu."
Dara terdiam. Tidak ada lagi kata yang keluar dari mulutnya.
DI L'EVANNE - RUANGAN EVAN - SORE
Cheyrin bekerja seperti biasa. Tangannya sibuk merapikan orderan, tapi pikirannya entah ke mana.
Tiba-tiba seorang staf menghampirinya.
"Cheyrin, pak Evan manggil kamu ke ruangan nya."
Jantung Cheyrin langsung berdegup. Pasti ada sesuatu yang ingin di bahas. Ia mengangguk, lalu bergegas.
Tok tok
"Masuk."
Cheyrin membuka pintu. Evan sudah duduk di kursi kerjanya, menatap layar laptop.
"Bapak manggil saya?" tanya Cheyrin pelan.
Evan mengangguk tanpa menoleh. "Coba kamu sini. Lihat ini."
Jantung Cheyrin berdegup makin kencang. Ia melangkah mendekat dan berdiri di samping Evan. Ia menunduk.
Di layar laptop itu adalah rekaman CCTV.
Hari itu. Saat Cheyrin terlibat sedikit masalah dengan pelanggan wanita yang memesan Wagyu.
Evan menunjuk layar. "Ini kamu?"
Cheyrin mengangguk. Tenggorokannya tercekat. Apa aku melakukan kesalahan lagi? batinnya.
Evan menatapnya sekilas. "Kamu yang bayar makanan customer kita ini?"
"I-iya pak. Karena itu kesalahan saya," jawab Cheyrin lirih.
Evan menutup laptopnya. Suaranya tenang, tapi tegas.
"Kamu gak harus ngelakuin itu, Cheyrin. Saya tau kamu ingin bersikap profesional. Tapi kamu tidak perlu sampai melakukan itu. Bukannya saya sudah pernah bilang? Kalau ada masalah, langsung beritahu saya."
Cheyrin hanya bisa mengangguk.
Evan membuka laci mejanya. Ia mengeluarkan sebuah amplop coklat, lalu menyerahkannya pada Cheyrin.
"Ini buat kamu. Plus uang kamu yang udah kamu pakai buat bayarin customer itu."
Cheyrin menerima amplop itu dengan kedua tangan. Ia terdiam, bingung harus bereaksi seperti apa.
Akhirnya ia tersenyum kecil. "Terima kasih, Pak."
Evan membalas dengan anggukan dan senyum tipis.
Cheyrin keluar dari ruangan. Pintu tertutup.
Evan bersandar di kursinya. Ia terdiam.
Pikirannya melayang ke beberapa menit lalu.
Saat Cheyrin berdiri begitu dekat dengannya.
Ia bisa mencium samar aroma parfum dari tubuh Cheyrin.
Ia sempat memperhatikan wajah Cheyrin dari jarak sedekat itu.
Pantes aja Jayden suka sama gadis ini, pikir Evan.
DI L’EVANNE – JAM TUTUP
Lampu L’Evanne padam satu per satu.
Cheyrin keluar paling akhir. Ia berjalan pelan sambil merapikan cardigan. Udara malam sudah mulai dingin.
Namun langkahnya terhenti.
Pandangannya tertuju ke trotoar di depan.
Di sana terparkir sebuah motor Ninja berwarna biru tua. Seseorang bersandar di pagar sambil memainkan kunci motor di tangannya.
Juno.
Cheyrin mengerutkan dahi, lalu mendekat.
“Juno?”
Juno yang semula menunduk langsung menoleh dan tersenyum.
“Eh Chey.”
Cheyrin melirik motor itu. “Lho, kok lo pake motor Steven?”
“Oh iya.” Juno menggaruk kepalanya. “Tadi gue futsal bareng Steven. Motor gue mogok di jalan, yaudah pinjem motor dia sekalian lah.”
Cheyrin mengangguk pelan, masih bingung. “Terus... ngapain lo di sini?”
“Nunggu lo.” jawab Juno singkat sambil menepuk jok belakang motornya.
“Hah? Kenapa?”
“Yaelah.” Juno mendecak. “Jay kan lagi sakit. Gue mikir lo gak ada yang jemput. Bahaya tau pulang malem-malem sendirian. Makanya gue di sini buat jemput lo.”
Cheyrin terdiam. Ia merasa bingung, sekaligus tersentuh.
Ia tahu Juno adalah teman yang baik. Namun situasi ini tetap membuatnya canggung.
“Gak usah repot Jun. Gue bisa pesen ojek kok.”
“Apaan sih ojek. Lama.” potong Juno. “Buruan naik. Mumpung gue lagi baik. Besok kalau gue lagi rese, belum tentu gue mau anterin lo.”
Cheyrin tertawa kecil karena gemas. “Yaelah... maksa amat.”
“Iya maksa. CSR gue. Corporate Social Riding.” Juno menyodorkan helm. “Nih, pake. Daripada rambut lo berantakan kena angin.”
Akhirnya Cheyrin menyerah. Ia menerima helm tersebut lalu duduk di belakang.
“Pegangan yang bener.” kata Juno. “Jangan pegang jok. Nanti kalau gue jatuh, lo yang ketawa.”
Mesin motor meraung. Kendaraan itu melaju perlahan keluar dari area parkir L’Evanne.