Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.
Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.
Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.
Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Pengaruh Uang dan Dendam yang Membara
Langkah kakiku yang mantap menuntun tim OSIS keluar dari ambang pintu kelas 10-A. Bisikan singkat yang baru saja kubisikkan di telinga Clara benar-benar sukses membakar emosi sang nona muda hingga mencapai puncaknya. Wajah cantiknya yang tadinya memerah karena malu, kini memerah padam karena amarah yang meledak-ledak.
"Ih... dasar Ketos jahat! Awas saja lo ya!" jerit Clara tertahan seraya menghentakkan kakinya ke lantai dengan sangat keras hingga menimbulkan bunyi dentuman nyaring.
Mendengar umpatan kekesalannya itu, aku menghentikan langkahku sejenak di dekat ambang pintu. Aku memutar separuh badanku ke belakang, menatap wajah cantiknya yang ditekuk habis-habisan, lalu dengan sengaja menjulurkan lidahku padanya dengan gaya mengejek yang sangat kekanak-kanakan.
"Wajah kamu makin merah tuh, nanti cepat tua loh!" godaku singkat sebelum kembali berjalan santai.
Tindakan provokatifku itu bagaikan menyiram minyak tanah ke dalam kobaran api. Clara menjerit gemas, merengek kesal seraya meremas-remas ujung seragam sekolahnya. Diana yang berdiri di sampingnya hanya bisa memegang dahi, mencoba menenangkan sahabat karibnya yang sudah seperti gunung berapi siap meletus itu.
"Sudah Ra, sabar... Jangan melayani dia terus, nanti darah tinggi kamu naik," bisik Diana lembut seraya mengelus bahu Clara.
"Gimana bisa sabar coba, Di?!" rengek Clara dengan suara melengking yang tertahan. "Lihat tuh kelakuan dia!
Bener-bener Ketos paling jahat dan paling menyebalkan di seluruh dunia! Awas aja, aku bakal balas dia lebih parah dari sekadar memotong ban motor tuanya itu!"
Sementara itu, aku dan rombongan tim OSIS melanjutkan tugas memeriksa kelas-kelas lain di koridor kelas 10. Namun, ada satu hal unik yang menyita perhatianku sepanjang sisa hari itu.
Beberapa jam telah berlalu sejak insiden ditemukannya boneka Barbie di dalam loker pribadi milik Clara. Namun, suasana di lingkungan sekolah—khususnya di antara para siswa kelas 10-A—terasa sangat tidak biasa. Biasanya, berita memalukan atau gosip konyol tentang seorang murid akan menyebar cepat bagaikan kilat dari satu mulut ke mulut lainnya di seluruh penjuru sekolah. Namun hari ini, tidak ada satu orang pun yang berani membicarakan insiden tersebut.
Saat jam istirahat kedua berlangsung, aku sengaja berjalan melewati area lorong dan kantin untuk memantau situasi.
Suasana benar-benar sepi dari bisik-bisik gosip tentang Clara. Semua murid seolah sepakat untuk membisu dan berpura-pura seakan-akan tidak pernah terjadi hal apa pun di kelas 10-A pagi tadi.
Ancaman tunggal yang diucapkan Clara saat razia tadi pagi benar-benar bekerja secara mutlak. Pengaruh nama besar Pak Frans Sanjaya dan Ibu Sofia Sanjaya rupanya begitu dahsyat mencengkeram psikologis para siswa. Tidak ada seorang pun yang berani mengambil risiko memicu amarah sang putri konglomerat, sebab taruhannya adalah pekerjaan dan mata pencaharian orang tua mereka sendiri.
Aku yang menyaksikan fenomena keheningan ini hanya bisa menyunggingkan senyum tipis seraya menggelengkan kepala.
Begitulah kenyataan di dunia ini, batinku seraya menatap kerumunan siswa yang bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. The Power of Money. Uang dan kekuasaan memang sanggup membungkam mulut ratusan orang hanya dalam hitungan detik.
Namun, di satu sisi, hal ini justru membuatku merasa sedikit lega. Meskipun aku puas bisa membalas perbuatan Clara soal ban motor, aku juga tidak benar-benar ingin mempermalukannya hingga mentalnya hancur di depan seluruh sekolah. Bisikan dan balasan kecil tadi sudah cukup untuk menyeimbangkan kedudukan di antara kami berdua.
Dari kejauhan di sudut kantin, aku melihat Clara sedang duduk menikmati minuman dinginnya bersama Diana, dikawal ketat oleh Pak Jhon dari belakang. Saat mata kami kembali bertabrakan secara tak sengaja di udara, Clara langsung membuang mukanya ke samping dengan kibasan rambut yang dramatis, memanyunkan bibirnya dengan raut wajah super judes.
Aku terkekeh pelan, menyilangkan kedua tangan di dada.
Permainan antara sang Ketua OSIS dan si Nona Muda kaya raya ini tampaknya masih jauh dari kata selesai.