HELENA KANAYA ATMAJAYA gadis enam belas tahun yang masih duduk di bangku sekolah, sejak kecil Helena sudah di jodohkan dengan anak teman mendiang Ibunya, yang bernama RAVELO TRIAN ADITAMA yang sama sama masih duduk di bangku sekolah, kebetulan Helena dan Velo masih satu sekolah namun beda kelas.
Dari dulu Helena memang sudah menyukai Velo, dan saat tahu kalau keduanya di jodohkan Helena semakin menempel pada Velo, membuat Velo terkadang merasa risih sendiri.
Helena sebenarnya gadis yang baik, hanya saja dia memiliki sifat posesive pada sesuatu yang memang sudah jelas jelas miliknya termasuk pada Velo. Helena tahu kalau Velo dekat dengan gadis satu kelasnya yang bernama HANA LARASATI, jadi Helena selalu berusaha menjauhkan Hana dan Velo.
Dan sikap Helena yang seperti itu, membuat semua murid di sekolahnya mengecap Helena sebagai gadis Antagonist, awalnya Helena tidak terima dirinya di anggap Antagonist, namun pada akhirnya Helan benar benar memerankan sosok Antagonist yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Hari esok pun tiba, sejak pagi para pelayan Aditama sudah sangat sibuk, untuk menyiapkan pesta ulang tahun Diana yang di gelar di halaman samping rumah yang sangat luas, dan saat hari sudah berganti malam, Mira atau Ibu Hana dia baru menyadari kalau tidak melihat keberadaan putrinya untuk membantu para pelayan yang lain, sedangkan tamu sudah mulai berdatangan, lalu Mira pergi ke paviliun yang terletak di belakang rumah besar Aditama, untuk mencari putrinya.
Dan benar saja saat membuka pintu kamar yang di tempati Hana di paviliun, Mira melihat putrinya duduk di depan cermin dengan memakai gaun berwarna hitam sedang merias wajahnya.
''Hana, kamu sedang ngapain?'' tanya Mira sembari berjalan menghampiri putrinya.
Hana langsung berdiri dan tersenyum menatap Ibunya yang memakai seragam pelayan, karna malam ini ada pesta jadi para pelayan Aditama di wajibkan memakai seragam khusus pelayan.
''Ibu bagaimana, Hana cantik tidak pakai gaun ini?, tadi Hana beli di butik pakai tabungan Hana sendiri'' ucap Hana.
Mira sontak menghela nafasnya. ''Nak, Ibu tahu kamu dekat dengan Den Velo, tapi kita harus sadar diri, Ibumu di sini hanya pelayan'' ucapnya.
Sontak senyum Hana langsung menguap, dan tatapannya berubah sendu. ''Bu, memangnya Hana gak boleh kalau pakai gaun kayak teman teman Hana yang lain?'' tanya Hana lirih.
''Boleh boleh saja, asalkan itu di acara teman kamu, tapi ini acara Nyonya Diana, jadi berpakaianlah sesuai status kamu saat ini'' jawab Mira tegas, agar putrinya ingat kalau statusnya tidak lebih dari putri seorang pelayan.
Hana langsung menggelengkan kepalanya. ''Gak mau, Hana gak mau pakai seragam pelayan, Hana maunya pakai gaun ini, Ibu tenang saja Nyonya Diana tidak akan mempermasalahkannya, nanti Hana akan tetap bantu para pelayan yang lain, Hana cuma mau pakai gaun saja'' tukas Hana.
Mira menghela nafasnya kasar. ''Terserah kamu'' ucapnya lalu pergi dari kamar putrinya.
Jam tujuh malam para tamu undangan sudah mulai memenuhi halaman kediaman Aditama, bukan hanya rekan bisnis Tuan Adrian saja yang di undang di acara ulang tahun Diana, melainkan juga kedua sahabat Velo, dan juga ada beberapa teman satu sekolah Velo yang kebetulan orang tuanya mengenal Adrian dan Diana.
Saat ini kedua sahabat Velo duduk di kursi ýang ada di dekat kolam renang, kedua cowok itu sedang menikmati minuman sembari menunggu acara di mulai.
''Hai, Max, hai Xel'' sapa Hana berdiri di depan mereka dengan tersenyum.
''Hai juga'' balas Maxim, sedangkan Exel hanya mengangguk sembari mengangkat gelas yang di genggamnya.
''Loe cantik sekali malam ini'' puji Maxim.
''Terimakasih'' balas Hana tersenyum.
Maxim terus menatap Hana yang berdiri di depannya, malam ini Hana terlihat cantik dengan gaun hitam yang di kenakannya, yah walaupun agak memperlihatkan lekuk tubuhnya, tapi Maxim tetap menyukainya, berbeda dengan Exel dia agak risih kalau melihat wanita berpakaian yang menonjolkan lekuk tubuhnya, jadi dia memalingkan wajahnya.
''Han, si Velo mana?'' tanya Exel tanpa menatap Hana yang masih berdiri di depan mereka berdua.
''Gak tau, dari tadi gue gak liat dia, mungkin masih di kamarnya kali'' sahut Hana tidak berbohong, sejak pulang sekolah Hana memang tidak melihat Velo sama sekali.
Sedangkan orang yang di bicarakan oleh mereka, kini sedang berada di teras depan, Velo berdiri untuk menunggu Helen yang tak kunjung datang, padahal acara hampir di mulai.
Beberapa menit kemudian Velo melihat sebuah mobil bmw berwarna hitam, masuk ke halaman rumahnya dan berhenti di depan teras, tanpa melihat siapa yang mengemudikan mobil itu, Velo sudah tahu kalau itu Helen.
Dan dugaan Velo benar, kalau orang yang mengemudikan mobil bmw hitam itu adalah Helen, saat melihat gadis itu keluar.
Velo yang masih berdiri di teras di buat terpaku, saat melihat kecantikan Helen yang mengenakan gaun hitam yang di beli olehnya kemarin, terlihat kontras dengan kulitnya yang seputih porselin, walaupun gaun itu tidak terlalu memperlihatkan lekuk tubuh Helen, namun tetap terlihat elegant dan mewah saat di pakai oleh Helen.
Malam ini Helen mengikat sedikit rambut pinggirannya, dan memakai jepit berbentuk bulu angsa di di sisi kanan dan kirinya, Helen juga menyentuh sedikit riasan di wajahnya, yang mana terlihat semakin cantik.
''Ngapain loe berdiri di sini?''
Velo tersentak kaget, dirinya terlalu larut dengan kecantikan Helen, sampai tidak sadar kalau gadis itu sudah berdiri di depannya.
''Nunggu loe''
''Ngapain nungguin gue?'' tanya Helen.
''Takut loe gak tau lokasi acaranya'' jawab Velo ngasal.
''Ck, loe pikir gue udah pikun'' decak Helen.
Velo hanya terkekeh saja. ''Sudahlah, ayo masuk, acara hampir di mulai'' ajak Velo.
Helen tidak menjawab dia langsung melenggang masuk meninggalkan Velo begitu saja, membuat Velo melongo.
''Ye, main di tinggal aja'' gerutu Velo, lalu dia bergegas menyusul Helen.
Kedatangan Helena tentu di sambut dengan bahagia oleh Diana, bahkan wanita paruh baya itu terus merangkul lengan calon menantunya, seakan akan menunjukkan ''INI CALON MANTUKU"
''Tante, maaf, Papa gak bisa hadi di ulang tahun Tante'' ucap Helen.
''Ah, gak papa sayang, Tante faham kok kalau Papamu itu sangat sibuk, asal kamu datang itu sudah cukup membuat Tante bahagia'' timpal Diana tersenyum, dan Helen juga ikut tersenyum.
Acara tiup lilin akan di mulai, di samping kanan Diana ada Adrian dan di samping kirinya ada Helen dan Velo, usai tiup lilin kini sesi pemotongan kue, potongan kue pertama tentu Diana berikan pada Adrian suaminya, namun potongan kedua Diana berikan pada Helen bukan pada Velo, membuat Velo mendengus karna merasa dirinya di anak tirikan oleh Mamanya.
Setelah acara tiup lilin dan pemotongan kue ulang tahun usai, kini para tamu undangan di persilahkan untuk menikmati perjamuan yang sudah di siapkan, karna tamu undangan kebanyakan dari kalangan pembisnis, jadi mereka tidak jauh jauh mengobrol membahas pekerjaan, sedangkan untuk anak muda mereka menikmati hidangan sembari mengobrol dengan sesama temannya.
Sedangkan Helen yang duduk di samping Velo mengerutkan dahinya, saat melihat Hana yang juga memakai gaun berwara hitam, tengah melayani para tamu undangan.
''Vel, loe juga beliin Hana gaun?'' tanya Helen.
''Enggak'' jawab Velo.
''Terus, kenapa dia pakai gaun berwarna hitam juga?'' tanya Helen sembari menunjuk ke arah Hana dengan dagunya.
Velo langsung mengikuti arah yang di tunjukan oleh Helen, dia kaget melihat Hana memakai gaun yang berwarna hitam juga, dari tadi Velo terlalu fokus dengan Helen saja, sampai sampai dia tidak menyadari Hana juga memakai gaun dengan warna yang senada dengan Helen, hanya beda motif saja.
Helen langsung merangkul lengan Velo, saat melihat Hana berjalan ke arah mereka, membuat Velo yang hendak minum terkejut, karna gelas yang di pegangnya hampir jatuh.
''Hai Helen'' sapa Hana tersenyum ramah, lebih tepatnya hanya pura pura.
Hana sedikit tidak suka melihat Velo yang tidak menolak seperti biasanya, saat Helen merangkul lengannya.
''Han, aku lihat lihat semua pelayan yang bekerja di Aditama semuanya pakai seragam pelayan, kenapa kamu malah pakai gaun?'' tanya Helen menatap sinis Hana.
Hana mengepalkan tangannya. ''Gue tahu kalau gue hanya putri pelayan, tapi apa gue gak boleh kalau pakai gaun'' ucapnya dengan expresi wajah yang menyedihkan, berharap Velo akan membelanya seperti biasanya, namun harapannya sia sia karna Velo terlihat tidak perduli.
''Ck, wajah menyedihkan itu lagi'' decak Helen yang di dengar oleh Velo.
Velo yang sejak tadi hanya diam perlahan mulai menyadari sesuatu, sikap Helen yang sombong dan angkuh hanya di tunjukkan di depan Hana saja.
coba KLO dicabut apa kamu masih bisa sekolah disitu,
saat kamu dan ibumu di usir dari rumah majikan🤣🤣🤣
kan Hana yg keliling lapangan
bukan Hellen,,
kan malu sendiri udah nantangin masa dibatalin👊👊