NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Cinta setelah menikah / Ibu Tiri
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31

Cemburu

Nadhira tidak membalas pesan itu.

Ia menutup WhatsApp, memasukkan ponsel ke saku, lalu membantu Alif mencari pensil. Lima menit kemudian, tangannya kembali mengambil ponsel tanpa sadar.

Foto tersebut masih sama.

Perempuan berkacamata itu memegang lengan Rayhan. Kepala mereka tampak dekat karena bingkai dipotong sempit. Gilang di belakang sedang melihat ke arah lain.

Nadhira memperbesar bagian tangan, lalu merasa kesal pada dirinya sendiri dan menutup gambar.

Saat makan siang, nasi di piringnya tinggal setengah. Ketika Mbak Wati bertanya apakah lauknya tidak enak, Nadhira menjawab terlalu cepat bahwa ia hanya kenyang.

Pukul tujuh malam, Rayhan menelepon sesuai janji.

Panggilan video itu untuk anak-anak. Alif menunjukkan satu lingkaran kalender yang sudah dicoret. Arkan membawa Kopi ke depan kamera sampai yang terlihat hanya hidung basah. Rayhan berada di kamar hotel dengan kemeja kerja yang belum diganti.

"Papa sama siapa?" tanya Alif.

Jantung Nadhira melonjak.

"Om Gilang ada di kamar sebelah," jawab Rayhan. "Besok Papa rapat pagi."

"Ada ayam?"

"Belum. Papa masak hari Minggu."

Nadhira duduk di luar bingkai. Rayhan beberapa kali melihat ke sisi layar, mungkin mencari wajahnya, tetapi ia berpura-pura merapikan buku Arkan.

"Mama tidak ikut bicara?" tanya Rayhan akhirnya.

Alif memutar ponsel. Wajah Nadhira masuk terlalu dekat.

"Halo," katanya.

"Halo. Semua baik?"

"Baik."

"Kamu kelihatan lelah."

"Hanya banyak membaca daftar program."

Ia hampir menunjukkan foto saat itu. Namun, dua anak menempel di bahunya dan menunggu cerita Papa. Nadhira tidak mau percakapan mereka berubah menjadi pemeriksaan di depan anak.

"Istirahat," kata Rayhan. "Saya telepon lagi besok."

Setelah panggilan berakhir, rasa kesal Nadhira justru bertambah. Rayhan tidak berbohong. Ia juga tidak ditanya. Diamnya sendiri membuat ruang bagi gambar itu tumbuh.

Malam itu ia memeriksa kalender anak, menyiapkan pakaian PAUD, dan membaca dua halaman tentang program kuliah tanpa memahami isinya. Setiap ponsel bergetar, dadanya menegang. Namun, pesan Rayhan hanya berisi foto makan malam sederhana dan kalimat bahwa rapat pagi tetap sesuai jadwal.

Nadhira tidak membuka percakapan tentang perempuan itu. Ia juga tidak mencari isi koper atau riwayat telepon Rayhan. Perjanjian mereka memberi ruang pribadi, dan kecemburuan tidak otomatis membatalkan batas tersebut. Meski begitu, menahan pertanyaan sampai berubah menjadi hukuman diam juga bukan kejujuran.

Ia menyimpan nomor anonim, tangkapan layar, waktu kirim, dan foto asli yang diterimanya ke folder keamanan. Jika pengirim bisa memotret perjalanan secara langsung, masalahnya bukan hanya hubungan, tetapi juga akses pada jadwal keluarga.

Di tempat lain, Dinda membuka laporan pengiriman nomor anonim.

Pesannya sudah dibaca, belum dibalas.

Ia tersenyum sambil memperhatikan salinan foto yang dikirim seseorang dari bandara. Perempuan di sisi Rayhan hanyalah adik tirinya dari keluarga Bu Sri. Namun, potongan gambar menghapus pelukan singkat saat mereka bertemu dan menyisakan tangan pada lengan.

"Tanya saja, Nadhira," bisik Dinda. "Lihat apakah dia mau menjelaskan keluarganya kepadamu."

Ia menjadwalkan pesan kedua untuk keesokan sore, lalu membatalkannya. Satu gambar cukup. Kecurigaan bekerja lebih baik jika korban merasa pikiran itu miliknya sendiri.

Keesokan siangnya, Kartika datang membawa dua bungkus soto.

Wajahnya masih lelah, tetapi ia sudah makan pagi dan menyelesaikan sesi awal dengan psikolog. Ia tidak menceritakan isi sesi. Nadhira juga tidak bertanya.

"Saya diminta mencatat jam tidur dan makan," kata Kartika. "Ternyata saya suka lupa keduanya."

"Kemarin kamu makan siang."

"Karena Mbak Dhira melihat. Hari ini saya bawa makan untuk memastikan Mbak juga tidak pura-pura kenyang."

Mbak Wati menaruh mangkuk, lalu membawa anak-anak bermain di taman belakang. Setelah tinggal berdua, Kartika langsung menunjuk ponsel Nadhira.

"Dari tadi dilihat terus. Ada berita baru?"

"Tidak."

"Kalau bohong, alis Mbak naik sebelah."

Nadhira menyentuh alisnya. Kartika tertawa kecil.

Akhirnya Nadhira membuka foto dan meletakkan ponsel di meja.

Kartika tidak langsung bereaksi. Ia memperbesar gambar, memeriksa potongannya, lalu membaca pesan singkat.

"Mbak kenal perempuan ini?"

"Tidak."

"Nomornya?"

"Tidak."

"Pak Rayhan bilang apa?"

"Saya belum tanya."

Kartika mengembalikan ponsel. "Jadi satu-satunya orang yang memberi cerita adalah pengirim anonim."

"Dia memegang lengan Mas Ray."

"Bisa saudara, teman, rekan kerja, atau orang yang menyebalkan. Bisa juga seseorang yang memang dekat. Saya tidak tahu. Mbak juga belum tahu."

Nadhira mengaduk soto sampai bihunnya kusut.

"Saya benci merasa seperti ini."

"Seperti apa?"

"Ingin tahu siapa yang boleh berdiri sedekat itu. Ingin bertanya kenapa dia tidak pernah menceritakan perempuan itu."

Kartika menatapnya. "Itu namanya cemburu."

Sendok Nadhira berhenti.

"Bukan."

"Baik. Berarti Mbak hanya melakukan pemeriksaan forensik pada posisi tangan orang asing karena sangat santai."

Nadhira menatapnya tajam. Kartika mengangkat kedua tangan.

"Saya tidak mengejek. Cemburu tidak otomatis membuat Mbak posesif. Yang penting apa yang dilakukan setelah merasakannya."

Kata itu membuat wajah Nadhira panas. Kalau perempuan dalam foto tidak penting, mengapa ia nyaris tidak tidur? Mengapa ciuman di dahi terasa seperti miliknya lalu gambar itu terasa seperti diambil kembali?

"Saya suka dia," katanya pelan.

Kartika tidak bersorak atau menggoda. "Sudah bilang?"

"Belum."

"Kalau begitu mulai dari pertanyaan yang benar. Bukan tuduhan."

"Pertanyaan seperti apa?"

Kartika mengambil tisu dan menulis dua kalimat dengan pulpen dari tasnya.

`Siapa perempuan dalam foto ini?`

`Apakah kamu tahu siapa yang memotret atau mengirimnya?`

"Pisahkan fakta hubungan dan masalah keamanan," katanya. "Jangan tanya kenapa dia mempermalukan Mbak kalau Mbak belum tahu dia melakukan apa."

Nadhira membaca tulisan itu. "Kamu terdengar seperti pelatih media."

"Saya belajar dari wawancara Mbak."

"Kalau dia bilang itu bukan urusan saya?"

"Mbak tidak bisa memaksa jawaban. Tapi Mbak boleh memutuskan apakah pernikahan yang makin dekat membutuhkan keterbukaan lebih jelas."

Kartika lalu menunjuk foto. "Dan kalau Mbak cemburu, jangan menghukum diri. Perasaan bukan perintah. Mbak masih bisa memilih tidak memeriksa ponselnya, tidak menyerang perempuan itu, dan tidak percaya pengirim anonim."

"Saya bahkan belum menjadi istri sungguhan menurut kesepakatan awal kami."

"Akad kalian sungguhan. Yang masih kalian tentukan adalah bentuk hubungannya. Kalau perasaan berubah, kesepakatan juga harus dibicarakan, bukan ditebak."

Kalimat itu membuat Nadhira mengusap tepi ponsel. Ia tidak ingin menuntut hak kepemilikan atas Rayhan. Ia ingin tahu apakah kedekatan yang tumbuh di antara mereka dilihat oleh Rayhan dengan cara yang sama.

"Kalau jawabannya menyakitkan?"

"Tetap lebih nyata daripada jawaban yang dibuat pengirim anonim."

Sebelum menelepon, Nadhira mengirim pesan kepada Mbak Wati bahwa ia perlu sepuluh menit sendiri. Ia masuk ke ruang kerja dan menutup pintu tanpa mengunci. Foto berada di layar, bukan disembunyikan di antara tuduhan yang belum terucap.

Nadhira menatap tombol panggil. Tangannya terasa dingin, tetapi ia menekannya sebelum bisa mencari alasan lain.

Rayhan menjawab pada dering kedua.

"Nadhira? Ada apa?"

"Kamu sedang bisa bicara?"

"Lima belas menit sebelum rapat. Ya."

"Saya menerima foto dari nomor tak dikenal. Foto kamu di bandara dengan seorang perempuan."

Hening singkat.

"Kirim kepada saya," katanya.

Nadhira meneruskan gambar. Tanda dibaca muncul hampir langsung.

Rayhan menarik napas di seberang.

"Kamu cemburu?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!