NovelToon NovelToon
Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak tii

Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.

Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.

Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garis tak terlihat di atas meja

Kamis pagi yang cerah itu, sinar matahari menembus celah-celah gorden tipis ruang tengah apartemen nomor 1507. Jam dinding berbentuk bundar di atas televisi masih menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit. Keadaan di dalam apartemen terasa begitu sunyi, hanya ada suara dengung kulkas dua pintu yang kini sudah terisi penuh oleh berbagai macam belanjaan harian yang kami beli kemarin malam.

Aku melangkah keluar dari kamar tidurku dengan gerakan yang sangat lambat karena rasa kantuk yang masih menggelayuti mataku. Rambut panjangku yang sedikit bergelombang kubiarkan tergerai berantakan di bahu, menutupi sebagian wajahku yang masih kuyu. Aku mengenakan kaos oblong kebesaran berwarna abu-abu pudar dan celana tidur pendek sebatas lutut.

Langkah kakiku yang telanjang menapak pelan di atas lantai kayu yang dingin, menuntunku berjalan ke arah dapur bersih untuk mengambil segelas air putih hangat demi membasahi tenggorokanku yang terasa kering.

Namun, begitu aku melewati batas sekat ruang tengah, langkah kakiku mendadak terhenti sempurna.

Di balik konter marmer hitam dapur, Mas Arkan sudah berdiri dengan sangat rapi. Pria itu tampaknya baru saja selesai mandi; rambut hitamnya yang biasanya tersisir klimis ke belakang kini terlihat sedikit basah dan jatuh acak-acakan di dahinya, memberikan kesan yang sangat muda dan jauh lebih santai. Ia hanya mengenakan kaos polo putih polos yang melekat pas di tubuh tegapnya dan celana kain katun panjang berwarna hitam.

"Baru bangun?" suara berat Mas Arkan memecah keheningan pagi, membuatku sedikit terlonjak kaget.

"E-eh! Iya, Mas. Masih agak mengantuk sebenarnya," jawabku canggung sembari merapikan anak rambutku yang menutupi mata ke belakang telinga.

Aku berjalan mendekat ke arah dispenser air di sudut dapur, mencoba mengabaikan tatapan mata cokelat gelap Mas Arkan yang sempat memperhatikan penampilan berantakanku selama beberapa detik sebelum ia kembali fokus pada roti tawar yang sedang ia olesi dengan mentega di atas talenan kayu.

"Minum yang banyak biar kesadaran kamu cepat pulih, Karin. Hari ini hari pertama perkuliahan semester ganjil dimulai. Saya tidak mau melihat kamu berjalan loyo atau mengantuk di koridor gedung fakultas nanti," ujarnya dengan nada memerintah yang sangat akrab di telingaku.

Aku meneguk air hangat di gelasku sampai habis, lalu meletakkannya kembali di atas meja dengan bunyi ketukan pelan. "Tenang aja, Mas. Di kampus nanti Karin bakal langsung pasang mode mahasiswi teladan yang super fokus kok. Gak bakal mempermalukan dosen pembimbingnya."

Mas Arkan meletakkan pisau menteganya, lalu memutar tubuhnya menghadap ke arahku yang sedang bersandar di meja konter dengan tangan terlipat di dada.

"Ingat aturan main kita yang paling krusial di kampus mulai hari ini, Karin," suaranya mendadak melunak, namun di dalamnya sarat akan keseriusan yang sangat nyata. "Di lingkungan kampus, kita adalah dua orang asing yang tidak memiliki hubungan pribadi apa pun di luar urusan akademis. Panggil saya Pak Arkan seperti biasa, jangan pernah menunjukkan gerak-gerik canggung atau mencurigakan di depan teman-teman kamu."

"Iya, Mas. Karin ingat banget kok aturan itu. Malah kemarin pas ketemu Dinda di koridor, Karin langsung pura-pura biasa aja dan gak pamer cincin ini," sahutku sembari mengangkat tangan kananku sedikit, memperlihatkan cincin emas putih polos yang masih melingkar manis di jari manisku. "Di kampus nanti cincin ini bakal Karin simpan di dalam saku ransel kok, biar aman 100 persen dari kecurigaan anak-anak lain."

Mas Arkan menatap cincin di jariku dengan sorot mata yang sulit diartikan selama beberapa detik, sebelum akhirnya ia mengangguk pelan. "Bagus kalau begitu. Sekarang cepat mandi dan ganti pakaian kamu. Kita berangkat pukul tujuh tepat."

Pukul delapan kurang sepuluh menit, suasana di area parkir khusus mahasiswa fakultas teknik sudah mulai ramai oleh deretan kendaraan roda dua dan beberapa mobil mahasiswa yang baru saja datang.

Aku turun dari mobil mungil merahku setelah memarkirkannya di sudut terjauh dari gedung dekanat, sengaja mencari tempat yang agak sepi agar tidak terlalu mencolok. Mobil sedan hitam mewah milik Mas Arkan sendiri sudah terparkir rapi di area parkir khusus dosen di bagian depan gedung utama sejak lima menit yang lalu. Kami memang sengaja berangkat dari apartemen dengan selisih waktu sepuluh menit dan menggunakan kendaraan masing-masing demi meminimalkan risiko kecurigaan orang-orang kampus.

Aku berjalan menyusuri koridor beton lantai dasar gedung sistem informasi dengan langkah kaki yang teratur, memeluk erat tas ransel abu-abuku di dada. Di dalam saku kecil ransel itu, cincin pernikahan kami terbungkus rapi dengan selembar tisu kecil—sebuah garis tak terlihat yang sengaja kubuat untuk membatasi status kehidupan pribadiku dengan dunia perkuliahanku.

"Karin! Tungguin!"

Suara cempreng Dinda terdengar berteriak dari arah belakang koridor, disusul oleh suara derap langkah kakinya yang berlarian kecil mengejarku.

"Aduh, Din! Jangan teriak-teriak napa, berisik tahu!" gerutuku pelan saat Dinda akhirnya berhasil menyeimbangkan langkah kakinya di sebelahku dengan napas yang sedikit terengah-engah.

"Ya habisnya kamu jalannya cepat banget kayak dikejar hantu," sahut Dinda sembari merapikan tas selempang kulitnya yang miring. "Eh, omong-omong hari ini kita ada kelas pengantar keamanan sistem informasi kan jam delapan? Yang megang kelasnya... Pak Arkan?"

Mendengar nama itu disebut, jantungku refleks berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Aku mencoba menjaga ekspresi wajahku agar tetap terlihat datar dan biasa saja. "Iya, kayaknya sih beliau yang megang kelas itu semester ini."

"Mampus deh kita! Hari pertama kuliah langsung disuguhi materi dari dosen killer legendaris," keluh Dinda dengan raut wajah yang mendadak berubah lemas. "Kamu yang udah sering bimbingan skripsi sama dia aja pasti stres kan tiap kali ngeliat mukanya yang dingin kayak es batu itu?"

Aku hanya bisa tersenyum canggung yang dipaksakan mendengar penuturan jujur sahabatku sendiri. Kalau kamu tahu es batu yang kamu maksud itu kemarin malam baru aja masakin aku ayam panggang madu yang super enak, mungkin kamu bakal pingsan di tempat, Din, batinku tertawa geli di dalam hati.

"Ya... mau gimana lagi, Din. Jalani aja yang penting nilai kita aman," sahutku santai sembari mendorong pintu kayu ruang kelas 302 yang sudah mulai dipenuhi oleh belasan mahasiswa lain yang duduk rapi di barisan meja kayu bertingkat.

Tepat pukul delapan pagi, pintu ruang kelas terbuka lebar dari luar.

Sosok Mas Arkan melangkah masuk ke dalam kelas dengan wibawa yang sangat luar biasa pekat. Pagi ini dia benar-benar terlihat sangat gagah dan profesional; mengenakan kemeja biru navy slim-fit yang membungkus sempurna lekuk tubuh tegapnya, dipadukan dengan celana bahan hitam licin dan sepatu pantofel kulit hitam yang mengkilap. Rambut hitamnya sudah tersisir sangat rapi ke belakang, memamerkan dahi kokohnya dan sepasang alis tebalnya yang tegas di balik kacamata baca berbingkai hitam tipis yang terpasang di hidungnya.

Di tangannya, ia membawa sebuah map dokumen hitam berisi silabus perkuliahan dan sebuah laptop MacBook pribadi miliknya.

Suasana kelas yang tadinya agak bising oleh obrolan santai mahasiswa baru seketika berubah menjadi sangat sunyi senyap begitu Pak Arkan meletakkan barang bawaannya di atas meja dosen depan kelas dengan bunyi ketukan pelan yang tegas.

"Selamat pagi semuanya," sapa Pak Arkan dengan nada suara berat yang sangat dingin dan berwibawa, menyapu pandangan matanya ke seluruh penjuru kelas.

"Pagi, Pak!" sahut para mahasiswa serempak dengan nada suara yang sedikit tertahan karena canggung.

Matanya yang tajam sempat menyapu barisan meja tempatku duduk di baris ketiga sebelah kiri. Selama kurang lebih dua detik penuh, sepasang mata cokelat gelapnya menatap langsung ke arah mataku yang sedang menatapnya dengan sopan. Tidak ada sedikit pun binar kehangatan atau senyuman tipis yang ia tunjukkan di sana; sosok pria hangat yang tadi pagi membuatkanku sarapan roti bakar di dapur apartemen seolah-olah telah menguap sepenuhnya, digantikan oleh sosok dosen killer kejam yang sangat ditakuti satu fakultas.

"Hari ini kita akan membahas kontrak perkuliahan dan pengenalan dasar mengenai sistem keamanan informasi," ujar Pak Arkan sembari menyalakan proyektor kelas dengan gerakan tangan yang sangat efisien. "Saya harap di kelas saya tidak ada mahasiswa yang terlambat mengumpulkan tugas atau bermain ponsel saat materi sedang berlangsung. Jika saya mendapati hal itu, saya tidak akan segan-segan mengurangi nilai kehadiran kalian sebanyak lima puluh persen."

Mendengar ancaman tegasnya di awal kelas, Dinda yang duduk di sebelahku langsung menyikut lenganku pelan sembari berbisik sangat lirih, "Tuh kan, Karin... baru hari pertama aja udah main ancam nilai. Serem banget gila!"

Aku hanya bisa mengangguk-angguk pelan sembari memfokuskan pandanganku pada slide presentasi di depan kelas, meremas ujung pulpenku dengan perasaan campur aduk yang sangat aneh.

Sisi profesionalitas Mas Arkan di kampus benar-benar sangat luar biasa kokoh. Ia mampu menarik garis batas yang sangat tegas dan bersih antara hubungan pribadi kami di rumah dengan kewajibannya sebagai pendidik di kampus ini sebuah kedisplinan tinggi yang diam-diam membuat rasa kagumku terhadap sosoknya tumbuh semakin dalam di sela-sela rasa canggung yang masih menyelimuti hatiku.

Dua jam perkuliahan berlalu dengan sangat cepat dan menegangkan bagi sebagian besar mahasiswa di kelas, namun bagi saya materi yang disampaikan oleh Pak Arkan terasa sangat mengalir dan sangat mudah dipahami karena logika penyampaiannya yang sangat runut dan sistematis.

Begitu kelas resmi dibubarkan pada pukul sepuluh siang, para mahasiswa langsung berhamburan keluar kelas dengan helaan napas lega yang terdengar sangat kompak dari berbagai penjuru ruangan.

"Karin, kamu gak langsung balik ke kosan kan? Yuk, makan bakso di depan gerbang kampus, laper banget nih habis diperas otaknya sama Pak Arkan tadi," ajak Dinda sembari merapikan buku catatannya ke dalam tas.

"E-eh, kayaknya aku gak bisa ikut deh, Din. Aku ada urusan sebentar ke ruang jurusan buat nanyain berkas pendaftaran sidang proposal skripsi yang kemarin di-acc," jawabku mencari alasan yang aman agar bisa terlepas dari ajakannya.

"Oh, ya udah deh kalau gitu. Aku duluan ya, Karin! Semangat ya bimbingannya dengan dosen pembantai itu!" pamit Dinda dengan lambaian tangan sebelum melangkah pergi meninggalkan ruang kelas bersama beberapa mahasiswa lainnya.

Setelah memastikan ruang kelas benar-benar sudah sepi dari mahasiswa lain, aku menghela napas panjang dan mulai merapikan barang-barangku sendiri ke dalam ransel.

Tepat saat aku hendak melangkah keluar dari pintu kelas, ponselku di dalam saku celana bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari nomor kontak Mas Arkan.

Pak Arkan: Setelah urusan kamu di ruang jurusan selesai, datang ke ruangan saya sebentar. Ada berkas tambahan dari Kakek Danu yang harus kamu tanda tangani hari ini.

Aku menatap layar ponselku dengan jantung yang kembali berdegup kencang tak karuan. Pertemuan pribadi di ruangan dosennya saat lingkungan kampus sedang ramai seperti ini benar-benar terasa seperti bermain dengan api yang bisa membakar rahasia pernikahan kontrak kami kapan saja jika kami tidak sangat berhati-hati dalam bertindak.

1
Rian Moontero
mampiiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!