Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Ketika Aris bersama kedua orang tuanya sampai di kawasan itu, mereka menyusuri lorong-lorong sempit satu per satu. Kepada setiap warga yang ditemui, mereka menanyakan tentang seorang gadis muda yang kerap mengais barang bekas untuk mencari nafkah. Namun, jawaban yang mereka terima selalu serupa. Tidak ada yang memberikan informasi pasti, seolah seluruh penduduk hanya mengetahui sedikit tentang gadis itu atau memilih untuk tidak banyak bicara.
"Maaf, saya tidak tahu siapa yang Anda maksud."
"Di kampung ini banyak pemulung, jadi saya kurang tahu siapa yang Anda cari."
"Maaf, saya belum pernah melihat gadis yang Anda maksud."
Meskipun beberapa warga sebenarnya pernah berpapasan dengan Alya, tak seorang pun membuka suara. Rasa hormat mereka kepada Mbok Lia, ditambah simpati terhadap nasib gadis muda yang hidup penuh kesulitan itu, membuat mereka memilih menyimpan apa yang mereka ketahui rapat-rapat.
Pak Wira dan Bu Sopia mulai kehilangan kesabaran menghadapi situasi itu.
"Ibu merasa warga di sini sengaja menyembunyikan sesuatu dari kita." ujar Bu Sopia dengan nada kesal.
Aris ikut merasakan kejanggalan itu, tetapi memilih menyimpannya sendiri. Semakin banyak penolakan dan jawaban yang terdengar seragam, semakin besar pula kecurigaan yang tumbuh di benaknya. Dalam diam, pikirannya terus dipenuhi pertanyaan. Seberat apa kehidupan yang dijalani Alya hingga gadis itu harus menghilang dan bersembunyi seolah sedang menghindari sesuatu yang sangat menakutkan?
Dari balik jendela kecil yang kusam di gubuk sederhana itu, Alya menangkap bayangan sosok-sosok yang sedang mencarinya. Seketika jantungnya berpacu tak menentu, sementara tubuhnya bergetar menahan ketakutan yang menyeruak. Namun, ia tetap berdiam diri di tempatnya. Bibirnya terkatup rapat, berusaha membendung tangis yang nyaris pecah, meski dadanya terasa semakin sesak oleh beban perasaan yang menekan tanpa henti.
Alya mengerti betul apa yang dipertaruhkan. Jika keberadaannya sampai diketahui oleh mereka, semua yang berusaha ia tinggalkan akan kembali menghantuinya. Kebebasan yang baru saja ia rasakan akan lenyap, dan ia harus kembali menjalani kehidupan yang penuh luka serta penderitaan, seperti mimpi buruk yang tak pernah benar-benar berakhir.
*****
Empat hari telah berlalu sejak Alya terakhir kali melangkahkan kaki keluar dari gubuknya. Ketakutan masih mencengkeram hatinya erat, membuatnya selalu waspada terhadap suara sekecil apa pun. Setiap deru motor yang melintas atau bunyi langkah kaki dari ujung gang mampu membuat dadanya berdebar hebat. Ia tidak tahu apakah orang tua angkatnya masih mencarinya atau tidak, tetapi bayangan tentang kemungkinan itu terus berputar di kepalanya. Kecemasan yang tak kunjung reda membuat pikirannya dipenuhi berbagai dugaan dan kekhawatiran yang semakin membebani hatinya.
Alya duduk meringkuk di sudut gubuk yang sempit dan pengap, kedua lengannya melingkari lutut yang ditarik rapat ke dada. Pandangannya beberapa kali jatuh pada dompet usang yang tergeletak di sampingnya. Saat dibuka, isinya hanya beberapa lembar uang yang jumlahnya tak seberapa, bahkan mungkin hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan dalam beberapa hari ke depan.
Perasaan cemas kembali menyelinap ke dalam benaknya. Setelah mengembuskan napas panjang, Alya mengalihkan pandangan ke sebuah kantong plastik di atas lantai. Dengan gerakan pelan, ia mengambil sebungkus mi instan dari dalamnya. Bungkusan sederhana itu kini menjadi salah satu persediaan yang masih bisa ia andalkan selama bertahan di tempat persembunyiannya.
"Tinggal ini yang masih ada..." gumamnya lirih, suaranya parau hampir tak terdengar.
Dengan langkah pelan dan penuh keengganan, Alya keluar sejenak untuk mengambil air dari ember di depan gubuk. Setelah itu, ia menuangkannya ke dalam panci kecil dan menyalakan kompor tua yang sering kali rewel. Seperti biasa, ia harus memantik pemicunya beberapa kali sebelum api akhirnya menyala dan berkedip-kedip di bawah panci.
Sambil menunggu air mendidih, Alya duduk diam di lantai. Pandangannya mengarah ke langit-langit gubuk yang penuh noda dan lubang-lubang kecil bekas rembesan hujan. Tatapannya kosong, seolah pikirannya melayang jauh entah ke mana, tenggelam dalam berbagai kegelisahan yang tak kunjung menemukan jawaban.
"Sampai kapan aku harus menjalani hidup seperti ini?" batinnya pelan, nyaris tenggelam dalam keheningan gubuk itu.
Perutnya memang terasa kosong karena belum terisi makanan yang layak, tetapi yang lebih menyiksa adalah beban di dalam pikirannya. Luka-luka yang belum sempat pulih berpadu dengan ketakutan yang terus menghantui, membuat dadanya terasa sesak setiap kali ia menarik napas. Ada kalanya ia merasa begitu lelah menghadapi semuanya.
Setelah mi itu matang dan mengisi perutnya seadanya, Alya kembali menghabiskan hari-harinya di dalam gubuk kecil tersebut. Ia memilih menjauh dari hiruk-pikuk dunia luar, seolah dinding-dinding rapuh itu menjadi satu-satunya tempat yang mampu memberinya rasa aman.
Hari-harinya kini terasa berbeda. Ia tak lagi mendengar celoteh riang anak-anak yang biasa bermain di sekitar gang, tak lagi berbincang hangat dengan Mbok Lia, dan tak lagi berkeliling memungut barang-barang bekas untuk dijual. Semua rutinitas yang dulu mengisi waktunya mendadak terhenti.
Namun, di balik kesunyian yang menyelimuti hari-harinya, masih tersisa secercah tekad yang belum benar-benar hilang dari dalam dirinya keinginan untuk terus bertahan. Harapan itu mungkin hanya berupa nyala kecil yang tertiup angin, rapuh dan hampir redup, tetapi belum sepenuhnya padam.
Di saat banyak hal terasa gelap dan tidak pasti, nyala kecil itulah yang membuat Alya terus melangkah. Itulah yang mendorongnya untuk membuka mata setiap pagi, bangkit dari tempat tidurnya yang sederhana, dan menjalani hari demi hari. Meski ia tidak tahu apa yang menunggunya di depan, masih ada bagian dalam dirinya yang menolak menyerah pada keadaan.
*****
Di kantor pusat Wirajaya Corp, Rayan duduk tegak di balik meja kerjanya yang besar dan rapi. Layar laptop di hadapannya dipenuhi angka, grafik, dan dokumen yang menuntut perhatiannya. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard, berusaha menyelesaikan laporan penting yang harus segera diserahkan.
Suasana ruangan begitu tenang hingga sebuah ketukan pelan di pintu terdengar jelas. Belum sempat Rayan mengalihkan pandangan dari layar, suara asistennya menyusul dari balik pintu. Nada bicaranya tetap sopan seperti biasa, tetapi ada kesan tergesa-gesa yang sulit disembunyikan, seolah ia membawa kabar yang tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
"Permisi, Pak Rayan. Maaf mengganggu pekerjaan Anda. Saya baru saja menerima telepon dari perwakilan PT Apparel. Mereka meminta jadwal pertemuan secepatnya untuk membicarakan kerja sama yang sedang direncanakan. Menurut mereka, ada hal penting yang perlu dibahas secara langsung dan tidak bisa menunggu lebih lama." lapor sang asisten dengan nada profesional.
Rayan mengalihkan perhatiannya dari layar laptop dan mengangkat kepala. Setelah melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, ia bertanya singkat,
"Pertemuannya akan diadakan di mana?"
"Mereka memilih sebuah kafe di kawasan jalan utama, Pak. Perjalanan ke sana kurang lebih memakan waktu empat puluh menit."
Rayan menganggukkan kepala pelan sebelum memberikan instruksi dengan nada tegas,
"Baik. Tolong siapkan semua dokumen yang diperlukan dan pastikan mobil sudah siap. Kita berangkat secepatnya."
*****
Sekitar empat puluh menit kemudian, sebuah mobil putih berkelas melambat sebelum akhirnya berhenti tepat di depan kafe bergaya industrial yang berdiri di tepi jalan yang ramai oleh lalu-lalang kendaraan. Bangunan itu tampak modern dengan dominasi kaca, besi hitam, dan sentuhan dekorasi minimalis yang elegan.
Rayan menjadi orang pertama yang keluar dari kendaraan. Ia merapikan jasnya sekilas sebelum mengarahkan pandangan ke arah kafe. Tak lama kemudian, asistennya menyusul sambil membawa sebuah map tebal berisi dokumen-dokumen penting yang akan digunakan dalam pertemuan tersebut. Keduanya lalu melangkah masuk dengan sikap profesional, siap membahas urusan bisnis yang telah menunggu mereka.
Pertemuan itu berlangsung tanpa hambatan berarti. Rayan memimpin pembicaraan dengan tenang, menunjukkan profesionalisme, ketegasan, dan kepercayaan diri yang sudah menjadi ciri khasnya. Setiap poin kerja sama dijelaskannya dengan jelas dan terstruktur, membuat suasana diskusi berjalan efektif.
Perwakilan dari PT Apparel tampak memberikan respons positif. Mereka menyimak dengan penuh perhatian dan beberapa kali menganggukkan kepala tanda setuju. Menjelang akhir pertemuan, antusiasme mereka semakin terlihat. Bahkan, mereka mengungkapkan keinginan untuk segera menuntaskan proses administrasi dan mempercepat penandatanganan kontrak agar kerja sama tersebut dapat segera direalisasikan.
Setelah hampir dua jam membahas berbagai hal terkait kerja sama, pertemuan itu akhirnya berakhir. Rayan dan asistennya berpamitan dengan sopan kepada para klien sebelum melangkah meninggalkan kafe.
Begitu pintu kaca terbuka, hembusan udara hangat dari luar langsung menyergap mereka. Teriknya siang terasa kontras dengan kesejukan ruangan berpendingin udara yang baru saja mereka tinggalkan. Rayan menyipitkan mata sesaat menghadapi cahaya matahari yang menyilaukan, lalu melanjutkan langkahnya menuju area parkir, sementara asistennya berjalan di sampingnya sambil tetap membawa map berisi dokumen penting.
Namun, sebelum Rayan sempat mencapai mobilnya, sesuatu yang tak terduga terjadi. Langkahnya yang semula mantap mendadak terhenti ketika sebuah kejadian menarik perhatiannya dari kejauhan. Di tengah hiruk-pikuk kendaraan dan keramaian jalanan, ada sesuatu yang membuatnya refleks menoleh dan memusatkan pandangan ke satu arah.
*****
Setelah berhari-hari mengurung diri di dalam gubuk, Alya akhirnya memberanikan diri melangkah keluar. Persediaan uang yang dimilikinya sudah habis, sementara rasa lapar tak lagi bisa diabaikan. Ia sadar bahwa terus bersembunyi tanpa mencari penghasilan bukanlah pilihan yang bisa dipertahankan lebih lama.
Dengan karung di pundak dan topi lusuh yang ditarik rendah hingga menutupi sebagian wajahnya, Alya berjalan menyusuri gang-gang dengan penuh kewaspadaan. Matanya sesekali menyapu keadaan sekitar, memastikan tidak ada sosok yang dikenalnya atau orang yang mungkin sedang mencarinya.
Namun, harapan itu tidak berjalan sesuai keinginannya. Kenyataan yang menantinya di hari itu justru membawa sesuatu yang sama sekali tidak ia duga.
Saat Alya baru saja berjalan menyusuri tepi jalan raya yang ramai, sebuah suara yang sangat dikenalnya tiba-tiba terdengar di antara hiruk-pikuk sekitar. Suara itu menghantam kesadarannya begitu keras, bagaikan petir yang menyambar di siang bolong, membuat langkahnya terhenti seketika.
"Alya!" panggil suara itu keras dari kejauhan, membuat jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat.
Alya langsung menoleh dengan cepat, napasnya tertahan di tenggorokan.
Pak Wira, Bu Sopia, dan Aris ternyata berada di sana, berdiri tidak jauh darinya. Wajah ketiganya tampak tegang dan dipenuhi amarah, seolah-olah mereka sedang mengunci target yang tak bisa lagi melarikan diri.
"Jangan lari! Kami sudah jauh-jauh datang untuk mencarimu!" seru Bu Sopia dengan tatapan tajam penuh amarah.
Alya segera berbalik tanpa pikir panjang dan berlari sekencang mungkin. Jantungnya berdentum keras di dada, napasnya tersengal tidak teratur karena panik yang menguasai seluruh tubuhnya. Namun, suara langkah kaki di belakangnya semakin jelas terdengar, semakin dekat, seolah terus mengejarnya tanpa memberi kesempatan untuk beristirahat.
"Berhenti, Alya!" teriak Aris sambil terus berusaha mengejarnya.
Sebuah tangan tiba-tiba meraih lengan Alya, membuat langkahnya terhenti dan tubuhnya tersentak ke belakang.
"Akhirnya kamu ketangkap juga!" ujar Pak Wira dengan nada tegas bercampur lega.
Namun, dengan sisa tenaga yang ia kumpulkan dari rasa panik, Alya meronta keras hingga berhasil melepaskan cekalan itu. Tanpa menunggu lebih lama, ia kembali berlari sekuat mungkin menyusuri lorong pasar yang padat.
Napasnya terengah-engah saat ia berbelok ke gang sempit, hampir kehilangan keseimbangan. Ia menabrak sebuah keranjang sayur hingga isinya berserakan, namun ia tak sempat menoleh. Alya terus memaksa tubuhnya maju, menerobos kerumunan orang yang memenuhi jalan, berharap bisa menjauh sejauh mungkin dari kejaran yang terus membayanginya.
Sampai tubuhnya nyaris tak sanggup lagi melanjutkan lari.
Brakk!!
Tubuh Alya terdorong ke belakang dan hampir terjatuh. Seorang pria yang tak sengaja ia tabrak segera meraih lengannya, menahan agar ia tidak benar-benar terjerembab ke tanah.
"Hei, pelan-pelan. Hati-hati!" ucap pria itu.
Alya mendongak perlahan, dan seketika tubuhnya terasa kaku membeku.
Wajah yang ada di hadapannya itu.
Sosok itu begitu ia kenal, begitu melekat dalam ingatannya. Pria yang pernah mengubah jalan hidupnya beberapa malam yang lalu kini kembali berdiri di hadapannya. Seketika, luka lama dan dendam yang belum sempat pulih seolah terbuka kembali, hanya dengan bertemu pandangan mata itu.
Namun pria itu, Rayan, hanya menatapnya dengan sorot mata yang dipenuhi kebingungan.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Rayan dengan nada datar.
Alya langsung menunduk, menggeleng cepat, lalu menarik lengannya perlahan dari genggaman Rayan. Ia mundur beberapa langkah dengan tubuh yang sedikit limbung. Wajahnya tampak tegang, dipenuhi campuran rasa takut sekaligus amarah yang tertahan.
Rayan masih menatap gadis itu lekat-lekat, namun tidak ada sedikit pun reaksi yang menunjukkan ia mengenali siapa sebenarnya Alya.
Alya segera meraih karungnya, lalu kembali berlari menembus keramaian pasar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Rayan yang masih berdiri di tempat dengan dahi mengernyit bingung.
Selalu ada sesuatu yang mengganggu ingatannya, seperti potongan-potongan samar yang belum mampu ia susun kembali menjadi jelas. Namun, semuanya masih terlalu lemah untuk benar-benar memunculkan kembali kenangan yang hilang itu.
*****
Tubuh Alya bergetar hebat ketika ia berhasil menyelinap masuk ke gang kecil tidak jauh dari kafe tempat kejadian tadi. Napasnya tersengal tidak teratur, masih tersisa sisa kepanikan yang belum sepenuhnya mereda. Tangannya menggenggam erat karung lusuh yang dibawanya, kini hanya berisi beberapa botol plastik dan kaleng bekas yang ia kumpulkan.
Ia berjongkok di balik tumpukan kardus, menundukkan kepala dalam-dalam, berusaha meredam isak yang nyaris lolos dari tenggorokannya.
Peristiwa tadi terlalu menyakitkan untuk ia terima begitu saja.
Bukan hanya karena Pak Wira, Bu Sopia, dan Aris yang hampir memaksanya kembali, tetapi juga karena ia harus kembali berhadapan dengan sosok yang menjadi luka terbaru dalam hidupnya Rayan. Pria yang tanpa ia duga telah meninggalkan jejak paling menyakitkan, hingga membuat hati dan seluruh dirinya terasa hancur pada malam itu.
Lututnya terasa lemah, seakan tak lagi mampu menopang tubuhnya, sementara dunia di sekelilingnya seperti ikut runtuh bersamaan dengan perasaannya.
Setelah cukup lama bersembunyi dan memastikan bahwa kejaran itu sudah tidak lagi terlihat, Alya akhirnya memaksa dirinya untuk berdiri. Tubuhnya terasa begitu lelah, seolah seluruh tenaganya terkuras habis oleh rasa takut dan kepanikan yang baru saja ia alami. Namun di balik keletihan itu, tekad di dalam dirinya justru semakin menguat, mendorongnya untuk tetap melanjutkan langkah, apa pun yang akan terjadi selanjutnya.
Ia tahu dirinya tidak bisa terus berada dalam keadaan seperti ini. Tidak ada lagi ruang untuk bertahan di tempat yang hanya terus membuatnya menjadi sasaran luka dan penderitaan.
Sore itu, ketika langit mulai berubah gelap dan rintik hujan turun perlahan, Alya kembali ke gubuk reot yang kini tak lagi terasa aman baginya. Dengan gerakan pelan, ia mulai merapikan sedikit barang yang dimilikinya beberapa potong pakaian lusuh pemberian Mbok Lia, sebuah selimut tipis yang sudah usang, serta beberapa bungkus mi instan sebagai bekal seadanya.
Dengan langkah yang terasa berat, Alya menatap tempat kecil itu untuk terakhir kalinya.
Hatinya terasa sesak, tetapi tekad di dalam dirinya tetap teguh dan tidak goyah.
“Aku harus pergi… ke tempat yang lebih jauh. Jauh dari mereka, jauh dari semua luka ini.” gumamnya lirih.
Hujan masih turun perlahan ketika Alya berdiri di depan rumah kayu sederhana milik Mbok Lia. Jaket lusuh membungkus tubuhnya yang menggigil kedinginan, sementara di punggungnya tergantung tas kecil berisi barang-barang seadanya. Karung putih yang biasa ia bawa untuk memulung kini sudah kosong, hanya menyisakan debu dan jejak kenangan dari hari-hari yang telah ia lalui.
Ia mengetuk pelan pintu rumah itu, sebuah tempat yang sudah sangat ia kenal, bahkan aroma hangat di dalamnya terasa begitu akrab seperti sosok yang tinggal di sana.
Tak lama kemudian, pintu rumah itu terbuka. Mbok Lia muncul di ambang pintu, mengenakan daster sederhana dengan selendang terlipat di bahunya. Seketika, tatapannya tertuju pada Alya, dan ia langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda dari gadis itu sore ini.
“Al, kamu kenapa, Nduk? Wajahmu pucat sekali.” tanya Mbok Lia cemas.
Alya menundukkan kepala, bibirnya bergetar menahan tangis yang hampir pecah.
“Mbok… aku mau pamit.” ucapnya lirih.
“Pamit? Maksudmu apa, Nduk?” tanya Mbok Lia dengan nada cemas dan bingung.
“Mbok, aku harus pergi… aku takut. Tadi siang mereka sempat mengejarku.” katanya lirih sambil menahan tangis.