NovelToon NovelToon
Overtime With My Enemy

Overtime With My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:439
Nilai: 5
Nama Author: Satisuci Ituaku

Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 : Makan Malam Tak Terduga

Hari-hari berikutnya berjalan semakin sibuk.

Tenggat proyek yang semakin dekat membuat seluruh anggota tim nyaris tidak memiliki waktu bernapas.

Pagi datang.

Pekerjaan menumpuk.

Malam tiba.

Pekerjaan masih menumpuk.

Bahkan Siska yang biasanya paling cerewet mulai terlihat lelah.

Meski begitu, mulutnya tetap tidak bisa diam.

"Aku mulai curiga Damar sebenarnya vampir."

Nara yang sedang menatap layar laptop mengangkat sebelah alis.

"Kenapa?"

"Karena manusia normal tidak mungkin masih segar setelah tiga hari lembur berturut-turut."

Nara melirik ke arah meja Damar.

Pria itu memang masih terlihat fokus seperti biasa.

Tidak ada kantung mata.

Tidak ada tanda kelelahan.

Seolah tubuhnya tidak membutuhkan istirahat.

"Mungkin dia minum baterai."

ucap Nara.

Siska langsung tertawa keras.

"Aku suka teori itu."

Di sisi lain ruangan, Damar perlahan mengangkat kepala.

Tatapannya tertuju pada mereka berdua.

Nara langsung pura-pura fokus bekerja.

Sementara Siska menunduk sambil menahan tawa.

---

Pukul enam sore.

Sebagian besar karyawan di perusahaan mulai bersiap pulang.

Namun lantai dua puluh lima masih terang benderang.

Tim proyek kembali lembur.

"Kalau aku mati muda, penyebabnya pasti spreadsheet."

keluh Siska.

Raka yang baru datang membawa beberapa dokumen tertawa.

"Kalau begitu tulis di batu nisanmu."

"Mas Raka!"

"Apa?"

"Saya serius."

"Saya juga serius."

Siska melempar gulungan kertas ke arah pria itu.

Raka menangkapnya dengan mudah.

Kemudian tersenyum jahil.

Pemandangan itu membuat beberapa anggota tim ikut tertawa.

Termasuk Nara.

Tanpa disadari siapa pun, suasana tim mulai terasa lebih akrab dibanding minggu lalu.

---

Sekitar pukul delapan malam.

Perut Nara mulai berbunyi.

Ia melirik jam.

Makan siangnya tadi bahkan belum habis karena terlalu sibuk.

Sementara makan malam?

Belum sempat.

Ia menghela napas panjang.

Masih ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Namun sebelum sempat kembali fokus...

Pintu ruang proyek terbuka.

Beberapa orang masuk membawa kantong-kantong besar.

Semua anggota tim langsung menoleh.

"Apa itu?"

"Pesanan siapa?"

"Jangan bilang ada yang ulang tahun."

Bisik-bisik mulai terdengar.

Tak lama kemudian aroma makanan memenuhi ruangan.

Dan seluruh mata langsung berbinar.

"Makanan!"

teriak salah satu staf.

Suasana yang tadinya lesu mendadak hidup kembali.

Nara ikut terkejut.

Ada puluhan kotak makanan dan minuman.

Jumlahnya cukup untuk seluruh tim.

"Siapa yang pesan?"

tanya Siska.

Pria yang mengantar hanya menunjuk satu arah.

Seluruh ruangan menoleh bersamaan.

Menuju meja Damar.

Pria itu masih bekerja.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

"Nanti dipotong gaji saya?"

celetuk Raka.

"Tidak."

jawab Damar tanpa mengangkat kepala.

Ruangan langsung riuh.

"Terima kasih, Pak Damar!"

"Anda penyelamat hidup kami!"

"Mulai hari ini saya jadi penggemar Anda!"

Damar mengabaikan semuanya.

Namun untuk pertama kalinya sejak bergabung dalam tim itu, Nara melihat seluruh anggota tim tersenyum tulus pada pria tersebut.

Dan anehnya...

Damar tampak tidak terbiasa dengan perhatian seperti itu.

---

Makan malam berlangsung santai.

Semua orang berkumpul di area istirahat.

Siska sibuk memotret makanan.

Raka sibuk mengambil makanan milik orang lain.

Dan Damar...

Tetap terlihat seperti Damar.

"Nara."

Siska duduk di sampingnya.

"Hm?"

"Menurutmu Damar sebenarnya baik atau tidak?"

Pertanyaan itu membuat Nara terdiam.

Dulu jawabannya pasti mudah.

Tidak.

Menyebalkan.

Galak.

Dingin.

Namun sekarang...

Ia mulai ragu.

"Entahlah."

jawabnya jujur.

Siska tersenyum.

"Itu berarti pendapatmu mulai berubah."

"Bukan begitu."

"Kalau masih benci, kamu pasti langsung menjawab."

Nara tidak membalas.

Karena sebagian kecil dari dirinya tahu.

Siska benar.

---

Setelah makan malam selesai.

Semua kembali bekerja.

Namun suasana hati mereka jauh lebih baik.

Bahkan pekerjaan yang biasanya terasa berat kini sedikit lebih ringan.

Nara sedang menyusun presentasi ketika notifikasi email masuk.

Matanya langsung membelalak.

"Kenapa?"

tanya Siska.

"Naskah presentasi klien berubah lagi."

"Apa?"

Siska langsung panik.

Perubahan itu berarti mereka harus memperbaiki banyak hal.

Dan waktu yang tersisa tidak sampai dua hari.

Keluhan terdengar di mana-mana.

Beberapa anggota tim bahkan terlihat putus asa.

Namun Damar segera berdiri.

"Tenang."

Hanya satu kata.

Tetapi ruangan langsung kembali diam.

"Kita bagi tugas."

ucapnya.

"Fokus pada bagian masing-masing. Jangan memikirkan yang lain."

Nada suaranya tetap tenang.

Tidak panik.

Tidak marah.

Dan entah bagaimana...

Hal itu membuat seluruh tim ikut tenang.

Termasuk Nara.

---

Waktu terus berjalan.

Pukul sembilan malam.

Sepuluh malam.

Sebelas malam.

Hujan mulai turun di luar gedung.

Lampu kota terlihat samar dari balik kaca yang basah.

Sebagian anggota tim mulai menguap.

Namun pekerjaan akhirnya mendekati selesai.

Nara meregangkan tubuhnya.

Bahunya terasa pegal.

Lehernya juga.

Terlalu lama duduk di depan laptop memang tidak pernah menyenangkan.

Saat itulah ia melihat sesuatu.

Damar masih bekerja.

Sendirian.

Semua tugasnya sudah selesai.

Namun pria itu tetap berada di depan layar.

Mengecek ulang laporan satu per satu.

"Kamu tidak pulang?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Damar mengangkat kepala.

"Sebentar lagi."

"Kamu selalu bilang begitu."

Damar menatapnya beberapa detik.

"Lalu?"

"Biasanya orang yang bilang 'sebentar lagi' akan pulang tiga jam kemudian."

Untuk sesaat suasana hening.

Lalu...

Damar tertawa kecil.

Sangat kecil.

Namun cukup membuat Nara terkejut.

"Ada yang lucu?"

tanya Nara.

"Sedikit."

Nara langsung memutar mata.

Pria itu memang aneh.

---

Tak lama kemudian.

Sebagian besar anggota tim mulai pulang.

Termasuk Siska.

"Besok jangan mati sebelum jam kerja selesai."

katanya kepada Nara.

"Pergi sana."

Raka tertawa.

"Kalian benar-benar seperti saudara."

"Kami lebih mirip korban lembur."

jawab Siska.

Setelah berpamitan, mereka pergi.

Meninggalkan Nara dan Damar yang masih menyelesaikan beberapa pekerjaan terakhir.

Hujan di luar semakin deras.

Suasana kantor menjadi sangat tenang.

Hanya suara ketikan keyboard yang terdengar.

Sampai akhirnya...

"Kenapa kamu bekerja sekeras ini?"

Nara kembali bertanya.

Kali ini Damar tidak langsung menjawab.

Pria itu menutup laptopnya perlahan.

Lalu menatap jendela.

"Ada banyak orang yang bergantung pada hasil pekerjaan saya."

jawabnya akhirnya.

Kalimat itu sederhana.

Namun terdengar tulus.

Dan untuk pertama kalinya...

Nara merasa melihat sisi lain dari Damar.

Bukan atasan galak.

Bukan manajer perfeksionis.

Melainkan seseorang yang memikul tanggung jawab besar.

Sendirian.

---

Ketika mereka akhirnya keluar dari kantor, jam sudah menunjukkan hampir tengah malam.

Hujan masih turun.

Meski tidak sederas sebelumnya.

"Kamu naik apa?"

tanya Damar.

"Ojek online."

Nara membuka aplikasi.

Lalu menghela napas.

Lagi-lagi sulit mendapatkan pengemudi.

Damar hanya melirik layar ponselnya.

Kemudian berkata,

"Saya antar."

Nara langsung menatapnya.

"Kamu tahu, kalau terus begini orang kantor bakal salah paham."

"Biarkan saja."

jawab Damar santai.

Nara membeku.

Entah kenapa.

Jawaban itu membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu...

Perjalanan pulang malam itu tidak terasa canggung.

Justru terasa nyaman.

Sementara di kejauhan, seseorang berdiri di dalam mobil mewah yang terparkir di seberang jalan.

Matanya mengikuti mobil Damar yang perlahan meninggalkan gedung perusahaan.

Orang itu mengepalkan tangan.

Wajahnya berubah dingin.

Bianca.

Dan untuk pertama kalinya, wanita itu mulai menganggap Nara sebagai ancaman yang nyata.

Bersambung...

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Satisuci Ituaku: mksih kk sudah mampir🙏🙏🙏
total 1 replies
Tys Azka
kok selalu hujan sih
Satisuci Ituaku: iy kak biar romantis ala2
mksih kk udh mampir 🙏🙏
total 1 replies
anggita
like👍iklan☝, Nara.. Damar.
Satisuci Ituaku: Terima kasih sudah mampir kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!