Apa jadinya jika pahlawan elit Rank-A meregang nyawa di dasar Dungeon hanya karena menenggak sebotol air garam?
Di dunia yang memuja sihir tempur, Arka hanyalah kuli Porter F-Rank. Nyawanya dihargai lebih murah dari selembar poster promosi Vanguard Guild. Tapi para elit arogan itu melupakan satu hukum mutlak: Jangan pernah merendahkan orang yang memegang kunci gudang obatmu.
Berbekal Skill [Logistics Grid], Arka meretas sistem dari dalam. Dia memanipulasi data manifes, menukar ramuan bernilai miliaran rupiah dengan air garam, dan memutus rantai pasokan tepat saat pasukan elit itu terjebak di hadapan bos monster mematikan.
Tanpa perlu mengangkat pedang, Arka membalikkan hierarki dunia Hunter. Saat Mana mengering dan taring monster mengincar leher, para pahlawan palsu itu dipaksa menangis, berlutut, dan menjual seluruh jiwa mereka hanya demi setetes ramuan dari tangan sang Porter.
Sistem telah diretas. Monopoli Grey Underground baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VANDEMIC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Penjara Tanpa Suara
Dunia Arka telah kehilangan suaranya.
Tidak ada raungan alarm yang memekakkan telinga. Tidak ada erangan dari dua mayat tentara bayaran yang hangus di ambang pintu. Yang tersisa di kepalanya hanyalah dengingan bernada tinggi—tinnitus yang tajam bagaikan jarum tak kasat mata yang menusuk langsung ke pusat otaknya.
Arka berdiri terhuyung di tengah lorong geladak bawah Dewi Andalas. Asap hitam berbau karet leleh dan daging terbakar mengepul tebal dari ruang medis di belakangnya. Cahaya lampu strobo darurat berputar gila-gilaan, memandikan dinding baja koridor itu dengan kilatan merah yang menyilaukan setiap detik.
Ia menelan ludah, tenggorokannya masih perih. Dadanya yang dibalut perban kotor berdenyut keras, namun air saline setidaknya telah menunda pembusukan lukanya.
Arka menempelkan telapak tangannya yang gemetar ke dinding logam kapal yang dingin.
Di sinilah kengerian yang sesungguhnya dimulai. Meski ia tidak bisa mendengar apa-apa, telapak tangannya merasakan getaran. Dug. Dug. Dug. Getaran ritmis yang merambat cepat melalui struktur baja. Langkah sepatu bot laras panjang. Bukan hanya dua atau tiga orang. Dari intensitas getaran yang merambat di telapak tangannya, ada puluhan tentara bayaran yang sedang berlari menuruni tangga utama menuju sektor ini.
Frekuensi getaran pada pelat baja setebal lima milimeter menunjukkan mereka berjarak kurang dari empat puluh meter. Jika kecepatan lari rata-rata mereka adalah...
BZZZZT!
Sengatan saraf langsung membakar pangkal leher Arka. Ia mengerang tanpa suara, menggigit bibirnya hingga berdarah. Neural Feedback menghukum otaknya yang panik. Dalam kondisi tuli dan trauma fisik, otaknya menolak melakukan kalkulasi matematis.
Ia harus mengandalkan murni insting bertahan hidup.
Arka menyeret kakinya, menjauhi sumber getaran. Ia berbelok di persimpangan lorong, matanya menyapu sekeliling dengan liar di bawah kilatan lampu merah. Ia butuh tempat bersembunyi di mana ketuliannya bukan lagi kelemahan, melainkan kondisi netral. Tempat di mana musuh pun tidak akan bisa mendengar langkahnya.
Di ujung koridor sempit, ia melihat sebuah pintu palka (hatch) bundar berbahan besi tuang yang sangat tebal, dihiasi garis bahaya berwarna kuning-hitam. Tulisan pudar di atasnya berbunyi: RUANG MESIN UTAMA - WAJIB PELINDUNG TELINGA.
Getaran di lantai baja semakin brutal. Cahaya senter taktis mulai menyapu dinding di ujung lorong di belakangnya, menembus kabut asap sisa ledakan.
Dengan sisa tenaga terakhirnya, Arka memutar tuas roda palka tersebut. Berkarat dan macet. Otot bahunya menjerit protes. Ia menumpukan seluruh berat tubuh kurusnya ke atas tuas itu. Klak! Tuas itu berputar.
Ia membuka palka berat itu, melongok ke bawah. Sebuah tangga besi vertikal mengarah ke kedalaman lambung kapal yang dipenuhi deretan pipa raksasa berlapis insulasi panas dan mesin diesel raksasa sebesar bangunan dua lantai. Hawa panas yang ekstrem—jauh melampaui suhu ruangan biasa—langsung menampar wajahnya, membawa bau pekat dari solar mentah dan uap oli.
Arka meluncur turun ke dalam lubang itu dengan cepat, lalu menarik palka besi di atasnya hingga tertutup rapat dan menguncinya dari dalam, tepat sebelum bayangan para penjaga bersenjata melintasi lorong di atasnya.
Begitu palka tertutup, Arka jatuh terduduk di atas lantai besi berlubang (catwalk) ruang mesin.
Di sini, getaran mesin tidak lagi hanya terasa di dinding; getaran itu mengguncang seluruh kerangka tulang rusuknya. Mesin kapal raksasa ini beroperasi pada tingkat desibel yang bisa memecahkan gendang telinga manusia dalam hitungan menit. Bahkan jika Arka tidak tuli, ia tetap tidak akan bisa mendengar apa pun di ruangan neraka ini.
Ia merangkak masuk ke celah sempit di bawah jaringan pipa uap yang bersuhu nyaris mendidih. Keringat membasahi seluruh tubuhnya dalam hitungan detik. Di sinilah ia akan bersembunyi. Di perut paus baja ini, dikelilingi lautan minyak, panas, dan getaran mematikan, menunggu hingga pendengarannya kembali... atau hingga Sitorus menemukannya.
***
**[AUTHOR NOTE]**Tegang banget! Karena Arka tuli sementara akibat ledakan, dia kehilangan salah satu indra paling penting buat survival. Nggak bisa denger langkah musuh itu rasanya kayak nunggu maut datang! Arka pintar banget, dia malah sembunyi di Ruang Mesin yang suaranya paling bising, jadi musuh pun nggak akan bisa denger suara napas atau pergerakannya! Tapi ruang mesin ini panasnya minta ampun! Mampukah Arka bertahan di oven raksasa ini sambil nyari tahu isi kontainer rahasia Sitorus?!
kalian harus pada baca kawan kawan yang suka manga atau manhwa, please kepada editor mangatoon/noveltoon angkat ini jadi karya di platform ini karena di platform ini banyaknya cerita percintaan perempuan saja
Semangat thoorr😼