NovelToon NovelToon
Dua Garis Waktu

Dua Garis Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Sebuah kecelakaan tragis menimpa Lin Xinyu, Tuan Putri Kerajaan Beiyan. Pamannya yang haus kekuasaan ingin melengserkannya dari takhta dan mengambil alih Kerajaan Beiyan. Terdesak oleh bahaya yang mengancam nyawanya, Lin Xinyu terpaksa melarikan diri. Dalam keputusasaan, ia akhirnya melompat dari tebing tinggi yang curam.

Namun, ia tidak mati. Jiwanya justru melintasi waktu, terlempar jauh ke masa depan, dan memasuki tubuh Yu Anqi, seorang gadis muda di dunia modern. Di sana, ia bertemu rekan-rekan baru dan berhasil memecahkan banyak kasus yang terjadi di zaman itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Upaya Penyelamatan

Suara sirine mereda seiring kedatangan mobil polisi itu. Sejumlah petugas segera turun dan mengepung taksi itu.

“Buka pintunya!” perintah seorang petugas kepada sopir taksi itu.

Begitu pintu dibuka, kedua wanita itu dipaksa turun. Mereka tetap berpura-pura tidak mengerti, wajah mereka menampilkan ekspresi kaget yang dibuat-buat.

“Ada apa ini?” tanya salah seorang wanita dengan nada memancing rasa iba.

“Serahkan bayi itu kepada kami!” perintah petugas itu lagi.

Merasa sudah terdesak dan tidak ada jalan keluar, wanita yang menggendong bayi itu tiba-tiba mengangkat tubuh mungil itu tinggi-tinggi di atas bahunya. Matanya melotot penuh ancaman.

“Jangan ada yang mendekat! Kalau kalian berani melangkah lebih dekat, aku akan lemparkan bayi ini!” teriaknya dengan suara parau.

Para petugas langsung menghentikan langkah, hati-hati agar tidak memicu tindakan nekat wanita itu.

“Baiklah, tenang saja. Kami tidak akan berbuat apa-apa. Turunkan bayinya dan serahkan kepada kami,” bujuk petugas itu dengan nada tenang namun tegas.

Namun alih-alih menurut, wanita itu justru mengayunkan tangannya melemparkan bayi itu. Dalam sekejap, salah seorang petugas melompat dengan cepat dan menangkap tubuh bayi itu tepat pada waktunya. Siku petugas itu sedikit tergores dan berdarah karena terjatuh, namun ia berhasil mengamankan bayi itu dalam pelukan.

Sementara itu, petugas lain segera membekuk kedua wanita itu dan memborgol tangan mereka agar tidak berontak lagi. Mereka digiring masuk ke mobil patroli untuk dibawa ke kantor polisi guna diintrogasi.

Kemudian, para petugas mendekati sopir taksi yang sejak tadi mengamati dari kejauhan.

“Terima kasih banyak atas laporan dan kerja sama Bapak. Jika Bapak tidak bertindak cepat, mungkin sulit sekali menemukan bayi ini kembali,” ucap salah seorang petugas sambil menyalami sopir itu.

Sopir itu tersenyum ramah. “Sama-sama, Pak. Itu sudah menjadi kewajiban kita sesama manusia untuk saling menolong, apalagi menyelamatkan nyawa anak kecil yang tidak bersalah.”

Setelah urusan dengan sopir selesai, petugas yang memimpin operasi menoleh ke rekannya yang baru saja menyelamatkan bayi itu.

“Kau tidak ikut kembali ke kantor? Apa ada urusan lain?” tanyanya.

“Ada sedikit urusan, tunggu sebentar.” jawabnya sambil tetap menggendong bayi itu dengan hati-hati dan mendekati sopir taksi itu.

Petugas yang menggendong bayi itu mendekati sopir dan mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya, kemudian menyodorkannya kepada sopir taksi itu.

“Ini sebagai tanda terima kasih kami, Pak. Silakan diterima.”

Sopir itu menggeleng dan menolaknya dengan sopan. “Tidak perlu, Pak. Ini hal yang wajar saya lakukan. Saya tidak bisa menerima imbalan untuk hal seperti ini.”

Namun petugas itu tetap memaksakan. “Ambillah saja. Ini bukan imbalan, melainkan sekedar tanda penghargaan atas keberanian dan kepedulian Bapak.” Ia meletakkan uang itu di tangan sopir, lalu segera berbalik berjalan mengikuti rekan-rekannya.

Sopir taksi hanya bisa menatap kepergian mereka sambil tersenyum, lalu berbisik pelan, “Terima kasih kembali.”

Di dalam mobil, Eric dan Anqi terus menyusuri jalan sambil membahas langkah penyelidikan selanjutnya. Tiba-tiba, ponsel di sela tempat duduk Eric berdering nyaring. Ia segera meraih dan mengangkatnya.

“Halo, dengan Eric Tan. Ada apa, Pak?” sapa Eric.

“Kami dari kantor polisi pusat. Saya sampaikan, bayi yang hilang itu sudah berhasil kami temukan dalam keadaan selamat. Kedua pelakunya juga sudah diamankan. Kami meminta Bapak dan orang tua bayi segera datang ke kantor polisi untuk proses selanjutnya.”

Wajah Eric seketika berbinar mendengar kabar itu. “Benarkah? Terima kasih banyak atas informasinya, Pak. Kami akan segera ke sana.”

Setelah menutup telepon, ia menoleh ke arah Anqi dengan senyum lebar. “Anqi, dengar kabar baik ini! Bayi yang hilang itu sudah ditemukan dan selamat. Orang yang menculiknya juga sudah ditangkap. Kita diminta segera ke kantor polisi.”

Anqi yang mendengarnya pun merasa lega, raut wajahnya yang semula tegang kini berubah cerah. “Syukurlah... akhirnya ada kabar baik juga. Ayo, kita cepat ke sana!”

Eric mengangguk setuju, Mobil itu pun melaju kencang menuju kantor polisi, membawa perasaan lega di hati keduanya.

Di tengah perjalanan menuju kantor polisi, mobil mereka tiba-tiba terhenti total. Di depan terbentang kemacetan panjang yang tak berujung, disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas yang cukup parah sehingga menutup hampir seluruh lajur jalan.

“Wah, macetnya parah sekali,” gumam Eric sambil melihat ke depan.

Mereka menunggu selama hampir dua puluh menit, namun posisi mobil tak bergerak sedikit pun. Anqi mulai terlihat gelisah, jari-jarinya mengetuk-ngetuk lutut karena tidak sabar.

“Ini tidak bisa dibiarkan terus begini,” ucapnya tiba-tiba sambil membuka sabuk pengaman. “Aku turun saja disini dan akan cari taksi.”

“Tidak, kita pergi bersama-sama saja,” cegah Eric dengan tegas namun lembut. “Kita tunggu sebentar lagi, mungkin sebentar lagi lancar.”

Anqi menggeleng tidak setuju. “Sudah dua puluh menit lebih kita diam di tempat. Ini sudah terlalu lama. Lebih baik aku pergi duluan, nanti kau menyusul kalau sudah lancar, ya?”

Tanpa menunggu jawaban lagi, ia membuka pintu mobil dan segera melangkah cepat.

“Hati-hati! Kalau sudah sampai, segera hubungi aku!” teriak Eric dari dalam mobil, sementara Anqi terus berjalan menjauh menembus kemacetan.

Setelah berjalan cukup jauh meninggalkan area kemacetan, Anqi berhasil mendapatkan taksi.

# Kantor Polisi Pusat

 Sesampainya di sana, Anqi langsung menghadap petugas di bagian depan. “Permisi, saya dari Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak. Saya ingin melihat bayi yang baru saja diselamatkan tadi,” jelasnya.

Para petugas saling berpandangan, tampak sedikit curiga karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Namun setelah memastikan, mereka akhirnya mengantarnya masuk ke ruang pemeriksaan.

Di dalam ruangan itu, terlihat seorang petugas polisi pria yang sedang duduk bermain dengan bayi tersebut. Ia terlihat asyik mengajak bicara si kecil.

“Wah, kau ini memang tampan sekali,” gumamnya sambil tersenyum. “Lihat saja matamu yang berwarna hazel ini, sangat indah sekali.” Tangannya terulur lembut menyentuh pipi dan kelopak mata bayi itu.

Begitu masuk dan melihat bayi itu, Anqi langsung bergegas mendekat. Namun, petugas polisi itu langsung tersentak dan dengan sigap menarik tubuh bayi itu ke dalam pelukannya, menjauhkannya dari jangkauan Anqi.

“Serahkan anak itu padaku,” ucap Anqi tegas.

Petugas itu menatapnya dengan pandangan waspada. “Siapa kau? Kenapa tiba-tiba bersikap seperti ini?”

“Saya dari Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak. Nama saya Yu Anqi,” jawabnya dengan nada tenang namun tegas.

“Di mana tanda pengenal atau surat tugasmu?” tanya petugas itu lagi, tidak mau sembarangan percaya.

Anqi tertegun sejenak, lalu merogoh sakunya. “Saya... tanda pengenal saya tertinggal di dalam mobil rekan saya. Saya terburu-buru tadi sampai lupa membawanya.” Ia mencoba mendekat lagi, berniat memastikan keadaan bayi itu.

Namun petugas itu kembali mundur dan mengeratkan pelukannya. “Kalau begitu, bagaimana saya bisa percaya? Jangan-jangan kau juga bagian dari kelompok penculik itu?” tuduhnya dengan curiga.

Wajah Anqi memerah menahan emosi. “Apa maksudmu? Saya benar-benar petugas resmi dari lembaga itu!” Ia mencoba meraih bayi itu kembali, namun ditahan oleh petugas itu.

“Tolong! Ada orang asing yang mencoba mengambil bayi ini! tolong saya!” teriak petugas itu memanggil rekan-rekannya.

Beberapa petugas lain segera berdatangan dan mengepung Anqi.

“Dengar, saya tidak berbohong! Tunggu rekan saya datang, dia akan membuktikannya!” jelas Anqi berusaha meyakinkan, namun tidak ada yang mau mendengar.

“Saya tidak ingin melukai siapa pun, jadi tolong jangan memaksa saya,” peringatnya ketika salah satu petugas mencoba memegang lengannya.

“Tangkap dia! Dia mencurigakan!” perintah salah seorang petugas.

Saat salah satu petugas berusaha memborgol lengannya, Anqi yang merasa terdesak tanpa sadar menepis tangan itu dengan cukup keras, membuat petugas itu terhuyung. Terjadilah perkelahian singkat itu. Anqi hanya berusaha membebaskan diri tanpa bermaksud melukai secara serius.

“Saya sudah katakan, saya tidak ingin memukul kalian! Tolong bersikaplah lebih bijaksana!” bentak Anqi di sela-sela perlawanannya.

Namun karena jumlah petugas yang lebih banyak, akhirnya Anqi berhasil dilumpuhkan dan kedua tangannya diborgol.

Petugas yang tadinya menggendong bayi itu mendekat dan menatapnya dengan pandangan meremehkan. “Kau ini... wajahmu memang cantik, tapi ternyata hatimu sama busuknya dengan para penjahat itu. Sayang sekali. Jangan kira aku akan mudah tergoda dengan penampilanmu, mengerti?” ucapnya dengan nada sinis.

Anqi hanya diam, menahan rasa kesal yang ia rasakan saat itu.

1
Putri Shalima
Mohon dukungannya ya teman-teman 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!