Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."
Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Rasa Gugup Yang Datang
Suasana ruang rapat di lantai tujuh D'Endra Group siang itu dipenuhi atmosfer yang serius. Seluruh kursi di sekitar meja rapat telah terisi oleh anggota tim pemasaran yang membawa laptop dan berkas masing-masing. Di bagian paling depan, Amora Dania Atmojo berdiri dengan sikap percaya diri di samping layar proyektor yang menampilkan presentasi bertajuk Strategi Pemasaran Kuartal IV.
Sebagai Manajer Pemasaran, Amora sudah terbiasa memimpin jalannya diskusi. Cara bicaranya tenang, jelas, dan terstruktur, sehingga setiap orang di ruangan itu memperhatikan penjelasannya tanpa kesulitan.
"Kita akan mengarahkan fokus utama pada peningkatan interaksi produk digital selama beberapa bulan ke depan," jelas Amora sembari menekan tombol remote presentasi hingga slide berikutnya muncul. "Target sebelumnya memang sudah tercapai, tetapi itu belum cukup. Menjelang akhir tahun, kita harus memanfaatkan momentum dengan strategi yang lebih kuat. Saya ingin setiap tim menyiapkan konsep kampanye media sosial yang baru, lalu menyerahkan laporan perkembangannya paling lambat hari Rabu."
Beberapa peserta rapat langsung mencatat poin-poin penting, sementara yang lain sibuk mengetik di laptop.
Salah seorang staf mengangkat tangan untuk menyampaikan pendapat.
"Bu Amora, bagaimana kalau kita menambahkan kolaborasi dengan beberapa content creator lokal? Sepertinya respons pasar sedang cukup bagus."
Amora mengangguk pelan.
"Itu ide yang menarik. Silahkan dibuatkan proposalnya lebih rinci, termasuk estimasi biaya dan target pasar yang ingin dicapai. Nanti kita evaluasi bersama."
Diskusi kembali berlangsung cukup aktif. Pertanyaan demi pertanyaan dijawab Amora dengan sabar. Meski rapat memakan waktu hampir satu jam, raut wajahnya tetap terlihat profesional. Sesekali ia meneguk air mineral yang berada di samping laptop sebelum kembali melanjutkan penjelasannya.
Tidak terasa waktu menunjukkan hampir pukul 4 sore.
"Baik, kalau tidak ada tambahan lagi, rapat kita cukup sampai di sini," ucap Amora sambil menutup presentasinya. "Terima kasih atas kerja sama semuanya. Bila masih ada usulan lain, silakan kirim melalui email sebelum jam kerja berakhir."
"Baik, Bu."
Para karyawan mulai membereskan dokumen masing-masing sebelum meninggalkan ruangan satu per satu.
Amora memilih tetap berada di sana beberapa saat hingga semua orang keluar. Setelah pintu rapat akhirnya tertutup, ia mengembuskan napas panjang.
Rapat berjalan lancar, tetapi tetap saja menguras tenaga dan konsentrasinya.
Ia kemudian melangkah keluar menuju ruang kerjanya. Koridor kantor mulai terlihat lebih lengang dibandingkan beberapa jam sebelumnya. Cahaya matahari sore menembus dinding kaca, menciptakan semburat keemasan yang memanjang di lantai.
Sesampainya di ruangan, Amora meletakkan laptop di atas meja, lalu menjatuhkan tubuhnya perlahan ke kursi kerja. Ia menyandarkan punggung sambil memejamkan mata beberapa detik, mencoba mengistirahatkan pikirannya yang sejak pagi dipenuhi strategi pemasaran, target penjualan, dan jadwal rapat.
Baru saja tangannya hendak meraih gelas minum, ponsel yang berada di samping laptop bergetar.
Drrrrt...
Amora segera mengambilnya. Tatapannya langsung tertuju pada nama yang muncul di layar.
Mas Razka.
Refleks bibirnya membentuk senyum tipis.
Kini hubungan mereka memang tidak lagi secanggung beberapa hari lalu. Setelah sepakat memulai semuanya sebagai teman, komunikasi di antara keduanya perlahan terasa lebih ringan meski masih dibatasi rasa sungkan.
Ia membuka pesan tersebut.
from: Mas Razka
Nanti pulang jam berapa?
Daddy minta kita datang ke rumah buat makan malam.
Amora membaca isi pesan itu sekali lagi. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Tanpa membuang waktu, ia mulai mengetik balasan.
^^^to: Mas Razka^^^
^^^Mungkin sekitar jam lima lewat sedikit, Mas.^^^
^^^Memangnya ada acara apa?^^^
Tidak sampai semenit kemudian, balasan kembali masuk.
from: Mas Razka
Daddy sama Mommy pengen makan malam bareng kita.Sekalian ngobrol mungkin.
Amora terdiam cukup lama. Pikirannya langsung melayang ke rumah keluarga Bagaskara. Rumah besar dengan suasana yang elegan namun terasa begitu berwibawa. Sejujurnya, ia masih merasa canggung setiap kali membayangkan harus bertemu Daddy dan Mommy Atharazka.
Perlahan ia kembali mengetik.
^^^to: Mas Razka ^^^
^^^Iya, Mas.^^^
^^^Nanti setelah pulang kerja aku langsung siap-siap.^^^
Tiak lama kemudian, notifikasi berikutnya kembali muncul.
from: Mas Razka
Kita ketemu di apartemen dulu. Setelah itu berangkat bareng.
Amora mengangguk pelan meskipun lawan bicaranya tidak mungkin melihat reaksinya.
Ia pun mengirim balasan terakhir.
^^^to: Mas Razka ^^^
^^^Iya, Mas.^^^
Setelah percakapan selesai, layar ponselnya perlahan menggelap. Amora meletakkan benda itu di atas meja, lalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela besar di samping ruangan.
Entah mengapa, rasa gugup yang sejak tadi tidak ada kembali muncul memenuhi dadanya.
Bukan karena pekerjaan. Melainkan karena makan malam bersama keluarga Bagaskara.
Walaupun hubungan dirinya dengan Atharazka mulai membaik dan tidak lagi sedingin sebelumnya, tetap saja ia belum benar-benar mengenal keluarga suaminya secara dekat.
Ia tahu Atharazka mulai membuka diri. Pria itu kini sesekali mengajaknya berbincang atau sekadar menanyakan hal-hal sederhana. Namun sifatnya yang tenang dan sulit ditebak masih sering membuat Amora tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Pandangan Amora kembali jatuh pada jam digital di sudut meja. Jarumnya terus bergerak menuju pukul 5 sore.
Ia akhirnya bangkit dari kursi, mematikan laptop, merapikan beberapa map, lalu memasukkan ponsel beserta barang-barang pribadinya ke dalam tas kerja.
Sebelum meninggalkan ruangan, Amora sempat menoleh ke sekeliling kantor yang setiap hari menjadi tempatnya mencurahkan tenaga dan pikirannya.
Ia menarik napas perlahan.
"Semoga makan malam nanti berjalan lancar," gumamnya lirih.
Dengan membawa tas di bahunya, Amora melangkah keluar menuju lift. Wajahnya tetap terlihat tenang, meski jauh di dalam hatinya tersimpan rasa gugup yang perlahan semakin besar seiring mendekatnya waktu bertemu keluarga Bagaskara.
.
.
.
Jangan lupa like dan komennya yaa😂🫶
Terima Kasih 🥰❤️
crt2 yg lain nya aku msh nunggu kelanjutan nya lho... 🥰🥰🥰