⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan sepak terjang sang Petani Sultan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta yang Mendalam dari Sang Jelita
Lebih dari dua jam kemudian, prosedur operasi Banyu akhirnya selesai dan brankarnya didorong keluar dari ruang operasi. Pak Yapto Liem yang sedari tadi mondar-mandir cemas di lorong, langsung mencegat Dr. Grant tanpa memedulikan lengan kirinya yang masih dibebat gips. "Dokter! Bagaimana kondisi teman saya?"
"Tidak terlalu baik," jawab Dr. Grant jujur tanpa berniat menutupi fakta. "Dia mengalami pendarahan yang sangat masif, dan luka tembaknya bersarang tepat di organ-organ vital. Meski kami sudah berhasil mengangkat kedua proyektil pelurunya, peluangnya untuk bertahan hidup secara medis tidak lebih dari 20%. Apakah ia mampu melewati masa kritis 48 jam ke depan atau tidak, semuanya bergantung murni pada seberapa kuat tekad hidup pasien itu sendiri."
Mengetahui bahwa luka Banyu separah itu, rasa bersalah kembali mencekik dada Pak Yapto Liem. Ia bergumam lirih dengan tatapan kosong, "Ini semua salahku... aku yang mencelakainya..."
Melihat pria paruh baya itu begitu terpukul, Dr. Grant yang pada dasarnya berhati baik mencoba menghiburnya. "Tapi Anda tidak perlu terlalu putus asa. Teman Anda ini memiliki daya tahan fisik (vitality) yang sungguh di luar nalar. Kalaupun di dunia ini hanya ada satu orang yang bisa selamat dari kondisi semenakutkan ini, saya yakin seratus persen orang itu adalah dia."
Mendengar vonis yang mendebarkan itu, Pak Yapto Liem hanya bisa mengucapkan terima kasih dengan wajah muram, diam-diam memanjatkan doa terbaik agar Banyu sanggup melewati masa kritis ini. Kalau saja Banyu tidak ada di mobilnya siang tadi, Pak Yapto Liem yakin ia pasti sudah menjadi mayat. Singkat kata, Banyu terseret ke neraka ini murni karena dirinya. Jika pemuda sebaik Banyu harus gugur di usia sedini ini karena ulahnya, Pak Yapto Liem akan dihantui rasa bersalah seumur hidupnya.
Faktanya, kondisi Banyu tidak sekritis yang didiagnosis oleh Dr. Grant. Bagaimanapun juga, kualitas sel tubuh Banyu telah berevolusi jauh melampaui manusia normal, sehingga proses regenerasi jaringannya pun berlipat ganda lebih cepat. Dua luka tembak itu memang sangat fatal dan merusak, namun setelah kedua peluru besi panas itu berhasil dikeluarkan dari tubuhnya, kondisinya perlahan-lahan mulai stabil. Setidaknya, peluang kematiannya sama sekali tidak menyentuh angka 80% seperti yang diprediksi oleh sang dokter.
Setelah dipindahkan dari ruang operasi, Banyu ditempatkan di kamar perawatan intensif khusus. Seorang perawat dengan cekatan memasangkan berbagai sensor monitor detak jantung ke tubuhnya, memantau grafik di layar selama beberapa saat, dan baru meninggalkan ruangan setelah memastikan semuanya stabil.
Begitu pintu kamar tertutup rapat, mata Banyu yang sedari tadi terlihat seperti sedang koma mendadak terbuka lebar. Setelah mengonfirmasi tak ada orang lain di kamar itu, ia dengan gesit membuka Kendi Penyuling Jiwa miliknya. Dengan sangat hati-hati ia menelan dua tetes Cairan Ajaib. Sempat ragu sejenak, ia akhirnya menambah beberapa tetes lagi ke dalam mulutnya sebelum menghela napas lega.
"Nah, kalau begini sih dijamin nggak bakal mati," gumam Banyu sambil menutup rapat kendi pusakanya, matanya menatap lurus ke langit-langit kamar putih bersih itu. "Negara kapitalis memang ngeri banget. Baru juga mendarat beberapa hari, kemarin keperjakaanku nyaris direnggut, hari ini nyawaku nyaris melayang. Ah, tetap saja Indonesia tempat yang paling aman dan tenteram!"
Tentu saja celotehan konyol itu hanyalah caranya untuk merilekskan otot-otot sarafnya yang tegang. Setelah merasa lebih santai, otak Banyu mulai menyusun kembali kepingan puzzle dari insiden pembunuhan berencana ini. Algojo yang tewas itu sempat membocorkan bahwa mereka berasal dari sindikat Triad Malaysia, dan target utama mereka jelas-jelas adalah Pak Yapto Liem. Hal ini memicu pertanyaan baru di benak Banyu: apakah Pak Yapto Liem pernah punya masalah berdarah dengan Triad Malaysia, ataukah ada dalang lain yang sengaja menyewa jasa sindikat pembunuh bayaran itu untuk mengeksekusi sang taipan?
Sayangnya, meski otaknya diputar sekeras apa pun, Banyu tetap tak menemukan ujung pangkalnya. Ia sadar, ia hanyalah orang apes yang kebetulan berada di tempat dan waktu yang salah. Dengan minimnya informasi yang ia miliki, mustahil baginya untuk menarik benang merah konspirasi ini. Karena sedang terluka parah, staminanya cepat anjlok dan ia mudah merasa lelah. Malas memusingkan masalah yang bukan porsinya, Banyu memutuskan untuk sekadar menyampaikan informasi tentang 'Triad Malaysia' itu pada Pak Yapto Liem saat ada kesempatan nanti. Karena targetnya adalah sang taipan, biar pria itu sendiri yang memikirkan solusinya.
Dengan beban pikiran yang sudah lumayan ringan, rasa kantuk pun menyerang. Tak lama kemudian, Banyu jatuh tertidur lelap.
Entah berapa lama Banyu terlelap. Saat ia kembali membuka mata, sinar mentari yang cerah telah memenuhi ruangan. Meski gorden tebal kamar VIP itu ditutup rapat, beberapa berkas cahaya matahari tetap berhasil mengintip masuk dari sela-selanya. Banyu menarik napas dalam-dalam, dan seketika menyadari bahwa rasa nyeri menusuk di dadanya telah jauh berkurang. Memahami bahwa ini adalah sinyal kesembuhan, senyum lega perlahan terukir di wajahnya.
Namun, senyum itu baru saja terbit saat suara lembut yang sangat tak asing namun penuh isak tangis mendadak menyapa telinganya, "Banyu... kau sudah bangun?"
Banyu terperanjat dan langsung menoleh ke arah sumber suara. Di samping ranjangnya, duduk sesosok wanita cantik yang wajahnya basah oleh air mata! Sesaat, Banyu merasa linglung. Bagaimana bisa Siska tiba-tiba spawn di kamar rumah sakit di Amerika ini? Apa lukanya terlalu parah sampai ia mulai berhalusinasi?
Banyu mengerjapkan matanya kuat-kuat beberapa kali, lalu kembali menatap sosok di samping ranjang. Kali ini, ia yakin seratus persen bahwa wanita di hadapannya adalah wujud fisik Siska yang asli, bukan sekadar ilusi. Rasa bahagia langsung meledak di dadanya. Ia mengulurkan tangannya yang lemah dan bertanya dengan suara serak, "Kenapa kamu bisa ada di sini? Terus... kenapa menangis begini?"
Siska buru-buru menggenggam tangan Banyu yang terasa dingin. Ia menempelkan telapak tangan besar itu ke pipinya yang basah dan terisak, "Mbak Ratna meneleponku dan bilang kalau kau kena tembak. Begitu mendengar kabar itu, aku langsung membatalkan semua agendaku di New York dan terbang kemari. Waktu pertama kali tiba dan melihatmu terbaring kaku dengan begitu banyak alat medis di sekelilingmu... aku... aku benar-benar..."
Tenggorokan Siska kembali tercekat, isak tangisnya semakin menjadi-jadi bagaikan tanggul yang jebol. Air mata terus meluncur deras menyusuri pipinya yang mulus. Mendengar betapa hancur dan khawatirnya wanita karier ini saat mengetahui kondisinya, hati Banyu ikut terenyuh. Walaupun mata Siska saat ini bengkak merah, wajahnya kuyu, dan auranya tak segarang biasanya layaknya wanita karier papan atas, di mata Banyu, penampilan Siska saat ini jauh lebih cantik dan memukau dari biasanya.
Dengan penuh kasih sayang, Banyu mengusap air mata di pipi Siska menggunakan ibu jarinya. Ia mencoba menenangkan wanita itu, "Sshh... sudah jangan nangis lagi. Lihat, aku baik-baik saja kan? Jangan lupa, pacarmu ini kan seorang Tabib Sakti! Luka sepele begini mah cuma ibarat digigit semut. Dokter-dokter bule itu saja yang kelewat lebay melebih-lebihkannya. Pasti mereka ya yang udah bikin Sayangku ini panik setengah mati?"
Mendengar rayuan gombal Banyu yang cringe namun melegakan itu, Siska tak kuasa menahan tawa kecilnya. Sambil memelototkan matanya ia mencubit pelan lengan Banyu. "Siapa juga yang sudi jadi 'Sayang'-mu! Dasar buaya! Tapi... kau beneran sudah nggak apa-apa, kan?"
"Luka gores kecil, nggak bakal bikin mati," Banyu menenangkan dengan senyuman santai, lalu menatap Siska dengan pandangan yang dalam dan intens. "Jujur saja... aku jauh lebih takut kalau kamu benar-benar mengabaikanku dan tak mau menemuiku lagi seumur hidupmu. Luka tembak ini nggak seberapa, tapi kalau harus kehilanganmu... aku benar-benar bisa mati karena patah hati."
Sejak insiden memalukan di pameran anggrek tempo hari di mana Siska memergoki Laras dan mengetahui fakta bahwa Banyu menduakan atau lebih tepatnya, mentigakan cintanya wanita karier yang sangat gengsian itu menggunakan alasan ekspansi bisnis untuk kabur ke Amerika, sengaja memutuskan komunikasi dengan Banyu. Dengan karakter Siska yang keras kepala dan dominan, jika Banyu tidak berhadapan dengan maut karena tertembak peluru nyasar ini, wanita itu dijamin tak akan pernah sudi repot-repot terbang menjenguknya.
Bagi Banyu si perayu ulung, ini adalah momentum emas yang dijatuhkan langsung dari langit untuk menambal kembali keretakan hubungan mereka. Tentu saja ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini! Maka, meluncurlah rentetan jurus gombalan maut dan rayuan manis yang diracik khusus untuk meluluhkan pertahanan hati Siska.
Wanita, setangguh dan sedingin apa pun penampilan luarnya, pada dasarnya tetaplah makhluk emosional yang mudah tersentuh oleh kata-kata manis tak terkecuali "Wanita Besi" sekelas Siska. Jika ada pria sembarangan yang berani melontarkan gombalan murahan seperti itu padanya, Siska pasti sudah mendengus jijik dan langsung walk-out. Namun, karena kata-kata itu keluar dari mulut pria yang sangat dicintainya, apalagi di tengah situasi pasca-kritis seperti ini, sensasinya sangat berbeda. Dada Siska serasa dipenuhi madu manis yang meleleh, menghangatkan seluruh relung hatinya.
Banyu, yang insting buayanya sangat tajam dalam membaca bahasa tubuh wanita, langsung tahu bahwa rayuannya mengenai sasaran. Tanpa ampun, ia kembali menghujani Siska dengan rentetan kata-kata manis nan romantis, hingga pertahanan terakhir wanita tangguh itu runtuh tak bersisa.
Saat sedang kasmaran, wanita karier paling menakutkan pun akan bersikap sama persis dengan remaja ABG yang baru pertama kali pacaran. Siska memandang Banyu dengan tatapan penuh pemujaan, merasa setiap patah kata yang meluncur dari bibir pemuda itu terdengar semerdu nyanyian surga. Pada akhirnya, wajah kuyu Siska berubah cerah, dihiasi senyum kebahagiaan yang tulus, dan rona merah mulai kembali mewarnai pipinya.
Sayangnya, meski staminanya dibantu oleh Cairan Ajaib, Banyu tetaplah pasien pasca-operasi berat. Setelah mengoceh cukup panjang, ia mulai merasa dadanya sesak dan napasnya memburu. Ia terpaksa menghentikan rayuannya dan memaksakan senyum lemas pada Siska, menandakan bahwa ia sudah kehabisan bensin untuk melanjutkan gombalannya.
"Sudah, sudah, jangan banyak bicara dulu! Kau masih harus banyak istirahat!" Siska yang peka langsung panik melihat napas Banyu yang mulai berat. Ia membetulkan selimut Banyu dan terdiam sejenak, sebelum akhirnya berbisik pelan, "Sebenarnya... waktu awal-awal aku tahu kau punya kekasih selain diriku, rasanya aku sangat jijik padamu dan bersumpah tak ingin melihat wajahmu lagi seumur hidupku!"
Mendengar hal itu, Banyu mulai panik. Ia baru saja hendak membuka mulut untuk memberikan klarifikasi darurat, namun Siska segera meletakkan jarinya di bibir Banyu untuk membungkamnya, lalu melanjutkan dengan suara parau, "Tapi... semenjak aku lari ke Amerika, anehnya... semakin kuat aku berusaha menghindarimu, semakin gila rasa rinduku padamu. Tadi malam, saat Mbak Ratna tiba-tiba menelepon dan mengabarkan kau tertembak parah dan sekarat... di saat itulah penyesalan terdalam menghantamku. Aku merutuki keegoisanku sendiri yang menolak menemuimu. Kalau sampai kau... kalau sampai kau tidak selamat... aku tak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri."
Setelah memuntahkan seluruh beban perasaan yang membusuk di hatinya selama ini, Siska merasa sangat lega. Ia menatap Banyu dengan senyuman paling menawan dan berkata mantap, "Makanya aku langsung meninggalkan semua jadwalku dan terbang ke sini. Di sepanjang penerbangan, aku merenungkan semuanya dan akhirnya mengambil keputusan. Meskipun kau ini benar-benar pria bajingan tak tahu diri... tapi... aku rela membagimu!"
Kata-kata sakti Siska itu bagaikan injeksi adrenalin murni bagi Banyu. Tanpa sadar ia langsung terduduk dari ranjangnya dan memekik histeris, "S-SERIUS?!"
Namun, gerakan mendadaknya itu merobek jahitan lukanya. Banyu langsung mengerang kesakitan dengan wajah meringis, "Aaaargh!!"
"Tuh kan! Hati-hati dong!" Siska buru-buru memapah Banyu agar kembali berbaring dengan hati-hati, tak lupa mengomelinya dengan suara tertahan. "Kau ini kan baru saja selesai dioperasi, bisa nggak sih jangan banyak tingkah?!"
Banyu sama sekali tidak memedulikan omelan apalagi rasa sakit di lukanya. Ia menatap Siska dengan intens dan mendesak, "Jawab dulu! Omonganmu barusan itu benar kan?!"
Melihat betapa putus asanya Banyu meminta konfirmasi darinya, hati Siska diam-diam merasa sangat tersanjung. Ia mengangguk pelan namun tegas. "Tentu saja benar. Tapi ada syaratnya! Kau tidak boleh menyembunyikan rahasia apa pun lagi dariku!"
"Hahahaha! Ya Tuhan, aku... aku benar-benar sangat bahagia!!" Banyu tertawa girang hingga matanya menyipit, seolah rasa sakit dari tembakan peluru itu hanyalah ilusi.
Banyu sangat memahami karakter Siska. Sekali wanita sekeras batu karang ini berani mengucapkan janji tersebut, itu artinya ia sudah 100% menerima realitas gila ini dengan lapang dada. Mengingat Laras dan Sonia sudah lebih dulu mengibarkan bendera putih untuk berbagi suami, dan belakangan Jessica pun tampaknya tidak keberatan dengan hal itu, "Wanita Besi" Siska adalah bos terakhir yang menjadi beban pikiran terbesar Banyu selama ini. Dan kini, bos terakhir itu telah sukses ditaklukkan! Batu raksasa yang selama ini menindih ulu hati Banyu pun hancur tak bersisa.
Saat ini Banyu merasa tubuhnya seringan kapas. Ia membatin penuh syukur, "Pepatah orang baik pasti dapat balasan yang baik itu ternyata real, cuy! Pengorbananku menyelamatkan nyawa Pak Yapto Liem tempo hari terbayar lunas dengan cara seindah ini!"
Melihat Banyu yang terus-terusan cengengesan sendiri, Siska mengerutkan kening heran. "Mikirin apa sih? Senyummu kelihatan mesum banget."
Banyu tersenyum menggoda. "Aku cuma berpikir... asalkan aku bisa membuatmu kembali padaku, rasanya ditembak dua peluru pun sangat-sangat worth it!"
Kalimat maut Banyu itu seketika membuat pelupuk mata Siska kembali basah. Dipenuhi haru dan cinta yang mendalam, ia menatap Banyu lekat-lekat, perlahan mencondongkan tubuhnya ke depan, berniat mendaratkan ciuman lembut di bibir pria itu. Namun... tepat di saat bibir mereka nyaris bersentuhan, pintu kamar rawat tiba-tiba didorong terbuka!