NovelToon NovelToon
Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Mafia
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.

Repan menetap di Kota Bogor.

Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.

Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.

Bagaimana kelanjutannya..?

"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

TOK! TOK! TOK!

Ketukan terdengar tegas menghentak pintu kayu ruang kerja pribadi milik sang pemilik restoran.

Seorang satpam paruh baya yang mengenakan seragam dinasnya membukakan pintu perlahan seraya sedikit membungkukkan badan.

"Pak Danu, ada seorang calon pembeli yang berniat mengakuisisi restoran ini." Suara petugas itu terdengar sopan, meski terselip nada kebingungan dan keraguan di vokalnya.

Dari balik meja kayu jati berukuran besar yang penuhi tumpukan dokumen, seorang pria paruh baya mengalihkan pandangannya. "Ah, calon pembeli baru? Akhirnya..." Raut wajahnya menyiratkan kelegaan mendalam. "Silakan persilakan masuk."

Langkah kaki Repan terdengar mantap memasuki ruangan.

Ia mengenakan seragam putih abu-abu khas Remaja SMA, namun gestur tubuh dan cara ia membawakan diri sangat berbeda—terlihat seperti seorang pengusaha muda ketimbang murid SMA biasa.

Pak Danu, pemilik restoran tersebut, seketika memperhatikan penampilannya. Sepasang matanya menyipit penuh selidik.

'Anak SMA? Dari seragam dan tampilannya, dia jelas-jelas cuma siswa SMA biasa. Apa benar dia sanggup membeli restoran ini?'

"Dek, kamu yang dimaksud satpam tadi?" tanyanya seraya mengamati Repan dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Namun Repan sama sekali tak memperlihatkan keraguan.

Ia menatap lurus ke arah pria di depannya dan bersuara mantap, "Perkenalkan, saya Repan Kusuma. Saya berminat penuh untuk membeli restoran ini."

Pak Danu terdiam sejenak. Sikap, pembawaan, dan nada suara anak muda itu sama sekali tak mencerminkan penampilannya yang masih berseragam sekolah.

Terlalu tenang. Terlalu percaya diri.

'Sikapnya... ini bukan pembawaan bocah belasan tahun biasa,' batin Danu yang kian dibuat penasaran.

"Saya Danu," tanggapnya kemudian seraya menyambut uluran tangan Repan.

"Saya pemilik tempat ini. Baiklah, langsung saja. Kamu mau tahu berapa nominal harganya?"

Repan mengangguk. "Langsung saja, Pak. Berapa harga lepas restoran ini?"

Pak Danu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

"Sebenarnya, restoran ini punya nilai historis dan potensi keuntungan yang sangat besar. Tapi karena saya harus pindah domisili ke luar negeri minggu depan, saya tidak punya pilihan lain selain menjual aset ini secepatnya."

Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan,

"Karena itu, saya melepasnya dengan harga miring. Cukup 25 miliar rupiah saja. Padahal nilai appraisal aslinya bisa menyentuh angka 40 miliar rupiah."

Repan menaikkan sebelah alisnya. "Cuma 25 miliar?"

"Iya. Ini penawaran khusus. Saya yakin nominal itu sangat murah untuk fasilitas lengkap dan lokasi sestrategis ini."

Namun Repan justru menggelengkan kepalanya.

"Saya kurang tertarik dengan tawaran harga diskon. Saya mau beli restoran ini dengan harga penuhnya—40 miliar rupiah."

Pak Danu seketika terdongak kaget.

"APA?!" Wajahnya berubah drastis. "Kamu... bercanda?! Seorang siswa SMA mau beli tempat ini tanpa minta potongan harga sedikit pun?! Jangan main-main, Anak Muda!"

Ia bangkit dari kursinya, intonasinya mulai meninggi.

"Kamu pikir transaksi bisnis ini cuma permainan?! Kamu datang ke sini berpura-pura jadi pembeli cuma buat iseng?!"

Repan hanya menyilangkan kedua tangannya di dada seraya menyunggingkan senyum santai.

"Apa yang membuat Bapak berpikir kalau saya cuma bercanda?"

Pak Danu terbungkam. Untuk beberapa detik, ruangan itu berubah hening.

Repan merogoh ponselnya dari dalam saku, membuka aplikasi layanan perbankan, lalu mulai menekan beberapa tombol transaksi digital. Gerakan jemarinya sangat tenang tanpa ragu.

Beberapa detik kemudian...

[TRANSAKSI BERHASIL]

Bersamaan dengan itu, ponsel milik Pak Danu berdering nyaring. Sebuah notifikasi transfer dana masuk berbunyi.

Tangannya gemetaran saat menggeser layar ponsel, sebelum akhirnya sepasang matanya membelalak lebar.

"Empat... puluh... miliar rupiah...?! Ti-tidak mungkin...!" gumam Danu dengan vokal yang nyaris tercekat di tenggorokan.

Ia menatap Repan yang kini berdiri tegak dengan tenang, tak ubahnya seorang investor kelas atas yang baru saja menyelesaikan transaksi rutin.

"Tolong siapkan seluruh berkas kepemilikannya. Setelah jam sekolah selesai, saya akan kembali ke sini buat menandatangani berkas akuisisinya. Mulai detik ini, restoran ini resmi jadi milik saya."

Tanpa menunggu balasan kata dari Danu, Repan membalikkan badannya dan melangkah keluar dari ruangan tersebut.

Keheningan melingkupi ruangan kerja itu, hanya menyisakan derap langkah sepatu Repan yang makin menjauh.

Pak Danu masih berdiri terpaku kaku di tempatnya. "Siapa... sebenarnya anak itu...? Dia membeli restoran raksasa senilai 40 miliar... dengan sekali tekan dan se-tenang itu?!"

Sementara itu, tepat ketika Repan melangkah keluar dari pintu utama restoran, sebuah notifikasi transparan mendadak muncul melayang di hadapan pandangannya.

[Anda Mendapatkan 400 Poin.]

Repan menyunggingkan senyuman tipis. Matanya berbinar puas.

'Mantap... gue dapat pasokan poin melimpah dari akuisisi restoran ini,' gumamnya di dalam hati.

Bagi Repan saat ini, bangunan restoran hanyalah sarana perantara. Tujuan utamanya tetaplah perolehan poin sistem yang terus melimpah.

Poin yang akan terus menaikkan status dirinya, membawanya melesat menuju posisi puncak.

Saat Repan mengayunkan kaki keluar dari area restoran yang kini telah resmi berpindah kepemilikan, pendar cahaya matahari pagi menyirami parasnya yang tenang.

Hembusan angin semilir mengibaskan rambutnya, menciptakan suasana pagi yang amat damai. Namun...

Tring! Trang!

Sebuah panggilan telepon masuk menyalakan layar ponselnya. Nama yang tertera di sana membuat dahi Repan sedikit berkerut: Tante Natasya—ibu kandung dari Sasa, mantan kekasihnya.

Dengan ketenangan yang terjaga, ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo, Tante." Suaranya terdengar datar, namun tetap menjaga kesantunan.

"Repan... kamu lagi sama Sasa, kan? Dari hari Sabtu kemarin dia belum pulang ke rumah. Katanya ada kegiatan kerja kelompok, tapi waktu Tante tanyakan ke teman-teman sekelasnya, nggak ada satu pun yang tahu keberadaan dia," suara Tante Natasya terdengar begitu cemas dan panik di ujung telepon.

Repan menghembuskan napas pelan. "Maaf sebelumnya, Tante. Saya benar-benar tidak tahu Sasa ada di mana sekarang. Kami... sudah resmi putus. Saya sudah tidak pernah berkomunikasi lagi dengan Sasa."

Keheningan melingkupi sambungan telepon itu selama beberapa saat.

"APA?!" seru Tante Natasya terperanjat.

"Kalian putus?! Tapi kenapa, Repan? Tante senang banget waktu tahu Sasa berpacaran sama kamu. Kamu itu anak yang baik!"

Repan memejamkan matanya sejenak, menetralkan gejolak emosi yang sempat mengusik dadanya.

"Itu sudah jadi keputusan Sasa sendiri, Tante. Saya cuma menghargai pilihan dia."

Lalu, tanpa berniat memperpanjang pembahasan yang tak lagi relevan, Repan segera mengakhiri pembicaraan.

"Kalau nanti saya melihat dia di sekitar sekolah, saya pasti bakal kasih kabar ke Tante. Sampai nanti, Tante." Klik.

Repan menarik napas panjang dan memandangi layar ponselnya yang kembali gelap.

'Jadi dugaan gue benar... Ari yang membawa dia pergi,' gumamnya dalam hati.

Memori saat Ari secara memprovokasi berucap, "Gue bakal tidur sama dia," seketika berputar kembali di benaknya.

Otot rahang Repan menegang, tatapannya menajam lurus ke depan.

Namun tak butuh waktu lama baginya untuk menggelengkan kepala pelan.

"Dia bukan lagi urusan gue. Dia sendiri yang memilih pergi dan meninggalkan semuanya demi... bajingan itu," ucapnya dingin. Sorot matanya dengan cepat kembali tenang.

Saat hendak melanjutkan langkah kakinya menuju gerbang SMA 09 Cimanggu, sebuah sapaan riang terdengar dari arah belakang.

Ia menoleh dan mendapati sesosok gadis berparas jelita sedang melempar senyuman manis ke arahnya.

Gadis itu tampak begitu anggun dan imut dengan balutan hijab rapi yang melambai halus tertiup angin pagi.

Ia adalah Zahra—siswi populer yang terkenal sangat sulit didapatkan oleh pria mana pun, bahkan sekadar untuk didekati saja amat sukar.

"Zahra," panggil Repan seraya melangkah tenang mendekat. "Gimana kondisi ibu kamu?"

Senyuman Zahra kian merekah indah.

"Kondisi Ibu udah jauh lebih baik! Proses operasinya berjalan sangat lancar dan kata dokter kondisinya sekarang sudah stabil!"

Repan menganggukkan kepalanya pelan. "Syukurlah... aku ikut senang mendengarnya."

Zahra melangkah bersisian di sampingnya. Wajah cantiknya tampak berbinar, walau ada sedikit rasa canggung dalam caranya memilin ujung jarinya sendiri.

"Repan... terima kasih banyak ya. Tanpa bantuan besar dari kamu, aku nggak tahu harus berbuat apa lagi. Ibu... benar-benar terselamatkan berkat kamu," tutur Zahra dengan nada suara lembut yang sarat akan rasa syukur.

"Nggak masalah, Zahra. Aku memang murni berniat membantu," Repan mengulas senyum tipis.

Ukiran senyum itu seketika membuat detak jantung Zahra berdegup jauh lebih cepat dari biasanya.

Kedua belah pipinya perlahan merona merah, merespons kehangatan pagi itu.

"Tapi... soal nominal dana sebesar itu..." Zahra mulai membuka pembicaraan dengan vokal pelan, namun Repan langsung memotong kalimatnya.

"Aku nggak butuh kamu ganti," potong Repan. Suaranya terdengar lembut namun tidak bisa dibantah.

Zahra makin erat memeluk buku pelajaran di dadanya. "Tapi, Pan... dana itu nilainya sangat besar—"

"Sebagai gantinya, gimana kalau kamu traktir aku makan saja?" potong Repan lagi, melirik ke arah Zahra seraya terkekeh kecil.

Zahra terhenyak kaget. "Kamu... serius? Tapi bantuan yang kamu berikan itu... nilainya fantastis banget!"

"Zahra," Repan menghentikan langkah dan menatap langsung ke sepasang mata Zahra.

"Aku membantu karena aku memang mau membantu, bukan karena mengharapkan imbalan balik. Jadi kamu nggak usah memikirkan soal pengembalian dana itu lagi, ya."

Zahra menundukkan kepalanya, ukiran senyum tipis mengembang manis di bibirnya.

"Baiklah..." bisiknya pelan.

Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Zahra membatin, 'Repan... ternyata dia sosok yang sangat dewasa. Dan... baik banget... Terus entah kenapa, kenapa dia kelihatan tampan banget ya?!'

Pipi Zahra makin merona merah, detak jantungnya seolah menari-nari membuncah di dalam dada.

Ini adalah kali pertama bagi Zahra merasakan sensasi perasaan yang seperti ini, dan ia sendiri kebingungan bagaimana cara mengendalikan gejolak dirinya yang mendadak selalu ingin berada di dekat Repan.

Mereka berdua berjalan bersisian melewati gerbang SMA 09 Cimanggu.

Di tengah lalu lalang murid-murid yang mulai berdatangan menyongsong pagi, kedua sosok itu melangkah bersama dengan dinamika baru yang mulai terjalin.

1
Ahmad Wela
dua duanya aja biar seru.
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Hary
cerita anjing... skip and out
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!