Aku benci sekali padanya! Dia lelaki paling menyebalkan yang pernah aku temui. Ucapannya selalu menyakiti hati, tingkahnya kasar dan juga egois! Paket komplit sebagai pria pemenang nominasi paling di benci sejagat.
Tapi kenapa semuanya kini berubah?
Mungkinkah aku jatuh cinta pada lelaki ini? Pangeran berhati dingin bernama Melviano Mahaprana Gunardi?
Tak mungkin!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Falentina?
"Ayo buruan turun." ucap Nunung saat kami sudah sampai di ruang istirahat setelah selesai makan.
Aku memandang ponselku yang tiba-tiba bergetar, muncul nama Winarsih. Dengan segera aku membuka pesannya.
'Fa, ada kiriman dari ibumu.'
Aku langsung mengetik balasan untuknya.
'ya mbak, nanti pulang kerja aku mampir kost.'
Setelah itu, buru-buru ponselku aku masukkan ke loker lalu mengunci nya dan menyusul Nunung.
Ibu kirim apa ya? batinku.
Aku memang belum bilang kepada kedua orang tuaku perihal kepindahan ku. Aku takut mereka terkejut jika tahu aku tinggal di rumah megah dan bukan lagi di rumah kost yang kecil.
Untuk saat ini biarkan saja, akan ada waktunya nanti aku ceritakan pada Bapak dan Ibu.
...*...
"Duuuhhh kebelet..."
Setelah sampai di rumah megah Vian, aku langsung berlari menuju toilet yang ada di dapur. Aku letakkan tas kerjaku sembarangan di lantai karena sudah tak tahan lagi ingin ke toilet.
"Legaa..." desahku sambil keluar dari toilet. Tak jauh dari ku, ada Vian yang sedang memegang sebuah bungkusan. Eh, itu bungkusan yang dikirim Ibu yang baru saja aku ambil dari kost Winarsih.
"Falentina?"
"Itu punyaku!" Aku segera mendekati Vian dan berusaha mengambil bungkusan berwarna coklat.
Vian mengendus bungkusan itu, "Iihh! apa ini? bau sekali!" Pekik Vian.
Aku langsung merebut bungkusan itu dari tangannya, lalu menciumnya, sedikit bau memang.
Lalu aku menyobek kertas pembungkusnya, "Ooh ini masker." Ucapku.
"Masker apa?" Vian menutup hidungnya. "Bau banget!"
"Masker dari endapan cucian beras." Ucapku. "Baunya memang sedikit menyengat, tapi khasiatnya luar biasa."
"Apa khasiatnya?"
"Wajah jadi kencang, mulus dan putih. Ini buktinya." Ucapku sambil tersenyum dan meletakkan tanganku di pipi.
Vian membuka mulutnya seperti mau muntah. Aku tahu, dia pasti sedang mengejek aku.
"Lalu, Falentina itu siapa?"
"Aku. Nama panjangku Falentina."
Vian terdiam, lalu tiba-tiba saja tawanya menggelegar.
"Falentina?? Hahahaha... Wajah kampung aja namanya Falentina! hahahaha..."
Aku mendelik ke arah Vian, " Biarin aja kenapa sih! rese' banget!" Aku kesal. Memang ya, setiap orang yang tahu nama panjang ku pasti tertawa. Kenapa sih? kan 'Falentina' itu cantik. Seperti nama-nama tokoh telenovela di TV. Kenapa harus tertawa?.
"Ekhem!" Vian berusaha menahan tawanya yang tak juga berhenti.
"Bagaiman.. pft!" Vian menutup mulutnya, "bagaimana bisa kamu bernama 'Falentina'?"
"Aku lahir bulan Februari, jadi Ibu memberi nama itu. Dia ingin aku di penuhi dengan kasih sayang " Ucapku.
Vian mengangguk, "Apa Ibumu tau ejaan 'Valentine' itu menggunakan 'V' bukan 'F'?" Vian mengatupkan bibirnya, mencoba menahan tawa.
"Ibu dan ayahku orang desa, mereka sepertinya nggak tahu ejaan yang benar untuk 'Valentine'. Ya sudah mau bagaimana lagi."
Vian menganggukkan kepalanya, "baiklah Falentina, cepatlah mandi. Kau bau busuk!"
Aku mendelik ke arah Vian, "panggil Fafa aja!" Ketusku sambil berlari menuju lantai dua.
Tawa Vian makin menggelegar.
.
"Kapan terapi lagi?" Aku memandang Vian yang sedang makan di sampingku.
"Setiap hari aku terapi."
"Haah? setiap hari?"
"Iya, kata dokter kalau aku berhenti satu hari saja, sama dengan aku mengulang dari awal. Otot-otot kaki ku bisa melemah lagi. Jadi harus di terapi setiap hari."
Aku menghela napas.
"Nggak usah mengasihani ku!" Bentak Vian.
"Nggak! siapa juga yang kasihan!" Aku membalas ucapanya tak kalah keras.
"Kalau aku tak pernah absen, mungkin beberapa minggu lagi aku sudah bisa menggunakan kruk."
"Benarkah?" Aku terbelalak tak percaya.
Vian tersenyum bangga pada dirinya sendiri.
"Tapi, aku nggak tahu. Apa bisa berjalan normal lagi, tanpa kruk atau alat bantu lainnya."
"Nggak masalah kan? sudah bisa berjalan walaupun pake alat bantu itu sudah kemajuan pesat!" Aku senang sampai tanpa sadar meremas lengan kekar Vian.
"Hey! beraninya kamu sentuh-sentuh tubuhku!" Vian mendelik sambil melihat tanganku yang menempel di lengannya.
Buru-buru ku tarik tanganku.
"Besok aku ikut terapinya ya?" pintaku.
"Memangnya besok kamu off?"
"Aku masuk siang, nanti dari rumah aku bawa seragam, pulang terapi aku langsung berangkat kerja. Ya? boleh?"
"Nggak usah! bikin malu!"
"Kenapa?"
"Sepanjang terapi, matamu berair terus! bikin malu."
"Aku terharu dan kagum padamu."
"Nggak butuh!"
Aku manyun sambil terus menatap Vian. Dia memang lelaki kasar dan nggak punya perasaan.
"Sudah! cepat bereskan ini semua! Aku mau tidur!"
"Baik Denmas," dengan segera aku membereskan piring bekas makan Vian.
"Jangan langsung tidur kalau nggak mau perutmu buncit kayak Om-om!"
"Apa pedulimu!"
"Ya sayang aja, perut sixpack yang indah itu berubah jadi bergelambir."
"Dasar cewek mesum!" Teriak Vian, diikuti tawa ku.
...***...
"Hari ini, Mas Vian luar biasa." Ucapku.
Kami sedang di dalam mobil dalam perjalanan pulang karena Vian telah menyelesaikan terapi nya.
"Kamu sudah bilang begitu sepuluh kali!"
Bibirku mengerucut, "aku itu sedang memuji mu."
"Nggak butuh!" Vian merebahkan kepalanya di sandaran kursi mobil lalu memejamkan matanya. Peluh keringat masih menempel di kening dan lehernya, banyak sekali.
Aku mengambil tissue dan mencoba mengeringkannya.
Vian tersentak kaget waktu tanganku menyentuh pipinya. Dia menatapku.
"A.. aku cuma mau mengeringkan keringatmu."
Lalu Vian kembali menutup matanya, tumben dia menurut.
Hari ini terapinya berjalan sangat lancar, Vian sudah bisa berjalan dengan bantuan palang-palang besi walau kadang masih terlihat menyeret kaki. Tangannya pasti sangat pegal karena harus menopang seluruh tubuhnya. Pantas saja lengan Vian begitu kekar dan berotot.
Walaupun di marahi oleh terapis, Vian tetap diam dan menurut. Ini Vian loh, si tukang marah, bisa menurut saat di bentak oleh orang lain. Kalau bukan terapis pasti Vian akan balas marah.
Aku harus bersikap lebih baik lagi padanya, dia sudah berusaha keras. Aku sungguh terharu.
"Hey!"
"Uh?"
"Lanjutkan lagi, sebelah sini masih banyak keringatnya." Vian menunjukkan pipi sebelah kirinya dengan mata yang masih terpejam.
"Oh.." Aku mengambil tissue baru dan duduk mendekat ke sisi Vian.
Aku duduk di sebelah kanannya, sehingga untuk menjangkau pipi kiri Vian, aku harus mencondongkan tubuhku persis di depan Vian. Wajahku tepat di depan wajah Vian, membuatku tak sengaja menahan napas, jantungku berdebar-debar saat melihat bulu mata Vian yang lebat dan panjang.
Kulitnya putih sekali, bersih dan sedikit kemerahan. Alisnya tebal dan bibirnya kemerahan seperti buah ceri.
Lelaki sesempurna ini, sayang sekali punya sifat yang menyebalkan.
Tiba-tiba Vian membuka matanya dan menatapku, Aku tersentak. Lalu aku berusaha mengalihkan pandanganku ke pipi kiri Vian yang penuh keringat, dengan perlahan aku menyeka keringat itu.
Vian pun memejamkan matanya lagi.
Jantungku masih berdebar-debar tak karuan, mata Hitam Vian yang sangat dekat tadi, membuat jantungku tak bisa berhenti berdebar.
Jangan-jangan benar kata Nunung kalau aku mulai naksir pangeran jutek ini.
Ckiittt!!!
Pak Slamet menginjak pedal rem secara tiba-tiba, membuatku kehilangan keseimbangan. Kepalaku hampir saja membentur sandaran kursi penumpang yang ada di depan Vian. Aku memejamkan mataku, takut.
"Kenapa kamu nggak pakai seat belt! bodoh!" Bentak Vian, marah.
Tangan kanannya melingkari pundakku, sedang tangan kirinya melingkar melindungi kepalaku.
"Mbak Fafa nggak apa-apa?" Pak Slamet menoleh ke belakang, khawatir.
"E.. enggak apa-apa, Pak." Aku berusaha memperbaiki posisi dudukku, setelah Vian melepaskan pelukannya.
Jantungku berdebar makin hebat. Pertama, karena mobilnya berhenti mendadak. Kedua, karena Vian memelukku. Aku bahkan menubruk dada bidangnya.
"Ada apa sih Pak!" Vian marah pada Pak Slamet.
"Tadi tiba-tiba ada kucing lari di depan Den, maaf Den."
"Huh!!!" Vian mendengus kesal.
Lalu menoleh ke arahku, "kamu nggak apa-apa?" tanyanya lembut.
Pertama kalinya Vian bicara selembut ini, Jantungku makin tak terkendali
"Ti.. tidak apa-apa.. Aku tidak apa-apa..." Dadaku masih naik turun karena ketakutan dan terkejut.
"Mau minum dulu?"
Lagi-lagi Vian berbicara sangat lembut padaku, membuatku salah tingkah.
"Ii.. iya, mau.."
"Pak, tolong belikan air mineral di minimarket depan itu!" Titah Vian.
"Baik Den," Pak Slamet langsung keluar dan berlari ke minimarket yang tak jauh dari tempat parkir mobil Vian.
"Tunggu sebentar ya.." Vian menatapku sambil mengelus-elus punggungku.
Aku hanya terdiam dengan sikap lembut Vian padaku dan merasa aneh. Ini seperti bukan Vian, tutur katanya begitu halus, sikapnya begitu perhatian. Apakah ini sifat asli Vian???