(***) Karna sebuah kecelakaan motor membuat gian harus merawat hilya dan tinggal bersama di masion miliknya.
kesibukan kedua orang tua hilya membuatnya menyetujui agar hilya tinggal bersama sang pelaku.
Akankah kecelakaan itu membawa benih benih cinta terhadap dirinya dan Gian sang pelaku dalam kecelakaan itu?
Instagraam: @iraurah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iraurah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 16 - Tidak Ada Yang Perlu Ditakuti
Pagi pukul 07.15 Gian terbangun terlebih dahulu. Ia mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya di ruangan itu. Hingga ia tersadar sedang memeluk tubuh Hilya dengan erat.
Gian tidak langsung beranjak tetapi dia justru melihat wajah hHilya yang sedang tertidur pulas, begitu tenang dan damai, wajah cantiknya masih tetap telihat meski dengan kondisi seperti ini, wajah pucatnya tidak mengurangi kecantikan alaminya.
Ia pun menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik Hilya sembari tersenyum senyum sendiri disana.
Benar-benar cantik. batin Gian
Lalu ia pun tersadar dan menggeleng gelenggkan kepalanya cepat, bisa bisanya dia mencari kesempatan dalam kesempitan seperti ini,, bagaimana jika wanita itu bangun? mau taruh dimana mukanya? Gian benar benar merutuki kecerobohannya.
Ia pun beranjak dari ranjang pasien dan segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Tak lama setelah Gian ke kamar mandi, Hilya pun bangun dari tidurnya. Tetapi ia tidak melihat pria itu di mana mana sampai suara gemercik air menjawab tanyanya.
Mungkin dia sedang mandi. batin Hilya
Hilya pun beranjak dari tidurnya dan duduk di tepi ranjang sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
15 menit kemudian gian keluar dari kamar mandi masih memakai pakaian yang sama tapi tubuhnya nampak segar.
"Tenyata kamu sudah bangung"
"Iya"
"Apa kamu butuh sesuatu?"
"Aku mau ke toilet" Ucap Hilya malu malu.
"Apa kamu perlu aku panggilkan perawat?"
"Iya, tolong panggilkan perawat wanita"
Gian pun langsung menekan tombol nurse bell, tak lama perawat pun masuk dan langsung membantu Hilya menuju toilet sedangkan Gian pergi ke kantin mencari makan.
30 menit kemudian Gian kembali ke ruang inap Hilya sembari membawa kantung kresek.
Clekk
"Maaf aku tadi dari kantin rumah sakit, aku membawakanmu makanan juga"
"Benarkah?" Seketika mata Hilya berbinar binar, sudah lama ia tidak mencicipi makanan selain bubur atau yang disediakan rumah sakit.
"Iya, sini biar aku suapi" Ucap Gian langsung membuka makanan itu dan menyuapi Hilya, tidak ada penolakan dari Hilya.
"Oh iya kata dokter sekitar tiga hari lagi aku boleh pulang" Ucap Hilya pada Gian sembari mengunyah makanan di mulutnya.
"Oh ya? Syukurlah kalau begitu. Aku juga sudah menyiapkan semua keperluan mu selama di masion" Ucap Gian yang membuat Hilya tersedak seketika
Uhuk Uhuk Uhuk
"Ya ampun pelan pelan makannya" Ucap Gian sembari menyodorkan minum pada Hilya.
"Terima kasih" Hilya pun diam sejenak menormalkan detak jantungnya.
"Apa Bapak benar benar akan mengajakku tinggal di masion?"
"Iya, bukankah kita sudah sepakat waktu itu?"
"Iya tapi jika sudah di masion apa yang harus aku lakukan? Pasti aku akan bosan nantinya"
"Kamu harus melakukan terapi setiap hari agar kamu bisa cepat pulih dan berjalan lagi" Ucap Gian
".... dan jika aku bekerja akan ada seorang perawat yang menjagamu di masion" Tambahnya pada Hilya.
Hilya masih diam tidak bersuara
"Kamu tenang saja, sesudah pulang kerja saya yang akan menjaga kamu, dan aku juga akan mengajak mu keluar rumah sesekali untuk berjalan jalan" Ucap Gian yang mencoba menyakinkan Hilya.
"Apa tidak apa apa jika aku tinggal bersama Bapak?"
"Tidak"
"Apa tidak akan ada yang marah jika aku tinggal di masion Bapak?
Gian seakan tau apa yang dikhawatirkan Hilya saat ini, dirinya pasti takut jika ada seseorang yang tidak suka Hilya tinggal bersamanya.
"Kamu tenang saja, tidak ada perlu kamu takuti"
apa iya lulusan SMA atau masih kuliah gitu udah jadi manajer??
kebayang yah kalo letaknya susah, pasiennya bisa koit 10x, hehhehe