NovelToon NovelToon
Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:25.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.

Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.

Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.

Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.

Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9

Gemilang.

Keira menutup buku catatan tepat saat bel kelas berakhir.

Mahasiswa lain mulai berdiri, sebagian masih membicarakan alexandrite dengan suara tertahan. Ada yang mencuri pandang ke arahnya, cepat-cepat menoleh saat Keira melihat balik. Narasi lama tidak runtuh dalam satu kelas, tetapi retaknya sudah terdengar.

Seline keluar lebih dulu bersama Anya Sudargo. Senyum di wajahnya masih rapi. Namun langkahnya sedikit lebih cepat dari biasa.

Keira memasukkan buku ke tas.

Ia baru sampai gerbang kampus ketika kerumunan kecil terbentuk di dekat jalan masuk.

Sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang. Alvin Santoso turun dengan kemeja rapi dan wajah yang sengaja dibuat dingin. Ia jelas tidak datang untuk menjemput siapa pun. Ia datang untuk ditonton.

Anya, yang entah bagaimana sudah berada di sana, langsung berbisik cukup keras, "Itu kakaknya Keira, kan?"

Alvin mendengar dan tidak membantah.

Ia berdiri di depan gerbang, menunggu sampai cukup banyak mahasiswa melambat. Lalu ia menatap Keira seolah sedang mengumumkan keputusan perusahaan.

"Mulai hari ini, aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Keira Santoso."

Bisik-bisik langsung pecah.

Keira berhenti tiga langkah darinya.

Alvin melanjutkan, suaranya makin keras. "Dia bukan keluarga Santoso lagi. Semua tindakan dan masalah yang dia buat tidak ada hubungannya dengan kami."

Anya menutup mulut dengan dramatis. "Serius? Sampai seburuk itu?"

"Kamu sendiri tahu dia seperti apa," kata Alvin, seolah baru menjawab pertanyaan spontan. "Dia juga pernah mencuri rahasia dagang perusahaan ayahnya sendiri."

Kalimat itu terlalu kotor untuk dibiarkan begitu saja, tetapi Keira hanya menatapnya.

Di sekitar mereka, mahasiswa mengangkat ponsel. Beberapa mulai merekam.

Alvin tampak puas. Ia mengira diam berarti kalah.

Keira akhirnya bicara. "Sudah selesai?"

Alvin mengerutkan kening. "Apa?"

"Pengumumannya. Sudah selesai?"

Wajah Alvin mengeras. "Jangan pura-pura kuat. Setelah ini, jangan datang merangkak minta pulang."

Keira berjalan melewatinya.

"Kalian yang membuangku," katanya pelan, cukup untuk didengar Alvin. "Jangan harap aku mengemis untuk kembali."

Ia tidak menoleh lagi.

Di belakang, suara Anya naik, mencoba menarik kerumunan kembali. Alvin mungkin masih bicara. Mungkin memaki. Keira tidak peduli. Ia sudah mendengar pengumuman itu sejak malam hujan, hanya saja hari ini mereka memberinya mikrofon.

Jalan di sekitar kampus ramai oleh pedagang kecil dan mahasiswa yang mencari makan siang. Keira berjalan tanpa tujuan selama beberapa menit, membiarkan panas matahari mengeringkan sisa dingin di tangannya.

Di depan sebuah warung pinggir jalan, aroma singkong bakar dan margarin manis membuatnya berhenti.

Seorang gadis berdiri di depan gerobak, menatap penjual dengan kebingungan serius.

Penampilannya terlalu mencolok untuk area kampus. Ia mengenakan kebaya gelap dengan potongan sederhana, selendang batik di bahu, dan rambut panjang yang dibiarkan terurai. Wajahnya tampak muda, mungkin sebaya Keira, tetapi matanya membuat orang sulit menebak usia.

Penjual singkong terlihat hampir putus asa.

"Nona, kalau mau beli ya bayar. Ini bukan dicicip terus pergi."

Gadis itu memegang satu potong singkong bakar dengan ekspresi tulus. "Bayar itu yang mana?"

Penjual menatapnya. "Uang, Nona. Uang."

"Uang..." Gadis itu mengulang kata itu seperti sedang menghafal mantra asing. "Benda tipis yang membuat orang boleh membawa makanan?"

Keira berhenti di sampingnya.

"Berapa, Pak?"

Penjual langsung lega. "Dua belas ribu, Nona."

Keira membayar. Gadis berkebaya itu menoleh padanya. Tatapannya tidak terkejut, justru seperti sejak awal ia tahu Keira akan berhenti di sana.

"Terima kasih," katanya.

"Sama-sama. Kamu..." Keira melihat pakaiannya lagi. "Sedang ikut acara kampus?"

Gadis itu memiringkan kepala. "Tidak."

"Lalu kenapa pakai kebaya?"

"Karena kain ini mau dipakai."

Jawaban itu membuat Keira terdiam.

Biasanya, benda yang dipakai orang akan langsung bersuara. Baju mengeluh gerah. Sepatu mengomel karena diinjak. Tas bertengkar dengan ritsletingnya sendiri. Tetapi kebaya gadis ini diam.

Selendangnya diam.

Sepatunya juga diam.

Bahkan manik kecil di ujung rambutnya tidak mengeluarkan satu bisikan pun.

Keira merasakan bulu kuduknya naik perlahan.

"Namaku Ratih Kusumawardani," kata gadis itu tiba-tiba.

Keira menatapnya. "Keira."

"Aku tahu."

Singkong bakar di tangan Ratih mengepul pelan. Ia menggigit sedikit, lalu wajahnya berubah sangat halus, seperti orang yang baru memahami satu rahasia dunia.

"Manis," katanya.

"Itu karena pakai margarin dan gula."

"Manusia rumit sekali. Bahkan singkong diberi kenangan palsu agar terasa lebih bahagia."

Keira benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.

Ratih menghabiskan potongan kecil itu, lalu menyeka ujung jarinya dengan selendang. Selendang itu tetap diam. Tidak protes. Tidak mengeluh. Tidak merasa ternoda.

Keira bertanya pelan, "Benda-benda di tubuhmu kenapa tidak bicara?"

Ratih tersenyum.

Senyum itu membuat keramaian warung terasa jauh.

"Karena mereka tahu kapan harus diam."

Jantung Keira berdetak lebih keras.

Ratih mengambil selembar kertas kecil dari lengan kebayanya. Kertas itu tampak sudah disiapkan sebelum mereka bertemu. Ia menyerahkannya kepada Keira dengan dua tangan.

"Untukmu."

Keira membuka kertas itu.

Tulisan di sana rapi, hitam, dan terasa lebih tua daripada tinta.

Langit ungu kehilangan satu bintang cahaya,

Jiwa masuk ke taman fana dan kembali utuh.

Bukan angsa tersesat yang singgah di sarang asing,

Rembulan ini sejak dulu memang milik langit ini.

Keira membaca empat baris itu sekali.

Lalu sekali lagi.

Kata-katanya tidak panjang, tetapi sesuatu di dalam dada Keira bergerak pelan. Selama ini ia menyebut dirinya orang yang masuk ke tubuh orang lain, pembaca yang terlempar ke cerita, jiwa asing yang mencoba memperbaiki akhir buruk. Tetapi puisi itu seperti menolak semua istilah tersebut.

Rembulan ini sejak dulu memang milik langit ini.

"Apa maksudnya?" tanya Keira.

Ratih menatap langit siang yang terlalu terang untuk membicarakan rembulan.

"Kalau daun jatuh ke sungai, ia mungkin mengira sedang tersesat. Padahal sungai hanya mengantar pulang."

"Itu bukan jawaban."

"Jawaban yang terlalu cepat biasanya hanya memuaskan telinga, bukan takdir."

Keira menarik napas. "Kamu siapa sebenarnya?"

Ratih menatapnya lagi. Kali ini matanya tampak jauh lebih tua daripada wajahnya.

"Seseorang yang lewat sebelum pintu berikutnya terbuka."

Setelah mengatakan itu, ia berbalik.

Kerumunan jalan menelan tubuhnya begitu mudah, seolah semua orang memang tidak berniat mengingatnya. Keira mengejar dua langkah, tetapi Ratih sudah menghilang di antara motor, mahasiswa, dan asap singkong bakar.

Keira berdiri di tepi jalan dengan kertas kecil di tangan.

Di sekitarnya, dunia kembali ramai.

Gerobak singkong mengeluh karena rodanya seret. Payung warung mengomel ingin dilipat. Bangku plastik mengutuk mahasiswa yang duduk terlalu keras.

Semua benda kembali berbicara.

Kecuali benda-benda yang tadi dikenakan Ratih.

Keira menatap baris terakhir puisi itu sampai huruf-hurufnya terasa menempel di balik kelopak mata.

Rembulan ini sejak dulu memang milik langit ini.

1
lin sya
kluarga gk tahu malu, stlh tau kbnarannya ngomong ttg kluarga. pdhl dulu kei anak yg diabaikan dan disakitin. skrg dtg dgn tmpg gk brsalah🤭
Dey77
baru awal baca,
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!