NovelToon NovelToon
Mawar di Pinggangnya

Mawar di Pinggangnya

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Diam-Diam Cinta / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.

Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.

Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.

Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.

Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.

Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?

(148 kata Indonesia)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 034

Kamar Rayhan

"Terima kasih sudah datang..."

Rayhan tidak menjawab dengan kata-kata.

Ia hanya mengeratkan pegangan di bawah paha Kiara, memastikan kaki kanannya tetap aman, lalu berjalan melewati hujan tipis menuju mobil. Setiap langkahnya stabil. Tidak cepat, tidak lambat. Seolah seluruh dunia boleh berisik, asal tubuh Kiara tidak terguncang.

Di dalam mobil, driver keluarga sudah menurunkan sandaran kursi belakang dan menyiapkan bantal tambahan. Rayhan menurunkan Kiara perlahan, lalu menata immobilizer agar tidak tertekan.

"Sakit?"

"Tidak."

"Jujur."

Kiara memejamkan mata. "Sedikit."

"Kalau bertambah, bilang."

Perjalanan pulang ke Kota Barat terasa panjang dan berkabut. Hujan kadang berhenti, kadang kembali menempel di kaca. Kiara beberapa kali terbangun karena mobil melambat di rest area. Setiap kali ia membuka mata, Rayhan ada di kursi sampingnya, tidak tidur, satu tangan menahan bantal di bawah kakinya agar tidak bergeser.

"Kak Rayhan tidur dulu," gumamnya di satu titik.

"Sebentar lagi sampai."

Ia tidak tahu itu bohong keberapa.

Ketika gerbang Perumahan Graha Perwira akhirnya terlihat, dada Kiara terasa nyeri dengan cara yang berbeda. Bukan karena jatuh. Bukan karena obat. Karena rumah itu benar-benar menunggunya.

Kopi menggonggong bahkan sebelum mobil berhenti di carport.

"Dia tahu," kata Kiara, suaranya serak.

"Dia mengenali suara mobil."

"Kak Rayhan jangan pura-pura tidak senang."

Rayhan turun lebih dulu. Begitu pintu rumah terbuka, Kopi muncul di balik pagar lipat ruang keluarga. Ekor besarnya bergerak cepat, tetapi tubuhnya tetap tertahan karena Aldi berdiri di sampingnya dengan wajah panik.

"Bang Ray, saya tahan dari tadi. Senior mau lompat."

"Kopi, duduk," kata Rayhan.

Kopi duduk, tetapi seluruh tubuhnya gemetar karena ingin mendekat.

Kiara tertawa kecil, lalu air matanya langsung naik. "Hai, Kopi."

Kopi mengeluarkan suara pendek dari tenggorokan, bukan gonggongan penuh. Seperti protes. Seperti lega.

Rayhan mengangkat Kiara dari mobil. Aldi otomatis maju, tetapi Rayhan hanya berkata, "Buka jalan."

"Siap."

Aldi menyingkirkan tas, membuka pintu lebih lebar, dan memindahkan pagar lipat sedikit agar Rayhan bisa lewat tanpa mendekati Kopi terlalu dekat. Namun begitu Kiara masuk, Kopi langsung merayap maju pelan, hidungnya mengarah ke immobilizer.

"Pelan," bisik Kiara.

Kopi mengendus ujung selimut yang menutup kaki Kiara, lalu menurunkan kepala. Tidak menyentuh bagian luka. Hanya meletakkan hidungnya di sisi aman, sangat hati-hati.

Aldi menatap dengan mata basah. "Senior ngerti."

Rayhan meliriknya.

Aldi langsung mengusap wajah. "Debu, Bang."

"Di dalam rumah?"

"Debu emosional."

Kiara tertawa, kali ini sedikit lebih lepas.

Rayhan membawanya melewati ruang keluarga, tetapi bukan ke arah kamar Kiara.

Kiara baru sadar ketika mereka sudah mendekati lorong yang menuju kamar utama.

"Kak Rayhan."

"Hm?"

"Kamarku di sana."

"Aku tahu."

"Kita lewat."

"Memang."

Ia menoleh, bingung, lalu melihat pintu kamar Rayhan terbuka. Lampunya sudah menyala. Tempat tidur besar ditata rapi dengan bantal tambahan di satu sisi. Meja kecil dekat ranjang penuh barang: obat, air mineral, tisu, bel kecil, charger, handuk, dan jadwal kontrol yang ditulis dengan huruf Rayhan.

Di lantai, ada karpet anti-slip baru dari pintu ke kamar mandi.

Kiara lupa protes selama beberapa detik.

"Ini..."

"Kamarku lebih besar."

"Tapi ini kamar Kak Rayhan."

"Benar."

"Aku bisa di kamarku sendiri."

"Kamarmu sempit untuk kursi roda. Kamar mandinya juga lebih jauh dari ranjang."

"Aku tidak akan ke kamar mandi sendiri."

"Tepat. Karena itu aku perlu kamar yang cukup untuk membantumu tanpa membuat kakimu terbentur."

Kiara menatap wajahnya. "Kak Rayhan sudah menyiapkan ini sebelum kita sampai?"

"Aldi."

Di belakang mereka, Aldi mengangkat tangan seperti murid dipanggil guru. "Saya cuma mengikuti instruksi lewat telepon, Mbak. Detail bantal kanan-kiri itu semua Bang Ray."

"Di."

"Saya diam."

Rayhan menurunkan Kiara ke ranjang dengan sangat hati-hati. Begitu punggungnya menyentuh kasur, Kiara menyadari satu hal yang membuat wajahnya panas.

Kasur ini berbau Rayhan.

Bersih, sabun, sedikit aroma kayu dari lemari, dan sesuatu yang selama ini hanya ia hirup ketika Rayhan berdiri terlalu dekat.

"Panas?" tanya Rayhan, salah paham melihat wajahnya.

"Tidak."

"Nyeri?"

"Tidak."

"Lapar?"

"Kak Rayhan bisa berhenti memeriksa tiga detik?"

"Tidak."

Aldi pura-pura batuk di pintu. "Kalau begitu saya pamit sebelum disuruh jadi saksi pemeriksaan lanjutan."

Rayhan melempar pandangan.

Aldi langsung tegak. "Maksud saya, saya pulang. Obat Kopi sudah sesuai jadwal, makanan sudah, pintu belakang terkunci, CCTV rumah normal. Senior cuma sedih."

"Terima kasih, Di."

Aldi tampak hampir tersandung karena Rayhan mengucapkan terima kasih. "Siap, Bang. Mbak Kiara, cepat sembuh. Senior butuh orang yang bisa diawasi selain Bang Ray."

Setelah Aldi pergi, kamar mendadak terlalu sunyi.

Rayhan menutup pintu setengah, tidak rapat. Mungkin agar Kiara tidak merasa terkurung. Mungkin agar Kopi masih bisa terdengar dari luar.

"Aku tidur di sofa," kata Rayhan sebelum Kiara bertanya.

Kiara melihat sofa panjang di sisi kamar. Selimut tipis sudah diletakkan di sana.

"Kak Rayhan tidak perlu."

"Perlu."

"Ini kamar Kak Rayhan. Aku yang merepotkan."

Rayhan berdiri di samping ranjang. "Kalau kamu menyebut dirimu merepotkan sekali lagi, aku panggil Dokter Raka untuk membuat larangan bicara."

Kiara menatapnya.

"Bisa ya?"

"Aku bisa minta."

"Kak Rayhan mulai menyalahgunakan jaringan."

"Untuk hal baik."

Senyum Kiara muncul tanpa izin.

Rayhan mengambil obat sesuai jadwal, memberi air, lalu menunggu sampai ia menelan semuanya. Setelah itu ia menata bantal di bawah kaki kanan Kiara, memastikan jari-jari kakinya terlihat dan tidak dingin.

Di meja kecil, ia menempel satu kertas baru.

Obat nyeri.

Antiradang.

Kontrol ortopedi.

Tidak menapak.

Telepon dokter kalau kebas.

Kiara membaca daftar itu pelan. "Kak Rayhan benar-benar membawa rumah sakit pulang."

"Lebih mudah daripada bolak-balik karena kamu lupa aturan."

"Aku tidak akan lupa kakiku sendiri sakit."

"Kamu pernah lupa makan, tidur, dan minum obat mata."

"Itu kasus berbeda."

"Pola pelaku sama."

Kiara menatapnya tidak percaya, lalu tertawa kecil. Tawa itu membuat dadanya terasa lebih ringan, seolah rumah ini berhasil mengambil sedikit sisa suara alarm dari tubuhnya.

Ponsel Rayhan menyala. Pesan dari Galih hanya satu baris.

Galih:

Kiara sudah sampai rumah?

Rayhan menunjukkannya pada Kiara sebelum membalas.

Kiara mengangguk. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus menjawab semua orang sendiri.

"Malam ini kamu tidur di sini," katanya. "Besok kita atur ulang kalau perlu."

"Kalau aku tidak bisa tidur?"

"Aku di sini."

"Kalau aku mimpi buruk?"

Pertanyaan itu keluar terlalu pelan.

Rayhan berhenti.

Kiara menyesal begitu mengucapkannya. Namun Rayhan tidak mengejek. Tidak menyuruhnya berpikir positif. Ia hanya menarik kursi lebih dekat ke ranjang.

"Kalau kamu mimpi buruk," katanya, "panggil aku."

Kiara menatapnya lama.

Di luar kamar, Kopi menggonggong satu kali, seperti menyetujui aturan baru.

Rayhan menoleh ke pintu. "Kopi juga setuju."

Untuk pertama kalinya sejak pulang, Kiara tertawa tanpa menangis.

Namun saat lampu kamar diredupkan dan Rayhan duduk di sofa dengan ponsel di tangan, Kiara sadar sesuatu yang membuat jantungnya berdebar lebih keras daripada nyeri kaki.

Malam ini, ia tidur di kamar Rayhan.

Dan Rayhan tidak pergi.

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!